
Segerombolan burung terbang kesana kemari di langit Sharance yang mulai terlihat oranye menandakan hari sudah mulai sore.
Seekor burung dari segerombolan tersebut turun ke sebuah pohon, dekat rumah Handerson, tempat mereka semua beristirahat sementara.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 58. sebuah keinginan tuk balas dendam...
Di dalam kamar, terdapat Pete yang baru saja membuka mata. Hal yang pertama dilihatnya adala ada beberapa kepala seluruh penjuru pandangannya sedang menatapnya.
"Pete, kau sudah sadar?"
Pete kemudian mulai hendak berdiri, namun banyak tangan menekannya untuk tetap berbaring.
"Kalian semua?" tanya Pete karena hampir semua gadis-gadisnya Jack datang semua, juga ada Lyla, Marjorie(ibu Marian), bahkan Wells(kepala wilayah)
"Kami semua datang untuk menjenguk," ucap Lyla.
"Kau baik-baik saja?" tanya Raven.
"Yah, sudah begitu membaik. Xiao Chi dimana?"
"Sebentar lagi akan datang, kok. Sekarang kau harus istirahat dahulu," jawab Gina.
"Tetapi-"
"Tidak-Tidak! Kau harus beristirahat. Jangan bandel dan keras kepala, okay?" potong Xiao Fu.
Muka Pete langsung Cemberut maksimal, membuat semuanya tertawa terhadap tingkah Pete.
"Kau beristirahatlah. Besok kita akan kembali ke Telaga langit. Kami akan keluar dahulu. Jangan bandel sampai keluar kamar."
"Iya-iya. Aku akan tidur sekarang."
Pete kemudian menutup matanya kembali. Satu persatu dari mereka segera keluar dari kamar sampai tidak ada yang tersisa. Pete menghela nafas, kemudian membuka mata dan menatap ke jendela.
Beberapa waktu berlalu. Di Sharance Tree, tampak Pete digendong Xiao chi yang sedang menaiki pohon tersebut dengan tergesa-gesa. Sepertinya mereka terburu-buru. Tunggu sebentar, bagaimana bisa Pete keluar dari rumah tersebut?
Sebelumnya, Saat Pete menoleh ke jendela, tiba-tiba Xiao Chi muncul dan tersenyum. Kemudian, kalian bisa menebak, Pete bersama Xiao Chi kabur dari tempat tidurnya.
Mereka pun tiba di puncak. "Akhirnya kita tiba sebelum matahari terbenam."
"Xiao Chi, terima kasih atas bantuan darimu."
"Tidak masalah. Jika kau tidak ikut, mungkin aku akan kesepian di sini."
"Haaahhh, akhirnya aku telah melihat bagaimana matahari terbenam tanpa terhalang apapun. Bahkan di tempat setinggi 100.000 kaki."
"Kau begitu senang sekali, kak Pete."
"Bagaimana pun, aku juga sedang mencari ketenangan lagi."
__ADS_1
"Ada masalah lain?"
"Yah, aku akan menceritakannya kepadamu."
Pete menceritakan segala sesuatu yang berkaitan dengan kejadian sembilan tahun yang lalu. Membuat Xiao Chi berkali-kali terkejut.
"Hidup kakak terlalu banyak mengandung misteri. Nanti misteri apa lagi yang akan terungkap?"
"Aku tidak tahu. Hmm, apa kau tahu dimana saja lokasi Devil Ghost Tree? Aku harus membalas dendam atas kematian Collete dan Rusk."
Xiao Chi melotot. "Kemampuan kakak masih tidak cukup! Kakak harus berlatih lagi dan lupakan tentang balas dendam kepada pohon menyebalkan itu!"
"Tetapi-"
"Kakak bisa tidak mendengarkan ucapan adikmu ini? Sesekali jangan keras kepala!"
"Oke-oke! Aku tidak akan membahasnya lagi."
"...." Xiao Chi dan Pete kemudian terdiam, tidak lagi saling membuka percakapan lanjutan.
Malam harinya, suara burung hantu terdengar di Pohon dekat rumah Handerson. Burung itu benyanyi dengan riang, tidak peduli suaranya begitu menyeramkan. Akan tetapi sebuah teriakan kesakitan terdengar, membuat burung hantu itu kesal karena nyanyiannya terganggu.
Suara teriakan itu berasal dari Pete dan Xiao Chi yang tampak dijewer telinganya oleh Xiao Fu, sebagai ibu mereka.
"Kalian berdua memang bandelnya minta ampun. Sudah aku katakan kepada kalian berdua, Pete tidak boleh keluar dari kamar dan beristirahat."
"Ampun, ibu. Tetapi Pete tidak keluar dari pintu kamar kok, hanya kabur melalui jendela saja," ucap Xiao Chi membela diri, walaupun terdengar begitu konyol.
"Tetapi, Master-"
"Kau mau beralasan konyol apalagi? Kalian berdua memang harus dihukum."
"Master, aku murid kesayangannya loh, masa harus dihukum?"
"Bu, aku puteri kandungmu, masa setega itu menghukum aku?"
Xiao Fu mengernyit. Cara merajuk macam apa itu? "Pintar sekali kalian merajuk! Kau, Pete. Sejak kapan kau menjadi Begitu pede mengatakan aku anggap kau adalah murid kesayangan? Begitu juga, Xiao Chi. Meskipun kau putri kandungku, tidak mengubah keputusan untuk menghukum dirimu! Sudah-sudah! Berhenti membuat pernyataan konyol!"
"Ayolah Master/ibu."
"Kalian berdua benar-benar kompak beralasan konyol. Mulai malam ini kau tidur dengan Dia, Pete. Dan kau Xiao Chi, buat jimat sebanyak 100 buah. Jika tidak bisa,tidak boleh tidur!"
"Hah??"mereka kompak tidak percaya dengan hukuman yang Xiao Fu timpakan kepada mereka.
"Aku harus tidur dengan iblis penipu itu? Gak-gak! Aku bisa tewas dalam satu malam."
"Seratus jimat? Ayolah, ibu. Itu terlalu banyak."
"Tidak ada yang boleh membantah!"
__ADS_1
...----------------...
Pete memasuki Kamar tersebut. Terdapat Dia disana dengan tatapan tidak suka. Bagaimana pun, mereka telah saling membenci satu sama lain.
"Mengapa kau kemari?" tanya Dia sarkas.
"Mau istirahat. Ada masalah?" jawab Pete cuek.
Dia tersenyum menghina. "Mau istirahat? Istirahat di lantai, oke. Tuh, sudah aku siapkan tempatnya."
Pete mengernyit. "Tidur di lantai, huh?"
"Kenapa? Mau protes? Mau tidur di ranjang? Haha! Aku melarangmu untuk menyentuhku lagi!"ucap Dia penuh penekanan.
"Dih,Siapa juga yang akan menyentuh dirimu lagi?" tanya Pete.
"Oke, baguslah kalau tidak ada yang protes. Selamat malam!"
"Hm!"
Mereka pun tidur di tempat yang telah disepakati. Tidak adil? Namun Pete juga tidak sudi untuk tidur bersamanya lagi.
Satu jam kemudian, mereka pun terlelap. Ralat hanya Pete yang terlelap. Sementara Dia masih kesulitan tidur. Alasannya? simple.
Pertama, selama ini Dia sering tidur dengan Pete di sisinya, tidak ada Pete membuat perasaan Dia begitu gelisah.
Yang kedua, Pete tidurnya di lantai. Dia tahu, walaupun Pete menggunakan selimut tebal, namun dinginnya lantai pasti akan membuat Pete kedinginan juga.
Dia melirik Pete, begitu heran karena bisa-bisanya Pete terlelap begitu, padahal lantai begitu dingin.
Namun, tiba tiba Pete terbangun dari tidurnya sembari teriak "Collete!". Sepertinya Pete mengalami mimpi buruk.
Pete memegangi kepala, terlihat frustasi. Namun Pete segera berdiri, bergerak menuju rak buku dan mencari buku yang dirinya inginkan.
Pete membukanya, dan menemukan artikel yang begitu dia cari.
"Mimpi buruk ya? Kasihan sekali!" ucap Dia meledek, namun di hatinya jelas merasa cemburu. Bisa-bisanya dirinya memanggil nama gadis lain.
"Daripada dirimu tidak bisa tidur. Duh, kasihan sekali" ledek Pete balik, membuat Dia kesal.
Pete tampak terfokus terhadap artikel yang dirinya baca. Dewi Chang'e segera keluar dan mengingatkan,"kau tidak bisa melawannya dengan kekuatan mu yang hanya sedemikian kecil."
Pete menutup bukunya, kembali ke tempatnya tidur. Pete melakukan duduk sila sembari berucap pelan,"kita akan latihan sekarang di malam ini."
"Kau serius?" tanya Chang'e kaget.
"Menurutmu apakah aku harus diam saja saat orang yang paling berpengaruh di hidupku terbunuh oleh pohon sialan itu?"
"Tetapi, itu hanya kejadian sembilan tahun yang lalu."
"Aku berjanji untuk membalaskan dendam untuk dirinya"ucap Pete sambil segera memulai tekhnik kultivasi rasi bintang Nebula, tekhnik lanjutan.
__ADS_1
Chang'e terdiam. 'Ini buruk! Pantas saja ingatan Pete dibekukan, rupanya Pete memiliki sifat pendendam. Jika tidak dibekukan sejak dulu, mungkin Pete sudah pergi mencari Monster itu. Akan tetapi tekadnya juga bagus.'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...