
Dia terus merenung di sana. Dirinya mulai bimbang, antara bersikeras untuk menepati janjinya pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah memaafkan Pete, atau melanggar janjinya itu.
Sementara itu di lokasi lain, Pete juga ikut merenung. Pete terus merasa bersalah atas apa yang telah terjadi. Dirinya pun terus memikirkannya.
...Sacred Valley:titik awal kultivator...
...Episode 77. sebuah kejutan...
Chang'e terus menghela nafas pelan. Pete terlihat begitu kelebihan beban di benaknya. Dirinya tahu apa yang Pete pikirkan, namun sama sekali tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan.
Xiao Fu dan Xiao Chi pun ikut menatap Pete yang terlihat begitu bersedih. Bagaimana pun, Masalah yang menimpa dirinya terlalu berat, mengenai hati.
"Dia."
Seseorang memanggil Dia, yang membuatnya menoleh. Dirinya mendapati Collete mendekati dirinya. "Ada apa?"
"Aku tahu kau memikirkannya."
Dia mendengus. "Oh!"
"Kau tidak perlu mendengus seperti itu. Dan aku beritahukan kepada dirimu. Dulu Pete juga seperti ini."
Dirinya mulai menatap Collete penuh pertanyaan. "Mengapa kau menceritakan ini kepadaku?"
Collete malah tertawa. "Karena kau pantas mengetahuinya."
"...."
"Pete memang seperti itu dahulu, sikap keras kepalanya itu memang ada di dalam dirinya. Namun kenakalan nya, aku yang mengajarinya."
"Apa-apaan itu? Kau yang mengajarkan bagaimana cara Pete untuk berulah?"
"Hahaha, walaupun itu masa lalu."
Dia terheran. "Sebenarnya apa yang membuat dirimu kemari?"
"Karena aku membutuhkan bantuan mu untuk berada di sisi Pete dan membatasi kelakuannya. Yah, aku akui ini konyol, akan tetapi aku dengar hanya kau yang bisa melakukan handle kepada Pete."
"Mengapa harus aku? Mengapa harus membatasi dirinya? "
"Jawabannya simpel. Walaupun Pete begitu nakal dan suka berulah, akan tetapi itu karena dirinya memang membutuhkan seseorang yang membatasi pergerakannya. Sungguh!
Waktu dulu juga, aku memang suka mengajak Dirinya berulah yang membuat siapapun pijit kepala. Akan tetapi, Raven begitu mengekang dirinya dan alangkah mengejutkan karena sifatnya kembali terkendali."
"Maksudnya aku harus mengekang dirinya juga?"
"Sebenarnya tidak harus. Aku bisa menemui dan meminta Raven yang melakukannya."
Mendengar kata Raven, entah mengapa Dia merasa tidak terima. "Hmm?"
"Aku yakin, dirinya sebenarnya begitu sulit untuk sendirian. Dirinya benar-benar membutuhkan seseorang yang membuat dirinya mampu bergerak seperti seharusnya. Katakanlah, pendirian Pete tidak tetap, seperti air, selalu mengikuti bentuk wadahnya. Akan tetapi, seseorang tersebut harus mendapat kepercayaan darinya."
Dia terdiam, dirinya baru menemukan jawaban, mengapa sifat Pete begitu mudah dirinya kendalikan.
"Aku hanya berucap demikian karena aku ingin kau menghentikan janji konyolmu itu. Pete menceritakan segalanya kepadaku. Dirinya pun merasa begitu bersalah kepada dirimu. Aku harap kau mau memaafkannya."
"Aku terlanjur berjanji dan aku tidak dapat mengingkari janjiku."
"Hufftt! Baiklah, aku akan menemui Raven untuk mengganti peran dirimu selama ini."
__ADS_1
Dia mendadak menatap Collete tajam yang terlihat sedang berjalan menjauh meninggalkan dirinya. Dirinya merasa jika janjinya tidak akan Dia langgar, maka dirinya akan kehilangan Pete begitu saja.
Dia mendadak merasa tidak terima jika Pete benar-benar pergi menjauh darinya dan tidak akan kembali lagi. Dengan langkah cepat, Dia segera pergi ke tempat Pete dirawat.
"Pete, aku akan memaafkan dirimu jika kau tidak akan pernah meninggalkan diriku!"
Collete menghela nafas pelan melihat Dia pergi. Rupanya dirinya malah kembali dan memantau pergerakan Dia. Bahkan suaminya juga ikut?
"Menurutmu, cara kita berhasil?"
"Aku tidak tahu. Kalau gagal, kita gunakan opsi kedua."
"Maksudnya memasukkan Raven sebagai pengganti Dia?"
"Raven terkenal begitu pendiam dan dingin, namun orang seperti itu pasti memiliki sifat lain yang sebenarnya tersembunyi. "
"Haahhh! Aku harap ini berhasil. Jika tidak, Pete akan kembali terpuruk."
Sahabatnya menggeleng tidak percaya dengan apa yang Dia ucapkan. Dia ingin hubungan dirinya berdua kembali seperti dulu. Artinya Dia akan memaafkan Pete.
"Syukurlah kalau begitu."
"Tetapi, Dia. Aku ingin tahu, mengapa kau-"
"Aku tidak bisa melihatnya meninggalkan diriku."
"Kau ..." Mereka tidak bisa berucap apa-apa lagi. Seolah-olah mereka mati kutu. Dia melakukan demi menghalangi Pete untuk meninggalkan dirinya?
Dia langsung masuk tanpa permisi, membuat Xiao Fu dan Xiao Chi menatap Dia heran. Bahkan Pete dan Chang'e juga.
"Aku mengambil kembali tugasku untuk mengendalikan Pete."
"Kau yakin? Maka aku akan menyerahkan tugas pengawasan kepada dirimu." Xiao Fu dan Xiao Chi segera keluar dari ruangan perawatan.
Alis Pete terkedut. "Kakak pertama?"
Dia menatap Pete begitu lekat. "Aku memaafkan dirimu, Pete. Sekarang kau harus menghilangkan beban di hatimu."
"Ini?" Pete bingung, namun ucapan Dia telah menghilangkan beban di hatinya.
"Dengan satu syarat, kau tidak boleh meninggalkan diriku di hatimu, Pete."
'Dasar, rupanya itu taktiknya untuk membuat Pete jatuh ke pelukannya? Dasar gadis licik!'
Pete mulai merasa ada yang aneh dengan Dia, mengabaikan ucapan dewi. Pete segera berdiri dan hendak menyentuh keningnya, namun diurungkan.
Dia mengerutkan keningnya, tidak tahu apa yang hendak Pete lakukan.
"Maaf, aku hampir menyentuhmu, tetapi apakah kau-" Pete tiba-tiba terdiam, membuat Dia terheran.
Chang'e menatap ke arah jendela. Dirinya merasa ada sesuatu yang salah di luar sana.
"Kau ingin menyentuh diriku? Tidak masalah. Aku sudah-"
Tiba-tiba, Pete menindih Dia, yang membuatnya kaget setengah hati. Mata Dia membola. "K-kau mau memperkosaku? Kau!"
"Ssstt!"
__ADS_1
"Dasar mesum, hidung belang! Aku tidak menyangka kau begini! Berani sekali kau hendak menodaiku! Kau benar-benar baj-"
"Diamlah, kakak pertama! Coba kau lihat itu!" ucap Pete kesal karena dikatai lagi. Sementara tangannya menunjuk sebuah dinding.
Dia langsung terdiam, melihat dua buah peluru menancap di tembok. "Ada yang menargetkan kita di luar!"
Dia kemudian melihat tangan Pete juga ada di posisi yang salah! Akan tetapi, Dia tidak boleh marah.
"Pete, ini benar-benar membuatku tidak nyaman. Bisakah kau tidak menindihku seperti ini?"
Tiba-tiba pintu terbuka. Tampak Xiao Chi bersama Gina, Joe, Kurt, dan Katie masuk dan begitu khawatir. "Kalian berdua baik-baik saja?"
Namun, kemunculannya benar-benar tidak tepat. Xiao Chi terdiam sejenak, kemudian menangkap peluru yang menyasar ke arahnya. Sementara yang lainnya menutup matanya
"Kalian berdua?" Mereka tertegun.
"Xiao Chi, kakak seperguruan. ini tidak seperti yang kau pikirkan!" ucap Pete panik. Dia pun mati kutu.
Senyum jahil mulai muncul di ekspresi Mrreka. "Maaf, aku tidak lihat apapun! Tidak lihat apapun!"
Xiao Chi segera keluar dari ruangan tersebut diikuti keempat temannya sembari berucap, "lanjutkan saja Kak! Tidak masalah, aku dan master akan mengurus penyerangnya! Sekalian buat yang banyak!"
Dia merah padam. Dirinya langsung mendorong Pete yang masih menindihnya. "Ini semua karena kau!"
Pete tidak terima. "Salah aku? Jadi aku harus membiarkanmu tertembak, begitu?"
"Tetapi bukankah ada cara lain?" tanya Dia.
Tiba-tiba Xiao Chi berucap dari luar. "Tidak usah berakting begitu setelah tertangkap basah. Lagipula kenapa tidak dilanjutkan saja?"
Dia dan Pete saling menatap tajam seolah saling ingin menelan hidup-hidup. Mereka kukuh terhadap pendiriannya, bahwa dirinya tidak pantas disalahkan.
"Dilanjutkan kepalamu! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" teriak Dia kesal.
Pete segera mengeluarkan senjata pedang misterius miliknya yang membuat Dia mulai membola. Dengan cepat, senjata itu dirampas Dia.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kau lupa, luka jahitannya masih baru, kalau terlepas bagaimana? "
Pete menjawab ngawur. "Terlepas? Ya terlepas saja! Toh jahitan nya tidak akan membunuhmu!"
"Seenaknya kau bicara,! Lalu yang repot nantinya siapa, hah?"
"Ya, kak Kuruna. Masa dirimu?"
"Sialan! Aku juga akan kena marah karena aku bertugas mengawasi dirimu!"
"Itu sih deritamu!"
Dia langsung menjewer telinga kiri Pete. "Aduh, sakit!"
"Kau bisa gak sesekali jadi penurut?"
Xiao Chi kembali berceletuk. "Benar itu! Menurut saja sama calon istri!"
Muka Dia semakin merah padam. "Kau yang dibalik pintu, bisa diam tidak sih?"
"Iya, deh. Maklum pasangan baru kalo lagi ribut tidak boleh diganggu."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...