SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab C (Belum Siap Jadi Ibu)


__ADS_3

Selesai menjemur pakaiannya, Yalisa kembali lagi ke dalam villa, kemudian ia duduk sebelah Leo.


“Hujannya awet ya.” ujar Yalisa seraya menghembus telapak tangannya yang sedingin es.


“Iya.” Leo yang jantung masih berdegup kencang tak dapat berlama-lama di sebelah Yalisa.


Ia pun berdiri dari duduknya seraya berkata, “Aku ke dapur dulu, mau buat teh jahe panas.”


“Aku ikut ya,” ujar Yalisa


“Jangan ikut, aku saja, kamu tunggu disini.” titah Leo.


“Ya sudah kalau begitu.” selagi Leo menyiapkan teh jahe, Yalisa kembali ke kamar untuk mengambil handphonenya yang basah, dan kembali lagi ke ruang tamu.


“Haduh, pake mati lagi nih Hp.” Yalisa melap bagian handphonenya, yang di rasa masuk air.


Leo yang telah kembali dari dapur dengan 2 gelas teh jahe di atas nampan bertanya pada Yalisa.


“Rusak ya? Sudah buang saja, nanti aku beli yang baru.”


“Jangan, sayang tahu, coba deh nanti kita mampir ke service handphone ya.” pinta Yalisa, Leo pun mengangguk.


“Ayo, minum dulu, biar tubuh mu hangat.” Yalisa pun mengambil teh itu, dan meminumnya.


“Wah! Lumayan juga, rasanya jadi hangat!” seru Yalisa dengan terus meminum teh jahe buatan Leo.


Leo yang tak tega melihat Yalisa memakai pakaian setipis itu kembali ke kamarnya untuk mengambil selimut tebal.


“Nih, pakai selimutnya, bibir mu masih biru, nanti takutnya kena hipotermia.” ujar Leo.


Yalisa menerima selimut itu dengan senang hati, ia pun duduk bersila di atas sofa, kemudian membalut tubuhnya dengan selimut pemberian Leo.


“Hangat, terimakasih banyak ya.” ucap Yalisa.


“Iya.” sahut Leo.


Untuk mencairkan suasana, Leo menyalakan tv, kebetulan ada channel yang menyiarkan film horor Hollywood.


Jadi keduanya pun fokus menonton apa yang terputar di layar kaca. Dan tanpa sengaja Yalisa melihat Leo gemetaran.


“Apa dia kedinginan?” batin Yalisa. Karena selimutnya lumayan lebar, Yalisa inisiatif untuk mengajak Leo bergabung.


“Leo, pakai selimutnya, ini sangat lebar, cukup untuk kita berdua.”

__ADS_1


“Enggak usah, untuk mu saja.” ujar Leo, yang sebenarnya takut tak bisa mengendalikan situasi bila jaraknya lebih dekat lagi dengan Yalisa.


“Ayolah, lagi pula kamu cuma pakai kaus oblong, ayo jangan bandel.” karena Yalisa memaksa, akhirnya Leo berbagi selimut dengan Yalisa.


Kini perasaannya tak tenang, jantungnya makin bergendrang hebat. Apa lagi ia ingat Yalisa yang tak memakai 2 pakaian itu.


Yalisa yang asyik menikmati tayangan di tv tak sadar kalau mata Leo sedari tadi tak berhenti menatapnya.


Insting ke priaan Leo pun memuncak, ia juga merasa bahwa sahabat sedari kecilnya mengeras, ia pun mulai menggeser duduknya sampai tak berjarak lagi dengan Yalisa.


Yalisa yang merasakan aura Leo sontak menoleh. “Ada apa?” tanya Yalisa dengan polosnya.


“Aku mau.” ucap Leo dengan suara berat.


“Kamu mau apa?” Yalisa yang polos tak mengerti maksud sang mantan.


Sejenak Leo memejamkan matanya dan menelan saliva nya. Setelah itu ia keluar dari dalam selimut, sampai disitu Yalisa masih saja tak mengerti.


Tanpa basa-basi lagi, Leo mengangkat tubuh Yalisa yang masih di balut oleh selimut ala bridal style menuju kamarnya.


“Leo, kamu mau apa sih?” tanya Yalisa yang mulai cemas, karena ia cukup familiar dengan adegan itu.


Leo tak menggubris pertanyaan Yalisa tersebut, sesampainya mereka di kamar, Leo membaringkan Yalisa dengan sangat lembut di atas ranjang.


“Aku..., aku pasti tanggung jawab.” ucap Leo, Yalisa yang langsung mengerti menggelengkan kepalanya.


“Aku enggak mau, masa depan ku masih panjang!” hardik Yalisa.


“Mungkin ini adalah jalan satu-satunya, dengan membuat ikatan, ibu ku pasti enggak bisa berbuat apapun.” terang Leo, yang memiliki pandangan, bila Yalisa hamil, ibunya akan membatalkan pernikahannya dengan Mei.


“Aku enggak mau!” Yalisa meneriaki Leo.


“Mengertilah Yalisa, mungkin dengan kamu mengandung anak ku, ibu akan menyerah, dan kita bisa sama-sama.” bujuk Leo seraya memeluk Yalisa yang masih di balut selimut.


“Dengar ya! Aku belum mau nikah! Aku belum mau punya anak! Aku belum siap jadi ibu! Lepasin aku!” Meski Yalisa terus meneriakinya, Leo tak bergeming.


Ia pun mulai beraksi, dengan mengecup setiap inci wajah Yalisa dengan brutal, Yalisa yang ingin berontak pun kesulitan, akibat selimut yang membungkusnya, belum lagi Leo memeluknya dengan sangat erat.


Ciuman Leo semakin lama, semakin erotis, dari wajah menjalar ke leher.


“Ja-jangan!” Leo yang telah menetapkan akan menanam benih pada Yalisa tak memperdulikan kerelaan Yalisa lagi, ia juga tanpa ragu meninggalkan banyak bekas merah di leher wanita itu.


“Um, ja-jangan, stop bajinga*!” Yalisa yang baru pertama kali merasakan sentuhan di area leher indahnya tanpa sadar mengeluarkan suara desaha* kecil.

__ADS_1


Mendengar itu, sejenak Leo rehat dari aktivitasnya, dan menatap wajah Yalisa yang menahan air mata.


“Kamu suka aku cium di leher?” tanya Leo.


“Jangan teruskan lagi, aku mohon, aku enggak mau kotor sedini ini.” pinta Yalisa dengan wajah memelas.


“Aku juga enggak mau sebenarnya, tapi kalau enggak begini, kita enggak akan bisa sama-sama.” setelah berkata demikian, Leo menimpa tubuh mungil wanita yang ia sayang itu, seraya memagu* bibir merah muda milik Yalisa.


“Um.., ah!” nafas mereka mulai memburu beriringan.


Kemudian tangan Leo kini mencoba meloloskan Yalisa dari bungkusan selimut yang membalut badannya.


“Jangan! Jangan di lepas, aku enggak pakai itu, jangan di lepas, toolong!” pinta Yalisa dengan sangat ketakutan.


“Aku tahu kamu enggak pakai sayang.” ucap Leo dengan mencium kening Yalisa.


Adegan tarik menarik pun terjadi di antara keduanya, dengan penuh perjuangan, akhirnya selimut itu terlepas juga, segera Leo melemparnya ke sembarang arah, sontak Yalisa menjauh, ia mundur hingga menyentuh tembok.


“Bagaimana pun ini akan terjadi, ikhlas lah sayang.” ucap Leo seraya merangkak ke arah Yalisa.


“Ini bukan kamu, Leo enggak seperti ini!” teriak Yalisa.


“Diam!” Pekik Leo, lalu mencium lembut pipi Yalisa.


“Jangan sentuh aku bajinga*! Aku enggak mau!” pekik Yalisa, Leo yang ingin memeluk malah memperoleh sebuah tamparan.


Plak!


“Aku jijik sama kamu! Aku menyesal sudah salah menilai mu!”


“Apa?”


“Iya, salah menilai mu! Jangan berbuat lebih dari ini lagi! Aku enggak sudi! Andai saja aku enggak menolak buat ketemu Riski, pasti aku enggak akan bernasib sial seperti ini!” terang Yalisa.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.


__ADS_1


__ADS_2