Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 60


__ADS_3

Masih di waktu yang sama, namun tempat yang berbeda. Tepat di kamar, tampak mereka semua tengah tertidur kelelahan. Xiao Chi membuka matanya, begitu terkaget karena mereka tengah terkapar di lantai yang untungnya sebelumnya Pete begitu berbaik hati membentangkan karpet di lantai dan memakai kan bantal di kepala mereka masing-masing.


Xiao Chi segera bangkit dari tempatnya dan meninggalkan mereka. Ketika keluar, Xiao Chi melihat Pete yang terlihat begitu pucat sedang menyiapkan makan siang untuk mereka semua.


...Sacred Valley:titik awal kultivator ...


...Episode 60. perasaan tidak akan bisa dibohongi....


"Uhuk-uhuk!"


Pete terbatuk-batuk pelan, namun ditemukan darah di telapak tangannya yang sebelumnya menutup mulutnya ketika terbatuk.


"Kakak, kau baik-baik saja?"


"Tentu aku baik-baik saja, Xiao Chi. Kau lupa aku punya Changseng Jue?"


"Walaupun punya Changseng Jue, tetapi kakak terlihat pucat."


"Hanya efek latihan tadi. Sebenarnya sih tadi lebih parah lho! Sekarang udah mendingan, lima belas menit lagi sembuh total kok. Kau tidak perlu khawatir"


"Hmm, kau yakin?"


Pete dan Xiao Chi menoleh, mendapati Xiao Fu sedang menghela nafas pelan kemudian mendekati Pete dan mengetuk kepala Pete seperti mengetuk pintu.


"Kau benar-benar keras kepala, Pete. Ini, pil teratai matahari, makanlah itu. Kalau tidak kau makan, bersiaplah menerima hukuman."


"Iya-iya aku makan kok!"


"Bagus kalau kau makan itu."


"Yang lain masih tertidur? Padahal kita seharusnya pagi tadi sudah berangkat kembali ke Telaga langit. Benar-benar jam karet, mengulurkan waktu terus."


Mendadak urat kepala Xiao Fu dan Xiao Chi muncul yang kemudian masing-masing satu telinga Pete dijewer oleh mereka.


"Jam karet kepalamu! Kakak harus tahu, kita gagal kembali tadi pagi gara-gara siapa huh?"


"Malam hari bukannya tidur malah bikin ulah. Nih kujewer nih telinga, kebal sekali aku beritahukan."


"Aduh sakit-sakit-sakit! Awww! Ampun-ampun! Xiao Chi, Master, aku mengaku salah!"


"Janji kau tidak akan mengulangnya lagi?"


"Iya-iya aku janji akan mengulanginya lagi."


Xiao Fu dan Xiao Chi melotot dan mendadak memperkeras jewerannya terhadap Pete. "Mengulanginya lagi?"


Pete segera melepaskan diri dari jewerannya mereka berdua. Terlihat telinganya memerah.


 "Adik termuda seharusnya melakukan kultivasi di tempat dan waktu yang tepat." 


Pete menoleh dan mendapati semua kakak seperguruanmu, minus Dia muncul dari balik pintu kamar. 


"Kalian semua sudah terbangun?  Mari makan siang! Kebetulan aku baru saja menyiapkannya. Oh ya, kakak tertua belum bangun? Kalau belum, siram saja dengan air seember."

__ADS_1


"Aku sudah terbangun, bodoh!" ucap Dia yang sedari tadi memilih bersembunyi di pintu.


"Oh," ucap Pete pendek.


"Kau tampak pucat, kapan matinya?" tanya Dia mengejek.


"Kalau kau memang ingin aku mati, mengapa kau ikut-ikutan membantu perkembanganku? dasar bodoh," ucap Pete sarkas.


"Tcih!"


"Adik termuda sedang sakit?" tanya Katie heran.


"Oh? Aku baik-baik saja. Tidak perlu dikhawatirkan, " ucap Pete sembari melambaikan tangannya. Padahal pandangannya sudah mulai berkunang-kunang.


'Pete, pergilah cepat ke tempat tidur. Kalau tidak, kau akan pingsan di sini.'


"Master, aku mau ke dalam dulu. Semuanya, habiskan makanan yang aku buat ya! Termasuk kau kakak tertua, yang terlihat seperti cicak terjepit lemari. Sekalian habiskan piringnya juga."


Semuanya terkaget mendengar ucapan Pete, termasuk Dia yang begitu kesal dikatakan cicak terjepit lemari. 


"Kau tidak makan?"


"Sudah kok! Sudahlah, aku ..." Terlambat! Pete limbung kebawah membuat mereka semua tercengang lalu bertindak mendekati Pete.


Xiao Fu menghela nafas pelan. Tangannya mengelus kepala Pete. "Seharusnya kau beristirahat sejak tadi, Pete. Meskipun kau memiliki Changseng Jue, bukan berarti kau masih bisa beraktivitas dengan luka serius di beberapa organ vitalmu."


"Ibu, biarkan aku yang membawanya ke kamar."


Xiao Fu mengangkat tubuh Pete dan membawanya ke kamar.


"Kalian makan saja, aku akan mengawasi Pete. Biasanya Pete akan selalu bandel minta ampun. Sebaiknya aku akan terus bersama Pete sampai akhirnya dirinya pulih."


"Haahhh bilang saja ibu ingin memeluk kak Pete lagi


karena rindu dengan ayah," gerutu Xiao Chi pelan.


"Adik termuda manjanya minta ampun!" ejek Dia sambil melihat Pete telah dibawa masuk.


"Tetapi kau suka bukan?" tanya Joe meledek.


"Sih, siapa juga yang menyukai hidung belang yang manja seperti dirinya?"


"Memang sih, kak Pete begitu dimanja, tetapi tiga minggu lagi, tepat setelah  pertandingan Gladiator usai, Pete akan pergi secara mandiri ke seluruh negeri. Aku harap kau tidak begitu merindukannya."


"Aku? Merindukannya? Dalam mimpi mungkin iya," ucap Dia.


""Adik termuda akan pergi?" tanya Katie.


"Dirinya memang akan dilepas untuk berkelana. Setelah perjalanan berkelana usai pun, Pete tidak lagi akan kesini berlatih, karena setelah itu Pete akan dikirim kembali ke Sacred Land sendiri dan tidak akan pernah untuk kembali lagi, kapanpun itu,"  jelas Xiao Chi yang entah mengapa membuat mereka semua tertunduk, termasuk Dia.


"Hah? Mengapa tidak akan pernah kembali?" tanya Kurt.


"Disana adalah tempat yang seharusnya Kak Pete berada. Aku merasa dirinya akan betah di tempat barunya."

__ADS_1


"Lalu bukankah kakak tertua juga akan ikut ke sana untuk mengawasi Pete, bukan?" tanya Joe yang membuat Dia menatapnya tajam.


Xiao Chi menghela nafas pelan, merasa itu menjadi hal yang mustahil. "Pete akan pergi ke Sacred Land, sendirian. Dia walaupun kakak seperguruannya, tetapi tidak akan ikut ke Sacred Land, apapun kondisi, hubungan, dan alasannya."


Semuanya terkejut  bahkan Dia sampai  menjatuhkan sendoknya.


"Tetapi kan dalam perjanjian per-"


"Kau yakin Dia mampu mempertahankan perasaannya terhadap Pete? Sekarang saja perasaannya sudah berubah menjadi sebenci itu. Bahkan mereka saling membenci.


 Sementara itu, Pete bahkan masih menyimpan perasaan ke Collete yang telah tiada, yang berarti Pete masih memiliki seorang gadis di hatinya. 


Aku rasa pernikahan tidak akan terjadi, kecuali ada keajaiban," jelas Xiao Chi gamblang, membuat Dia segera mendorong piringnya ke depan, kemudian bergerak pergi.


"Kakak pertama tidak makan?" tanya Katie heran.


"Tidak bernafsu. Sudah kenyang kok, tidak pernah khawatir," ucap Dia lalu pergi.


Gina ikut berdiri, kemudian menyentuh bahu Kurt. Memberi isyarat untuk ikut mengikuti Dia.


Kurt melihat Xiao Chi sedang dalam kesedihan. Kurt menghela nafas pelan, kemudian bangkit dan bersama Gina, Kurt pergi menyusul Dia .


 


- -----


Di sebuah danau yang tidak jauh dari lapangan tempat biasanya diadakan festival di Sharance, Tampak Dia sedang menangis sesenggukan.


"Aku membencinya, kan? Lalu mengapa aku menangisinya? Hiks-hiks! Pete bajingan! Dasar  hidung belang, aku membencimu!"


"Perasaan tidak bisa dibohongi, kakak pertama. Mau bagaimana pun kau berupaya menanam persepsi terhadap Pete di hatimu, kau tidak akan bisa merubah perasaanmu semudah itu."


Dia menoleh dan menemukan Kurt dan Gina yang ternyata menyusul dirinya. Dia langsung memeluk Gina sambil sesenggukan.


"Kau harus tenang, okay?" ucap Gina sambil memeluk balik Dia.


Kurt dan Gina pun saling lirik, kemudian Gina melepaskan pelukannya. "Kita harus kembali."


Tidak jauh dari mereka bertiga, Raven bersama Karina yang sejak tadi mendengar ucapan mereka, tampak terdiam. "Inilah yang aku takutkan."


"Tidak perlu merasa bersedih. Perempuan seperti kita memang seperti itu. Jangan menyalahkan dirimu, Raven. Jika kau memang mencintainya, yang harus kau lakukan adalah berjuang mendapatkannya sebelum dimiliki oleh orang lain.


 Aku tahu, merelakan adalah cinta yang terbaik, akan tetapi ini tidak relevan selama Pete masih belum dimiliki siapapun."


"Aku memang merasa Pete adalah orang yang begitu menarik sejak Collete masih hidup. Sayangnya aku tidak bisa sedekat itu dengan Pete seperti Collete. Setelah Collete tiada, aku malah menjauhinya karena takut dirinya akan mengalami hal yang sama persis seperti nasib tragis Collete."


"Kau merasa Collete masih tetap ada di hati Pete walaupun dirinya sudah tiada?"


"Mengingat itu, Pete pasti tidak akan pernah melupakan gadis kecil berpakaian favorit kuning tersebut."


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Raven, ayo kita lanjutkan perjalanan," ucap Karina menutup obrolan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2