
Yalisa merasa iba terhadap Felicia, namun ia juga tak ingin kehilangan orang yang ia cinta.
Karena Yalisa sudah selesai mengganti baju, ia pun ke luar dari dalam bilik toilet.
Cetek!!
Aminah dan Felicia di buat terkejut, karena orang yang mereka bicarakan sedari tadi mendengar percakapan mereka.
Dengan santai Yalisa mencuci tangan di wastafel, setelah itu dengan berani ia berkata pada Felicia.
“Maaf Fel, kalau aku sudah menyakiti hati mu, tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaan ku, kalau aku masih mencintai Riski, dia pun begitu pada ku, semoga kamu mendapatkan yang lebih baik ke depannya.” belum sempat Felicia menjawab perkataannya, Yalisa sudah melengos pergi dari dalam toilet, yang membuat keduanya tak habis fikir.
“Berani sekali dia terus terang begitu,” ujar Aminah.
“Cewek sialan, apa dia pamer?” ucap Felicia.
Sesampainya Yalisa ke kelas, ia pun curi-curi pandang pada Riski yang sedang mengobrol dengan Marco dan Zuco.
Senyum tipis tertampil di bibir Yalisa, Mei yang menyaksikan pemandangan itu pun dapat menyimpulkan.
“Oh, mereka sudah balikan,” batin Mei.
Setelah Yalisa duduk kembali ke bangkunya, Mei mulai menggoda.
“Kalian udah balikan ya? Cie... cie...,”
“Apaan sih, jangan keras-keras, malu di dengar orang,” ucap Yalisa.
“Kenapa harus malu, pantas dari tadi kalian berdua hilang, ketemu dimana kalian?” tanya Mei dengan rasa penasaran.
“Ada deh.” ucap Yalisa, dan tanpa sengaja Mei mencium bau aroma parfum Riski di rambut dan baju Yalisa.
“Wah! Kalian habis tempur ya!” seru Mei, sontak Yalisa mensumpal mulut Mei dengan tangannya.
Orang-orang yang mendengar ucapan Mei pun jadi menaruh perhatian pada Yalisa.
“Kita enggak ngapa-ngapain kok, ih kamu tuh ya,” ucap Yalisa dengan suara yang pelan.
Mei menertawai Yalisa yang jadi salah tingkah.
“Andaikan aku juga dapat yang seperti Riski, mencintai ku dengan apa adanya, memperjuangkan ku meski ada masalah,” batin Mei.
______________________________________________
Di ruang praktik, Leo yang sedang mengerjakan tugasnya tiba-tiba mendapat sebuah panggilan telepon dari Maya ART rumahnya.
📲 Halo mbak May,” Leo.
📲 Halo tuan,” Maya.
📲 Ada apa mbak?” Leo.
📲 Ibu tuan, ibu saya temukan jatuh pingsan di kamarnya, kepala ibu terbentur dan mengeluarkan banyak darah,” Maya.
__ADS_1
Sontak Leo bangkit dari duduknya, Kevin yang berada di sebelah Leo bingung tentang apa yang terjadi.
📲 “Oke mbak, telepon ambulance sekarang juga, aku akan langsung ke rumah sakit,” Leo.
“Kenapa bro?” tanya Kevin.
“Ibu pingsan Vin, tolong kamu urus izin ku ke guru piket, nanti aku akan kirim kondisi ibu kalau sudah di rumah sakit,” terang Leo.
“Oke bro, hati-hati ya,” ucap Kevin.
Leo pun bergegas menuju parkiran, lalu segera menaiki motornya, dan dengan kecepatan penuh meluncur ke rumah sakit.
Mei yang baru saja dari toilet tanpa sengaja perpapasan dengan Kevin yang jalannya terlihat buru-buru, Mei yang penasaran pun memutuskan untuk bertanya.
“Mau kemana Vin? Buru-buru bangat.”
“Mau urus surat izinLeo, ibunya masuk Rumah sakit.” jawab Kevin.
“Hah! Tante Dita sakit?” tanya Mei kembali.
“Iya, sepertinya begitu, karena Leo terlihat panik dan buru-buru pulang, ya sudah aku ke guru piket dulu.” Kevin pun berpamitan pada Mei.
Mei yang cemas langsung merogoh handphone dari dalam saku bajunya, saat ia ingin mendial kediaman Leo, tangannya berhenti.
“Aku kan buka siapa-siapanya lagi, dan enggak ada alasan juga untuk menelepon,” batin Mei.
Dengan hati yang berat, akhirnya Mei memasukkan kembali handphonenya kembali ke dalam saku bajunya.
“Ada apa Mei?” tanya Yalisa.
“Bu Dita masuk rumah sakit,” jawab Mei.
“Siapa bu Dita?” tanya Yalisa, karena ia belum tahu akan ibu Leo sebelumnya.
“Itu...,” Mei hampir saja kelepasan, ia tak ingat kalau Yalisa tak tahu tentang dirinya dan Leo.
“Kerabat,” ucap Mei.
“Ya sudah, nanti sepulang sekolah kita jenguk kerabat mu itu, kebetulan akhir-akhir ini omset warung ku lagi bagus, enggak apa-apalah kalau aku bukanya agak sorean.” terang Yalisa, karena semenjak ibunya meninggal, Yalisa lah yang mengelola warung sembako keluarganya.
“Enggak usah Lis,” ucap Mei.
“Kok gitu? Ayolah, lagi pula kalau ada orang sakit, apa lagi kita kenal orangnya, kita wajib menjenguk walau pun enggak dapat undangan,” ucap Yalisa.
“Oke, tapi enggak sekarang,” ujar Mei.
Karena Mei tak ingin pergi, Yalisa pun tak memaksakan kehendaknya lagi.
______________________________________________
Sesampainya Leo di rumah sakit, ia langsung menuju ruang rawat ibunya.
Brak! Leo membuka pintu dengan sangat kuat karena panik.
__ADS_1
Di dalam ruangan ia melihat Maya beserta bu Dita yang terbaring di atas ranjang dengan kondisi yang belum sadarkan diri.
“Ibu...” ucap Leo dengan perasaan khawatir. Ia pun duduk di kursi sebelah ranjang ibunya.
“Gimana ceritanya mbak? Kenapa jadi separah ini?” tanya Leo.
“Saya juga kurang tahu tuan, sebelumnya saya sedang belanja bulanan ke supermarket, pulang-pulang saya enggak lihat ibu dimana-mana, setelah saya masuk ke dalam kamar, saya lihat ibu sudah pingsang dengan bersimbah darah, maaf atas kecerobohan saya tuan,” ucap Maya.
Leo tak dapat menyalahkan Maya, bagaimana pun juga, bukan kewajiban Maya untuk menjaga ibunya setiap detiknya.
“Apa ayah sudah tahu?” tanya Leo.
“Saya sudah telepon tuan, bapak bilang akan segera pulang kalau pekerjaannya sudah selesai,” terang Maya.
“Oke mbak, mbak tolong pergi beli makanan untuk kita, pasti mbak belum makan kan?” ujar Leo, seraya menyodorkan uang pada Maya.
“Baik tuan, oh iya tuan,”
“Iya mbak?”
“Ibu butuh donor darah secepatnya, di rumah sakit stoknya lagi kosong, dokter meminta tolong untuk kita bantu cari, karena ibu benar-benar membutuhkan transfusi darah secepatnya,” terang Maya.
“Baik mbak,” ucap Leo.
Ia pun menjadi tambah kwatir, mengingat sulitnya mencari pendonor yang golongan darahnya sama seperti ibunya.
Leo memijat pelipisnya yang terasa berat, dan tiba-tiba ia teringat akan Mei.
“Mei dan ibu kan golongan darahnya sama,” gumam Leo.
Namun ia tak berani meminta tolong, sebab ia telah mencampakkan Mei dan memperlakukan Mei secara kasar, Leo juga merasa malu dan tak pantas, bila harus menyusahkan wanita itu untuk kedua kalinya.
_______________________________________________
Mei yang berada di sekolah merasa tak tenang memikirkan kondisi bu Dita, meski ia sudah tak jadi calon menantu bu Dita lagi, namun ia tak bisa mengabaikannya begitu saja.
“Aku kan putus hubungan dengan anaknya, bukan ibunya,” batin Mei.
Tet... tet... tet...
Bel pertanda pulang sekolah pun berbunyi, Mei segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
“Mei, main ke rumah ku yuk.” ajak Yalisa, karena sudah lama Mei tak datang ke rumahnya.
“Lain kali saja ya, sekarang aku lagi buru-buru.” ucap Mei. Setelah selesai merapikan barang-barangnya ke dalam tas, Mei meninggalkan kelas terlebih dahulu.
“Aku pamit,” ucap Mei.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1