
Micah mengayunkan senjatanya, membabat seluruh musuh sebisanya. Ketika melihat serangan jauh, Micah segera menghindarinya dengan cepat. Terlihat bahwa tekad bertarung yang besar pada Micah. Micah sempat melirik Goa, dimana dirinya sempat melihat kedua sahabatnya di sana. Ini berarti dirinya sudah dekat dengan tujuan.
Namun, musuh mulai semakin banyak berdatangan yang mulai membuat Micah merasa sangat terdesak, bahkan senjata pedang biasa miliknya telah lepas dari tangannya. Melihat membuat Micah merasa harus melakukan sesuatu untuk mengatasi hal hal yang sangat rumit seperti itu.
"Micah, gunakan pedang kegelapan jiwa penjaga neraka, Sekarang! Kita tidak punya banyak waktu dan tenaga yang tersisa!"
"Tetapi, Moonlight Goddess sendiri bilang bahwa senjata itu sangat berbahaya!"
"Kita tidak punya cara lain untuk mengatasi hal merepotkan seperti ini. Walaupun jika aku ada di sini, semuanya mudah diselesaikan, namun yang bertarung adalah dirimu, Micah. Jadi, menggunakan adalah alasan yang tidak dapat ditawar lagi."
Micah mulai menghumuskan pedang gelap tersebut yang terlihat aura gelap yang begitu tebal nan pekat. Secara mengejutkan, semangat musuh untuk menyerang Micah langsung runtuh, lalu lari terbirit-birit.
Mendadak energi gelap tersebut mulai memasuki tubuh Micah yang kemudian berupaya mengambil kesadarannya. Moonlight Goddess mendadak hilang dan seketika kalung di lehernya bereaksi, mengeluarkan cahaya hijau bercampur emas yang ikut-ikutan masuk ke tubuh Micah.
Terjadilah perebutan kesadaran antara pemilik tubuh asli dengan kedua aura yang berlawanan. Itu membuat Micah merasa sangat tertelan secara batin. Namun, beruntunglah karena Micah berhasil mengambil alih kendali kesadarannya, yang walaupun itu membuat Micah pingsan.
"Ini bukan yang aku harapkan, Tidak disangka pedang ini bereaksi begitu cepat sekali! Namun sepertinya tempat ini memiliki aura aneh. Ada dinding transparan yang mungkin akan membuat Micah tidak dapat kembali. Jika Micah telah terbangun, aku harus membuatnya memecahkan teka-teki ini."
Sementara itu, Raven tengah memeluk lutut kakinya di kamarnya. Garius menghela nafas, karena tahu benar bahwa Raven tengah memikirkan Micah. Sudah setengah hari Raven mencarinya dimana-mana, lalu menyimpulkan bahwa Micah berada di luar sana. Sekarang sudah satu hari berlalu. Sebenarnya, apa yang Micah pikirkan?
"Raven, ayo makan dahulu. Nanti kau sakit jika terus menerus begini, Raven."
"Maaf, kak. Aku sama sekali tidak bernafsu untuk makan."
"Ayolah, beberapa suap saja. Kau harus makan."
Raven terdiam, yang membuat Garius menghela nafasnya, kemudian berlalu begitu saja. "Micah, sebenarnya kau ada di mana? Aku memintaku untuk menjauhiku, namun bukan begini maksudku. Apakah kau terlalu membenciku sampai kau menghukumku dengan cara sadis seperti ini, Micah?"
Garius mulai membuka pintu rahasia, kemudian mulai masuk untuk mengambil senjata pedang dan Hammer. Lalu berdecak kesal. "Mereka itu malah begitu lama sekali."
Mendadak pintu terketuk, yang kemudian membuat Garius segera keluar dari sana, lalu membuka pintu. Terlihat beberapa orang tampak sok keren yang kemudian mendapatkan hadiah jitakan dari Garius. "Kalian terlambat hampir dua jam!"
__ADS_1
Mereka adalah Louis, Parsley, Jack, Xavier, dan juga Carlos. Mereka rupanya membawa senjata mereka masing-masing.
"Maaf, salahkan Jack yang main merajuk kepada Alicia, agar memaafkan perbuatannya."
"Itu tidak penting. Sekarang kita telah bersiap-siap, bukan? Jack, kau tidak memberitahu Shara, bukan?"
"Tidak. Aku rasa ini sudah waktunya bagiku untuk berusaha tanpa terlalu bergantung kepadanya."
"Sementara Parsley dan Xavier, kau juga tidak memberitahu kepada Lyla, bukan?"
"Jangan khawatir."
"Yah, kalau begitu artinya kita sudah siap. Sekarang tinggal Raven saja yang belum. Namun, itu bukanlah masalah besar. Aku tahu jelas tipikal adikku itu."
"Kau yakin akan menyertakan Raven pada misi keluar dari Sharance?"
"Semua ini karena keinginan Raven. Sangat tidak adil jika dirinya tidak ikut pada pencarian kali ini. Siapa tahu dengan keberadaan Raven pada kelompok kita pada kali ini membuat kitw lebih mudah untuk menemukan petunjuk mengenai Micah."
"Soal itu, aku merasa sangat iri dengan Micah, vusa-bisanya sebelum masa perebutan dimulai, Micah telah memagari Raven terlebih dahulu."
"Sudahlah, jangan banyak bicara lagi. Kalian tunggu disini sementara aku akan masuk ke kamarnya."
Micah mulai membuka matanya, kemudian menyadari bahwa dirinya telah berada di dalam Goa. Terlihat dua orang tengah asyik saling bercanda bersama. Micah mulai hendak bangun, namun rasa sakit di kepalanya mulai menyerang kepalanya.
Micah meringis, uang membuat mereka berdua menoleh ke arah nya dan segera mendekati Micah. "Kau baik-baik saja?"
"Hanya sedikit pusing."
"Kau tidak amnesia atau sejenisnya, bukan?"
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu kenapa, tetapi kau terlihat sangat tidak asing."
Micah mulai bangun dari sana, mulai mengambil kotak kado kepada Collete dan juga Rusk. "Terimalah."
Mereka menatap isinya yang kemudian membeku melihatnya. Isinya adalah masakan kesukaannya beserta pakaian pengganti. "Kau masih ingat kami?"
Micah mulai memeluk Collete dan Rusk begitu erat, yang seketika terdengar suara tangis bahagia pada mereka. "Micah, akhirnya kami bertemu denganmu lagi setelah sekian lama!"
Lima jam kemudian, Micah mulai mengayunkan pedang yang mencoba untuk memecah dinding tidak kasat maya yang menghalangi jalannya. "Seakan dinding apa Ini? Aku sama sekali tidak dapat membukanya."
"Jika bisa dibuka, sudah pasti kami akan keluar dari wilayah ini dan kembali ke Sharance."
"Kalian berdua, jangan putus asa! Pasti ada jalan keluar!"
Micah bersama kedua sahabatnya mulai mencari celah ke tempat lain yang kemudian hasilnya adalah buntu. Namun, sedikit petunjuk adalah, dari atas terlihat bahwa dinding ini kelihatan sekali ada kekuatan transparan yang menutrisi yang berasal dari Goa.
"Sepertinya, kita harus mencari asal dan sumber kekuatannya. Ayo kita ke Goa."
Micah mulai kembali masuk ke dalam Goa, dengan membawa obor di tangannya. "Micah, bagaimana bisa kau tahu sumbernya dari sini?"
"Perhatikan baik-baik dari atas. Terdapat kekuatan aneh transparan yang terus menerus menutrisi kekuatan tembok ini dan asalnya dari Goa. Aku yakin, pasti ada sesuatu di dalam sini."
Micah menemukan sebuah tempat yang terjaga oleh dua prajurit berwarna putih. Melihatnya juga membuat mereka terkejut. "Siapa, kau?"
Kedua prajurit itu saling berpandangan, kemudian menatap mereka bertiga. Terlihat ada dua orang tanpa senjata dan satu orang adalah pembawa pedang kegelapan.
"Kalian, kalau mau masuk, harap hanya satu orang yang boleh hidup di sini. Maksudku, dua di antara kalian harus mati!"
Micah mulai mengerutkan keningnya. "Tempat apa ini?"
"Aku tahu bahwa kau hendak mencari jalan keluar, dan di ruangan inilah sumbernya."
"Rupanya ... tetapi Aku tidak akan membunuh temanku!"
__ADS_1