Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 122


__ADS_3

"Pemenangnya, Pete!"


Mereka pun kembali bersorak. Pete kembali berhasil memenangkan pertandingan setelah sukses melakukan serangan balik dan membalikkan keadaan. Meskipun demikian, Pete menghela nafas. Hampir semua jurus pedangnya telah dapat diantisipasi dengan sempurna oleh Alice.


Mungkin karena Pete terlalu sering menggunakan Tombak dalam menghadapi lawan menyebabkan serangan pedangnya menjadi sedikit kaku dan kelemahannya semakin mudah terlihat. 


...Sacred Valley:titik awal kultivator ...


...Episode 122. Raven vs May ...


Bahkan jurus pedang angin gesit saja dirinya lupa bagaimana cara melakukannya karena tidak pernah digunakan, padahal itu adalah jurus yang dilatih di waktu yang bersamaan dengan melatih jurus pedang empat musim. 


Lain kali Pete harus mengubah caranya berlatih, harus menggunakan senjata pedang dan tombak secara bergantian.


Alice terjatuh, kakinya ternyata terluka tebasan yang cukup dalam dan lebar. Pete segera menoleh ke arahnya. Alice memeriksa lukanya, segera membalut lukanya dengan perban dengan cepat. 


Kemudian berupaya berdiri, namun gagal. Alice terjatuh kembali. Pete segera meraih Pinggang Alice dan menggendongnya ala bridal style. Alice yang terkaget begitu refleks mengalungkan kedua tangannya pada leher Pete, kemudian menatap Pete.


Raven dan Dia pun menghela nafasnya pelan. Mereka memang tidak bisa melarang Pete untuk tidak melakukan hal itu, karena mereka telah bersepakat membagi sama rata. Tentu saja mereka merasa cemburu.


"Pete, kau-"


"Semuanya ini karena aku, jadi aku harus bertanggung jawab untuk membantumu keluar dari arena ini, bukan?" tanya Pete.


Alice mengukir senyuman di bibirnya, merasa begitu senang karena tidak disangka Pete begitu perhatian juga kepadanya. Pete berjalan ke luar arena, tidak memperdulikan teriakan cacian dari para pembencinya, mengatakan bahwa 'Pete buaya darat, gadis hunter pun di embat.'


Sementara itu, para pendukungnya malah mencaci Alice, mengatakan bahwa 'dirinya adalah pelakor handal, berani sekali baperan padahal Pete hanya bermaksud membantunya keluar arena saja.'


Namun, Dia yang malah marah, berteriak di tribun. "Kalian semua begitu berisik! Apa salahnya jika tunanganku menggendong sahabatku, Hah? Bilang saja kalian iri dan dengki!"


Kata dari Dia langsung membuat mereka semua terdiam, serasa tamparan menyakitkan telah menyakiti perasaan mereka. Memang kalau gadis pendiam dan dingin berucap, rasanya seperti memberikannya kerusakan yang besar.


Pete langsung menaruh tubuh Alice ke sebuah kursi, Dia langsung menarik tangan Pete dan memintanya untuk duduk. Dengan cekatan, Dia langsung mengeluarkan Salep, dan mengoleskannya ke luka Pete. Sementara Alice dibantu oleh Raven.

__ADS_1


Pete menghela nafas pelan. "Tidak aku sangka, ternyata Alice dapat mengantisipasi seranganku. "


Dia memutar bola matanya malas. "Kau terlalu meremehkannya, bodoh! Gerakanmu begitu kaku, sehingga mudah ditebak kemana arah seranganmu. Sekarang bagaimana, sudah lihat kemampuan gadismu saat ini?"


Raven tersenyum. " Full Defense lumayan juga, bukan kemampuannya sih, melainkan pemikiranmu.  Hanya bertahan sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyerang balik."


Alice bergerutu. "Padahal dua tekhnik pedangmu dengan mudah diantisipasi. Bisa-bisanya tekhnik yang satunya lagi begitu sulit sekali di antisipasi."


Dia malah tertawa. "Kau ingin mengantisipasi serangan jurus pedang tarian musim semi? Itu sulit, karena itu adalah jenis jurus pedang yang tidak berkarakteristik. Oleh karena itulah, mengapa Pete dapat mengubah arah serangannya tiba-tiba sesuka hatinya.


Sebenarnya itu tekhnik rendahan, namun ketika di tangan Pete malah semakin berbahaya. Pete mengubah aliran gerakan pedang yang sebelumnya fokusnya hanyalah tarian menipu yang hanya terlihat menikam ternyata menebas, menjadi serangan tidak dapat ditebak arahnya karena targetnya berubah secara tiba-tiba yang menentang konsep arah gerakan kinetik.


 Menghadapinya, dibutuhkan fokus yang begitu maksimal. Akan tetapi Kau begitu panik sehingga fokus matamu berkurang, oleh karena itulah mengapa kau tidak mampu mengantisipasinya sama sekali. Bahkan master kami saja selalu kelabakan menghadapi Pete."


"Curang"


Raven malah tertawa tertawa mendengarnya. Namun, tawa Raven terhenti ketika mendadak namanya disebutkan oleh juri, yang berarti pertarungan kedua akan segera dimulai.


Raven tersenyum, kemudian melompat ke arena. Naas, lawannya adalah May, yang memang sudah Raven duga sebelumnya. Mereka tidak berucap sepatah kata, karena rupanya May juga ingin lolos ke babak perempat Final demi bertarung dengan Pete.


"Pertandingan dimulai!"


May langsung melewatkan serangan anak panah dengan begitu cepat, namun Raven adalah tipe Infiltran, dengan lincah Raven dapat menghindari serangan May.


Raven segera melesat maju, hendak menebas May. Namun, May masih bisa melompat mundur. Sial, di atas kertas Raven lebih unggul daripada May yang seorang magical archer tipe Ranger.


Raven langsung bergerak begitu cepat, mendadak sudah di belakang May, namun May langsung melompat maju, sambil menarik busur dan tercipta sebuah anak panah dari sihirnya seraya diarahkan ke belakang. Begitu dilepaskan, anak panah itu mendadak pecah menjadi ribuan yang akan menyerang Raven bagai hujan.


Raven segera melesat mundur ke kiri, menghindari serangan anak panah sihir yang jumlah ribuan. Namun saking banyaknya, tetap saja Raven terkena anak panah itu.


Tidak disangka, ternyata tadi hanyalah anak panah ilusi, sementara May telah mengumpulkan energi membentuk sebuah anak panah yang tidak biasa, dan melepaskan serangan seribu anak panah sihir yang sesungguhnya. Sudah terlambat untuk menghalangi.


Segera Raven kembali melesat menghindari serangan tersebut. Di saat kritis, dengan sangat terpaksa Raven menggunakan Time Stop, kemudian segera melesat keluar jangkauan.

__ADS_1


May terbelalak, tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Padahal, secara timing melepaskan anak panah sudah benar-benar tepat, seharusnya Raven tidak akan mungkin bisa menghindari serangan tersebut. Lalu bagaimana sekarang Raven bisa menghindari serangannya? Sungguh diluar nalar.


Raven berbalik menyerang bertubi-tubi, kali ini May terpojok. Tidak perlu membutuhkan waktu yang begitu lama, May mulai kewalahan menghadapi serangan Raven yang terlalu lincah. Akhirnya May harus mengakui kekalahan setelah Raven berhasil menodongkan pedang dari belakangnya.


"Pemenangnya, Raven Kane!"


May langsung jatuh terduduk. Air matanya mulai menetes, tidak bisa menerima kenyataan bahwa Dirinya hanya akan terhenti sampai di babak ini.


Raven mulai merasa ikut bersedih. Dirinya tentu tahu benar, keinginan May untuk bertarung mengahadapi Pete yang pertama, sekaligus yang terakhir kalinya.


Raven langsung menarik tubuh May dan memeluknya. Pete menghela nafas pelan, tiba-tiba Dia menyentuh Bahunya.


 "Sepertinya semua akan merasa ingin bertarung denganmu untuk terakhir kalinya kita bersama. Aku harap kau meluangkan waktu untuk bertarung dengan kami sebelum kau benar-benar pergi."


Pete menghela nafas pelan. "Mengapa harus melalui pertandingan? Apakah tidak ada cara lain untuk menoreh kenangan bersama yang terakhir kalinya?"


"Bagaimana kalau dansa?" usul Alice yang membuat Dia dan Pete segera menoleh.


Dia dan Pete segera saling berpandangan, kemudian malah memberikan jawaban berbeda.


"Setuju."


"Kita harus membicarakannya dengan kakak seperguruanku yang lainnya dulu."


Alice tertawa. "Tidak aku sangka kalian salah memahami satu sama lain, padahal sudah saling menatap satu sama lain! Astaga, lucu sekali!"


Pete dan Dia kembali berpandangan satu sama lain, kemudian kompak menghela nafas pelan. Bisa-bisanya mereka salah mengartikan tatapan masing-masing.


Alice menghela nafas pelan "Ini pertama kalinya kalian mengalami discommunication, tidak menjawab dengan perbedaan jawaban, walaupun kompak."


Mereka malah menjawab kompak. "Yah, yang pertama kalinya." 


Alice mengerutkan keningnya. "Ini konyol. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan" batinnya.

__ADS_1


__ADS_2