Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 87


__ADS_3

Keesokan harinya, mereka semua terlihat begitu terbengong. Pasalnya Pete terlihat babak belur karena dihajar oleh gadis yang walaupun setahun lebih tua darinya, tingginya tiga senti meter lebih pendek darinya.


Pete terlihat meringis kesakitan saat di kompresi oleh Xiao Chi yang begitu terlihat geram. Sementara itu, Dia berada di dekat Pete tampak menginterupsi keadaan dan Kuruna menghilangkan luka memar Pete dengan sihir.


Sacred Valley:titik awal kultivator


Episode 87. tekad kuat.


"Kalian berdua bertengkar lagi?" tanya Kuruna terheran. Padahal mereka bahkan belum berpacaran, bisa-biasanya hubungan mereka sejauh itu, bahkan kemarin terlihat seperti pertengkaran suami istri.


"Ini bukan bertengkar lagi namanya, melainkan tindak kekerasan satu pihak." Bukan Dia yang menjawab, melainkan Xiao Chi.


Xiao Fu menggelengkan kepalanya. Dirinya tahu bagaimana besar perasaan geram yang dimiliki Xiao Chi setelah melihat ini semua.


"Apakah kau dihajar karena meminta jatah?" tanya Rusk meledek.


"Hei, itu tidak seperti yang kau pikirkan." ucap Pete begitu kesal. 


"Pete, aku dengar kalian menyebut kitab dan sepertinya Dia begitu membenci kitabmu. Bisa aku lihat kitab itu?" tanya Xiao Fu.


"Kitab? Oh, kitab itu dibawa oleh pelaku pembantaian. Minta saja kepadanya," ucap Pete begitu kesal.


Dia mendelik Pete begitu tajam, membuat nyali Pete langsung ciut. Dalam hati Pete berucap, 'tidak heran jika setelah meledek, mereka langsung melarikan diri. Rupanya begini rasanya dikebiri? Perempuan itu menyebalkan.'


'Aku juga perempuan, Pete. Jangan tertingkah tidak sopan kepada dewi.'


Diserahkannya kitab itu kepada Xiao Fu oleh Dia. Ketika membukanya, Mata Xiao Fu membola. 'Tidak heran jika Pete dihajar seperti ini seperti diamuk massa. Rupanya isi kitab ini terlalu mesum untuk dibaca.'


Xiao Fu menghela nafas pelan, kemudian menyerahkannya kembali kepada Dia. "Simpan ini, sebenarnya ini begitu berguna. Hanya saja, ada waktunya."


Dia terbelalak. "Master, melihatnya saja sudah ingin membuatku melemparinya ke laut agar dihancurkan oleh Hiu Megalodon. Aku menolak!"


Xiao Fu mencoba membujuk dia. "Ini berguna di saat kalian berdua sudah menikah."


"Tidak, aku menolak!" ucap Dia begitu keras kepala.


"Pete, kau cobalah bujuk Dia." Mendengar permintaan Xiao Fu membuat Dia melotot ke arah Pete.


Pete menggelengkan kepala. Namun alasannya membuat siapapun tercengang. "Aku tidak yakin masih hidup sampai menikah, master. Kemungkinan besar aku akan mati muda."

__ADS_1


"Adik termuda, kau-"


"Setelah semua, aku akan berjuang sendiri. Aku tidak bisa melihat siapapun menjadi korban karena melindungiku seperti di tragedi sembilan tahun yang lalu."


"Pete, aku sudah berjanji untuk-"


"Kakak pertama, kau sudah begitu banyak mengingkari sebuah janji. Jadi aku ingin, kau jangan ikut, apapun yang terjadi."


"Pete, kau yakin? Maksudnya meskipun kau sudah memiliki perkembangan yang hampir setingkat dibawah Dia, namun kau tidak akan-"


Pete telah membulatkan tekadnya. "Master, ini adalah keputusanku. Sudah cukup bagiku untuk menjadi anak kecil yang selalu di arahkan kesana-kemari. Jadi, biarkan aku mandiri.


Lagipula, aku mampu bertahan dengan Changseng Jue, Tombak kaisar langit yang aku dapat dari  makhluk Pedestal yang telah aku uji kemarin siang, juga garis darahku sudah bangkit. Master tidak perlu khawatir."


"Tombak kaisar langit? Maksudnya tombak kemarin itu? Jadi itu bukan pemberian Raven?" tanya Xiao Chi terheran.


Pete mencoba mengingat. "Pemberian Raven? Tidak-tidak. Raven memberikan Steel Katana (Double Blade, senjata dua pedang pendek berpasangan.), bukan Needle Spear (Tombak yang memiliki ujung mirip pedang). Aku belum menggunakannya, lebih jelasnya aku belum menguasai tekhnik dasar senjata tipe Double Blade."


"Bagaimana kau bisa tahu bahwa itu senjata milik kaisar langit yang lama?" tanya Katie begitu heran.


Pete menatap Xiao Fu.  "Tanyalah kepada master. Dari siapa aku memiliki pengetahuan seperti ini."


Xiao Fu mendengus. "Kalian semua, mari kita pergi ke pertandingan gladiator. Kita harus segera sampai di sana untuk pendaftaran." 


Joe mendengus pelan. "Master berhutang jawaban kepada kami."


Xiao Chi kemudian menarik tangan kanan Pete. "Kak Pete, kau denganku saja. Kalau dengannya lagi, kau malah dihajar lagi di dalam perjalanan."


Dia mulai merasa tidak terima dengan apa yang Xiao Chi katakan. "Kak Xiao Chi, aku tidak menghajarnya jika tidak begitu kelewatan."


Xiao Chi tersenyum remeh, merasa bahwa dirinya lebih mengenal Pete daripada Dia. "Hmm? Aku rasa aman saja dengan kak Pete. Walaupun sifatnya begitu jahil namun hatinya murni."


Dia mulai menarik tangan kiri Pete. "Adik termuda, kau denganku saja. Bersama adikmu, memangnya kau itu sistercon?"


Xiao Chi mencibir. "Menjadi sistercon namun merasa nyaman lebih baik daripada menjadi kekasih dari gadis psikopat sepertimu."


Dia mulai begitu kesal. "Aku bukan Psikopat!"


"Tetapi kau suka sekali menghajar kak Pete! Waktu itu aku dan ibu sebenarnya begitu bingung dengan sikap Pete terhadap dirimu yang tidak seperti biasanya, namun melihat tingkahmu pantas saja Pete begitu penurut kepadamu. 

__ADS_1


Kak Pete, kau denganku saja. Biarkan saja gadismu ngedumel tidak jelas. Kalau dirinya marah, biar aku yang menanggung."


"Adik termuda," ucap Dia dengan ekspresi yang dibuat-buat yang membuat Pete mulai merasa bahaya. Namun, Xiao Chi segera berdiri di depan Pete.


"Menggunakan tekhnik ancaman? Lawan dulu diriku. Kak Pete, mundur!"


Pete kemudian langsung menengahi mereka berdua."Kalian berdua, berhenti!"


Namun, mereka malah menghiraukan Pete dan mulai saling bertatapan begitu tajam, setajam silet. Pete mulai merasa dongkol setengah mati, kemudian dirinya segera menaiki serigala putih.


 "Master, jika mereka berdua menanyakanku, katakan saja bahwa aku telah berangkat sejak tadi karena dongkol dengan tingkah mereka berdua."


Pete meninggalkan mereka berdua yang masih saling bertatapan begitu tajam setajam silet, membuat Xiao Fu malah terkekeh pelan. "Entah apa reaksi mereka berdua jika mengetahui Pete telah meninggalkan mereka." 


Seperti yang umumnya terjadi jika kedua gadis kalau bertengkar, Dia dan Xiao Chi akhirnya gelud saling menjambak rambut yang membuat mereka semua bergerak untuk memisahkan perkelahian adu jambak rambut.


 


Pete yang sedang menunggangi serigala putih tengah melaju di dataran gurun Pasir Sol Terano. Kecepatan larinya begitu tinggi, namun begitu konstan. 


Dalam hatinya, Pete begitu dongkol setengah mati. Bisa-bisanya mereka bertengkar di saat mereka hendak berangkat ke Collossum tempat pertandingan Gladiator dilaksanakan, meskipun di Leaf Valley berlaku Jam Karet yang berarti dapat datang besok pagi.


Sebagai referensi, di Leaf Valley, tepat waktu bukanlah kebiasaan para penduduk. Jam Karet, adalah aturan umum yang selalu terjadi. Maksud dari jam karet bukanlah sebuah jam dari karet melainkan sebuah waktu yang seperti karet yang tertarik, yang meregang begitu memanjang. Kegiatan direncanakan jam dua siang, namun jam tiga sore para peserta kegiatan baru datang ke lokasi.


Kedisiplinan waktu adalah sebuah PR di Leaf Valley. Hanya akademi yang memberlakukan kehadiran tepat waktu. Namun kedisiplinan lain seperti disiplin bertindak sangat diacungkan jempol. Jika suatu kegiatan ditargetkan selesai dalam waktu satu jam, paling tidak lima puluh menit harus sudah selesai. 


Kembali ke cerita. Pete terus menunggangi serigala putih sampai ada yang mencegatnya di setengah perjalanan. 


Mereka bertujuh adalah para perampok yang begitu kejam. Tidak segan untuk membunuh siapapun yang mereka targetkan. Dan kali ini mereka tertarik pada serigala putih yang Pete tunggangi.


"Serigala putihnya begitu jinak, ya? Berikan kepadaku dan serahkan barang berhargamu juga. Aku akan memastikan kau aman di tujuan."


"Kalian yakin ingin merampokku?" tanya Pete santai.


"Bocah cilik! Seharusnya kau bersyukur karena kami masih bertindak lebih halus. Jadi lakukan apa yang kami perintahkan!"


Pete menghela nafas pelan. Sebenarnya para perampok itu telah berurusan dengan orang yang salah. "Ingin merampokku? Cobalah kalau berani dan jangan merengek meminta pengampunan."


Pete segera mengeluarkan senjata pedang misterius miliknya dan memacu serigala putih untuk bergerak maju. Pertarungan pun tidak dapat dihindarkan.

__ADS_1


__ADS_2