
Miyako Inn adalah tempat dimana tempat penginapan peristirahatan favorit para Gladiator, Wizard, dan Paladin sebelum akhirnya mereka akan saling beradu di arena.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 89. tukar tambah untuk mendapatkannya...
Tampak para rombongan tersebut tiba di tempat tersebut. Mereka semua mulai hendak memasuki Penginapan terfavorit para peserta Pertandingan Gladiator sebelum sebuah suara memanggil nama Dia.
"Kak Dia!"
Mereka semua menoleh dan menemukan gadis kecil yang tengah berlari mengejarnya yang membuat Dia tersenyum, sementara Xiao Chi cemberut. "Astaga, May. Kau datang sendiri ya? Dimana kakak Jack?"
May menghela nafas pelan. "Lupakan dulu kak Jack. Kak Pete dimana?"
Dia mendadak merasa kesal. "Sepertinya kakak menyebalkanmu ada di sini. Jadi, aku datang hendak memberi perhitungan dengannya."
May kemudian melihat Xiao Chi yang begitu cemberut. "Hai, Xiao Chi. Jangan cemberut begitu, nanti kak Pete akan aku bawa pulang, loh!"
Xiao Chi berteriak. "Gadis cilik! Kak Pete milikku! Jangan kau berani menyentuhnya sedikitpun!"
Mendengar kata gadis cilik membuatnya tidak terima sehingga balas mengejek. "Sembarangan, aku sudah berusia lima belas tahun! Kau nenek berkedok bocah cilik, umur tiga ratus tahun dipanggil adik. Hahaha, humor macam apa itu?"
"Kau!"
Dia menengahi. "Kalian berdua, hentikan. Kalian berdua sama-sama adalah seorang adik bagi Pete dan pastinya kakak kalian itu tidak suka kalau kalian terus bertengkar seperti ini."
Xiao Fu tersenyum melihat Dia yang begitu bertindak menengahinya. Berbeda sekali dengan Pete yang malah memilih kabur daripada menengahi, seperti apa yang telah terjadi tadi pagi. "Sudahlah, mari kita masuk bersama-sama."
Sementara itu, Pete mengerutkan kening sekaligus berucap melalui koneksi bawah sadarnya. "Apakah lukisan ini begitu hebat?"
Chang'e langsung keluar dari tempatnya dan memeriksa lukisan tersebut. "Tidak salah lagi. Benda ini adalah Lukisan dimensi seratus ribu mil. Benda ini begitu berguna, sangat berguna sekali walaupun kau baru bisa menggunakannya di suatu saat nanti."
"Apa gunanya jika aku hanya bisa menggunakannya di suatu saat nanti?"
"Maksudnya, kemampuan terlalu rendah. Nanti, aku yang akan membantu kau membuka segelnya. Namun, tubuhmu kurang kuat untuk menampung seluruh energi Jiwaku. Jadi, tingkatkan atribut fisikmu dengan ginseng Air yang kau dapatkan di dimensi Pedestal waktu itu."
"O-okay!" ucap Pete terbata-bata, mengingat 83.593 adalah jumlah gold miliknya yang tersisa.
"Bukankah itu terlalu mahal, Sakuya?" tanya Shino yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
__ADS_1
Sakuya mengeluh. "Lukisan ini aku dapatkan begitu bersusah payah, hampir nyawaku yang menjadi taruhannya. Jika bukan karena itu, lukisan ini tidak mungkin aku jual dengan harga semahal itu."
Pete terheran. "Dengan nekat, kau mendapatkan gulungan lukisan itu. Akan tetapi sekarang kau ingin menjualnya begitu saja?"
Sakuya menghela nafas."Aku mengira gulungan lukisan ini begitu bagus, ternyata isinya begitu mengecewakan."
Shino mengerutkan kening. "Tetapi harga semahal itu tidak akan mungkin dibeli oleh siapapun. Kalau bisa pun, yang membeli pun pasti berfikir bahwa itu hanyalah lukisan."
Pete mencoba menegosiasikan. "Sakuya, bagaimana kalau tukar tambah gulungan lukisan ini dengan kantong kain dimensi milikku?"
Sakuya berfikir sejenak. Menurutnya, itu terlihat sebuah kantong penyimpanan, namun kantong itu dapat memuat beberapa jutaan ribu koin sekaligus, bahkan lebih. Sungguh tawaran yang menggiurkan.
Namun, dirinya berfikir, berapa Gold yang harus Pete tambah mengingat hanya kantong dimensi saja itu rasanya kurang.
Dengan semangat, Sakuya langsung mengusulkan tawaran."Bagaimana kalau kau tukar dengan satu kantong dimensi ditambah dua ratus satu ribu gold?" tanya Sakuya yang membuat Pia dan Shino terbelalak.
Pia berucap tidak percaya. "Dua ratu satu ribu Gold? Itu bahkan lebih mahal."
Sakuya langsung tertawa lebar dan berucap, "aku bercanda. Bagaimana kalau ditambahkan dengan dua puluh tiga ribu gold?"
Pete kembali berfikir sejenak. 'Tidak perlu dipikirkan lagi. Toh kau masih punya enam puluh ribu gold tersisa.'
Pete berucap, "sepakat."
Pete kemudian menyimpannya di dalam cincin penyimpanannya"Ah, aku merasa ada yang familiar dengan aura gulungan ini. Nantinya akan aku tanyakan kepada master."
Meskipun Pete menyimpannya di dalam cincin penyimpanannya, namun di mata Sakuya, Pete terlihat menghilangkannya. "Hey, kemana perginya lukisan itu?"
Pete tersenyum. "Rahasia."
Shino menghela nafas pelan, kemudian segera per. "Haahhh, aku pergi dahulu. Mungkin ada tamu lain yang datang."
Begitu Shino pergi, Sakuya dan Pia mulai melakukan stand up komedi untuk membuat Pete tertawa, sampai tidak menyadari seorang telah masuk ke kamar dan telah menaruh kedua tangannya di pinggang.
Pete sempat melirik begitu sebentar, kemudian nyalinya langsung ciut. Pete kembali melirik gadis tersebut, begitu takut. Gadis itu adalah gadis yang setahun lebih tua darinya yang sangat ditakuti oleh Pete.
"Ada apa kau kemari?" tanya Sakuya begitu terheran ketika melihat Dia memasuki kamar VIP yang disiapkan mereka untuk Pete.
Pia sendiri juga terkaget, melihat Putri tuan Finch tiba-tiba masuk ke ruangan ini tanpa izin, menurutnya. Tentu saja Pia, bahkan Shino pun tidak berani menyinggungnya, karena latar belakangnya yang kuat apalagi status Dia begitu tinggi.
__ADS_1
Pia ikut berbicara begitu sopan. "Jika kau ingin memesan sebuah kamar, kami menyediakan kamar VIP tingkat dua. Maaf, bagaimanapun kamar ini telah dipesan."
"Apa yang kalian lakukan kepada Pete?" tanya Dia begitu dingin.
"Apa urusannya denganmu?" tanya Sakuya sarkas.
"Sakuya!" ucap Pia agar Saudaranya tidak menyinggung perasaannya.
Dia menatap Pete begitu tajam. "Urusannya denganku? Kebetulan sekali sebenarnya aku memang memiliki urusan dengannya."
Sakuya menatap Pete yang terlihat begitu takut, kemudian dirinya berani bertanya lancang. "Memang apa hubunganmu dengan Pete?"
Dia mengernyit. "Hubunganku dengannya? Pete adalah adik seperguruanku. "
Sakuya berucap begitu kesal. "Menjadi adik seperguruanmu bukan berarti kau dapat begitu seenaknya terhadap Pete. Kau hanya memiliki hubungan dalam seperguruan, tidak lebih, nona Finch."
Dia berucap begitu dingin. "Intinya kalian berdua, keluar. Aku hendak memberikan perhitungan dengannya."
Namun sifat dingin Dia tidak akan berpengaruh terhadap Sakuya. Sakuya sendiri malah nyolot. "Seharusnya yang keluar itu adalah kau, nona Finch. Jangan hanya karena kau adalah putri Tuan Finch, kau bertindak begitu seenaknya disini."
Pia membenarkan ucapan Sakuya yang mengatakan bahwa Dia begitu beetindak seenaknya. "Nona Finch, aku harap kau mengerti. Aturan Miyako Inn salah satunya tertulis bahwa jangan membuat keributan. Jadi, tindakanmu tidak dibenarkan."
Pete menghela nafas pelan. "Pia, Sakuya. Bisakah kau pergi dahulu sebentar? Aku memang memiliki urusan dengannya dan ini terlalu privasi untuk kalian ketahui."
Pia dan Sakuya menatap Pete begitu lekat, tersirat kesungguhan ucapan Pete, membuat kedua gadis itu menghela nafas pelan, kemudian bangkit berdiri dan pergi keluar dari kamar.
Tersisa Pete dan Dia di kamar tersebut. Dia mulai bergerak mendekati Pete dan duduk di sisi kiri kasur. "Adik termuda, mereka berdua memiliki hubungan apa denganmu?"
"Tidak ada. Itu hanya karena mereka berdua melayani para pelanggan."
Dia menghela nafas pelan. Meskipun begitu, dirinya mulai menarik kepala Pete ke pangkuannya. "Kakak pertama, apa yang kau lakukan?"
Dia mengelus kepala Pete pelan. "Setelah semua, kau adalah milikku, Pete. Jadi aku mohon jaga perasaanmu terhadapku."
Pete terdiam sejenak kemudian berucap, "aku telah menjadi milikmu, ya?"
Dia tersenyum. "Ini hanyalah permulaan. Aku bahkan siap memberikan apapun untukmu termasuk kesucianku, namun kau menginginkan kesucianku, aku akan menyerahkan nya di saat kita sudah menikah nanti.
Aku akui tadi begitu cemburu melihatmu tertawa seperti itu kepada kedua gadis itu. Sementara itu saat bersamaku, kau begitu menderita."
__ADS_1
Pete mencoba bangkit, namun kepalanya ditahan agar tetap di tempatnya semula. "Kak pertama, ini begitu memalukan."
"Tidak terlalu dan aku menginginkannya."