SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXXX (Intropeksi Diri)


__ADS_3

Saat Mei membuka matanya kembali ia melihat Leo tersenyum getir seraya geleng-geleng kepala.


“Kamu...”


“Kalau kamu berhasil bantu aku, maka kamu akan dapat ciuman itu, bahkan enggak cuma sekali.”


“Apa....?” perasaan Mei menjadi campur aduk, antara malu, kesal, dan juga bahagia.


“Aku cuma mau bilang itu, tapi jangan berfikir, aku mau ngelakuin itu karena cinta, semua karena ada harga yang harus di bayar.” ucap Leo seraya meninggalkan Mei di taman sendirian.


“Apapun yang kamu bilang sekarang, belum tentu terjadi di masa depan,” batin Mei.


“Aku juga enggak mau kali kalau harus rame sekarang.” gumam Mei seraya senyum-senyum sendiri, ia tak dapat membayangkan kalau dirinya nanti akan berciuman dengan Leo.


_____________________________________________


Yalisa yang telah berada di kelas merasa heran, karena tak mendapati Mei dimana pun.


“Kok belum balik sih?” gumam Yalisa.


Lalu Riski yang berdiri di belakangnya pun berbisik di telinga Yalisa.


“Kencannya besok ya.”


“Ha?”


“Jam 08:00 pagi, aku jemput.”


“Apa?”


“Jangan sampai telat bangun.” terang Riski seraya tersenyum.


“Kamu mau kencan apa masuk sekolah? Jam 08:00 pagi? Apa enggak kecepatan?” Yalisa mencoba bernegosiasi dengan Riski.


“No bacot.” tapi Riski tak menerima penolakan, dengan bibir memancung Yalisa kembali ke kursinya untuk duduk.


Lalu tak lama Mei masuk dengan wajah yang berseri-seri.


Yalisa yang melihat perubahan Mei yang begitu drastis sedari pagi membuat hatinya bertanya-tanya.


“Ini anak jatuh cinta sama jurusan apa sih?”


Mei yang tahu dirinya di perhatikan seksama oleh Yalisa, langsung merubah ekspresi wajahnya.


“Ada apa nih? Bilang mau balik ke kelas, nyatanya enggak ada di kelas, kamu lagi ketemu sama cowok ya??” tanya Yalisa dengan penuh penasaran.


“Eng-enggak kok.”


“Itu gelagapan, berarti benar dong.” Yalisa menggoda Mei.


“Beneran enggak Lis.”


“Ah, kamu kenapa sih enggak mau jujur? Dari pagi kamu aneh, enggak kayak biasanya, aku juga sadar kali, kalau kamu pakai make up, pada hal sebelum-sebelumnya enggak pernah tuh, ayo jujur, anak jurusan apa?” tanya Yalisa lagi.

__ADS_1


“Enggak ada, benar deh, aku enggak punya pacar.” terang Mei, karena dirinya dan Leo memang tidak menjalin hubungan seperti yang Yalisa pikirkan.


Sontak Yalisa bersedekap dan berkata “Hah, enggak seru, aku ini sahabat mu apa bukan sih? Kalau kamu bahagia, pasti aku juga bahagia, tapi kamu malah diam-diam begini, sedangkan aku apa-apa selalu cerita.”


“Ahhahahaha, mau gimana lagi, memang enggak ada apa-apa.” ujar Mei.


Percakapan keduanya pun terhenti, saat guru kesenian mereka masuk ke dalam kelas.


Mereka pun mengikuti proses belajar dengan sangat tekun, hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi.


Tettt.... tetttt... tettt...


“Ayo pulang sama-sama.” ujar Yalisa.


“Maaf, hari ini aku ada urusan sama mama, jadi kamu pulang sendiri saja ya.” ucap Mei yang mulai merapikan barangnya.


Yalisa yang merasa tak ada lagi yang perlu ia bicarakan pun memilih diam.


Setelah Yalisa selesai memasukkan barangnya ke dalam tasnya, ia pun berpamitan pada Mei.


“Aku duluan.” ucap Yalisa seraya berlalu dari hadapan Mei.


Saat di depan kelas, Riski mengajak Yalisa pulang, namun Yalisa menolak dengan keras, hingga Riski memutuskan untuk pulang bersama Zuco.


“Hufff....” Mei merasa lega, karena Yalisa telah pergi.


Ia pun segera keluar kelas menuju gerbang, sesampainya ia di gerbang, ternyata Leo sudah ada disana, duduk di atas motornya.


“Aku, aku mencintai orang itu Tuhan, tolong jodohkan ia dengan ku, tolong buat ia jatuh cinta pada ku.” Mei berdo'a dalam hati kecilnya.


“Maaf.” sahut Mei seraya naik ke atas motor Leo.


“Nih, pake helm dulu.” Leo memberikan helm berwarna hitam senada dengan miliknya pada Mei.


Mei pun menerima helm itu dengan sedikit tersenyum, ia merasa mereka.sudah seperti pasangan sungguhan, karena memakai helm dengan bentuk dan motif yang sama.


Mei pun naik ke atas motor, setelah ia sudah duduk dengan benar, Leo pun melajukan motornya membelah jalan raya menuju rumahnya.


Mei yang terbilang jarang naik motor, tiba-tiba merasa gamang, apa lagi saat Leo melaju dengan kecepatan 100 km/ jam.


“Leo, pelan-pelan.” ucap Mei seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Leo yang lebar.


Leo memutar mata malas, tanpa mengatakan untuk melepas dekapan Mei padanya.


Yalisa yang ternyata mampir membeli telur gulung di pinggir jalan, tak sengaja melihat Leo melintas dengan di peluk oleh seorang wanita.


Zaaarr!!!


Pembuluh darahnya seakan pecah, Yalisa terus melihat Leo yang lewat di hadapannya dengan mata membulat hingga luput dari pandangan matanya.


“Apa itu ceweknya?” batin Yalisa.


Ia tak dapat mengenali wanita yang di bonceng oleh Leo, karena si wanita memakai helm.

__ADS_1


Satu hal yang pasti yang ada dalam benak Yalisa.


“Cewek itu satu sekolah dengan kami?”


Telor gulung yang di tangan Yalisa pun jatuh ke tanah.


Deg deg deg deg!!!


Jantungnya berdebar, badannya panas dingin, nafasnya jadi sesak, hatinya tak henti bertanya dan berfikir.


“Siapa dia? Bagaimana caranya aku tahu siapa dia sebenarnya? Apa aku harus tanya lagi sama Leo?”


Sesampainya ke kediaman Leo, Mei pun turun dari atas motor.


Ternyata di teras bu Dita sudah menunggu keduanya.


“Assalamu'alaikum tante.” ucap Mei seraya mencium punggung tangan bu Dita.


“Wa'alaikumussalam.” sahut bu Dita.


“Assalamu'alaikum bu.” ucap Leo seraya mencium punggung tangan ibunya juga.


“Wa'alaikumussalam,” sahut bu Dita.


“Leo ke kamar dulu ya bu.”


“Oke, habis ganti baju datang ke ruang makan ya, kita makan sama-sama.” ujar bu Dita seraya menggandeng tangan Mei masuk ke dalam rumah.


“Ayo Mei, kita duluan ke meja makan.”


“I-iya tante.” Mei merasa sangat canggung, sebab ini pertama kalinya ia main ke rumah laki-laki.


Terlebih ia langsung bertamu ke rumah calon mertuanya.


Sesampainya mereka ke ruang makan, Mei melihat di atas meja makan persegi empat panjang, dengan 5 buah kursi di sebelah kiri dan kanan.


Sudah banyak hidangan mewah yang di sediakan, yaitu ada sup ikan gabus 1 panci, lele bakar 5 ekor, ayam bakar 1 ekor utuh, rendang daging 1 baskom, mie goreng, dan sayur sawi hijau rebus, serta berbagai macam buah dalam wadah.


“Kita mau ada jamuan ya Tan? Banyak bangat hidangannya.” ucap Mei.


“Iya, kita mau jamu kamu nak, sejak pulang dari rumah sakit, kita belum adakan syukuran, jadi tante mau kasih kamu makan.” terang bu Dita.


“Apa?”


“Ini semua untuk kamu sayang, jadi makan yang banyak ya.” ujar bu Dita.


Lalu Mei pun duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan, dan tak lama Leo pun datang menyusul.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Jangan lupa mampir le karya author di bawah ini ya.

__ADS_1



__ADS_2