
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 107. pertunangan?...
Dia mengalirkan air matanya, berupaya menahan rasa sakit yang diterimanya. Akibat kesalahan karena terlalu ngotot untuk tetap disamping Pete, dirinya telah kehilangan kesuciannya.
Dirinya ingin sekali menangis, namun tidak mampu meskipun air matanya mengalir. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, Pete yang dalam keadaan tidak sadar telah merenggut kesuciannya. Ya! Pete telah menodai dirinya.
Pete mulai membuka matanya, seketika rasa sakit menyerang kepalanya yang membuat dirinya meringis kesakitan. Dengan segera, Dia menghapus air mata di pipinya, dan mendekati Pete serta memeriksa kepalanya.
"Kau masih pusing, Pete. Sebaiknya kau beristirahat."
Perlahan sakit kepalanya mulai mehilang sedikit demi sedikit yang kemudian pada akhirnya telah hilang secara sempurna. Namun dirinya mulai merasa ada yang janggal. "Apa yang terjadi sebenarnya tadi siang?"
Dia memalingkan muka, mengingat apa yang telah terjadi tadi siang yang membuatnya bersedih. "Kau hanya terkena bubuk obat tidur saja."
Namun, bukan Pete namanya kalau tidak peka. Dirinya tahu bahwa gadis itu telah diam-diam menyembunyikan sesuatu darinya. Pasti ada yang salah. Dan Pete tidak akan bertanya lebih lanjut, selain kan memeriksa di sekelilingnya.
Pete melirik meja di sampingnya dan matanya mulai membola ketika melihat sebotol obat yang telah habis. Obat pernah dirinya lihat saat dahulu di toko gelap, saat Pete menyendiri di saat terbuli.
Dengan cepat, dirinya membuka sprei dan yang membuat dirinya semakin shock adalah terdapat noda darah di sana. Pete pun melirik ke arah Dia yang tidak mau melihatnya.
Meskipun begitu, rawut wajah gadis itu terlihat dari sebuah cermin yang terpasang di sudut kamar. Terlihat matanya begitu sembab karena menangis.
Dirinya mulai menyadari apa yang telah terjadi. "Kakak pertama, aku-"
"Tidak ada hal yang terjadi di sini. Tidak perlu meminta maaf," ucap Dia berupaya untuk berbohong meskipun dirinya tahu bahwa Pete tidak dapat dibohongi.
Pete justru bangkit dari tempat tidurnya, kemudian mendekatinya dan memutar tubuhnya sehingga dirinya kembali berhadapan dengan lelaki yang telah mengambil kesuciannya itu.
Mendadak, dirinya mulai terisak dan akhirnya menangis yang membuat Pete merasa begitu bersalah, walaupun dirinya tidak tahu apa yang terjadi secara kronologisnya.
Pete membawa gadis tersebut ke pelukannya, sebagai sandaran untuk gadis tersebut. Dia tidak melawan, justru menangis lebih keras di sana.
__ADS_1
Dia tahu benar bahwa Pete tidak bersalah sama sekali, yang salah itu sebenarnya adalah dirinya. Padahal, Xiao Fu telah meminta dirinya untuk meninggalkan Pete di dalam kamar, namun dirinya justru membandel untuk tetap berada di sana.
Bodohnya juga, dirinya malah mengikuti arahan Xiao Chi yang memintanya untuk tidur di sisinya dan memeluknya. Sehingga begitu Pete mulai bergerak memangsanya, dirinya sama sekali tidak mampu untuk melawan karena telah berada di posisi yang salah dan terpojokkan.
Oleh karena itulah, mengapa Dia tidak bisa menyalahkan Pete, seperti yang terjadi saat itu. Namun, Pete juga merasa bersalah. Walaupun dirinya tidak mengetahui kronologinya, namun dirinyalah yang melakukannya.
Sial! andaikan waktu bisa diulang, mungkin Pete tidak akan menghirup bubuk tersebut. Dan pada akhirnya hal seperti ini tidak mungkin terjadi.
Namun apa daya? Nasi sudah menjadi bubur, tidak dapat diubah lagi. Pete memeluk Dia, sedikit erat. Dirinya tahu bagaimana sakitnya perasaan Dia saat ini, dan pelukan seperti ini tidak akan bekerja untuknya, namun dirinya bisa apa selain memeluknya untuk menenangkannya?
"Kakak pertama, maafkan aku. Ini semua terjadi karena aku," ucap Pete lirih.
Dia berbalik menghadap Pete sambil menggeleng. "Adik termuda, akulah yang salah. Seharusnya aku mendengarkan nasihat master untuk meninggalkanku sementara di kamar ini."
Pete terbelalak dan mukanya semakin pucat. "Master sudah mengetahuinya?"
Dia mengangguk. "Xiao Chi juga."
Pete menghela nafas pelan. Mungkin akan ada sesuatu yang akan terjadi dan ada kemungkinan Tuan Finch akan mengetahui nya.
Jika dirinya tidak dimarahi, maka Pete yang akan dimarahi. Sekarang mereka tidak mampu berkata apa-apa lagi di saat itu tiba.
Pete juga memeluknya erat, sampah suara pintu terbuka mengagetkan mereka. Mereka semakin membeku melihat siapa yang telah membuka pintu kamarnya. Bahkan Dia dengan cepat mendorong Pete agar pelukannya terlepas.
Tuan Finch dan Xiao Fu tengah berdiri di sana, terlihat begitu menakutkan bagi mereka berdua. Tuan Finch menghela nafas pelan, kemudian berjalan ke ranjang dan membuka sprei yang pastinya terdapat noda darah akibat kejadian tadi.
Dia dan Pete semakin membeku melihat tindakan Tuan Finch. Mereka berdua menduga, Tuan Finch pasti akan naik darah saat ini.
Namun, Tuan Finch justru terlihat tenang, menyingkirkan sprei tersebut dan kemudian duduk di ujung kasur sana. Tidak hanya itu, tangan mereka berdua diraih dan ditariknya agar terduduk di kedua sisinya.
"Putriku, Micah. Bisakah kau mengatakan secara kronologis, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tuan Finch. Dirinya ingin mendengarnya langsung dari mulut mereka berdua.
Pete menunduk. "Aku ... yang aku ingat adalah sebelumnya kami dikepung oleh para musuh yang begitu misterius. Walaupun kami berhasil mengalahkannya, seseorang menebar bubuk yang tidak sengaja aku hirup . Dan kemudian-"
__ADS_1
Dia memotong ucapan Pete, mengambil alih penjelasan. "Setelah itu, Pete pingsan. Kami membawanya ke mari. Dan ..."
Tuan Finch mengerutkan keningnya, karena putrinya menggantung ucapannya. "Dan apa? "
Dengan perasaan berat, dirinya melanjutkan penjelasannya. "Aku kira, Pete teracuni atau hanya terkena bubuk obat tidur, oleh karena itu aku menolak perintah master yang menyuruhku pergi keluar.
Tidak aku sangka ternyata Pete terkena campuran bubuk obat tidur dan obat jenis perangsang nafsu, sehingga secara tidak sadar, Pete merenggut kesucianku. Tetapi ayah, itu bukan kesalahannya, melainkan kesalahanku. Akulah yang pantas dimarahi, bukan Pete."
Pete menatap Dia. Dirinya merasa bahwa Dia terlalu menyalahkan dirinya de "Kakak pertama, kau jangan hanya menyalahkan dirimu saja. Bagaimana pun, aku yang telah menodaimu, jadi aku siap menerima hukuman jenis apapun!"
Tuan Finch menghela nafas pelan. "Kalian berdua, ikuti aku!" perintah Tuan Finch begitu tegas.
----
Kembali ke rumah anggota keluarga Finch, cukup banyak orang yang berkerumun di sana. Rupanya Tuan Finch telah bertindak begitu tegas.
"Tolong kalian semua agar datang ke acara perjodohan ini. Meskipun begitu mendadak, namun aku harap kalian semua mengerti."
Terlihat keempat rekannya tengah berada di sana, menunggu kedatangan mereka berdua. Sesungguhnya mereka saling terheran dengan apa yang telah terjadi di keluarga ini. Acara ini begitu mendadak dan sama sekali langsung dipersiapkan secara tergesa-gesa.
Katie menatap ketiga rekannya di hadapannya. "Apa hanya aku yang berfikir bahwa Pete dan Dia telah terjadi sesuatu? Bagaimana pun juga, Ini terlalu mendadak untuk mengadakan acara perjodohan. Bukankah biasanya dalam melakukan rencana perjodohan, acara puncak paling lama dimulai seminggu setelah dekorasi."
"Aku juga sama. Namun apa untungnya bagi kita? Walaupun telah terjadi, toh kakak pertama tidak marah atau sedih. Setidaknya mereka berdua begitu bahagia," ucap Joe.
Gina dan Kurt saling berpandangan. "Entahlah, namun kita harus mengikuti acara pertunangan dahulu. Bagaimana pun, ini adalah acara perjodohan kakak pertama dengan adik termuda, kita sebagai rekannya harus mendukung acara mereka."
Xiao Chi juga terlihat di sana, ada juga Raven, Collete, Rusk, dan berbagai orang Univir, bahkan Alice pun juga hadir diam-diam karena tuan Finch tidak mengundang keluarga Hunter.
Raven menghela nafas pelan. "Tidak aku sangka, ternyata Pete akan bertunangan kepada nona Finch."
Shara justru menghela nafas. "Itu karena kau terlalu terlambat untuk mengungkapkan perasaanmu kepada dirinya."
__ADS_1
Raven malah tersenyum. " Tidak masalah. Aku akan menjadi yang kedua, kok!"