Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 111


__ADS_3

Tidak terasa, malam telah berlalu. Terlihat Pete masih asyik dengan tidurnya. Maklum matahari masih belum terbit di barat.


Pete tengah bermimpi bagaimana rasanya begitu bebas melakukan apapun yang dirinya inginkan tanpa ada yang melarang dirinya. Namun, di dalam mimpinya mulai terasa ada gangguan yang membuat dirinya tidak begitu nyaman. 


Dan pada akhirnya, Pete terpaksa terbangun dari mimpi indahnya. Sangat miris karena seseorang telah membangunkannya dengan cara ekstrim, mengguyur dirinya dengan air satu ember. 


...Sacred Valley:titik awal kultivator...


...Episode 111. Raven telah mengetahuinya?'...


Pete langsung begitu kesal. Terlihat Dia yang membawa ember kayu, sebagai pelakunya. Mau tidak mau, Pete harus bersabar. "Ada apa, Kakak pertama?"


Dia menatap Pete horor. "Ini sudah pagi, bodoh! Susah sekali dibangunkan pagi-pagi." 


"Kan matahari masih belum terbit?" tanya Pete heran.


Dia menghela nafas pelan, kemudian membuka jendela. Seketika cahaya matahari memasuki ruangan, membuat Pete terbelalak. "Ini? Kakak pertama, sekarang jam berapa?"


"Sialan, jangan banyak tanya! Cepat mandi sana! Kita sudah terlambat tiga jam!" Teriak Dia kesal. Ini sudah menjelang siang, bisa-bisanya Pete masih tertidur begitu pulas! Bagaimana bisa mereka berdua telat bangun?


Dengan cepat, Pete segera masuk ke kamar mandi,  mandi secepat kilat kemudian mengganti pakaian dengan cepat. Kemudian diseret Dia untuk segera pergi ke Collossum. Beruntung, penginapannya tidak begitu jauh dari Collossum. Mereka pun tiba dengan cepat dengan tekhnik Gin-Kang (jurus melarikan diri seribu mill).


Rekannya terheran, mengingat mereka berdua paling benci dengan kata terlambat, apalagi jam karet. Sekarang mereka malah terlambat tiga jam? Aneh!


"Kalian berdua dari mana saja?" tanya Gina heran.


"Kesiangan," jawab Mereka berdua singkat secara bersamaan.


"Memangnya kalian bermain sampai berapa ronde?" tanya Joe yang sangat membuat mereka berdua begitu jengkel.


"Sialan! Kami tidak bermain, bodoh!" teriak Dia kesal.


"Yakin?" Tanya seseorang yang sangat Dia kenal di belakangnya.

__ADS_1


Dia segera menoleh ke belakang, menemukan Alice yang tengah tersenyum simpul. Mendadak Dia merasa begitu kesal.


Sementara itu, Raven juga ada di sisinya. Terlihat dirinya diam tanpa suara. Memang tipikal Raven sebagai gadis terdingin di seluruh dunia yang telah mengalahkan Dia dalam hal sikap dingin.


Namun, tersirat perasaan yang sulit dipahami Pete di tatapannya.  Apakah gadis itu tengah bersedih karena dirinya telah bertunangan dengan Dia? Atau jangan-Jangan gadis dingin itu mengetahui soal kejadian kemarin, sehingga membuatnya menatap Pete dengan perasaan kecewa?


"Tch! Kau sama sekali tidak berubah, sukanya meledek terus. Apa untungnya sih terus menerus meledek sahabatmu ini?" tanya Dia kesal yang malah mengundang pertanyaan di benak keempat sahabatnya.


"Kakak pertama, kau dan nona Hunter dulunya satu sahabat?" Tanya Gina yang membuat tanda tanya di benak Dia.


"Benar, memangnya kenapa?" 


Mereka berempat pun saling melirik, tidak percaya dengan ucapan gadis yang telah menjadi tunangan Pete tersebut. Bagaimana pun, secara history saja memperlihatkan statistik hubungan keluarga Hunter dengan Finch yang semakin hari semakin meruncing. Bagaimana bisa Dia dan Alice malah  menjalin persahabatan?


"Raven, ada apa?" tanya Pete heran.


Raven langsung memalingkan muka, seolah dirinya begitu kesal. "Tidak apa-apa."


Pete mengerutkan keningnya, timbul tanda tanya di benaknya. Sebenarnya apa yang terjadi pada Raven?


Jikalau pelakunya adalah Joe atau Katie sih, wajar. Namun yang mengatakan hal itu malah Gina. Astaga, rupanya pikiran sahabat yang merangkap menjadi pelayan pribadinya telah ternoda.


"Kakak kedua, kau tidak perlu menyalahkan mereka. Bukankah mereka sudah satu pasangan yang sudah terikat? Mau berapa pun mereka melakukannya, aku rasa tidak akan menjadi masalah. Jika ternyata kakak pertama hamil, tinggal menikah saja."Mata Dia semakin membola. Tidak disangka pikiran Kurt juga telah ternoda. "Astaga, adik kedua dan keempat. Pikiran kalian benar-benar ternoda. Kalian berdua bahkan tidak ada di pihakku lagi!"


Sementara itu, Pete masih menatap Raven yang terus-menerus menatap dirinya dengan ekspresi yang sangat sulit Pete artikan, mengabaikan perdebatan yang terjadi di sampingnya.


'Sebenarnya, Raven terlihat begitu kecewa kepadamu. Mungkin Raven telah mengetahui hal yang terjadi sebenarnya, sebab kemarin gadis itu tidak menatapku seperti itu kemarin, malah ekspresinya begitu bahagia yang aku sendiri tidak tahu mengapa.'


Mendengar kata Chang'e melalui kontak bawah sadar mereka, Pete langsung menghela nafas pelan.


Mendadak, Raven berdiri. "Nona Finch, bisakah aku meminjam tunanganmu? Jangan khawatir, hanya sebentar saja."


Dia langsung mengerutkan keningnya. Namun dirinya memperbolehkannya, mengingat Raven telah bersepakat dengannya untuk membagi kasih sayang Pete setelah menikah.

__ADS_1


Tidak tanggung-tanggung, Raven menarik Pete paksa, menyeret dirinya keluar Collossum. Mendadak bisik-bisik orang julid terdengar, menyebarkan gosip.


"Mungkin, Pete memiliki hubungan khusus dengan  Raven, tetapi malah bertunangan dengan nona Finch. Dan sekarang Raven pasti akan meminta penjelasan. Padahal mukanya pas-pasan, bisa-bisanya mempermainkan wanita."


"Kalau bicara jangan sembarangan! Kau tidak mendengar ucapan mereka yang hadir kemarin? Pete sebenarnya gantengnya tidak ketulungan, cuma selama ini dirinya cosplay saja agar terlihat begitu jelek." 


 "Mustahil! Paling hanya karena tukang riasnya saja yang terlalu profesional."


"Jangan sembarangan berucap, bilang saja kau iri! Padahal tadi kau lihat sendiri bukan, bagaimana rupa lelaki itu? Astaga, kalau aku tahu soal ini, mungkin sudah aku lamar saja, lalu aku permak dirinya habis-habisan sampai cosplaynya hilang."


Namun tidak lama, mereka berdua kembali. Tetapi secepat itu? Dia mengerutkan keningnya, memangnya apa yang sebenarnya mereka bicarakan?


Terlihat dari wajah Pete yang terlihat normal, semakin membuat Dia keheranan. Namun yang ada di dalam benak Pete, sebenarnya dirinya begitu gelisah bukan main. 


Tidak disangka, Raven ternyata telah mengetahui soal kejadian kemarin beserta kronologi secara utuh, namun tetap saja dirinya kecewa karena Pete telah merenggut kesucian nona Finch, padahal masih belum memiliki status apapun.


Pete hanya bisa berharap kejadian kemarin yang Pete anggap aib tersebut tidak tersebar, walaupun tersebar sekalipun tidak akan ada gunanya. Namun, siapa yang suka jika aib dirinya tersebar?


Terlihat tatapan Raven terlihat kembali normal seperti biasa, membuat Dia masih saja merasa kebingungan sendiri.


Flashback


Raven tengah berhadapan dengan Pete. Kedua tangannya mencengkeram pundaknya. "Katakan dengan jujur, apakah kau telah merenggut kesucian nona Finch?"


Pete membeku mendengarnya, dirinya kembali tidak dapat menjawab.


Dia menghela nafas pelan. "Tidak heran, kau dan nona Finch bertunangan begitu mendadak. Tetapi, kau harus menjaga perasaannya. Kau harus tahu betapa besarnya perasaan cinta gadismu itu. Lagipula, aku tahu apa yang sebenarnya terjadi saat pengepungan tersebut."


Mata Pete membola, itu adalah informasi yang sebenarnya Pete butuhkan untuk dibahas bersama keluarga Finch yang lain. Bagaimana pun, penyerangan tersebut juga ditujukan pada Dia.


"Keluarga Hunter kembali berulah. Seorang tuan muda, Son Hunter adalah  otak dari penyerangan yang dirinya luncurkan. Dirinya mengira, dengan bubuk itu, kalian semua akan menodai satu sama lain secara acak. 


Akan tetapi, tidak aku sangka ternyata hanya kau yang terkena efeknya. Namun, yang tidak aku mengerti adalah kemana Mastermu? Biasanya Mastermu akan melarang siapapun untuk mendekatiku, bukan?"

__ADS_1


Pete menghela nafas pelan, dirinya sana sekali tidak mengetahui apapun di saat itu. Yang dirinya ingat, hanyalah ketika terbangun, hari sudah menjelang sore, dirinya merasa ada perasaan aneh yang terasa mengalir di sekujur tubuhnya, Dia terlihat bersedih, terdapat obat pengaman, dan terakhir adalah noda darah pada sprei.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2