Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 71


__ADS_3

Masih di lokasi keberadaan formasi Dimensi yang dibuat oleh Xiao Fu bersama Kuruna. Tampak Zaid terbengong dan Ordorus mencubit pahanya, tidak percaya itu adalah nyata.


...Sacred Valley:titik awal kultivator ...


...Episode 71. final match...


Kuruna langsung memalingkan muka ketika Zaid menatapnya lekat-lekat. Xiao Chi menyenggol bahu Zaid dan berbisik, "itu sebuah kode untukmu yang berarti dirimu berhasil mengambil perhatiannya. Selamat!"


Zaid tersenyum, "Hey, aku tidak akan terbunuh semudah itu!"


"Aku senang jika kau berhasil kembali tidak terbunuh, namun aku lebih senang melihatmu kembali dengan patah tangan atau kaki," ucap Ordorus mencibir. Akan tetapi ...


"Zaid, usahakan kembali dengan selamat, tidak peduli kau patah tangan atau kaki sekalipun! Aku dan beberapa kotak obat akan menunggumu!" teriak Kuruna, kemudian lari dari tempatnya menjauhinya, karena pipinya sudah bersemu merah secara maksimal.


"Kuruna?" tanya Ordorus begitu kaget.


Xiao Fu segera menutup obrolan mereka dengan mengeluarkan kekuatan untuk membuka portal. "Kalian semuanya, kami akan pergi."


"Selamat jalan dan semoga kembali membawa Pete kembali dengan selamat!" ucap mereka.


Keenam orang terpilih tersebut mulai masuk ke dalam portal, sementara yang lainnya menunggu di sekitarnya.


Sementara itu, di dimensi milik Pedestal, sebuah ledakan terjadi di sebuah tempat. Namun, Pete rupanya masih hidup. Tubuhnya terselimuti kekuatan aneh yang bertindak sebagai perisai.


'Jiwa Skelefang:Perisai semu'


Pete memuji. "Waktu yang tepat, Dewi."


"Bukan aku yang seharusnya kau puji, harusnya aku yang memuji dirimu. Aku hanya mengaktifkannya dan kau lah yang menggunakannya, Pete," ungkap Chang'e


Pete memperhatikan perisai semu yang baru saja dirinya gunakan. "Perisai yang kuat, namun mudah rapuh."


"Walaupun mudah rapuh, namun cepat terbentuk kembali," ucap sang Dewi.


"Mampu bertahan dari serangan? Kau memang harus mati!" teriak Pedestal geram.


Chang'e segera memberi tahu situasi di lapangan. "Pete, Pedangmu masih menancap di tubuh Pedestal. Selama kau bisa mengulur waktu dan menghalangi Pedestal untuk mencabut pedang itu,, aku yakin Pedestal akan kehilangan begitu banyak energi spiritual miliknya."


"Ya. Akan aku lakukan!"


Pete kembali berdiri, kemudian menciptakan sebuah sayap semu di punggungnya.


'Jiwa Skelefang:Sayap semu!'


"Kau pikir dengan sayap, kau dapat mengalahkanu? Mimpi saja sana! Matilah kau!"teriak Pedestal.


'Dimension infiltran'


Pedestal segera menyusup ke dimensi lain membuat Pete bersiaga.  Ada kemungkinan monster itu akan muncul tiba-tiba dibelakangnya dan memukulnya. 


Sesuai dugaan, monster tersebut muncul di belakang Pete dan hendak menyerangnya. Namun, Pete segera menghindari serangan.

__ADS_1


"Sialan! Apakah ada mata di punggungmu?"


"Sebaiknya kau menyerah, Pedestal."


"Menyerah? Heh! Aku tidak akan menyerah!"


"Pete,  terus ulur waktu "


"Ya."


'Tikaman seribu tombak naga!'


Pete segera menusukkan tombak kedepan dengan cepat, walaupun dirinya tahu serangan semacam itu tidak akan memberikan pengaruh besar.


"Tch! Kau seharusnya belajar banyak. Kau pikir serangan mu dapat melukaiku?".


Namun, sesaat kemudian Pedestal mulai menyadarinya. "Sialan,  mengapa energi spiritual milikku terus mengecil? Apakah jangan- jangan karena Pedang yang menancap ini?"


Pedestal segera bergerak hendak mencabut, namun Pete segera meluncur ke depan mukanya hendak menikam matanya yang membuat naga terkesiap.


Sang Naga segera mengurungkan untuk mencabut pedang itu dan berbalik menyerang Pete.


Pete segera menghindar. Kemudian, bergerak menyerang Pedestal dari arah lain. Intinya, Pete melakukan apapun untuk mengalihkan Pandangan Pedestal yang saat itu mulai menyadari energi spiritual miliknya terserap begitu banyak.


"Sialan! Energi spiritual milikku diserap habis oleh pedang sialan ini!" teriak Pedestal geram sambil mencabuti pedang itu dan melemparkannya ke arah Pete.


Pete alih-alih menghindar, malah meraih pedang tersebut, padahal pedang tersebut meluncur dengan kecepatan tinggi. "Kau terlambat menyadarinya, Pedestal."


"Huh, kau pikir dengan taktik licikmu, kau akan dianggap pahlawan? Heh, bagiku, kau hanyalah pecundang!"


"Hahaha, sebaiknya pikirkan bagaimana caranya bisa selamat dari ledakan area milikku. Aku mati, kau juga akan mati!"


Pedestal segera bersiap meledakkan diri yang membuat Chang'e panik.


"Pete, ledakkan Changseng Jue, sekarang!"


Pete segera mengambil kalung itu membuat Sang Dewi mulai menutup mata, mengira Pete akan melakukannya . Namun dirinya dikejutkan karena Pete meraih tubuhnya yang mungil dan membawanya ke pelukannya sambil menciptakan bola Perisai semu yang menyelimuti Tubuh Pete sedemikian tebal.


"Pete, apa yang kau lakukan? Perisai semu milikmu tidak akan kuat!"


Tubuh Pedestal meledak! Semua area diporak-porandakan oleh ledakan tadi. Bahkan, Perisai semu yang menyelimuti Tubuh Pete terkikis dan Pete kembali terluka sedemikian parah, terutama punggungnya. Namun Chang'e di pelukannya baik-baik saja


"Sudah aku katakan, aku tidak akan pernah mengorbankan dirimu."


Chang'e mulai berupaya memeluk Pete, namun dirinya begitu mungil. "Dasar bodoh! Kau malah melakukan ini."


Sebuah tombak tiba-tiba menancap tidak jauh dari posisi mereka. 


"Tombak itu ..." Chang'e mendadak mengingat tombak tersebut.


"Tombak apa itu?"

__ADS_1


"Itu adalah senjata milik Paus! Tidak heran jika aku merasa Pedestal begitu tidak asing. Rupanya sebuah roh pusaka yang telah memiliki tubuh."


Pete mulai mencabut Tombak itu. Begitu mudah untuk Pete cabut sehingga sang Dewi terkejut bukan main. Pete pun segera menyimpannya. "Tombak ini adalah milikku sekarang."


Namun, tiba-tiba dimensi tersebut mulai runtuh.


"Gawat! Pete, kita harus pergi dari sini!"


"Pergi dari sini? Caranya?" tanya Pete yang malah terduduk di batang Pohon. Dirinya sudah pasrah.


Dewi Chang'e terdiam. Dirinya tidak tahu sama sekali cara untuk kembali. Sang Dewi pun mulai bergerak dan duduk di bahu Pete, ikut pasrah dengan apa yang akan terjadi.


Pete terkekeh pelan. "Rupanya kita akan mati bersama." 


Chang'e menghela nafas pelan. "Ya.kita akan mati bersama disini, kecuali terjadi keajaiban." Pete mulai meraih Chang'e dan memainkannya seperti memainkan boneka kecil.


"Pete, kau-"


"Biarkan kita seperti ini sebelum kita benar-benar terbunuh."


Pete menoleh ke atas. Sebuah pecahan Dimensi besar mulai jatuh hendak menghantam mereka berdua. 


Namun tidak ada yang menduga tiba-tiba sebuah selendang meluncur begitu cepat melilit Pete bersama Chang'e dengan ikatan yang begitu rapat dan membantunya seperti lemper .


Pete kemudian ditarik ke arah sumber pemilik selendang tersebut sebelum pecahan Dimensi besar tersebut benar,-benar menghantam dirinya. Rupanya, bala bantuan tiba, tepat pada waktunya.


"Kemana perginya Pedestal sialan itu?"


"Sudah aku bunuh," ucap Pete enteng membuat mereka semua tercengang!  "Ayo, kita harus segera kembali. Dimensi ini akan segera runtuh!"


"Ah? Oh, ya! Pete benar! Semuanya, masuk kedalam portal. Cepat!"


Mereka pun langsung lompat ke portal dan mereka segera berpindah tempat.


---


Sehari kemudian, Pete membuka matanya. Dirinya mendapati berada di ruangan yang sama. Dewi Chang'e pun tertidur di sampingnya. 


"Ini? Mungkin aku pingsan tadi."


Pete mencoba berdiri, namun Pete malah sempoyongan dan terjatuh mencium lantai.


Pete mencoba berdiri, namun tangan halus meraih tubuhnya dan membaringkan kembali di ranjang perawatan. "Kau masih belum sembuh total, berani sekali kau bangkit dari tempat tidur."


"Kakak pertama?" Pete kaget karena rupanya Dia yang menolongnya


Dia berekspresi begitu dingin. "Hmm, aku pergi dahulu."


"Tunggu!" Pete mencekal tangan Dia, namun segera ditepisnya. 


"Maaf, kau tidak memiliki akses untukku, dan  sebaiknya kau beristirahat."

__ADS_1


Pete menghela nafas pelan sembari melihat kepergian Dia. Dirinya merasa Dia tidak akan pernah memaafkan dirinya.


Dewi Chang'e pun juga merasa bersalah. Jikalau begini terus, lambat laun senyum Pete akan semakin hilang di dalam dirinya dan akan membuat dirinya semakin terlihat begitu bersedih. Ada kemungkinan Pete akan menjadi seorang menyendiri.


__ADS_2