Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 124


__ADS_3

...Sacred Valley:titik awal kultivator ...


...Episode 124. gadis biarawati ini-...


Collossum terlihat begitu sunyi sejenak, mendadak mereka semua seperti tersadar. Melodi Ocarina tadi memang memberikan semacam perasaan sedih, dan penuh berharap di hati mereka masing-masing. 


Namun, secara tidak sadar melodi itu malah membuat mereka merasa begitu terbuai, sampai hampir lupa dengan apa yang baru saja terjadi. Dia mulai merasa ada yang janggal, mendapati bahwa Pete sudah tidak ada di tribun.


 Raven dan Alice melirik Pete, hendak menanyakan sesuatu. Namun, tidak disangka bahwa mereka sama sekali tidak melihat Pete di sana. Mata mereka membola. "Hey, kemana Pete?"


Pertanyaan Raven mengundang atensi perhatian rekannya menatapnya, kemudian ikut terkejut. "Jangan bilang, Pete diculik."


 Astaga, Dia mulai merasa begitu panik, segera melacak posisi Pete. Ternyata tidak terlalu jauh dari Collossum.  Dia segera melompat keluar arena untuk menyusul Pete. Temannya pun mengikutinya dari belakang.


Kembali di gunung tersebut. "Apakah Pete itu adalah sahabatmu, atau adikmu, atau juga semacamnya? Apakah dirinya sudah ditemukan?"


Pete menepuk jidatnya pelan. "Kau sama sekali tidak mengenaliku sebagai Pete?"


Aurelia menatapnya dari kaki ke kepala. Mirip dengan Pete yang dahulu, hanya saja wajahnya membuatnya begitu ragu.


"Mengapa wajahmu berbeda?" tanya Aurelia.


Pete mendadak memasang muka kesal, mengingat betapa menyebalkan orang yang merias dirinya saat itu. "Yah, dalam acara pertunanganku dengan nona Finch beberapa hari yang lalu, aku dirias habis-habisan oleh tukang rias yang paling menyebalkan."


Aurelia masih tidak merasa begitu percaya, sampai ada suara orang lain yang sepertinya menyusul lelaki ini.


"Pete, harus bertahan! Kami datang!" ucap Alice dan Raven bersamaan.


"Adik termuda!" teriak Dia segera datang.


Mereka bertiga langsung berada di depan Pete, tengah bersiap untuk beradu, padahal mereka belum mengetahui apa-apa.


Aurelia menatap Pete. "Jadi, kau benar-benar Pete Handerson?"


Pete mengangguk. "Kakak pertama, Alice, Raven. Gadis ini bukan musuh. "


Aurelia menghela nafas pelan. "Sepertinya ketiga gadismu begitu protektif terhadap dirimu. Dan dirimu terlihat tidak sekurang dulu."


Pete maju membelakangi mereka bertiga sembari berucap, "bukannya aku melarang, tetapi mengapa kau disini? Maksudku, kau tidak bersama Chester kemari? "


Mendadak rawut muka Aurelia meredup. "Kakakku ada di kuil suci Privera."


Dia mengerutkan keningnya. "Bukankah kuil itu sudah runtuh setengah tahun yang lalu?"


Aurelia malah pergi meninggalkan mereka begitu saja. Kentara sekali bahwa ada yang janggal dengan gadis itu.


Dia segera meraih tangan kiri Pete dan Alice sementara Raven meraih tangan kanannya. "Kita harus mencari tahu."

__ADS_1


Mata Pete membola. "Bukankah ini terlalu mencampuri urusan orang?"


Dia menggelengkan kepalanya. Kemudian bersama dengan Raven, Pete diseret untuk pergi mengikuti kemana Aurelia pergi.


Terlihat Aurelia menangis, sembari mengeluarkan foto dirinya bersama Chester tengah bersama-sama membunyikan Genta.


Dia dan beberapa rekannya langsung mendekatinya. "Apakah terjadi sesuatu kepada Chester?"


Aurelia menggeleng, sembari tersenyum. Namun di mata Pete, itu adalah senyum terpaksa. "Katakanlah jika kau memiliki masalah, kau pernah bilang bahwa rumput pun bisa mendengar masalahmu."


Dia menatap Pete sembari berucap, "Kau punya masalah apa? Kau bisa ceritakan kepada kita, bukan? Apakah karena kalian-"


Raven segera memotong. "Nona Finch, tidak baik untuk mengatakannya."


Dia malah tersenyum. "Apakah karena kau dibebankan oleh semesta untuk menentang langit?"


Aurelia mendadak menatap Dia. "Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu?"


Dia malah tersenyum. "Kami memiliki takdir yang sama."


Aurelia malah kembali pergi entah kemana. "Kakak pertama, sudah aku bilang. Kita tidak bisa mengganggunya, biarkan dirinya sendiri dahulu."


Dia menghela nafas pelan. "Adik termuda, kau mengenalnya?"


"Gadis itu adalah biarawati dari kuil suci Privera. Melihatnya tertekan, pasti ada sesuatu yang sangat membebani dirinya, "  jawab Pete.


Pete menghela nafasnya."Tiga tahun yang lalu, aku dan gadis itu pernah bertemu saat harvest festival. Aku akan menceritakan detailnya nanti. Sekarang, kita harus kembali."


Dia, Raven, dan Alice saling berpandangan, kemudian menghela nafas pelan. Mereka pun pulang secara beriringan. Pete menceritakan segala yang telah terjadi di saat pertemuan mereka, namun masih tetap merahasiakan nama gadis itu.


Mereka pun mengangguk, mulai memahami penjelasan Pete. Namun, satu hal yang membuat mereka bertanya-tanya. "Apakah namanya begitu spesial sehingga dirahasiakan oleh siapapun?"


Pete terkekeh, teringat bahwa Aurelia memang merahasiakan namanya agar dirinya tidak terekspos sebagai peniup Ocarina terkenal dengan namanya. Dirinya sangat menyukai julukan musisi misterius.


Namun, terlihat Aurelia ternyata mengikuti mereka. Sepertinya memang ada sesuatu yang dirinya butuhkan, yaitu pertolongan. Namun, masalahnya adalah mereka mungkin Atheis, tidak percaya dengan sejarah yang telah dianggap Fiksi semata.


Pete mengerutkan keningnya, mendadak langkahnya terhenti. Kemudian menatap ke belakang, karena merasakan ada yang mengikuti mereka.


"Ada apa, Pete?" tanya Raven heran.


Pete mengerutkan keningnya. "Aku merasa ada yang mengikuti kita."


Dia memutar bola matanya malas. "Kau terlalu berwaspada. Ini hanya angin yang berhembus."


Alice, menyentuh bahunya. "Sudahlah, ayo kita kembali."


Pete masih merasa firasatnya tidak akan mungkin meleset. Dirinya sangat yakin bahwa ada yang mengikuti mereka. Tetapi Pete hanya bisa menghela nafas pelan, kemudian melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


Aurelia terlihat begitu ragu dengan apa yang sebenarnya dirinya ingin katakan. Apakah dirinya pantas meminta bantuan kepada Pete? Diam-diam dirinya menghembuskan nafasnya, merasa mengeluh.


"Aku harus melihat kemampuannya terlebih dahulu, besok."


--- 


Malam pun semakin larut saja. Pete masih belum tertidur juga. Teringat bahwa dahulu, Pete tengah bersedih dan biarawati itulah yang sedikit memotivasi dirinya, untuk bertahan dari hidup.


Namun, sekarang yang terjadi adalah sebaliknya. Tiba-tiba terdengar suara Ocarina lagi. Itu dari Aurelia, Mendadak seekor burung berwarna biru mendekatinya. 


Pete menanamkan pandangannya dan menemukan gulungan kertas kecil. "Aku butuh bicara."


Pete kemudian melirik di sekitar. Sepertinya semua sudah tertidur pulas. Pete segera melesat untuk menemui Aurelia.


Terlihat Aurelia tengah menatap langit. Pelan-pelan Pete mendekati biarawati tersebut dan menyentuh bahu gadis tersebut.


Gadis tersebut terkejut, kemudian segera menoleh. "Ku kira kau tidak akan datang."


Pete mengerutkan keningnya. "Apakah ada sesuatu yang membuatmu begitu ingin bertemu denganku?"


Aurelia hanya tersenyum. "Aku hanya butuh teman bicara saja. Aku begitu bosan saat ini, hanya bermain Ocarina seorang diri."


"Jadi?" tanya Pete heran.


"Kau sama sekali tidak tahu maksudku? Aku hanya ingin disini bersamamu sebentar saja, karena aku begitu kesepian."


Pete malah tersenyum. "Kau ini begitu aneh, ya! Tetapi tidak apa-apa, sih."


"Apakah kau Atheis?" tanya Aurelia, membuat Pete terkejut.


"Maksudnya?" Tanya Pete terheran. 


Aurelia menatap Pete. "Apakah kau percaya bahwa dewa dan dewi itu memang ada?"


Pete menghela nafas pelan, "tentu saja. Bahkan tragedi dunia terbelah ini, aku percaya."


Aurelia benar-benar terkejut. Tidak disangka bahwa Pete memiliki pemahaman spiritual yang cukup kuat.


"Kau dan Chester sangat berbeda sekali. Apakah kalian ini sebenarnya bukan kakak beradik kandung?" tanya Pete heran.


"Aurelia ini sebenarnya adalah anak yang dibuang oleh kedua orang tuaku. Namun, Chester memungutku dan akhirnya menganggap aku adalah adiknya."


Mendengarnya membuat Pete merasa begitu menyesal, karena telah menanyakan hal yang bersifat pribadi. Namun dirinya harus tertawa, karena dirinya hampir  sama seperti dirinya. 


"Kita sama."


Pete menceritakan segalanya panjang lebar, yang membuat Aurelia terbelalak. Bagaimana pun, sebagai seorang bayi, malah menjadi objek perebutan 

__ADS_1


"Oleh karena itulah, mengapa aku merasa begitu ingin mengubah aturan langit dan menyatukan kembali seperti dulu lagi"


__ADS_2