
...Sacred Valley:awal mula...
...Episode 148. Akhirnya putri Kecil diselamatkan...
Pete segera melesat bersama Maria dan Alice yang kali ini berada di pihaknya. "Pete, disini tempatnya!"
Pete mencoba membuka kamar tersebut, namun Alice tanpa pandang bulu langsung menendang pintu tersebut sampai terbuka.
Terlihat Putri kecil itu tengah terduduk kesepian. Namun melihat mereka membuat gadis itu bangkit dan berhamburan ke ... pelukan Alice?
"Kak Alice! Aku takut!" ucapnya begitu mengada-ngada. Padahal dari nada suaranya, tidak ada jejak ketakutan sama sekali.
"Lidya, jangan khawatir. Aku bersama kekasih dan Kakakmu telah datang me nyelamatkanmu."
"Kekasih kepalamu!" ucap Maria begitu geram.
"Iri? bilang, Sis!"
Pete tertawa konyol. Secara bersamaan, mendadak plafon ambruk dan Pria paruh baya tersebut terjatuh dari sana.
"Ayah juga kemari?"
Pria paruh baya tersebut malah terbengong melihat putrinya memeluk orang yang salah.
"Lidya, itu bukan Kakakmu."
"Tetapi kakak ini yang selalu melindungiku disini, ayah."
"Sudahlah, kalian semua harus pergi dari sini. Biarkan aku akan mengatasi masalah disini, sendirian." Alice kemudian mulai meninggalkan tempat itu.
Namun, Pete mencekal tangan Alice. "Sendirian? Kau bercanda? Yang ada kau akan dihabisi oleh mereka."
Alice menghela nafas pelan. "Kalau begitu, ikutlah bersamaku, Pete. Kau tahu, dunia ini semakin genting. Jika kita tidak menghentikan mereka, dunia ini akan hancur berkeping-keping. Sekarang, kita harus bersatu bersama."
"Maksudmu, kau mengkhianati keluargamu sendiri?" Tanya pria paruh baya tersebut.
"Menurutmu, mana yang bagus, mengkhianati keluarga demi keselamatan dunia, atau menghianati dunia demi kesenangan Keluarga?"
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Aku harus melakukan kudeta untuk menyingkirkan kakakku, mengambil alih Shinra dan membongkar Seluruh Reaktor dan mengembalikan Shinra yang dulu serta meningkatkan kerjasama dengan Edirutho."
"Begitu rupanya. Kami atas nama para pemberontak, siap membantu."
"Tidak perlu. Cukup aku dan kekasihku saja yang berjuang. Yang aku lakukan juga hanya menyingkirkan kakakku, Pete saja sudah cukup."
"Tidak, kami juga dalam visi dan misi yang sama. Tentunya kami akan ikut ke dalamnya."
__ADS_1
Alice menghela nafas pelan, kemudian malah bertanya kepada Pete. "Bagaimana menurutmu, apakah kita bisa menerimanya?"
Pete mengerutkan keningnya. "Mengapa malah bertanya kepadaku?"
Alice malah menggembungkan pipinya, terlihat menggemaskan. Pete akhirnya menghela nafas. "Oke-oke! Bagaimana kalau menerima mereka. Mereka adalah orang yang dapat dipercaya juga."
Sementara itu, Dia tengah menatap langit. Astaga, dirinya mulai merasa sangat rindu dengan Pete. Ingin sekali dirinya bertemu lagi. Namun, itu tidak memungkinkan. Ada kemungkinan, Masternya akan begitu marah dan akan dicap sebelas dua belas dengan sifat Pete. Tidak-Tidak! Dirinya tidak mau seperti itu! Bagaimana tanggapan orang-orang nantinya, sebagai gadis yang paling dihormati?
Tiba-Tiba Xiao Chi menepuk pundaknya dari belakang. Beruntunglah, gadis ini memiliki kemampuan kewaspadaan yang semakin tajam. Dirinya akan semakin sulit untuk dikejutkan.
"Kakak sedang merindukan kak Pete, ya?"
"Kak Xiao Chi, seharusnya aku yang memanggilmu kakak, bukan sebaliknya."
Mendadak kedua telinga Xiao Chi terlihat layu. "Tetapi aku tidak suka dipanggil kakak."
Dia menghela nafas pelan. "Terserahmu saja, Xiao Chi."
"Apakah kakak tidak merindukan kak Pete?"
Dia menghela nafas pelan. "Mana mungkin aku tidak merindukannya? Ini sudah menjelang Winter, yang berarti Pete telah berkelana selama setengah tahun. Sial, saat aku masih di Sol Terano, satu tahun itu terasa sebentar, sekarang satu hari saja rasanya begitu lama sekali."
"Kalau begitu, kita sama."
Seketika Dia menghela nafas pelan. Pete sangat sulit dihubungi. Kalau dihubungi pun saat dirinya dalam keadaan baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan saat tidak dapat dihubungi?
"Ekhem!"
Mereka pun dikagetkan dengan suara dari belakang, terlihat Xiao Fu berkacak pinggang. "Mau keluar tanpa izin, huh?"
Seketika mereka berempat menggelengkan kepala sekaligus mengibaskan kedua tangannya secara kompak. Itu membuat Xiao Fu menghela nafas pelan. Tingkah mereka yang gelagapan seperti itu berarti mereka berbohong.
"Dia, Xiao Chi, Raven, dan May. Sebaiknya kalian tidak terlalu memikirkannya untuk saat ini. Pete telah memiliki berbagai perbekalan Untuk menjaga dirinya sendiri. Jadi seharusnya dirinya baik-baik saja."
"Tetapi, Master-"
"Dia, aku mengerti dengan perasaanmu, namun percaya lah kepada Pete. Aku yakin bahwa dirinya akan selalu baik-baik saja."
Raven menghela nafas pelan. Dirinya merasa bahwa pelatihannya lebih berat di sini, walaupun perkembangannya lebih cepat. Tetapi ini terlalu berat, pikirnya.
"Sebaiknya kalian tidak terlalu mengeluh. Ini juga demi kalian."
Xiao Fu segera pergi dari sana, membuat mereka semua menghela nafas pelan. "Ibu selalu begitu."
Dia menatap pintu keluar, mempertimbangkan untuk membangkang, ataupun tetap diam di sini menunggu setengah tahun lagi? Jika dirinya keluar, apakah Pete akan senang? Namun jika dirinya diam saja, apakah Pete tengah baik-baik saja?
__ADS_1
Raven menarik Dia, untuk kembali ke dalam. "Sudahlah, Dia. Jangan membangkang karena ada kemungkinan besar Pete tidak menyukai tindakanmu."
Sementara itu, Pete sendiri tengah terdiam, Melihat Alice dan Maria saling menatap tajam. Astaga, sebesar inikah resiko menjadi lelaki yang diperebutkan banyak gadis? Pantas saja Jack selalu uring-uringan menghadapi perempuan.
"Ayolah, bisakah kalian akur sedikit?" tanya Pete.
Mendadak mereka pun menatap Pete bersamaan, sembari berucap, "Kau pilih aku, atau gadis ini?"
Lah? Seharusnya Pete tidak mengatakan apapun jika sudah bertatapan tajam seperti tadi. Sekarang dirinya kena imbasnya.
"Maaf, aku harus pergi keluar sebentar."
Mendadak kedua gadis itu berdiri sembari protes. "Hey, kau belum menjawab pertanyaanku!"
"Intinya aku akan keluar dahulu. Kalian tidak usah ikut."
Mendengarnya membuat mereka berdua langsung tidak terima. "Hey, kau mau kemana? Kami ikut!"
"Mau waras dulu. Sebaiknya kalian tidak ikutan, itu membuatku semakin kehilangan kewarasanku."
Mendadak rekan lelakinya langsung tertawa. Ada-ada saja Pete membuat alasan.
Pria paruh baya tersebut langsung menghela nafas pelan. Mengingat sebuah cincin khas pertunangan tersebut membuat dirinya tahu bahwa Pete telah memiliki tunangan. Dan melalui corak cincin khas pertunangan tersebut, dirinya tahu benar bahwa tunangan Pete bukanlah orang biasa, setidaknya tunangannya berasal dari kelas sosial tinggi.
Namun, yang membuatnya heran adalah, dirinya telah memiliki tunangan, namun masih saja berkelana seperti ini sendiri tanpa membawa tunangannya. Dan saat ini, Putri pertamanya menaruh hati terhadapnya. Ini buruk, pikirnya.
Sementara itu, Alice dan Maria malah saling mencibir satu sama lain. Bukankah ini konyol? Demi Bocah itu mereka sampai bertengkar seperti ini?
"Ayolah, bisakah kalian akur seperti biasanya? Ini seperti anak kecil saja."
"Diam, kau!"
Nah loh, kalau sudah para gadis tengah bertengkar, tidak ada seorangpun yang mampu menghentikannya.
"Pete lebih baik kau diam saja, nikmati saja perseteruan yang terjadi. Menyela saja hanya membuatmu disalahkan."
Pete menghela nafas pelan. Sampai saat ini Pete masih tidak percaya bahwa pasal satu yang berbunyi 'perempuan selalu benar' itu masih berlaku, padahal sudah ada kesetaraan.
"Teruslah bertengkar sampai dunia ini hancur karena pertengkaran kalian," ucap Pete kesal lalu bangkit dari tempat duduknya. Itu justru membuat mereka berdua akhirnya terdiam. Namun, mereka berdua pun kembali bertengkar karena saling menyalahkan.
"Bukankah ini sama saja?"
Mereka semua pun menghela nafas pelan. Astaga, pertengkaran mereka bahkan lebih hebat satu sama lain. Benar-Benar sosok perempuan pemarah dan cerewet sekali.
__ADS_1
Semuanya pun langsung berdiri dan segera pergi. Sama seperti Pete, mereka juga merasa muak mendengar pertengkaran mereka berdua.