
Aurelia terlihat begitu dongkol bukan main, bagaimana pun Pete memiliki akhlak yang minus. Bisa-bisanya berkata sedemikian kasar terhadap ayahnya.
Namun, Aurelia justru merasa tidak mengerti. Mengapa ayahnya justru membelanya? Padahal lelaki ini menghancurkan patung tersebut yang seharusnya dihukum, dong.
Pete masih memasang sikap waspada. Bagaimana pun, dirinya tidak boleh merasa sedikit lengah. Namun, Naga tersebut malah menunduk dan bersujud di depannya yang membuat Pete segera mundur tiga langkah.
...Sacred Valley: awal perjalanan kultivator ...
...Episode 133. Harvest Goddess...
"Maafkan aku karena aku tidak bisa menilaimu, sungguh aku merasa sangat menyesal."
Pete terbengong sejenak, kemudian melepaskan pertanyaan. "Sebenarnya siapa kau? Apa yang terjadi di sini dan mengapa kau menghukum Chester?"
"Aku adalah Aquaticus, seekor Naga yang menjadi abdi kaisar langit pertama yang terbunuh, meskipun aku bukanlah naga kaisar. Mengenai yang telah terjadi disini, aku merasa bahwa dunia ini, rasa keyakinan mereka semua seperti turun sedikit demi sedikit yang membuatku merasa begitu sedih.
Bahkan pengikut aliran buddhis pun pergi meninggalkan ajaran kami. Sungguh membuat kami merasa begitu sedih. Mengenai hukuman yang ditanggung Chester, itu karena beliau gagal mengamankan Patung dewi panen sehingga begitu lecet.
Kau juga harus tahu, patung itu begitu berharga, namun tidak bisa dinilai dengan Uang. Tidak aku sangka, rupanya kau membuka kutukannya dan akhirnya sang dewi telah bebas."
Pete mengerutkan keningnya, membebaskannya? Tidak! Dirinya hanya mengikuti saran dari Chang'e saja.
Sementara itu, Aurelia mulai mengerti dengan tindakan Ayahnya itu. Tidak disangka, lelaki yang memiliki akhlak yang minus ini ternyata mampu membangkitkan Harvest Goddess.
"Siapa namamu, anak muda?" tanya seseorang yang sontak membuat mereka segera menoleh dan kemudian langsung Shock.
Terlihat seorang gadis berpakaian putih dengan karangan mahkota bunga di kepalanya dan bersayap seperti seekor capung tengah terbang di atas, namun mereka segera tahu bahwa itu adalah wujud dari seorang Dewi panen.
"Harvest Goddess?" tanya mereka bersamaan.
Terlihat dewi tersebut menghela nafas, karena pertanyaannya tidak dijawab. Dewi itu langsung saja mendekati Pete.
"Anak muda, siapa namamu?"
Pete terperanjat sejenak, kemudian menjawab, "namaku Micah, namun dipanggil Pete."
Dewi tersebut tersenyum. Astaga senyum yang begitu manis. Pete merasa sedikit terbuai,namun segera dirinya tampar pipinya sendiri.
__ADS_1
Dewi tersebut malah tertawa. "Jangan menyakiti dirimu sendiri. Kau hanya terpana dengan keluarbiasaanku, aku mengerti."
Tidak disangka, sang dewi tersebut langsung memeluknya yang membuat semuanya langsung Shock. "Kalau begitu, panggil aku Marina di saat kita berdua berbicara di tempat lain. Aku sangat sensitif jika ada orang lain yang tahu namaku. Jadi saat ini panggil saja aku Harvest Goddess," bisiknya.
Pete mengerutkan keningnya, bukan karena tingkah dewi yang memeluk dirinya, bukan juga bisikannya, melainkan apa yang telah dewi itu lukis di punggungnya.
Pete benar-benar memiliki kewaspadaan yang begitu tinggi, sampai gerak-gerik yang sangat kecil pun dapat Pete deteksi.
Mendadak Dewi tersebut bercahaya menyilaukan, Pete mulai merasakan rasa hangat di punggung yang dewi tersebut lukis. "Aku akan menemui dirimu lagi di tempat lain."
Dewi tersebut langsung hilang, yang justru membuat Pete kebingungan. Naga tersebut malah semakin menghormati dirinya.
Aurelia pun juga malah ikut menghormati dirinya. Chester juga, membuat Pete semakin tidak mengerti. "Bangunlah, Kau tidak perlu bersujud seperti itu."
"Aku merasa bahwa sebaiknya kita pindah dari sini, menuju Kuil lain." Pete menoleh dan mengerutkan keningnya. Marina, maksudnya Harvest Goddess datang, kali ini beliau terlihat seperti manusia, tanpa ada sayap di punggungnya.
"Tetapi kami harus pindah ke mana? Hanya disinilah kuil suci satu-satunya." tanya Aquaticus.
"Kuil suci?" tanya Pete yang mendadak teringat sesuatu. Di ujung sebelah barat di Telaga langit juga ada Kuil suci, bukan?"
"Ada kuil suci di Telaga langit. Kalian tertarik?" tanya Pete yang mendadakAurelia dan Chester terbengong. "Kau meminta kami untuk pergi ke tempat angker seperti itu?"
Aurelia menghela nafasnya. "Kau sendiri tahu, bukan? Disana ada makhluk serigala berekor sembilan dan tiga. Itu menakutkan."
"Mereka berdua adalah adik dan masterku. Kalian jangan takut," ucap Pete begitu meyakinkannya.
"Pete, kau harus memberikan izin untuk mereka agar diterima oleh mastermu dahulu. Bagaimana pun, kami begitu asing bagi mereka dan ada kemungkinan, kami dikuliti hidup-hidup olehnya."
Pete segera mengeluarkan sebuah surat dan menulisnya. Tidak lupa disisipkan sebuah cap jempol dari darah miliknya, sebagai tanda bahwa surat tersebut menang ditulis olehnya untuk meyakinkan masternya
"Berikan ini kepada mereka, pasti mereka akan mengenali surat ini dariku," ucap Pete sembari menyerahkan gulungan tersebut.
Aurelia menerima surat itu, namun dengan begitu lancang dibukanya. Tertulis, 'Master, mereka adalah kelompok dari kuil suci Privera. Namun, kuil tersebut telah hancur dan mereka kehilangan tempat tinggal.
Dengan ini, aku sangat berharap agar master mempertimbangkan untuk memberikan mereka tempat di kuil suci tepat di sebelah barat Telaga langit. Bagaimana pun, mereka memiliki peran penting untuk dunia.
Aku sisipkan cap jempol dari darahku ini sebagai tanda bahwa surat ini memang ditulis olehku, muridmu yang termuda.
__ADS_1
Aku titipkan salamku juga kepada kelima kakak seperguruanku, adikku Xiao Chi dan May, dan juga Raven.'
Aurelia mengerutkan keningnya. "Sebenarnya kau itu siapa? Bagaimana bisa kau menjadi seekor Naga, juga memiliki adik dari makhluk serigala berekor tiga?"
Pete menghela nafas pelan, merasa sangat sulit untuk menjelaskan. "Aku tidak tahu harus menjawab apa, tetapi aku rasa ini adalah privasiku."
Aurelia menghela nafasnya. "Baiklah, jika kau tidak mampu menjawabnya, aku tidak akan memaksa. Dan terimakasih atas segala bantuan darimu.
Pintu ini telah aku buka lagi dan dalam waktu tujuh belas menit akan tertutup kembali. Jadi, kau harus segera pergi dari sini. Jangan khawatirkan kami, karena kami punya jalan rahasia untuk keluar dari sini."
"Pete, aku harap kita bisa bertemu kembali. Jika kau merasa butuh bantuan, tepukan punggungmu sendiri. Aku sudah menanamkan segel yang dapat kau gunakan untuk memanggilku dan juga sebagai tanda untukku melacak lokasi mu."
----
Pete akhirnya keluar dari Dragon Cave. Misi pertamanya sukses.
"Bersyukurlah karena kau memiliki bala bantuan tambahan. Kau tahu, Sang Dewi menanamkan segel pemanggilan di punggungmu, yang begitu Kau memeluknya, maka sang Dewi akan langsung muncul di hadapanmu.
Namun, jika sang dewi berniat menemuimu, kau tidak bisa mengelak karena dirimu akan langsung berteleportasi ke hadapannya."
Pete memutar bola matanya malas. "Bagaimana bisa sang dewi panen tidak menyadari keberadaanmu?"
Chang'e tertawa. "Itu karena pemikiranmu terlalu rendah. Sesungguhnya dirinya tahu aku ada di sini. Jika dirinya tidak tahu, Marina itu tidak akan membenamkan segel pemanggilan di tubuhmu, melainkan langsung ikut denganmu."
"Nama nya juga Privasi?" tanya Pete yang juga terheran.
"Setiap Dewa dan Dewi memiliki privasi terhadap namanya sendiri. Hanya orang tertentu yang boleh tahu dan menyebut namanya. Kau menjadi orang yang paling beruntung," ucap Chang'e.
Pete melanjutkan perjalanan, hingga sampai di Tempat yang begitu aneh. Terlihat bahwa ada perkampungan disana, namun malah begitu sepi. Terdapat pepohonan, namun semuanya mati.
Pete mencoba mengetuk pintu di sebuah rumah. Dan Pintu tersebut langsung terbuka.
Pete melihat pemiliknya dari kaki sampai kepala. Astaga, bersandal jerami, menggunakan rok panjang di bawah lutut, tinggi sekitar lima belas sentimeter lebih pendek darinya, berpakaian hijau, hingga terlihat menggunakan topi putih.
"Mengapa kau datang ke sini?" tanyanya begitu sarkas.
"Memangnya tidak boleh bertamu disini?" tanya Pete terheran.
__ADS_1
"Kau mau jadi tumbal? Jika tidak, jangan datang ke tempat ini lagi."
Pete mengerutkan keningnya. "Tumbal? Hey ,apa yang terjadi di sini?"