Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 116


__ADS_3

...Sacred Valley:titik awal kultivator...


...Episode 116. Alice vs Pia...


Berlanjut ke pertandingan berikutnya yang kembali berformat satu lawan satu, kali ini peserta yang hanya tersisa sebanyak enam belas orang akan di adu sampai akhirnya tersisa seorang pemenang. 


Berarti mereka harus bertahan selama empat babak pertarungan untuk menjadi pemenang. Tidak lagi menggunakan undian acak, karena mereka akan diadu secara drawing.


jika Pete berhasil lolos ke babak semifinal   (delapan besar), ada kemungkinan dirinya menghadapi Alice, lolos ke babak perempat Final (empat besar), maka Lawannya adalah berkemungkinan adalah Raven dan yang terakhir adalah babak Final, kemungkinan akan menghadapi Dia.


Saat ini, lawannya adalah Garius, kakak angkat Raven. Pengguna senjata Battle Hammer yang paling hebat pada masanya. 


Sementara itu, Raven sendiri akan berhadapan langsung dengan Shara, sahabatnya sendiri. Dan Dia akan menghadapi Nourika.


Bel Pertandingan pun sudah dibunyikan, May dan Monica turun ke arena karena pertandingan pertama adalah mereka.


Terlihat May menatap Monica begitu horor yang malah membuat Monica ini terkekeh pelan. Tentu saja, May begitu kesal karena Monica telah memeluk Pete dan tertawa bersama saat pertandingan babak dua melawan dua yang telah  membuat May dan Xiao Chi kebakaran jenggot.


Tentu saja, ini adalah kesempatan emas untuk memberikan pelajaran kepadanya yang telah mengambil perhatian Pete darinya.


Monica tahu benar hal itu dan di dalam benaknya, dirinya mengeluh. "Mati aku."


Tidak ada pembicaraan kali ini, membuat Juri segera mengangkat tangan kanan.


 "Pertandingan-"


Monica segera mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, sebelum pertandingan dimulai. Sepertinya May begitu beruntung karena sudah ada dua lawannya  yang  ciut nyalinya. 


Namun, May malah merasa begitu kesal. Ini sebenarnya adalah kesempatan bagus untuk menghajar Monica yang seenak jidat mengambil perhatian Pete darinya. Namun, Monica malah langsung menyerah.


"Monica mengaku menyerah. Pemenang, May Handerson!"


Mereka pun menghela nafas pelan, merasa mereka memang berat sebelah. Menyerah adalah pilihan terbaik, menurutnya.


"Berikutnya, Alice Hunter menghadapi  Pia Forza! Silahkan memasuki Arena"


 Secara historis, keluarga Forza dan Hunter dulunya serumpun, yang kemudian malah terpecah dan memisahkan diri.

__ADS_1


Kali ini mereka bertemu, akan melakoni pertandingan di babak delapan besar besar ini.


Alice menghela nafas pelan. "Tidak aku sangka kita bertemu di sini." 


"Pertandingan, Dimulai!


Pia melesat dengan senjata SwordFish longsword yang memang berdesain seperti ikan cucut/gergaji, memiliki efek serangan air. 


Alice yang notabene elite Fighter pun mengambil tombak Brionac, sebuah senjata para Gladiator yang sesungguhnya yang secara Fisik tombak tersebut berbentuk seperti pedang panjang, hanya saja bagian badannya seperti badan Payung yang kuncup.  Segera Alice menciptakan kristal es di udara dan meluncurkannya ke arah lawan. Sungguh, kristal es yang begitu tajam tengah melesat membuat kekuatan es ini berlipat ganda.


Alih-alih menghindari serangan, Pia malah meluncurkan serangan Water Blast (menembakkan kekuatan air) yang membuat serangan kristal es begity melambat dan langsung berkelit menghindarinya.


Tidak disangka, Alice sudah dekat dari posisi Pia,  yang secara mendadak mengayunkan senjatanya.


Pia terkesiap, kemudian berupaya menangkis karena tidak akan mampu untuk mengelak. Mendadak mereka mengadu kekuatan mereka masing-masing yang begitu kuat.


Namun, Alice berhasil unggul, mendorong Pia hingga terjatuh di tanah dan langsung mengunci pergerakan Pia dengan menodongkan ujung tombaknya yang begitu tajam.


"Pemenangnya adalah Alice hunter!"


Pete mengangguk . "Pantas saja terasa aneh, Rupanya Alice pengguna senjata Pedang dan tombak yang elemennya berlawanan. Benar-Benar hebat!"


Raven menatap Pete. "Pete, jika kau berhasil mengalahkan kakakku, kau akan berhadapan dengan nya, bukan?" 


Pete nengangguk. "Benar.""Menurutmu, apakah Alice asudah begitu hebat?" tanya Gina, yang pasti akan membuat Pete menganalisa apa yang telah terjadi.


"Alice hanya beruntung karena menyerang begitu dominan, sementara Pia dalam keadaan terkejut dan mengambil langkah yang salah." 


Mendadak senyuman Dia luntur, kemudian menghela nafas pelan.


"Jika seandainya Pia tidak begitu terkejut dengan serangan kristal es milik Alice, maka sudah dipastikan Pia dapat menghindari serangan kristal es tersebut. Namun, karena terlambat menyadarinya membuat Pia harus memperlambat kristal es tersebut lalu berhasil di elakkan. 


Namun, Alice melihat kesempatan tersebut dan kemudian mengambil posisi untuk menyerang Pia. Lagi-Lagi karena keterkejutannya, Pia terlambat mengelak dan terpaksa mengadu senjatanya dengan posisi bertahan. Di saat itu, Pia sudah dapat dipastikan kalah.


Bagaimana pun, bertahan lebih sulit dari pada menyerang. Pia sangat kesulitan menggunakan kekuatan penuh dalam mengadu senjata yang mengakibatkan senjata pedang Pia terlepas. Dan kalian sudah pasti tahu apa yang terjadi Kemudian."


Pete memiliki penilaian yang sangat rinci. Oleh karena itulah, tidaklah mengherankan jika dalam pertarungan, Pete selalu unggul.

__ADS_1


Namun, Dia merasa tidak puas. Pete terlalu meremehkan kemampuan Alice yang notabene menurutnya lebih kuat dari pada sebelumnya karena kemampuan sihir miliknya telah bangkit. Jika bukan begitu, Bagaimana bisa alice menciptakan kristal es, padahal senjatanya tanpa elemen


Dia berucap begitu kesal. "Kau terlalu meremehkan kemampuan Alice, adik termuda."


Pete menghela nafas pelan, kemudian melirik Dia. "Kau tidak bisa melihat seseorang itu lemah ataupun kuat, karena selemah atau sekuat apapun mereka, itu tergantung dengan cara menggunakan kemampuannya."


Raven menghela nafas pelan. Dirinya mulai mengerti, kemampuan yang sesungguhnya bukanlah dilihat dari tingkat kemampuannya, melainkan caranya menggunakan kemampuannya.


 Tidak heran jika seni Pedang dan Sihir dinamakan seni mengadu kepandaian. Sial, padahal sejak kecil, dirinya diberikan arahan seperti ini. Bisa-biasanya baru memahaminya.


Dia semakin menggembungkan pipinya. Seperti biasa, Pete akan semakin gemas untuk mencubit pipinya yang membuat Dia semakin kesal bukan main, langsung menghadiahi cubitan mematikan di pinggangnya yang membuat Pete langsung berteriak khas lelaki sejati, maksudnya seperti perempuan.


Raven terkekeh pelan, melihat Pete menderita di tangan Dia. Namun, mereka semua segera meliriknya tanpa Raven sadari.


"Seperti biasanya, kau selalu membuat siapapun begitu kesal denganmu," ucap Raven yang terlihat tersenyum.


"Sakit, kakak pertama." ucap Pete begitu kesal.


Dia terlihat begitu marah. "Kau pantas menerimanya, adik termuda."


Nyali Pete langsung ciut melihat tatapan Dia bagaikan seekor singa yang begitu garang, membuat rekan mereka tertawa konyol.


Bahkan Alice yang baru masuk ke tempatnya pun ikut tertawa saking lucunya tingkah Pete dalam mode ketakutan.


Katie berceletuk, "adik termuda masih tidak berubah, selalu membuat kakak pertama dalam mode marah." 


Dia menghela nafas pelan, kemudian beralih menatap pertandingan yang terjadi di dalam arena. 


"Oh, ya. Raven dan May telah masuk ke lingkungan telaga langit, mereka menjadi adik seperguruanku dan aku seharusnya menjadi yang keenam, bukan?" tanya Pete,  mencoba menetralisir situasi


Raven berusaha untuk tidak tertawa karena lagi-lagi Dia menatap Pete yang membuat nyali Pete kembali ciut, padahal Dia tidak menatapnya dengan mode marah.


May pun menggelengkan kepalanya sambil berucap, "kak Pete, kami masuk ke telaga langit sebagai penghuni baru, bukan murid baru. Mastermu hanya membantu perkembangan kami dalam bentuk relasi, bukan hubungan guru dan murid."


Seketika Pete membeku. Sepertinya panggilan adik termuda memang telah permanen untuk Pete. Ini telah menjadi lelucon bagi orang-orang, mengingat Pete adalah murid yang paling tinggi, bagaimana bisa menjadi adik termuda? Sementara Dia yang paling pendek malah menjadi yang paling tertua.


Tiba-tiba, Raven berdiri begitu namanya disebut oleh juri untuk laga kelima.

__ADS_1


__ADS_2