Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 92


__ADS_3

Malam mulai begitu larut, burung hantu mulai bernyanyi dengan suara khasnya yang membuat siapapun menghela nafas pelan. Malam yang begitu larut, namun Pete masih berjalan di jalanan dan hendak kembali.


Dirinya terlihat begitu banyak pikiran saat ini, mengingat berbagai permintaan yang harus dirinya pertimbangan dan upayakan. Bagaimana pun, dirinya begitu muda untuk memilih sebuah pilihan mengenai asmara, walaupun dirinya adalah orang yang peka dengan perasaan seseorang.


...Sacred Valley:titik awal kultivator...


...Episode 92. bimbang kembali....


"Kumohon, jaga perasaanmu untukku, adik termuda"


"Pete, izin kan aku menjadi gadis keduamu."


"Jikalau memang bebanmu begitu berat hingga kematianmu di masa depan, menikahlah segera sebelum terlambat."


Pete menghela nafas pelan, entah ke sekian kalinya sejak sekembalinya dari puncak bukit tandus tersebut. Sementara itu, Raven masih berada di puncak bukit tersebut. Dirinya juga menghela nafas pelan. 


Teringat apa yang telah Pete katakan saat itu, yang membuat mata Raven membola. Rasanya dirinya tidak ingin percaya, namun kesungguhan Pete sangat sulit untuk merasa tidak mempercayainya.


 "Raven, mungkin kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Akan tetapi sebaiknya kau merahasiakannya.


Aku telah terpilih untuk membalaskan dendam para dewa dan dewi yang telah terbunuh dalam insiden dunia terbelah tersebut.


Kau tahu? Cerita fiksi yang pertama kali ditemukan itu adalah cerita fakta. Insiden dunia terbelah tersebut memang telah terjadi dan dunia Sacred Land benar-benar ada. Namun dibutuhkan sebuah formasi dimensi rumit untuk pergi ke sana.


Aku pernah ke sana, sekali. Dan disana terdapat berbagai kultivator seperti diriku, akan tetapi mereka lebih hebat daripada diriku. Hanya saja pelatihan mereka terlalu terfokus kepada kekuatannya dan sangat jarang memikirkan strategi dalam bertarung.


Namun, aku diminta untuk menyatukan dunia terbelah ini dengan mengalahkan kaisar langit. Jadi, ada kemungkinan aku akan mati muda di saat itu terjadi."


Raven hanya bisa mendengus pelan. "Ini tidak adil," ucapnya pelan, kemudian menatap bulan yang ditutup awan sehingga cahayanya terhalang.


Tiba-Tiba orang yang memata-matai mereka keluar, kemudian mendekati Raven. "Raven, sebenarnya apa yang Pete katakan tadi? Mengapa kami tidak mendengar apapun setelah dirinya mengatakan mati muda? Dan, apa alasannya itu?"


Raven terdiam sejenak. Mendadak teringat Pete mengayunkan tangannya begitu aneh, membuat Raven percaya bahwa Pete telah membuat perisai kasat mata agar tidak seorangpun yang mendengar ucapan mereka berdua.


Raven tersenyum tipis, kemudian mulai hendak turun dari puncak bukit. "Aku sudah berjanji untuk merahasiakannya dan itu juga tidak terlalu penting juga."


"Raven?" tanya Mereka terheran.


Bulan kembali muncul setelah awan yang menutupi cahayanya, menyinari mereka semua  dan rupanya mereka ternyata adalah Shara, Collete, Nourika, dan yang lainnya.

__ADS_1


Kembali ke Pete, tampak dewi Chang'e keluar dari Changseng Jue dan langsung duduk di bahu  Pete tanpa dosa.  "Jangan terlalu memikirkannya, Pete."


Pete melirik dewi mungil di bahu kirinya. "Tidak bisa semudah itu untuk tidak memikirkannya,  dewi."


Chang'e menghela nafas pelan. "Aku mengerti."


Pete menghela nafas pelan, lagi. "Ini sudah ke tiga puluh tiga kalinya kau menghela nafas pelan, Pete."


Pete mendengus kasar, merasa sebal. "Kau tidak perlu menghitungnya, dewi. Itu tidak akan berguna untukmu."


Tidak lama kemudian, dirinya telah sampai di Inn. Namun, Sakunya datang dan dengan wajah panik, gadis tersebut berucap, "Pete, akhirnya kau datang!"


Pete mengerutkan keningnya. "Ada apa, Sakuya? Kau terlihat begitu panik?"


Sakuya menatap Pete begitu panik, kemudian menunjuk ke dalam "Nona Finch menangis di kamarmu dan tidak mau keluar sama sekali setelah satu jam dirinya ditinggalkan oleh May."


Mata Pete membola, dan dengan cepat Pete meluncur masuk ke dalam Inn dan segera berlari dengan kecepatan tinggi ke kamarnya. Ini gila! Pete benar-benar berlari secepat itu padahal lokasi kamar Pete tidak terlalu jauh dari pintu keluar.


Lebih buruknya, Pete malah salah masuk kamar. Bertambah memalukannya bagi Pete. Pada  akhirnya membuka kamar yang tepat. Terlihat Dia menangis sesenggukan, membuat hati Pete mencelos. 


"Kakak pertama, kau tidak apa-apa?" tanya Pete panik.


Beberapa waktu kemudian, Dia akhirnya menjadi begitu tenang, sehingga Pete melepaskan pelukannya. "Katakan padaku, mengapa kau menangis? Apa May telah menyakiti dirimu?"


Dia mengusap air mata dan menunjuk sesuatu di kasurnya.


"May tidak salah. Tetapi aku tidak menyangka ceritanya begitu sedih, sampai membuatku menangis seperti ini."


Pete segera menoleh ke arah sesuatu yang Dia tunjuk. Itu ... sebuah novel? Seketika rasa sedih Pete pecah, menjadi rasa begitu jengkel. 


"Kau menangis karena fiksi?" tanya Pete tidak percaya.


"Memangnya kenapa? Bahkan tokoh Ryu di novel itu lebih peka terhadap perasaan Kagome daripada dirimu. Tapi tidak aku sangka Ryu akhirnya mati demi menyelamatkan Kagome, huhuhu!"


Mata Pete membola, kekesalannya berlipat ganda. Masa iya, dirinya dibandingkan oleh karakter buku yang sebenarnya hanyalah fiksi? Sial, Pete merasa ingin mengambil buku tersebut dan membakarnya di atas gunung Lava di Red Vulcano yang bersuhu tinggi itu. Jadi, selama ini dirinya dikalahkan oleh karakter halu itu?


Pete segera bangkit dari tempat duduknya dan segera berjalan keluar ke arah pintu, mengundang tanda tanya di benak Dia. "Adik termuda, kau mau kemana?"


"Mau waras dulu." Tiga kata telah Pete ucapkan membuat Dia begitu terbengong mendengarnya, kemudian segera mengundang kekesalan di hatinya. Sudah jelas Pete mencibir dirinya, menganggapnya tidak waras. Walaupun memang tidak waras sih karena hanya karena novel fiksi saja membuat  Dia menangis seperti itu.

__ADS_1


 


Pete tengah memejamkan mata saat berendam di permandian air panas. Dirinya begitu kesal karena telah bertindak begitu bodoh sampai mengkhawatirkan gadis yang rupanya menangisi karakter halusinasi di sebuah buku Novel fiksi. Bahkan dirinya pun dibanding-bandingkan dengan entah siapa namanya tadi.


"Pete, sepertinya kau begitu kesal. Ada apa?" tanya Rusk terheran.


Pete mendengus. "Tuh, Kakak pertamaku berulah. Ku kira gadis itu menangis karena apa, rupanya karena buku Novel yang memang jalan ceritanya begitu sedih. Benar-benar tidak waras.


Bahkan kepekaanku dibandingkan dengan karakter halu di buku itu! Sialan, aku ingin mengambil buku itu di Red Vulcano saja agar mampu sekalian semua karakter halu tersebut. Tch! Dasar menyebalkan!"


"Kakak pertama? Maksudnya Jack?"


Pete berucap begitu kesal. "Bukan, bodoh! Maksudku kakak seperguruanmu yang tertua!"


Rusk malah ikut berucap dengan nada kesal. "Mana aku tahu soal itu, bodoh! Maksudnya siapa kakak tertua mu?"


"Siapa lagi kalau bukan Dia?" jawab Pete.


Mata Rusk terbelalak. "Gadis terpendek di antara kalian itu adalah kakak pertama? Jangan-Jangan kau yang paling tinggi menjadi adik termuda?"


Pete semakin kesal. "Kalau iya, kenapa?"


Rusk tertawa konyol. "Rupanya begitu? Haahh, tidak heran jika gadis itu selalu ada di dekatmu, entah itu bersamamu atau terus mengintai dirimu. Rupanya ... ckckck!"


"Tidak perlu mengejekku." ucap Pete begitu sebal. 


Rusk menasehati, "namanya juga perempuan, memang seperti itu sifat dan tingkahnya. Kalau sudah berlaku salah, maka dirinyalah yang malah di salahkan. Perempuan juga selalu benar, jadi jangan sekali-kali kau berupaya untuk mengadu kesalahan dengannya."


Pete semakin kesal mendengarnya. "Selalu benar kepalamu! Aku tidak pernah percaya hal semacam itu!"


Rusk tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Pete dari dulu memang tidak pernah berubah, selalu memiliki pemikiran yang berbeda soal ini. Bahkan dirinya pun ketika di salahkan pun malah berbalik menyalahkan, sehingga terjadi adu mulut. (pada masa itu, Pete tidak pendiam seperti ini.) 


"Rusk, apa aku boleh meminta saran darimu?" tanya Pete tiba-tiba, mengundang tanda tanya di benak Rusk.


 


"Bertanya soal apa? Tanyakan saja kepadaku," ucap Rusk berhati-hati.


Pete mengumpulkan keberanian sejenak. "Soal Dia dan Raven yang ingin aku menikahi mereka segera."

__ADS_1


__ADS_2