Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 99


__ADS_3

Masih di ruangan perawatan Collossum, Pete dan Dia tampak begitu terfokus mendengarkan cerita Tuan Fisher mengenai putrinya. Terlihat mereka berdua berekspresi sama, saling menyentuh dagunya, saling menggelengkan kepalanya, dan mereka pun bahkan memberikan argumen yang sama.


Mengenai Lia, sejak dahulu saat dirinya masih begitu kecil, memang telah memiliki ambisi yang begitu tinggi. Jika menginginkan sesuatu, dirinya akan melakukan apapun untuk mendapatkannya.


...Sacred Valley:titik awal kultivator ...


...Episode 99. sebuah pembagian ...


Bahkan ayahnya saja begitu uring-uringan menghadapi tingkahnya. Gadis itu memang tidak bisa terhentikan. Namun, apa yang dirinya inginkan selalu berhasil diraihnya sehingga membuat dirinya semakin menjadi-jadi. 


Ini adalah yang pertama kalinya gadis itu gagal mendapatkan keinginannya. Namun ada hal buruk yang akan menanti mereka berdua. Gadis itu akan semakin membuat mereka berdua begitu terganggu, bahkan ada juga kemungkinan untuknya menyakiti salah satu di antara mereka berdua.


"Oleh karena itulah, aku menyarankan kalian berdua seharusnya Berhati-Hati," pinta Tuan Fisher.


Pete dan Dia saling menatap satu sama lain, kemudian secara bersamaan menghela nafas pelan.


"Oh, ya. Aku menantikan undangan dari kalian, ya!"


Pete dan Dia mendadak saling mengerutkan keningnya. "Undangan?"


Tuan Fisher malah mengerutkan keningnya juga. "Kalian berdua tidak diberitahu soal ini oleh orang tua kalian?"


Dengan kompak, Pete dan Dia menggelengkan kepala. Membuat Tuan Fisher mengerti. 'Mungkin itu sebenarnya adalah rahasia,' ucapnya di dalam benaknya.


"Kalau begitu, kalian berdua pergilah. Aku takut Putriku akan semakin menjadi jadi sehingga membuat kalian berdua begitu kesal. Biar aku saja yang menangani putriku sendiri," pinta Tuan Fisher.


Pete dan Dia saling berpandangan, kemudian segera pergi bersamaan. Tuan Fisher menghela nafas pelan, merasa dirinya menjadi orang tua yang sangat buruk. 


"Aku akan mengatasi putriku, sebaiknya kalian segera pergi saja. Aku tidak bisa melihat putriku akan merasa naik darah lagi."


----


Pete dan Dia tampak saling berdiskusi satu sama lain, mengenai Lia dan apa yang telah terjadi serta apa yang akan kemungkinan terjadi. Mereka berdua menghela nafas pelan, entah ke sekian kalinya.


"Aku pikir membuatnya begitu buruk akan menghentikan tindakannya. Aku rasa perempuan fighter itu lebih menyebalkan daripada seluruh perempuan yang telah aku kenal."


Dia menghela nafas pelan, merasa apa yang telah Pete katakan memang benar. Sekarang dirinya mulai khawatir dengan Pete yang memang akan keluar dari telaga langit.


"Tetapi, aku rasa gadis itu tidak akan bisa bangun selama setahun lamanya. Xiao Chi hanya bisa mengobatinya agar selamat dari kematian. Sementara agar sembuh total, sepertinya memang membutuhkan waktu selama itu."


Mendengarnya membuat Dia menghela nafas lega. Setahun, dirasa sudah cukup untuk membuat Gadis itu jera.

__ADS_1


"Oh, ya. Kakak pertama. Besok adalah pertandinganmu. Jadi kau harus bisa mengalahkan siapapun lawanmu, ya!" ucap Pete mengingatkan Dia.


Dia tersenyum miring. "Aku tidak selemah dan senaif dirimu. Kita lihat saja di arena besok."


Mendengarnya membuat Pete merasa kesal. Namun, Pete bisa apa sekarang? Mengadu argumentasi dengannya? Sudah jelas Pete akan kalah. Main tangan? Itu bukan tipikal Pete.


"Oh, ya. Aku akan membagi apa yang aku dapat saat di dimensi Pedestal. Jadi aku harap kau bersama rekan-rekan juga Master dan Xiao Chi datang ke kamarku nanti malam."


Dia mengerutkan keningnya. "Apa yang kau dapat saat di dimensi Pedestal? "


Pete tersenyum. "Nanti juga kau akan tahu."


Dia menghela nafas pelan. Kalau sudah begini, tidak memungkinkan lagi untuk ditanyakan lebih lanjut lagi.


Meskipun begitu, Dia tetap merasa penasaran dengan apa yang telah Pete dapatkan di dimensi Pedestal yang telah runtuh itu.


Pete terlihat begitu tersenyum sambil berjalan melihat Dia yang tampak mencoba menatapnya menginterogasi. Namun, tatapan seperti itu tidak akan berpengaruh terhadap Pete.


Dia bersama Pete telah kembali ke bangku penonton Arena Gladiator, bergabung bersama rekan-rekan dan Masternya. 


"Nanti malam, bisa tidak kalian datang datang ke kamarku? Kebetulan aku mendapatkan sesuatu dari dimensi Pedestal yang akan aku bagi untuk kalian semua. Hitung-Hitung sebagai hadiah kepergianku untuk kalian."


Xiao Fu dan Xiao Chi saling melirik, kemudian menghela nafas pelan. Mereka memang tidak mengetahui apa yang akan Pete bagikan, namun ini terasa tidak adil sama sekali. 


Namun, mereka bisa apa? Jika Pete telah berucap, walaupun diberikan pertimbangan apapun, Pete tetap akan kukuh pada pendiriannya. Selain Naif, Pete juga Keras kepala.


"Oke. Nanti malam, kami pasti akan datang," putus Xiao Fu pada akhirnya. Memang ucapan ini yang terbaik untuk diucapkan daripada sebuah ucapan untuk meminta Pete mempertimbangkan kembali keputusannya. Karena ucapan itu sama sekali tiada gunanya.


Mereka pun melanjutkan menonton pertarungan Gladiator yang masih terus berlanjut hingga  menjelang malam.


----


Malam hari telah tiba, Dia bersama rekan-rekan seperguruan dan Masternya termasuk Xiao Chi telah tiba di depan Pintu.  Entah mengapa, perasaan mereka merasa tidak enak.


Pintu pun akhirnya dibuka dan alangkah terkejutnya mereka karena terdapat beberapa gunungan herbal tingkat Dewa, membuat Xiao Fu dan Xiao Chi berupaya untuk menahan diri agar tidak lompat dan mandi di tumpukan herbal tersebut. Memang konyol.


Masalahnya, terdapat herbal rumput suci, buah Tho, ginseng darah, dan berbagai jenis herbal terlangka yang sangat sulit untuk ditemukan dimanapun lokasinya. 


"Semuanya bisa mengambil satu gundukan untuk satu orang." 


Dia menghela nafas pelan. "Adik termuda,  ini terlalu-

__ADS_1


Mendadak, Xiao Chi dan Xiao Fu mengambil satu tempat dan menghabiskan bagian mereka di Cincin penyimpanannya.


"Tunggu apa lagi? Ayo ambil satu-satu!" pinta Pete yang membuat mereka kemudian mengambil bagiannya.


Dia menghela nafas pelan. "Adik termuda, ini terlalu berlebihan."


Pete tersenyum.  "Apa yang aku punya, itu yang aku berikan."


Xiao Fu dan Xiao Chi malah menunduk kepada Pete, ini lebih konyol lagi, nih. "Master, Xiao Chi! Apa yang kalian lakukan?"


Xiao Fu dan Xiao Chi menjawab serentak. "Bagaimana kami tidak merasa begitu hormat? Dengan ini kami merasa diberkahi oleh dewa. Kau tahu, ini adalah herbal dan buah dari kahyangan."


"Tetapi aku tidak mendapatkannya dari sana," ucap Pete terheran. "Master, Xiao Chi. Bangunlah! Tidak enak dilihat orang."


Dia menghembuskan nafasnya pelan setelah mengonsumsi buah Tho tanpa ada yang tahu, melewatkan drama ya terjadi baru saja. Katie pun ikut-ikutan. 


"Kalian semua, jangan dikonsumsi berlebihan, okay!" pesan Pete mengingatkan mereka.


"Tidak aku sangka,  setelah memakan buah Tho, tubuhku terasa penuh energi. Tidak heran jika buah ini begitu berharga," ucap Dia memuji.


"Umm, Ginseng darah ini juga, aku merasa tubuhku mulai ada sedikit peningkatan," ucap Katie.


 


Mereka pun langsung mencoba mengkonsumsinya dan mulai mengerti mengapa buah ini begitu berharga, sampai Master dan Xiao Chi pun juga harus menghormati Pete karena telah memberikan herbal berharga.


Jumlahnya pun, dirasa tidak akan habis dalam waktu setahun lamanya. Dalam waktu itu, sepertinya mereka mampu menembus tingkat Yukong, bahkan mungkin Yuanshen.


"Adik termuda, terimakasih atas pemberiannya. Entah  apa yang harus kita lakukan untuk membalas kebaikanmu."


"Tidak perlu dipikirkan. Setelah semua, aku rasa memberikan sedikit bantuan untuk kalian secara merata  adalah hal yang wajar."


'Pete, kau sendiri menyimpan dua bagian. Itu yang kau sebut merata?' tanya Chang'e sembari memutar bola matanya malas.


'Kau tidak mau?' tanya Pete melalui koneksi bawah sadar.


Chang'e terbelalak. Jadi satu bagian itu dikhususkan untuknya? 


'Maksud?'


'Aku mengambil dua bagian, satu untukku dan satu untukmu. Apakah itu salah?' tanya Pete heran.

__ADS_1


Sang Dewi membuka mulutnya, tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar. "Kau memberikannya kepadaku begitu saja?"


Pete tersenyum tipis.  "Apa kau keberatan, dewi Chang'e? "


__ADS_2