
Aurelia terlihat tertegun sejenak. Tidak disangka ada hal yang seperti itu. Membayangkannya saja sudah membuatnya begitu mengerikan. Seorang Bayi direbut sana-sini hanya demi sebuah kalung Changseng Jue.
Ditambah cerita kebenaran bahwa dunia ini memang terbelah menjadi dua, membuatnya mulai merasa begitu yakin, Pete tidak atheis. Dengan demikian, Aurelia masih punya kesempatan untuk-, namun Aurelia harus melihatnya kemampuannya juga.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 125. Dia vs Jack...
"Ya, begitulah. Aku sama sekali tidak tahu bentuk masalah yang menimpa dirimu, tetapi seperti ucapanmu sebelumnya, aku harap kau mengungkapnya walaupun hanya pada rumput sekalipun."
Aurelia tersenyum. "Terima kasih karena telah mengingatkan."
Perlahan, air matanya menetes. Membuat Pete merasa begitu sedih juga dan memiliki keinginan untuk menenangkannya, namun Pete harus sadar bahwa seorang biarawati katanya memiliki aturan yang sangat kuat.
Pertama, Biarawati tidak boleh disentuh begitu di luar batas oleh siapapun, karena katanya itu mempengaruhi kesucian hatinya.
Kedua, Seorang biarawati tidak boleh jatuh cinta apalagi menikah, kecuali kepada seseorang beragama, maksudnya kepada orang pantas untuk dinikahkan. Tujuannya adalah menghasilkan keturunan yang akan meneruskan mereka.
Mendadak saja Aurelia langsung memeluk Pete sembari menangis sejadi-jadinya. Air matanya pun mulai membasahi dada Pete.
Pete terkejut. Ini sudah melanggar aturan yang diterapkan yang berlaku pada biarawati. Pete tidak berani memeluknya.
"Terima kasih."
----
Keesokan harinya, Pete tengah berada di arena bersama rekannya, hari ini adalah hari dimana pertandingan akan dimulai dalam dua babak dalam satu hari. Yang berarti ini adalah pertandingan terakhir mereka di arena Gladiator ini.
Sebelum memulai, Para bandar telah memasang taruhan. Dia menjadi orang yang paling banyak dipertaruhkan.
Dia memutar bola matanya malas. "Ini keterlaluan tidak, sih? Sial, aku harus menunggu lama."
Pete tersenyum. Memang pertandingan pertama adalah perlawanan yang diperkirakan begitu sengit dari Dia Finch menghadapi Jack Handerson.
"Dia Finch, Jack Hunter. Silahkan memasuki arena!"
Dia akhirnya berucap, "akhirnya sudah dimulai juga."
Pete hanya tersenyum, melihat Dia langsung melompat maju ke dalam arena. Di arena sudah terlihat Jack.
__ADS_1
Jack memberikan hormat. "Nona Finch, sungguh merupakan sebuah kehormatan untukku karena menghadapinya."
Dia membalas. "Sebuah kehormatan juga karena bertemu denganmu disini."
"Pertandingan dimulai!"
Jack segera menyerang Dia dengan pedangnya. Terlihat begitu kuat, namun Dia dapat menghindari serangannya dengan mudah.
'Gelombang Fusion'
Mendadak pedang di ayunkan, menimbulkan gelombang pedang, yang bersyukur bahwa Dia menangkisnya dengan kemampuan perisai spiral yang dirinya kembangkan khusus untuk pertahanan.
Jack masih belum berhenti untuk menyerang Dia. Ini buruk, kelihatan sekali bahwa Dia mulai terpojok. Namun, mendadak sebuah serangan diluncurkan, membuat Jack terpental, namun dirinya masih mampu berdiri.
Sial, Jack terlalu menyerang. Namun Jack masih belum menyerah. Mendadak maju kembali,Dia kembali menunjukkan keadaan terdesak. Namun satu serangan tiba-tiba diluncurkan. Beruntunglah mampu dihindari oleh Jack.
"Tipuan yang bagus!" ucap Jack memuji.
Kali ini giliran Dia yang menyerang. Jack terlihat begitu terpojok, namun mendadak menyerang seperti cara Dia membuat tipuan. Namun itu tiada artinya, serangan Jack terbaca dengan sempurna.
Jack menyarungkan pedangnya, beralih menggunakan Tombak. Alis Pete berkedut, mengingat betapa hebatnya kemampuan Dia dalam merampas senjata.
Dia malah tersenyum. Sepertinya Jack telah mengambil langkah yang salah. Dengan satu ayunan, mendadak selendang itu membelit senjata Dia kemudian menarik dan di lemparkan.
"Kau tahu apa soal bertarung?" tanya Dia mengejek.
Kembali Jack menghumuskan pedangnya, kemudian maju menyerang Dia. Namun Dia tidak menggerakkan s elendangnya untuk merebut Pedang Jack, melainkan langsung ikut menyerang.
Gina berucap, "Sepertinya kakak pertama memang begitu takut menghadapi seorang pendekar tombak."
Joe tertawa, kemudian berucap, "bukan takut, melainkan Trauma karena setiap menghadapi adik termuda dengan senjata tombak, Kakak Pertama selalu keteteran. Padahal jurus yang dirinya gunakan begitu umum, tidak ada spesialnya sama sekali."
Katie memutar bola matanya malas. "Haahh, sebenarnya kakak pertama bukannya takut, apalagi trauma. Memang kalau menghadapi adik termuda dengan kemampuan tombak begitu menyulitkan, namun tidak ada sejarahnya bahwa adik termuda menang berhadapan satu lawan satu melawan kakak pertama dengan senjata tombak.
Namun, menghadapi lawan dengan senjata tombak dengan kemampuan jarak dekat merupakan hal yang sangat menyebalkan. Aku tahu, betapa sulitnya menghadapi lawan yang begitu lincah.
Namun, kesatria tombak yang walaupun gerakannya sedemikian saja selalu membuat kejutan yang tidak dapat dielakkan. Apalagi jika kemampuan kesatria itu mirip adik termuda, itu pasti lebih menyebalkan."
Pete mengerutkan keningnya. "Jadi menurutmu aku ini menyebalkan?"
__ADS_1
Katie terbelalak, tidak disangka bahwa dirinya telah menyindir orang yang salah. "Adik termuda, kau jangan salah paham dulu. Sebenarnya aku-"
Mendadak semua rekannya tidak bisa menahan tawanya. Mereka pun tertawa, memotong ucapan Katie. Sindiran halus yang tersembunyi pada ucapan Katie dapat dibaca oleh Pete.
Pete menghela nafas pelan, dalam benaknya berucap, 'Kakak kelima ini seolah-olah tidak berkaca. Padahal dirinya sendiri lebih menyebalkan.'
Kembali ke pertandingan, Terlihat Dia semakin mendominasi serangan, namun kelemahannya begitu minimalis. Pete mengerutkan keningnya, tidak menyangka bahwa Dia telah menyempurnakan kemampuannya lagi. Astaga, Pete seolah-olah merasa tertinggal.
Jack semakin terjepit dan harus bergerak mundur. Padahal, Jack lebih dikenal dengan elite Fighter yang memiliki kemampuan pedang yang lebih dominan daripada tombak.
Dia melirik Pete sekilas,mengisyaratkan agar lelaki itu memperhatikannya. Pete mengerutkan keningnya, merasa begitu aneh dengan Dia. Namun, berikutnya Pete menyadari maksud tunangannya itu.
Dia segera bergerak, secara mengejutkan berhasil meraih leher Jack dengan selendangnya dan akhirnya membantingnya hingga kepalanya menancap di tanah.
Pete dan May mendadak refleks berdiri, bersamaan dengan beberapa gadis lain yang akan ditakdirkan untuk menjadi gadis milik Jack seperti Shara, Lylia, Nourika, Naura, dan lainnya.
Astaga, Dia terlalu brutal dalam mengalahkan lawannya. Pete berharap Jack baik-baik saja. Namun, tangan Jack bergerak, mendorong tanah kemudian kepala langsung terlepas dari tanah. Kemudian terduduk, dan menggelengkan kepalanya.
"Nona Finch, aku bukankah batang singkong yang sekali ditanam langsung tumbuh. Sudahlah, aku menyerah."
Raven menatap Pete yang terlihat sebelah alisnya terlihat kejang-kejang, Kemudian menghela nafas pelan. Mana mungkin dirinya dapat dibandingkan dengan Pete yang menurutnya lebih kuat daripada dirinya sendiri.
Pete bergerutu. "Aku rasa jika aku bertemu dengannya di babak Final, aku pasti babak belur dibuat olehnya."
"Pemenangnya Dia Finch!"
Tidak sengaja, Pete menemukan Aurelia di bangku tribun yang lainnya, membuatnya begitu kebingungan. Sebenarnya sedang apa biarawati itu?
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan," ucap Pete keceplosan.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Gina yang terheran.
Pete terperanjat, kemudian berucap, "oh? Tidak apa-apa."
Namun Katie malah meledek. "Memikirkan apa lagi kalau bukan memikirkan kakak pertama?"
Pete langsung gusar bukan main. "Kau ini."
Joe malah ikut campur. "Sepertinya kau akan disiksa habis-habisan di dalam arena jika kau menang melawan Raven. Mungkin sebaiknya kau mengalah saja."
__ADS_1
Kurt menghela nafas pelan. "Aku rasa tidak. Justru kau akan disiksa jika kalah menghadapi Raven dan gagal melaju ke final. Kita semua tahu kan, bagaimana ambisius kakak pertama demi bertarung denganmu yang terakhir kalinya?"
Gina menggelengkan kepala. "Kakak pertama hanyalah mengancam. kau tidak perlu takut."