
Suhu udara sudah mulai turun. Terlihat di depan sebuah kamar, ada siluman serigala berekor sembilan hendak membuka pintu. Namun setelah pintu kamar tersebut, siluman serigala yang tidak lain bernama Xiao Fu terdiam sejenak dan kemudian menghela nafas pelan.
Di kamar tersebut, Terdapat seorang gadis yang tidak lain bernama Dia yang tengah memangku kepala seorang lelaki sebayanya yang tidak lain bernama Pete di pangkuannya. Terlihat jelas hubungan mereka memang tidak biasa.
...Sacred Valley:titik awal kultivator...
...Episode 90. hubungan yang tidak biasa...
Pete yang melihatnya segera hendak bangun, namun Dia segera menahan kepalanya untuk diam di posisinya.
Xiao Fu mendengus. "Kalian berdua, hubungan kalian sebenarnya sejauh apa? Jika banyak orang melihat kalian seperti ini, mungkin kalian berdua disebut telah menikah muda."
Dia berucap tidak acuh. "Aku tidak peduli, master. Setelah pertandingan ini, Pete akan meninggalkanku. Jadi, ini adalah kesempatan yang terakhir untuk bersua dengannya."
Pete melirik Dia. "Kakak Pertama. Kita hanya berpisah dalam waktu yang lama, akan tetapi jiwa kita masih bisa untuk bersama. Kau jangan khawatir."
Dia menatap Pete begitu lekat. "Tetapi kerinduan tidak bisa diobati dengan kata-kata, Adik termuda."
Xiao Fu kemudian malah berbalik hendak pergi. "Lah, master mau keluar?"
Xiao Fu mendengus pelan. "Aku rasa kalian berdua kalau bermesraan selalu tidak pernah melihat situasi, bahkan tempat."
Dia terkekeh ketika Xiao Fu telah keluar dari balik pintu. "Ini konyol. Memangnya apa hubungannya dengan mereka? Toh, kalau dikatakan sudah menikah pun rasanya tidak masalah."
Pete mendadak tersenyum jahil. "Kalau begitu, kita menikah saja sekarang, kakak tertua?"
Sayangnya Dia terlambat memikirkannya sampai berucap, "oke, kita meni-". Dia menatap Pete begitu lekat dan tajam, sementara itu pipinya mulai memerah. "Menikah?"
"Ya. Kita menikah, sekarang. Bagaimana?" tanya Pete mulai menggunakan jurus rayuan.
Dia mendadak merasa terbang begitu tinggi setelah mendengar ucapan Pete. Ah, lebih tepatnya rayuan Pete. "Aku-"
Sayang sekali. Pete langsung berucap, "tetapi bohong. Hahaha!"
Dia mendadak merasa jatuh dari terbangnya. Hatinya mendadak merasa sedikit sakit karena Pete mengucapkan harapan palsu yang membuatnya begitu marah.
Cara menjahili yang bagus dan ekstrim, sayangnya dirinya tidak melihat kondisinya sendiri. Tanpa banyak basa-basi, Dia langsung menghantam kepalanya yang memang masih ada di pangkuannya.
"Aduh, Sakit! Ampun-ampun!" teriak Pete kesakitan. Pukulan Dia memang tidak main-main rasanya.
__ADS_1
Dia segera mencoba menghembuskan nafasnya, berusaha menahan emosinya. "Lain kali, cobalah untuk tidak menjahiliku dengan cara memberikan harapan palsu."
"Maaf. Candaanku terlalu berlebihan tadi." Pete terbangun dari pangkuannya. Namun mendadak kepalanya terasa sakit karena hantaman tadi yang malah membuat Pete terhuyung.
Dia kembali menarik kepala Pete ke pangkuannya. "Hantamanku tadi begitu keras, jadi sebaiknya kau tetap terbaring seperti ini."
"Kau tidak meminta maaf?" tanya Pete terheran.
Dia berucap begitu kesal. "Tidak. Kau pantas mendapatkannya. Sialan, aku mengira kau benar-benar bersungguh-sungguh ingin melamarku sampai aku merasa terbang di atas awan, tetapi kau malah membuatku jatuh dari ketinggian."
Mata Pete membola. "Kau benar-benar membayangkannya?"
Dia memutar bola matanya begitu malas. "Memangnya kenapa? Setiap perempuan jika ditawarkan seperti itu oleh lelaki impiannya pasti akan selalu begitu.
Aku juga perempuan. Jadi kau jangan melukai perasaanku. Sesungguhnya, jika kau tidak berucap bahwa dirimu bercanda tepat waktu, aku hanya membutuhkan waktu tiga belas detik untuk lari ke rumah dan memberi tahu ayahku bahwa kau telah melamarku. Di beberapa saat kemudian, kau pasti tidak akan bisa menolak pernikahan tersebut karena ayahku telah turun tangan."
Pete terdiam. Dirinya benar-benar tidak menyangka Dia akan setuju dengan lamarannya seperti itu, beruntung Pete segera mengklarifikasi bahwa itu hanyalah bercanda.
"Kau seharusnya tahu, sebesar apa aku menyimpan rasa kepada dirimu. Jadi, seharusnya kau tidak perlu terheran denganku. Sungguh, setelah semua yang telah terjadi, hubungan kita telah berkembang sejauh ini. Meskipun aku tidak ingin kita bertindak terlalu jauh lagi seperti perzinahan. Kemudian, jumlah gadis yang mulai berupaya untuk memilikimu yang aku perkirakan semakin bertambah jumlahnya.
Setelah semua, kau telah menyentuhku, bahkan hampir semua bagian tubuhku. Jadi, apa mungkin aku diam begitu saja saat kau hendak diambil gadis lain?
Pete menghela nafas pelan. "Kau tidak perlu khawatir. Akan aku upayakan itu. Dan juga janjiku kepadamu saat itu, bahwa aku akan selalu datang menjadi Perisaimu yang akan terus melindungimu disaat genting sekalipun ."
"Kau janji?" tanya Dia sembari mengacungkan kelingking.
Pete tersenyum, dikaitkannya kelingking Dia dengan kelingkingnya. "Janji."
Dia ikut tersenyum mendengarnya, tanpa menyadari akibatnya di masa depan bahwa Pete akan mengorbankan dirinya demi keamanan dan keselamatan Dia sampai pada akhirnya Dia hanya bisa menangis merutuki dirinya sendiri. Namun, siapa yang akan mengetahui apa yang terjadi di masa depan?
Pete terlihat keluar dari penginapan dan mulai berkeliling. Sebenarnya mereka ingin berjalan berdua, dengan Dia. Namun Collete dan Rusk ikut serta yang membuat mereka menghela nafas pelan.
"Pete, kami ikut!" pinta Collete.
Rusk menambahkan, "Pete, Kau akan menemui Raven, bukan? Jadi aku juga ingin bertemu dengannya."
Pete menatap Dia meminta persetujuan yang membuat gadis itu menghela nafas pelan.
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan perjalanan untuk keliling Collossum, bertemu orang baru dan saling menyapa satu sama lain.
Bahkan gadis arogan seperti Alice pun juga ikut menyapanya, walaupun aura permusuhan mulai timbul antara Alice dengan Dia.
"Kenapa kau lihat-lihat?" tanya Dia memulai konfrontasi.
"Suka-suka aku, lah. Kenapa kau malah repot?" tanya Alis tidak kalah sengit.
Mata Dia begitu tajam. "Pete telah menjadi milikku. Jangan menatap kekasihmu."
"Toh, masih kalian belum menikah juga. Kalau sudah pun, aku siap menjadi yang nomor dua."
"Mimpi! Pete hanya milikku seorang dan kau sama sekali tidak berhak untuk menjadi gadis kedua Pete."
Pete mulai memijat kepalanya yang tidak pusing, kemudian menarik tangan Dia untuk meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, Raven terlihat sedang berjalan di jalanan setapak. Dirinya terlalu merenungkan apa yang sebenarnya dirinya lihat secara sekilas tadi .
Bagaimana tidak? Dirinya sempat melihat seorang gadis dan seorang lelaki yang begitu dirinya kenal meskipun begitu samar karena mereka berdua menggunakan penutup kepala.
"Apakah hanya karena perasaanku saja?"
"Raven, kemari!"
Sebuah teriakan memanggil namanya. Ketika dirinya menoleh ke arah sumber suara, alangkah mengejutkan karena melihat Pete, Dia bersama kedua orang tadi.
Raven segera mendekatinya. "Oh, Pete. Kau sudah datang."
"Hai, Raven. Aku yakin, Kau tidak percaya dengan ini, akan tetapi ini adalah nyata. Kalian berdua, bukalah penutup muka kalian."
Begitu mereka berdua telah membukanya, mendadak tangisan Raven pecah dan kemudian memeluk mereka berdua. "Collete, Rusk. Kalian masih hidup!"
Collete dan Rusk pun ikutan menangis. "Akhirnya kita bertemu lagi setelah sekian lama!"
Sementara itu, Pete terdiam melihat mereka bertiga tengah berpelukan. Di dalam benaknya, dirinya merasa bahwa apa yang mereka ucapkan benar-benar apa adanya. Sudah sembilan tahun lamanya mereka terpisahkan, namun akhirnya mereka bertemu kembali.
Dia terlihat menahan dirinya untuk ikut berpelukan bersama mereka. Beberapa waktu kemudian menyeretku Pete untuk pergi dari sana.
Raven menatap kepergian mereka dengan perasaan yang begitu miris. Sepertinya dirinya memang sulit untuk menembus kembali hati Pete yang sudah berupaya gadis itu tutup. Dirinya pun akhirnya memutuskan untuk menyerah, dan berupaya memasuki hatinya kembali , hanya untuk menjadi yang kedua.
__ADS_1
'Aku menyerah untuk menjadi yang pertama. Namun aku masih tetap berjuang, agar kau menerimaku sebagai gadis keduamu, Pete.'