Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 73


__ADS_3

Chang'e tampak memandang bulan, tempat dulu dirinya tinggal. Entah apa yang terjadi pada istana Guanshan sejak ditinggalkan begitu lama.


Chang'e kemudian menatap Pete yang tengah tertidur lelap. Membuat Chang'e menghela nafas pelan.


...Sacred Valley:titik awal kultivator ...


...Episode 73. biarkan aku beristirahat lagi...


Satu hal yang tidak Chang'e mengerti, mengapa Pete dapat mencabut pedang tersebut dengan mudah? Apakah jiwa Pete adalah sisa-sisa jiwa para dewa yang telah lenyap kemudian bersatu? Namun, itu mustahil karena tidak mungkin seperti itu, kecuali terkondensasi secara alami.


Jiwa milik Pete mungkin spesial, atau mungkin karena Pete dianggap tuannya oleh tombak tersebut setelah pemilik sebelumnya terbunuh olehnya.


Kuruna memasuki ruangan perawatan dan memeriksa keadaan punggung Pete, disusul dengan  Xiao Chi dan Dia. Mereka bertiga menatap Pete begitu lekat.


Chang'e mengerutkan kening. Tidak mengerti dengan apa yang akan mereka lakukan. Dirinya pun mulai menanyakannya kepada Xiao Fu melalui koneksi bawah sadar nya.


"Xiao Fu, apa yang akan dirimu lakukan?"


Xiao Fu menghela nafas pelan. "Aku datang untuk meminta maaf kepadanya atas apa yang telah aku lakukan."


"Kau ...."


Chang'e terdiam. Xiao Fu begitu berani untuk mengakui kesalahannya. Sementara dirinya begitu takut untuk melakukan hal yang sama. Apakah ini pantas untuk dirinya yang notabene adalah Dewi?


Mata Chang'e beralih ke arah Dia. "Bagaimana dengan Dia? Mengapa dirinya kemari?"


Xiao Fu ikut melihat Dia. "Hanya melihat Pete. Kau tahu kan, Dia sebenarnya memiliki perasaan yang sama seperti dulu. Jadi dirinya kemari itu adalah wajar." 


Chang'e tidak setuju. "Tidak. Kehadiran Dia akan membuat Pete semakin kepikiran. Sebaiknya minta Dia untuk segera keluar untuk tidak membuat Pete kembali kepikiran."


"Jangan begitu. Bagaimana pun, Dia dan Pete masih memiliki hubungan, walaupun begitu buruk." Xiao Fu mencoba menengahi.


"Kalau begitu, minta Dia untuk segera keluar saat Pete terbangun. Usahakan untuk Pete tidak menyadarinya," pinta Chang'e.


"Dewi, ini terlalu-"


"Tidak terlalu berlebihan. Saat ini, perasaan Pete begitu tertekan oleh kesedihan yang mendalam. Jadi biarkan dirinya untuk sendiri terlebih dahulu,  untuk menenangkan perasaannya."


Xiao Fu terdiam sejenak, kemudian menghela nafas pelan. "Aku mengerti."


Tubuh Pete mulai di obati di bagian punggungnya, oleh Kuruna. Terlihat luka bakar Pete begitu parah, malah mulai menyusut. Tekhnik Healing milik Kuruna benar-benar spesial.


Beberapa jam kemudian, akhirnya Kuruna berucap, "selesai."


Xiao Fu dan Chang'e merasa begitu takjub setelah menatap luka Pete yang telah hilang begitu sempurna.


"Sekarang, masalah berikutnya adalah luka parah di organ dalamnya."


Xiao Fu membola, kemudian melotot ke arah Chang'e. "Kau belum memberikannya, Dewi?"


Chang'e mengerutkan kening mendengar pertanyaan Xiao Fu melalui bawah sadar.. "Bagaimana caranya memberikannya, Pete saja tidak terbangun sejak tadi."


Xiao Fu menghela nafas pelan, kemudian mengambil sebuah Pil teratai matahari dan memasukkannya ke mulut  Pete, dan menggunakan energi spiritual miliknya untuk memaksa pil tersebut untuk masuk ke kerongkongannya.


"Jangan khawatir, Pete akan baik-baik saja."


"Aku harap begitu."

__ADS_1


 


Sementara itu, di ruang tamu terlihat Gina bersama ketiga sahabatnya sedang menunggu Dia untuk keluar dari ruangan perawatan, mendapatkan kabar terakhir Pete yang mereka anggap adik seperguruan yang termuda.


"Menurutmu, sekarang bagaimana caranya hubungan mereka berdua kembali seperti dulu?" tanya Gina membuka topik.


Katie memegangi keningnya."Aku sama sekali tidak tahu. Otakku buntu, kakak kedua."


Mendengarnya membuat Joe langsung mencibir. "Ya, tapi kalo soal cowok tampan pasti otakmu lancar, selancar sungai jernih."


"Kau!"


"Hei, aku kakak ketigamu,sopan dikit napa."


"Bagaimana aku bisa memiliki kakak yang paling menyebalkan seperti ini?"


"Kalian berdua, bisakah sedikit serius?" tanya Kurt dengan aura menginterupsi mereka berdua untuk diam.


Gina menghela nafas pelan ketika tidak ada seorangpun yang mampu menjawabnya. "Haahhh, aku rasa hubungan mereka  berdua memang sulit untuk diperbaiki."


"Kakak tertua  telah berjanji untuk tidak akan pernah memaafkan Pete sama sekali. Kita bisa apa?" tanya Joe.


"Uniknya, begitu Dia pergi meninggalkan Pete, justru semakin banyak musuh yang begitu mengincar nyawa Pete langsung, seperti Devil Ghost Tree dan Pedestal."


"Soal Pedestal, kalian percaya tidak bahwa Pete berhasil mengalahkannya seorang diri?" tanya Katie heran.


Gina menggelengkan kepala. "Tidak yakin. Aku rasa Pete berhasil karena dirasuki roh lain diluar tubuhnya."


Kurt mengerutkan keningnya. "Roh lain yang Xiao Chi panggil dengan nama 'Beiming' itu?"


Joe berfikir. "Tidak-tidak. Sepertinya itu bukan roh lain diluar tubuhnya, melainkan roh ganda milik Pete sendiri."


"Mana aku tahu, kok tanya saya? Memangnya saya maha tahu segalanya? Itu baru argumen, lebih tepatnya hipotesis."


"Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu?"


"Pertama, jika Pete dirasuki oleh roh luar, pastinya Pete akan pingsan terlebih dahulu, karena rohitu memaksakan dirinya untuk mengambil alih tubuh Pete. Tapi lihatlah, Pete sama sekali tidak pingsan saat dirasuki


Kedua, roh luar tidak akan bisa mengikuti kemana pun Pete pergi. Kau tahu kan, roh Yinling seperti itu  akan berupaya untuk menghindari panas, menghindari petir,  dan bersembunyi dari penjaga langit.


Ketiga, umumnya roh luar akan berupaya mengambil alih tubuh Pete secara permanen. Tidak mungkin Pete diambil alih secara sementara, mengingat tubuh Pete begitu spesial. Memangnya tubuh Pete itu penginapan?" jelasnya yang terdengar begitu masuk di akal, namun tidak pada realitanya.


"Sepertinya begitu."


Pete kebingungan, dirinya kembali merasa di kekacauan belasan tahun yang lalu. Pete terasa dibawa bergantian oleh beberapa orang yang terlihat begitu berupaya untuk menyelamatkannya.


Pete ingin bertanya, namun lidahnya kelu. Pete segera melihat dirinya sendiri dan mendapati dirinya masih begitu kecil, membuat Pete semakin syok.


"Apakah ini sebuah mimpi?"


Namun, Pete merasa ini nyata. Namun tidak disangka dirinya melihat ayahnya yang sudah mulai menua yang terlihat begitu berupaya untuk menyelamatkannya.


Mata Pete langsung membola melihat sosok Ayah tertikam beberapa Pedang di tubuhnya. Membuat Pete ingin berteriak histeris.


"Ayah!"


Pete berhasil berteriak, akan tetapi setelah dirinya terbangun tiba-tiba dari tempat tidurnya.

__ADS_1


"Aww!" Pete tiba-tiba merasa sakit di tubuhnya.


"Luka dalammu belum sembuh secara sempurna, Pete. Lekas berbaring!" perintah Xiao Fu.


Pete langsung berbaring. "Haahhh, hanya mimpi."


Xiao Fu mengelus kepala Pete pelan. "Micah, kau memimpikan ayahmu?"


Pete malah langsung membalikkan tubuhnya sembari berucap, "ibu, aku akan tidur lagi. Kita akan bicarakan di saat aku pulih nanti."


Pete kemudian mentup mata, memaksakan diri untuk tidur kembali. Dirinya memang merasa begitu enggan untuk menceritakannya, itu pun juga hanya mimpi.


"Micah?" tanya Dia heran.


"Pete hanya nama kecilnya. Sebaiknya kau memeriksa akta horoskop milik Pete. Tertulis jelas, namanya adalah Micah. Akan tetapi, nama Pete tertulis sebagai nama kecil."


"Rupanya ... pantas saja aku merasa Pete bukan nama aslinya."


 


Sementara itu, diluar terlihat Evelyn bersama Collete dan Sofia sedang menguping pembicaraan mereka dari balik pintu.


Alasannya sederhana. Tidak seorang pun yang dapat menjenguk Pete tanpa seizin Kuruna dan Xiao Fu dan uniknya izin itu harus izin tertulis. Gila, ini izin untuk masuk ke kamar pasien atau masuk ke ruangan rahasia?


Sementara mereka begitu ingin mengetahui kabar terbaru dari keadaan Pete, tidak puas dengan hanya mengetahuinya dari Dia yang memiliki surat izin untuk masuk ke dalam ruang perawatan Pete.


"Apakah kau mendengar sesuatu?"


"Tidak. Bagaimana denganmu?"


"Sama. Aku tidak bisa mendengar apapun."


"Haaahhh, ini parah. Pete benar-benar terjaga ketat."


"Sssttt! Nanti kita akan ketahuan."


"Bagaimana dengan Sofia?"


"Aku mendengar apapun."


"Apa yang kau dengar?"


"Sudah aku bilang, aku mendengar apapun."


"Haahhh, kebiasaanmu berbicara oposite tidak berubah."


Namun, mereka sama sekali tidak menyadari Xiao Chi di belakang mereka yang terlihat meletakkan kedua tangannya di pinggang.


"Apa yang kalian lakukan?"


Mereka bertiga terkejut, tidak disangka mereka tertangkap basah tengah menguping pembicaraan orang.


"Kami ...."


"Bisakah kalian minggir sebentar? Aku akan masuk ke dalam."


Collette, Sofia, dan Evelyn mendadak saling berpandangan kemudian memasang senyum misterius, membuat Xiao Chi terheran dan berwaspada.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2