Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Dari Nekomimi ke bangsa Elf


__ADS_3

Alice mulai membalikkan badan dan mulai pergi setelah berpamitan. Dirinya berjanji akan merahasiakan Micah dari siapapun dan juga tidak akan menyerang Nekomimi lagi.


"Sampai jumpa dan semoga kita bertemu lagi, Micah."


Setelah konfrontasi singkat itu, para Nekomimi mulai berkumpul di hadapan Micah.


"Micah, aku tidak menyangka rupanya kau dapat meredakan konfrontasi ini dalam waktu yang begitu singkat. Terima kasih banyak atas bantuan dariku," ucapnya.


Micah tersenyum, namun saat ingin bicara tidak ada satu pun kata yang keluar. Micah mulai merasa cukup sedih, kemudian memilih diam kembali.


Mendadak tas besar miliknya diserahkan, berisi begitu banyak uang. "Ini adalah hadiah dari kami. Sebagai Freelancer, Kau pasti membutuhkan banyak uang."


Micah menghela nafas pelan kemudian menerimanya. Micah juga melakukan penghormatan kepada ketua Nekomimi yang berarti Micah harus melanjutkan perjalanannya.


"Kau ingin pergi sekarang? Baiklah, namun terimalah ini. Mungkin hanya Note Kecil, namun kau bisa menggunakannya untuk dapat berkomunikasi. Terkadang, berkomunikasi melalui isyarat tubuh tidak dapat dimengerti oleh lawan bicara. Sekarang, pergilah. Jika ada waktu sempat, datanglah kemari. Akan aku pastikan bahwa ada patung menyerupai dirimu di sini," lanjutnya.


Dengan hati yang penuh rasa syukur dan pengalaman baru yang berharga, Micah melanjutkan petualangannya dengan semangat baru, siap menghadapi rintangan dan tantangan yang mungkin akan dihadapinya di masa depan.


Mendadak gadis yang sama muncul kembali, dan rawut muka Micah mulai terlihat begitu kesal. Terlihat gadis itu mulai mendekati Micah yang secara mengejutkan Micah tidak dapat bergerak.


"Seorang Freelancer seharusnya memiliki bekal yang tidak terlalu berlebihan. Kau itu Freelancer atau saudagar?" tanya gadis itu sembari mengambil sebagian besar bekal milik Micah.


Micah mulai terlihat tidak rela, namun gadis itu langsung mengusap pipinya sembari berucap, "jangan khawatir, aku akan mengembalikan seluruh bekal jika kau sudah penyimpanan yang memadai, hehe."


------------


Micah menghela nafas pelan, kemudian melanjutkan pengembaraan terus ke barat, dimana setiap malam, Micah menggelar tenda dan mulai membuat kayu bakar, menyiapkan makan malam untuknya sendirian serta mencoba melatih kontrol kekuatannya. Setelah satu hari melewati lembah, akhirnya Micah sampai di perkampungan lainnya.

__ADS_1


Micah mulai masuk ke perkampungan tersebut. Terlihat orang disini memiliki fisik aneh, namun begitu normal dalam bertindak. Mendadak seseorang mendekatinya dan mulai berkata, "hai manusia. Aku berhasil menguasai sihir Toad, lho! Mau mencoba?"


Micah kemudian langsung di sihir menjadi katak, membuatnya terkejut. "Wow, Kemampuanku begitu sempurna!"


Micah mulai berwujud katak, melompat-lompat untuk mencari pertolongan. Namun seseorang gadis berpakaian minim menangkapnya. "Hai manusia! Kau ingin melihat dansa? Sini aku perlihatkan kemampuanku."


Micah tidak bisa melakukan apapun, dan setelah orang itu berdansa, Micah mulai merasa pusing dan langsung pingsan. Setelah terbangun, kini malah menjadi babi yang jadi bahan tertawaan.


Micah mulai berlari seperti babi dikejar pemangsa dan pergi ke sebuah rumah yang diperkirakan merupakan balai wilayah. Sesampainya disana, beberapa orang langsung menghalangi. Namun seseorang lelaki tua segera berucap, "jangan dihalangi."


"Pak ketua!" Teriak mereka sambil menunduk hormat.


Micah di sihir kembali sehingga menjadi seperti semula, terlihat jelas Micah dengan pakaian Paladin miliknya yang membuatnya terkejut. "Warrior of Light?" tanya pria tua itu.


Micah tidak mampu bicara, sehingga sama sekali tidak mungkin baginya untuk bertanya. Namun, pria tua itu malah hormat kepada Micah. "Manusia, kami telah menunggu lama kedatangannya dan aku harap kau memaafkan tindakan rakyatku kepadamu."


Micah mulai merasa ada yang janggal. Bagaimana pria tua ini bisa tahu ... jangan-jangan pria tua ini dapat membaca pikirannya. "Tentu saja aku dapat membaca pikiranmu. Aku tidak mungkin salah tebak, namamu Micah, seorang Freelancer yang hendak mencari tahu asal usulmu, dikutuk Kitsune karena tidak sopan memasuki rumahnya. Apakah semua itu benar?"


Micah terbelalak. Dirinya baru tahu bahwa Kitsune melakukan ini karena Micah tidak sopan. "Hohoho, kau bahkan baru tahu hal ini. Aku tebak lagi, Kitsune juga terus menerus mengintai dirimu, membawa sebagian besar bekalmu, dan bahkan kau tidak tahu bahwa kami adalah bangsa Elf, bukan?"


Micah menundukkan kepalanya. Semua yang dikatakan Pria tua ini benar. "Tidak perlu menunduk begitu. Sekarang, perkenalkan namaku Topapa. Aku disini sebagai pemimpin Moon Elf. Kau telah kami tunggu dalam waktu yang lama, untuk menyadarkan para Dark Elf dari jeratan iblis. Sekarang, ikutlah aku untuk masuk ke dalam."


Mendadak penjaga mulai berucap, "pak ketua, manusia tidak diizinkan masuk."


Mendadak pria tua yang memiliki nama Topapa ini menatap pengawal Balai kota dengan marah. "Kau menghalangi seorang Warrior of Light? Dimana otakmu?"


Mendadak Topapa mulai menarik Micah agar masuk ke dalam. "Jangan pedulikan mereka."

__ADS_1


------------


Micah menghela nafas pelan, mendengar seluruh penuturan Topapa mengenai awal mula konflik, dimana dulunya Moon Elf dan Dark Elf satu tetangga, namun karena hasutan iblis, dimana pohon jenis apapun di sana mulai mati secara misterius ditambah kemunculan pohon Karnivora iblis yang dapat menghidupi Dark Elf dengan menumbalkan salah satu penduduk setiap hari, bernama Devil Death Tree, mereka menjadi berseberangan.


"Aku ingin Para Dark Elf kembali seperti semula, namun aku merasa itu sangat sulit. Jika pohon iblis itu dibunuh, mereka bakalan jatuh dalam bencana kelaparan. Jika dibiarkan, bisa tidak selesai masalah ini," ucap Topapa sambil menatap sebuah lukisan dimana Dark Elf dan Moon Elf bersama.


Mendadak Topapa membalikkan badan dan mulai menghadap ke arah Micah. "Tetapi aku tahu, kau pasti mampu mengatasinya, Warrior of Light. Sekarang, kau beristirahatlah dahulu. Akan aku antarkan ke kamarmu."


Micah mulai pergi bersama Topapa dan sampai di tempat khusus untuknya tidur. "Ini adalah kamarmu untuk tidur selama satu malam ini. Jadi, silahkan tidur dan bersiaplah untuk berangkat pada keesokan harinya."


Micah memasuki kamar tersebut dan menutup pintunya perlahan. Dia memandangi sekeliling kamarnya yang kosong dan sepi. Dia merasa terbebani dengan tanggung jawab yang diberikan Topapa padanya. Dia merenung sejenak, mencoba mencari solusi dari konflik antara Moon Elf dan Dark Elf yang terjadi di wilayah mereka.


"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku ingin membantu para Dark Elf, tapi aku juga tidak ingin mengorbankan kehidupan satu orang demi mempertahankan pohon iblis itu. Ini benar-benar sulit," gumam Micah dalam hati.


Micah merenung lagi, mencoba mencari jalan keluar dari situasi yang rumit ini. Dia merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara yang tepat dan adil bagi semua pihak.


"Aku harus berpikir lebih keras lagi. Aku tidak bisa hanya menyerah begitu saja. Mereka membutuhkan bantuanku, dan aku tidak bisa mengecewakan mereka," ucap Micah di dalam benaknya pada dirinya sendiri.


Micah merasa semakin tertekan dengan tanggung jawab yang diemban. Namun, dia memutuskan untuk tidak menyerah dan terus berjuang untuk menyelesaikan konflik antara Moon Elf dan Dark Elf. Dia merasa yakin bahwa dengan tekad yang kuat dan kerja keras, dia akan menemukan solusi yang tepat dan adil bagi semua pihak. Micah mengambil nafas dalam-dalam dan mempersiapkan dirinya untuk menghadapi tantangan yang akan datang.


Micah duduk di atas ranjangnya dan merenung lagi. Dia mencoba mengingat-ingat kata-kata Topapa dan mencari tahu lebih banyak tentang masalah ini. Dia merasa bahwa dia harus memahami sepenuhnya situasi ini agar dapat menemukan solusi yang tepat dan efektif.


"Tidak ada yang mustahil jika aku bertekad dan berjuang dengan keras. Aku harus menemukan cara untuk mengatasi masalah ini dengan cara yang adil dan tidak merugikan siapa pun," pikir Micah dalam hati.


Micah berdiri dari tempat tidurnya dan melangkah ke jendela kamarnya. Dia melihat keluar dan melihat langit malam yang cerah di luar. Dia merasa bahwa dia harus bergerak cepat untuk menyelesaikan masalah ini sebelum semakin memburuk.


Micah berjalan ke meja kecil di samping ranjangnya dan mulai menulis rencana dalam sebuah buku kecil yang terdapat disana karena tidak mungkin dirinya mencoret buku kecil pemberian Nekomimi untuk membantunya berkomunikasi. Dia mencatat semua informasi yang dia miliki tentang masalah ini dan mulai merancang strategi untuk menyelesaikannya.

__ADS_1


Setelah beberapa jam, Micah menyelesaikan rencananya. Dia merasa yakin bahwa rencananya akan berhasil dan membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Dia kembali ke tempat tidurnya dan merenung lagi, menunggu pagi tiba agar dia bisa mulai bertindak. Dengan keyakinan dan tekad yang kuat, Micah siap untuk menghadapi tantangan yang akan datang dan membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.


__ADS_2