
Udara tertiup di langit yang tampak matahari sudah condong ke barat, meniup rambut Pete yang tampak sedang berkumpul bersama kakak seperguruan, adik kandung, dan masternya di perbatasan Sharance dengan Oddward yang notabene wilayahnya seperti bukit.
Sacred Valley:titik awal kultivator
Episode 61. sebuah tamparan.
Tampak juga Raven, Shara, Nourika, May, Paralel, Rick, Gray, dan yang lainnya sedang bersiap melambaikan tangannya untuk mengucapkan selamat jalan.
Raven sendiri terlihat sedang berbicara dengan Pete.
"Kau akan pergi ke Telaga langit?"
"Ya. Aku memang harus pergi. Kita seharusnya bisa bertemu lagi di pertandingan Gladiator bukan? Lagipula akan segera dimulai itu tidak sampai tiga minggu lagi."
"Ya."
"Kau begitu irit dalam berbicara. Sebenarnya kita bisa berbicara mengenai banyak hal, akan tetapi sebaiknya kita lanjutkan pembicaraan di saat kita bertemu kembali."
"Hmm?"
"Aku akan menemuimu saat Pertandingan Gladiator. Aku harap kita bisa bertemu dan bertanding satu lawan satu lagi."
"Oke."
"Pete, ayolah! Waktu kita tidak banyak."
"Aku pergi dulu, Raven. Kita akan bertemu lagi."
"Hmm. Sampai jumpa."
Pete segera pergi ke rombongan mereka dan mulai berjalan meninggalkan Sharance. Raven menutup mata, merasakan semilir angin berhembus.
'Aku harap kau menyukai hadiah ulang tahun dariku, Pete.'
----
Mereka tiba di Telaga langit, tepat pada waktunya. Saat itu, burung hantu mulai bernyanyi, pertanda sudah malam. Mereka pun saling lirik, kemudian segera ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
Di malam itu, Pete sedang berbaring. Teringat Collete yang dulu pernah jahil menjadikan dadanya sebagai bantal yang membuatnya sesak nafas saat masih kecil. Sekarang, dadanya telah menjadi tempat tidur favorit dewi Chang'e. Padahal, sekali Pete jahil, dirinya bisa-bisa tertindih sampai gepeng saat Pete membalikkan badannya.
"Tadi bahu sebagai singgasana, sekarang Dada sebagai tempat tidur. Memangnya aku rumah? Kenapa tidak sekalian beristirahat di Changseng Jue saja?"
"Seharusnya kau merasa begitu terhormat karena aku sebagai dewi sudah mau duduk di bahumu dan tertidur di dadaku!"
"Dewi kok mungil. Kau bukan dewi, melainkan anak peri."
"Sembarangan! Kau sama sekali tidak memiliki rasa hormat terhadap Dewi, ya?"
"Bagaimana harus hormat kalau tingkahmu seperti anak kecil. Beruntung aku laki-laki, coba kalau aku perempuan, bisa-bisa kau kepengen minum susu seperti bayi."
"Jaga ucapanku, Pete. Aku tidak serendah itu!"
__ADS_1
"Iya, deh."
"Kau tidak meminta maaf? Dasar, kebiasaan."
"Iya-iya. Aku minta maaf. Dewi, aku tidur dulu."
"Tidak hanya kau, aku juga ingin tidur. Selamat malam."
Pete mulai menutup matanya dan akhirnya tertidur lelap. Dewi mulai bangkit dari tempatnya dan memberikan ciuman tepat di dahi.
Sementara itu, Dia tetap tidak bisa tidur. Tampaknya, dirinya masih belum menerima kenyataan bahwa dirinya tidak mampu melupakan Pete.
Dia ingin menjaga kontak sentuhan terhadap lelaki lain, termasuk menutup akses Pete. Akan tetapi, dirinya malah semakin tersiksa karena perasaan dan hatinya justru menginginkan sentuhan dari Pete.
Dia juga sebenarnya begitu cemburu melihat Pete bersama Raven sedang berbicara mengenai sesuatu.
Dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan malah pergi ke kamar Pete. "Bagaimana pun, aku harus memantau Pete, jangan sampai Pete membuat ulah lagi."
Dia menggerakkan tangannya hendak meraih gagang pintu, namun sejenak dirinya masih ragu-ragu. "Bagaimana kalau Pete ternyata masih terjaga juga? Bukankah memalukan jika dirinya tau aku masuk ke kamarnya diam-diam?"
Dia masih bingung dengan apa yang harus dirinya lakukan. Namun, pada akhirnya, Dia memutuskan
untuk masuk ke dalam.
Pete dalam keadaan tertidur terlelap, hanya saja posisi tubuhnya tidak ideal, sepertinya dirinya sedang bermimpi buruk.
"Jangan pergi, Collete ... " lirih Pete dalam keadaan tertidur.
Dia hendak mengusap kening Pete, namun di urungkan. "Aku berjanji di dalam hati untuk tidak melakukan kontak sentuhan dengannya lagi. Jika aku melakukannya, bukankah
aku ingkar janji? Sudahlah lebih baik aku meninggalkannya."
"Collete ..." lirih Pete lagi.
Dia kembali ragu untuk melakukan sesuatu. Dirinya kembali menoleh ke arah Pete dan tanpa sadar dia telah mengelus kepala Pete.
Dia merasa iba, hatinya ikut tersiksa karena Pete masih terus mengucapkan nama Collete.
"Sudahlah. Untuk kali ini aku biarkan kau menyentuhku dan ijinkan aku untuk mengganti peran Collete malam ini saja."
Dia langsung naik ke ranjang dan tidur sembari memeluk Pete yang akhirnya dirinya ikut terlelap.
------
Meja makan sudah penuh dengan hidangan dan tampak mereka semua sedang duduk. Namun satu hal yang janggal, Pete dan Dia tampak tidak memakan makanan yang tersaji di depan matanya, melainkan saling menatap tajam satu sama lain seolah-olah sama-sama hendak memakannya hidup-hidup.
Xiao Fu dan Xiao Chi menghela nafas pelan. Tadi pagi, matahari belum terbit namun sudah terjadi perang mulut di kamar Pete yang membuat mereka berdua segera menuju ke kamar Pete dan ditemukan aksi perang bantal yang bahkan komposisi bantal yang terdiri dari kapas dan kapuk berhamburan memenuhi ruangan.
"Tcih!" ucap Pete dan Dia bersamaan.
"Kakak tertua, adik termuda. Kalian makanlah dulu. Urusan kalian lebih baik dilanjutkan setelah makan," kata Gina mencoba memecahkan adu tatapan tajam Pete-Dia.
__ADS_1
"Kalian berdua bisa-bisanya berulah pagi-pagi," ucap Xiao Fu sedikit gusar karena tadi pagi dirinya juga terkena lemparan bantal di muka.
"Adik termuda duluan master, lihat nih sampai ada kissmark tipis gara-gara hidung belang ini," ucap Dia sambil menunjukkan tanda kissmark, namun masih begitu tipis sehingga hampir tidak terlihat jika dilihat dari jarak lumayan jauh.
Memang tidak terlihat, namun mendengarnya suda cukup untuk membuat Gina dan Joe tersedak.
"Kalian berdua sudah-"
"Adik kelima, ini bukan yang seperti kau pikirkan!" teriak Dia karena jalan pikiran Katie sangat mudah ditebak.
"Aku tidak salah master. Kakak tertua saja yang memulai. Saat itu aku masih tertidur lelap, jadi mana aku tahu kalau itu terjadi? Lagipula mengapa gadis pembohong ini masuk ke kamar dan memelukku tanpa aku sadari?" ucap Pete membela diri.
"Dia, mengapa kau masuk ke kamar Pete?" tanya Xiao Chi terheran.
"Xiao Chi, kau tidak bisa menyalahkan Dia hanya karena memasuki kamar Pete," ujar Xiao Fu.
"Aku hanya heran saja, ibu."
"Aku hanya masuk untuk memastikan Pete tidak berulah lagi."
"Lalu mengapa kau memelukku? Memangnya aku bantal guling atau boneka lucu yang selalu kau peluk setiap malam?" tanya Pete yang membuat Dia tidak bisa mengatakan apapun lagi.
"Pertanyaan bagus, Pete. Dia, kau harus jujur, jangan mengarang jawaban. Aku tidak menyalahkan mu juga, menurutku itu wajar."
"Aku ... Aku hanya bermaksud menggantikan peran Collete di masa lalunya setiap malam. Saat itu Pete bermimpi buruk, terus menerus memanggil nama Collete."
"Alasan!" ucap Pete sarkas.
Tiba-tiba tangan kanan Dia melayang dan menampar Pete begitu keras sampai pipinya memerah dan Pete meringis.
Bahkan Gina dan Joe sampai tersedak kembali karena terkaget. Kurt dan Katie segera mengurutkan leher Gina dan Joe sambil memberikan air.
"Kau memang tidak berperasaan, Pete! Menyesal aku membuka akses untukmu!"
Dia segera pergi dari tempatnya.
Xiao Fu menghela nafas pelan kemudian berucap, "seharusnya kau memahami perasaannya, Pete. Tidak seharusnya kau-"
"Salah aku lagi! Bela aja terus si Dia, padahal sudah jelas-jelas dirinya yang salah! Bela saja terooss! Sudahlah, aku pergi dulu, tidak berselera makan," ucap Pete gusar bukan main. Dirinya langsung bangkit dari tempat duduknya dan pergi begitu saja.
"Tetapi makan dulu sedikit, Pete."
"Habiskan saja sendiri, master. Tidak perlu disisakan sekalian!"
Xiao Fu meletakkan tangan di dahinya sekaligus menghela nafas pelan. Pertama kalinya Pete merasakan masternya tidak adil dalam memberikan keputusan.
Xiao Chi juga ikutan menghela nafas pelan. "Ibu, Masalah seperti ini tidak bisa diselesaikan dengan nasihat, terutama kepada Pete yang seharusnya ibu tahu sendiri wataknya seperti apa."
"Haaahhh, mereka itu ...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1