Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Bergerak keluar


__ADS_3

Micah telah bersiap-siap dengan tas ransel di punggungnya, yang berisi beberapa perlengkapan serta kado yang telah dipersiapkan langsung melesat dengan pedangnya, mulai meninggalkan Sharance yang sepertinya tidak ada seorangpun yang melihatnya pada hari mulai menjelang pagi.


Sementara itu, beberapa jam kemudian, Jack mulai berkeringat dingin saat mencari Micah yang kemudian karena putus asa, bergegas meminta bantuan Shara sehingga informasi hilangnya Micah pun mulai tersebar.


Begitu berita bahwa Micah menghilang secara tiba-tiba membuat Raven merasa sangat takut. "Bagaimana bisa, Shara? Bukankah Micah seharusnya ada di rumahnya?"


"Aku dengar dari Jack. Dia bilang bahwa dari kemarin malam, Micah bilang pamit keluar dan tidak pulang pulang. Mungkin ada sesuatu yang terjadi padanya atau mungkin ...."


Raven mulai bertanya secara tidak sabar. "Mungkin apa?"


"Ah, tidak. Bukan apa-apa. Sebaiknya kau tenangkan dirimu, Raven."


"Bagaimana aku bisa tenang? Micah adalah sahabat masa kecilku yang paling berharga buatku, Shara!"


Memang benar bahwa Raven tidak bisa membayangkan kehilangan sahabat masa kecilnya yang terakhir. Raven merasa seperti dunianya runtuh, dan bayangan kematian Rusk dan Collete kembali muncul dalam pikirannya.


"Aku dengan beberapa anak buahku telah berusaha mencari-cari Micah di seluruh Sharance namun tidak ada tanda-tanda keberadaannya sama sekali."


"Kalau begitu, akan aku cari sendiri." Raven memutuskan untuk mencari Micah sendiri. Dia menyusuri setiap sudut kota, bertanya kepada siapa saja yang dia temui apakah mereka melihat Micah.


"Apakah kau melihat Micah?"


"Sama sekali tidak."


Dia merasa semakin putus asa ketika setiap upayanya tak membuahkan hasil. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan Sofia, yang mulai menunjukkan titik terang. "Aku sempat melihatnya tadi pagi sekali di rumah makan."


Raven segera mencari ke rumah makan tersebut, yang terlihat bahwa Blaise begitu kewalahan untuk menjawab pertanyaan dari beberapa anak buah Shara yang memang mendengar informasi mengenai Micah terakhir kali memasuki Rumah makan ini.


"Aku sama sekali tidak tahu ke mana dirinya pergi setelah itu."


"Pak Blaise, apa yang terjadi?"


"Mereka terus menerus menanyaiku dimana Micah berada. Memang benar bahwa tadi pagi sekali datang kemari untuk mengambil pesanannya berupa dua porsi nasi goreng tanpa sayur. Dirinya bilang bahwa itu untuk bekal Ziarah ke makam kedua sahabat masa kecilnya. Namun, Micah malah berlari ke arah lain yang berlawanan dari arah Kuburan umum."

__ADS_1


"Tetapi Micah sama sekali tidak berada di sana."


Mendadak seseorang yang baru datang segera menjawab, "kemarin malam juga dirinya memesan pakaian jahit yang harus selesai di saat itu juga. Dirinya minta agar aku meminta tagihannya kepada Jack dengan jam ini yang katanya milik Jack. Namun, bersyukurlah karena Jack telah bersedia untuk membayar."


Orang itu adalah penjahit yang kemarin malah Micah pesan. Mendengarnya membuat Raven mendadak menatap orang itu. "Pakaian apa yang dirinya pesan?"


"Pakaian perempuan dengan gaya rumahan berwarna kuning, dan pakaian lelaki dengan gaya koki berwarna putih."


"Hah, Micah memesan pakaian juga untuk apa?" tanya beberapa anak buahnya.


"Dua porsi nasi goreng tanpa sayur, pakaian rumahan kuning, pakaian koki putih? Itu berarti, Micah ...."


Raven mulai melesat ke arah pintu gerbang. Dirinya mulai memberikan kesimpulan bahwa Micah masih tidak bisa mempercayai kematian Collete dan Rusk sehingga mencari ke luar sana. Namun, begitu sampai di sana, Raven telah dicegat puluhan penjaga.


"Raven, sebaiknya kau pulang. Di luar sana begitu berbahaya."


"Tetapi Micah ada di luar sana! Aku yakin itu!"


"Tetapi di luar sana, entah dari mana asalnya, para Demon sudah mulai berkeliaran di luar sana, Raven. Sangar berbahaya untuk keluar pada saat situasi seperti ini. Situasi di luar sana pada akhir-akhir ini terdapat Demon di sana dan kami rasa mereka akan menyerang Sharance, Cepat atau Lambat.


Raven terbelalak saat mendengar kata berkemungkinan tersebut, mulai berupaya untuk memaksa keluar, yang kemudian ditahan oleh beberapa penjaga. "Micah, aku tahu bahwa kau ada di luar sana! Segeralah kembali dengan selamat atau akan aku cari kau dimanapun untuk menghajarmu!"


 


Micah tengah terbang di udara. Perasaannya begitu senang setengah mati karena percaya bahwa dirinya bisa membawa kembali kedua sahabatnya dengan selamat.


"Micah, kau lupa untuk berpamitan dengan semua orang. Aku yakin, setelah semua, mereka pasti akan mencari dirimu."


"Aku tahu itu, namun biarkan kata membalasnya dengan kembali sambil membawa Collete dan Rusk. Sudah sekian lama, akhirnya aku menemukan garis terang dimana keberadaan mereka berdua. Kau tahu sejak dulu aku sama sekali tidak percaya bahwa Mereka berdua telah tiada, sungguh!"


"Kau begitu senang sekali dengan mereka, Micah."


"Setelah semua, mereka adalah sahabatku di masa kecil. Mana mungkin aku membiarkannya pergi begitu saja?"

__ADS_1


"Sepertinya kau terlalu gila sampai melakukan hal semacam ini."


"Kau tahu apa soal persahabatan abadi?"


"Kau? persahabatan abadi? Huh, Dasar pembual!"


"Terserahmu saja."


"Micah, sebenarnya apa yang terjadi pada saat itu? Walaupun aku baru mengenali tempat dan sistem aturan disini, namun aku tahu benar penerapannya. Hanya saja, bagaimana bisa kau bersama mereka berada di jauh sekali dari Sharance?"


"Itu karena-"


Mendadak terdengar suara melengking yang membuat Micah menoleh ke belakang. Terlihat beberapa hewan aneh yang mengejarnya. Makhluk itu memiliki rupa aneh, seperti kelelawar, namun hanya mirip-mirip. Matanya hanya satu namun ukurannya begitu besar.


Juga ada makhluk seperti elang besar, namun terlihat kepalanya tidak wajar seperti elang pada umumnya walaupun mirip sedikit.


"Mereka adalah monster! Tidak, maksudku itu adalah Demon."


"Micah, jangan memikirkan apa itu. Sekarang kau harus lari!"


Micah mulai menatap Moonlight Goddess. "Ini adalah batas kecepatan dan mereka pasti dapat menyusul cepat atau lambat. Lebih baik kita turun ke tanah dan mulai berlari seribu mill untuk kabur!"


"Jangan hanya bicara saja, bodoh! Lihatlah, mereka sudah semakin dekat!"


Micah mulai turun ke tanah, lalu berlari dengan kemampuannya yang menimbulkan kecepatan yang sangat di luar nalar manusia biasa pada umumnya. Di rasa, mereka butuh beberapa Item lainnya untuk mengejar Micah.


Namun, jangan lupakan bahwa di Darat sendiri juga banyak bahayanya. Terlihat beberapa monster berwujud tidak logis, maksudku mereka adalah Demon. Mereka tengah mengejar Micah dengan kecepatan yang mereka punya, namun itu sama sekali tiada gunanya.


"Mereka berjumlah begitu banyak sekali!"


"Teruskan berlari, Micah! Aku rasa, kau tidak akan mampu menghadapi mereka sekaligus! Cepatlah!"


Namun, Micah terpaksa terhenti begitu muncul Monster dimana-mana, tengah mengepung dirinya. "Ini buruk! Aku terkepung!"

__ADS_1


"Micah, aku rasa bahwa tidak ada pilihan lain selain melawan. Lihatlah di atas! Makhluk yang sama mengepung dirimu!"


Micah mulai mendongak ke atas, kemudian meneguk ludahnya. "Tamatlah riwayatku disini."


__ADS_2