Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
3.pertemuan tidak terduga


__ADS_3

Pagi hari telah tiba, Kusuma bersama yang lainnya tengah bersiap-siap menuju hutan Privera. Dalam hati dia menghela nafasnya, tidak menyangka Raven datang dan memintanya untuk ikut serta. Sulit untuk menolak permintaan Raven karena pada dasarnya, Kusuma sesungguhnya mencintai gadis yang setahun lebih tua darinya itu.


Di sisi lain, Kusuma sedikit kebingungan juga terhadap reaksi kakaknya kemarin, seolah olah ada yang disembunyikan darinya. Kusuma hanya bisa menghela nafas pelan saat ini, karena tidak mungkin bertanya lebih jauh karena ujung, mereka pasti akan mengarang jawaban. Lebih baik, menunggu waktu yang tepat untuk membongkarnya.


"Jack, aku merasa kita tengah diawasi," ucap Raven pada Jack dengan matanya yang tidak henti hentinya celingak celingkuk ke berbagai arah. Posisi mereka yang berdekatan membuat Kusuma terasa terbakar oleh api cemburu, namun Dia tahu, mustahil untuk mendapatkan gadis berambut merah itu.


"Aku juga kerasa begitu. Sepertinya kita harus berwaspada," jawab Shara


"Aku lihat di sekeliling tidak ada apapun. Apakah kalian bercanda?" tanya Collete


"Shirt! Kau sama sekaligus merasakannya?" tanya Risk sambil memukul pelan kepala Collete.


Mendadak Kusuma menyadari sesuatu. di seberang sana terlihat seekor kucing yang tengah terduduk, menurutnya sangat aneh. Seekor kucing hitam yang memiliki lonceng layaknya genta tengah asyik tengah menatapnya. Entah kenapa Kusuma merasa Kucing itu sangat Familiar.


Kucing itu kemudian mulai bangkit dari pose duduknya, lalu segera meninggalkan tempat itu. Itu seperti magnet yang membuat Kusuma mulai mengikuti kucing aneh itu sejenak, melupakan bahwa dia telah terpisah dari rombongan karena memang dia berjalan di urutan paling belakang.


Kusuma mulai tersadar setelah mengikuti Kucing itu begitu jauh, dimana dia telah pergi begitu jauh meninggalkan kelompoknya. Perasaan gundah mulai menghantui dirinya. Namun mendadak Kucing itu mengeong, yang membuat Kusuma kembali menatap kucing itu yang terus berjalan pelan semakin ke dalam hutan.


Kusuma mulai mengikutinya lagi, sampai mereka tiba di sebuah desa yang telah hancur. Sekali pagi, Kusuma seolah mengingat desa ini. "Kenapa desa ini terasa familiar? Eh, tunggu.Desa ini sama persis seperti di mimpiku.


Mendadak, hujan mulai turun dengan lebat, membuat Kusuma dan Kucing itu berlarian menuju seb8uah rumah yang sebagian telah hancur untuk berteduh. Kini Kucing itu terlihat menggigil, Membuat Kusuma merasa tidak tega lalu segera mengambil handuk di ransel kulitnya, lalu mengelap seluruh tubuh kucing itu yang kini berada di pangkuannya.


Dia mulai merasa cemas, berharap semua rombongan tadi baik baik saja. Seketika rasa kantuk menyerangnya, yang membuat Kusuma segera tertidur dengan posisi bersandar di Pilar rumah.

__ADS_1


Setelah beberapa waktu berlalu, hujan telah reda. Kusuma terbangun dengan perasaan pusing. Matanya terasa berat, dan dia merasakan bahwa dia telah tertidur cukup lama. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Kucing hitam, desa hancur, dan rombongan temannya. Kusuma merasa khawatir tentang nasib mereka.


Saat dia mencoba bangkit, dia menyadari bahwa kucing hitam yang dia temui tadi kini berada di hadapannya, lalu mengeong sekali lalu segera pergi. Entah kenapa Kusuma merasa ingin selalu mengikuti kucing itu kemana pun itu pergi.


Kusuma mulai bangkit dari tempat duduknya lalu mengikutinya. Begitu sampai di suatu tempat dengan danau kecil di hadapannya, Kucing itu telah tidak kelihatan dari tempatnya. Itu membuat Kusuma mendadak kebingungan kembali, lalu dia celingak celingus sambil mendekati danau itu. Namun mendadak terdengar suara perempuan yang tertawa.


"Kau mencari seseorang? Aku ada di sini."


Kusuma mulai terkaget, lalu menatap danau itu yang ternyata ditemukan Kristal raksasa, begitu menatap sampai ke atasnya, dia menemukan Sosok gadis Bertelinga kucing yang sama persis di mimpinya, hampir tiada bedanya.


"Bagus, nak. Akhirnya kau pulang juga, apakah kau kau datang sambil membawa Stuff, seperti Firework dan Dancing Bear, huh? Tetapi aku ucapkan selamat datang kembali padamu."


Dia melompat turun dari atas Crystal itu lalu menunjukkan kemampuan akhirnya yang luar biasa, dimana kakinya mampu melayang di atas air dengan begitu menakjubkan. Kemudian, dia mulai mendekati Kusuma, lantas segera memeluknya erat.


Kusuma merasa campur aduk oleh semua yang terjadi. Gadis bertelinga kucing itu tampak sangat mirip dengan sosok yang pernah muncul dalam mimpinya. Dia merasa seperti dalam cerita dongeng yang sangat nyata.


"Dia berbicara seperti mengenaliku dan bahkan menyebut aku putranya," gumam Kusuma dalam hati.


Gadis bertelinga kucing itu kemudian melepaskan pelukannya, lalu tersenyum, namun terlihat air mata di sudut matanya, dengan tatapan penuh kerinduan yang menumpuk di benaknya. Seketika Kusuma mulai tersadar, sebelumnya makanya telah menyembunyikan sesuatu saat menceritakan soal mimpi itu, dan sekarang gadis ini telah muncul di hadapannya. Apakah ini pertanda semua rahasia akan terbongkar di sini?


"Ayo pulang, Putraku. Akan aku masukkan masakan yang lezat untukmu, pasti kau merasa lapar."


Kusuma mulai mengikutinya kemana gadis itu pergi. Entah mengapa, hati ini juga terasa terisak dengan penuh kerinduan. Kusuma mulai memahami, pasti Semuanya akan terungkap di sini.

__ADS_1


Kusuma mulai mengerutkan kening saat Gadis ini memasuki perkampungan yang sudah runtuh ini, namun Kusuma juga tidak mau bertanya cukup banyak. Terlihat, gadis itu memasuki rumah yang tadi dia tempati untuk berteduh. Jadi ini rumahnya?


"Maaf, putraku. Disinilah rumah kita, memang sedikit hancur."


Kusuma menatap rumah itu dan entah mengapa dia kembali bernostalgia, merasa dejavu. Kusuma mulai kembali teringat di mimpinya bahwa dia memang di rawat di rumah yang setengah hancur ini.


"Anu ... ibu. Sebenarnya apa yang terjadi di sini?"


Gadis itu terdiam deh, mendengar kata 'ibu membuat hati gadis bertelinga kucing itu terasa sangat terharu. bagaimanapun, dia telah membesarkan bayi itu selama 3 tahunan, belum sekalipun dia mendengar kata itu karena masih kecil. Namun sekarang telah berbeda.


Dia telah terpisah selama sebelas tahun lamanya dan begitu bertemu kembali dan sudah dipanggil ibu, itu membuatnya pengorbanan selama ini tidak sia sia. Kusuma sendiri juga agak kebingungan, mengapa mulutnya begitu spontan memanggilnya ibu.


"Apakah kedua pasutri itu menceritakan tentangku padamu?"


"Pasutri?"


Melihat rawut wajah Kusuma yang terlihat tidak berbohong membuatnya sedikit menghela nafas pelan. Dia langsung paham bahwa kedua pasutri itu telah menyembunyikannya dari bocah ini. Tetapi, jika itu benar, bagaimana putranya ini bisa memanggil nya ibu jika tidak seorang pun yang memberitahu soal itu?


"Bagaimana kau tahu aku ibumu?"


Kusuma terdiam sejenak, kemudian mulai menceritakan mimpinya. Dia kerasa bahwa itu bukan mimpi belaka, melainkan masa lalunya sehingga Gadis bertelinga kucing itu merasa bersyukur karena dia tahu bahwa itu karena takdir yang melakukannya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2