Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Rencana diam-diam


__ADS_3

Micah akhirnya sampai di Sharance, segera menemui Raven di rumahnya. Dirinya ingin memberitahu soal apa yang dirinya lihat, namun semuanya terhenti ketika melihat Raven tengah berada sendirian di depan rumahnya, tengah membaca buku dan teringat bahwa Dirinya sama sekali tidak diizinkan untuk mendekatinya lagi.


'Jangan dekati aku lagi, Micah. Aku mohon.'


Ucapan Raven mendadak terngiang di kepalanya, yang mulai membuatnya bimbang. Micah mulai merasa bahwa memberitahu Raven soal Collete dan Rusk bukanlah tindakan yang tepat.


Mau tidak mau, Micah harus memilih bergerak mundur dan meninggalkan Raven yang masih sendirian di rumahnya itu. Untuk mengatasinya, Micah harus menemui Blaise Steward untuk berbicara kepadanya, mencari informasi mengenai kedua sahabatnya itu.


Micah telah berdiri di pintu rumah Blaise yang sekaligus rumah makan satu-satunya di Sharance. Dengan ragu, dirinya mengetuk pintu, kemudian memasuki Rumah makan.


Terlihat Blaise tengah terduduk di meja sana, sedang mengusap air matanya sembari menutup pigura foto di atas meja. Namun, Micah sudah tahu apa yang dilakukan Blaise.


Besok adalah hari ulang tahun Collete, bagaimana mungkin Blaise dapat melupakan putrinya itu? Namun, melihat Micah, tentunya diri ya harus kuat. Jangan sampai Micah tahu.


"Micah, mengapa kau datang pada malam seperti ini? Rumah makan sudah tutup pada jam segini. Ini juga sudah larut malam, Micah."


"Tidak, kok. Hanya bertamu saja, pak Blaise."


Micah mulai meraih pigura tersebut dan membalikkannya. "Aku mengerti. Kau kemari karena merindukan kedua anakku, bukan?"


"Ya."


Micah dan Blaise mulai saling berbicara soal mereka berdua. Sampai berhasil mengumpulkan informasi mengenai kedua sahabatnya itu.


"Kau tahu, kepergiannya membuatku merasa sangat kehilangan. Sampai saat ini Aku sama sekali tidak mampu untuk melupakannya."


Micah mulai menundukkan kepalanya. "Maafkan aku, pak Blaise."


"Tidak perlu meminta maaf. Saat itu kau masih kecil, juga sangat suka ikut-ikutan. Aku ingat benar bahwa di antara keempat orang yang menjadi sahabat itu, kau yang paling termuda dan juga paling polos. Aku ingat benar, betapa menyebalkan tingkah putriku, sampai-sampai setiap berbuat sesuatu, pasti ada saja masalah yang timbul.


Kau pasti ingat saat Putriku memintamu untuk menjadi koki, yang kemudian kau yang begitu polos sampai datang ke restoran ini demi memasak makanan di dapur yang pada akhirnya kau hampir terkena tumpahan minyak panas.

__ADS_1


Tidak lupa juga hal yang sangat tidak seharusnya terjadi di Flower Field 'Entrance'. Bahkan, sang Mayor pun sampai panik ke sana kemari mencari bantuan saran dan dukungan. Itu pun kau lagi yang menjadi korban dan Raven."


"Apa yang terjadi sebenarnya pada waktu itu? Aku sama sekali lupa."


Intinya, bahwa kau dan Raven telah mengucapkan janji menikah. Seharusnya kau mengingatnya?"


Mata Micah membola, bukan teringat sesuatu, melainkan dari perkataan Blaise. "Aku, dan Raven sudah menikah?"


"Masih belum, hanya Janji. Itu juga karena ulah Collete juga. Kau pasti tidak akan mengingatnya karena betapa polosnya dirimu pada waktu itu. Mungkin kau ingat saat bermain acara nikahan? Karena kau dan Raven telah menyebut nama langit dan bumi, yang telah dicatat oleh dunia, kau tahu.


Sharance sebenarnya adalah tempat yang penuh hal mistis. Ada beberapa aturan dan tradisi yang tidak boleh dilanggar, seperti tipe kamar harus dengan dua ranjang pada kamat laki-laki dan satu ranjang pada perempuan. Yang lebih parahnya adalah, bermain semacam itu akan dianggap melakukan pernikahan."


Micah mulai menunjuk dirinya sendiri. "Maksud paman Blaise adalah, aku dan Raven telah menikah?"


"Yah, aku ulangi sekali lagi. Kalian hanya baru bersumpah menikah pada usia yang sangat muda sekali. Namun, banyak peramal dan pembaca takdir masa depan mengatakan bahwa itu bagus untuk kalian berdua. Namun, karena masih di bawah umur, kalian belum waktunya untuk menikah sehingga Raven belum diizinkan untuk tidur di kamarmu, menempati ranjang mu yang lagi satu."


Micah mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mendengar fakta ini. Dirinya jadi tidak mampu berkata-kata. Namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahasnya lebih jauh lagi.


"Hanya bersumpah semata, bukan? Tetapi lupakan saja. Kesukaan mereka dalam hal pakaian dan makanan itu apa?"


Micah mulai merasa bahwa dirinya memang seharusnya mengirimkan sesuatu sebagai hadiah. Kemudian mulai berucap, walaupun begitu ragu.


"Pak Blaise, bisakah kau membuatkanku nasi Goreng tanpa sayur dua porsi dengan dibungkus dengan kotak kado? Aku benar-benar membutuhkannya untuk esok pagi sekali."


Blaise mulai mengerutkan keningnya, karena sangat aneh jika Micah memintanya membuatkan pesanan semacam itu. "Untuk apa?"


"Untuk melakukan Ziarah ke makam mereka berdua. Walaupun sebenarnya itu bukanlah makamnya, namun takut berbenturan dengan jadwal studi akademi."


"Aku mengerti. Kalau begitu, datanglah esok pagi sekali. Akan aku buatkan, tidak usah bayar."


Micah menganggukkan kepala, kemudian mulai pergi meninggalkan rumah makan setelah berpamitan.

__ADS_1


Micah langsung menemui seseorang yang berprofesi sebagai tukang jahit yang sangat profesional. Kemudian meminta untuk dibuatkan pakaian yang disukai Collete dan Rusk dengan ukuran yang dirasa pas untuk seukuran dengan mereka di saat ini.


Micah mulai mengatur agenda rencananya untuk membawa mereka berdua kembali ke Sharance. Tidak lupa, pedang miliknya yang berasal dari bungkusan kain tersebut.


 


Raven terlihat berdiri di Flower Fields, padahal masih larut malam. Dirinya teringat di masa kecil, mereka pernah berkumpul bersama ketiga sahabatnya di masa kecil, melakukan hal konyol. Terlihat juga Shara mendekati Raven, merasa begitu bingung dengannya


"Raven, apa yang kau lakukan disini?"


"Kau sendiri sedang apa, Shara?"


"Aku kemari hanya untuk melihat bunga disini. Kau masih memikirkan Micah?"


"Aku tidak ingin menjawabnya."


"Aku mengerti, Raven. Aku rasa memang wajar jika kau memiliki kekhawatiran terhadapnya yang mungkin akan ... sudahlah."


"Aku rasa begitu. Setelah berita mengenai kemampuannya itu, justru membuatku takut jika ramalan itu terbukti. Micah adalah sahabatku yang tersisa, jadi bagaimana mungkin aku merelakannya pergi?"


"Sahabatmu yang tersisa? Lalu kau menganggapku apa?"


"Ralat, sahabat di masa kecilku."


"Hanya sahabat?"


"Tch, kau tidak seharusnya mengungkit masa lalu."


"Hahaha, bagaimana aku bisa lupa? Aku sendiri yang melihat semuanya yang terjadi di sini di saat kau-"


"Sudah aku bilang, jangan mengungkitnya!"

__ADS_1


"Maaf."


Raven menghela nafasnya pelan, sambil terus menatap ke arah bulan. "Aku harap, tidak akan ada hal buruk yang menimpa dirinya saat selalu bersamaku."


__ADS_2