
Yalisa mengalihkan pandangannya dari Mei. “Kamu dan Leo, sama-sama absen dalam waktu yang sama, selama kamu enggak sekolah, dia juga begitu, entah deh hari ini dia masuk sekolah apa enggak.” ujar Yalisa yang kini kembali memberi Mei tatapan curiga.
“Ma-masa sih bisa sama begitu?” Mei tertawa kaku, sepertinya ia merasa tak dapat berbohong lebih lama pada Yalisa.
“Dan..., nomor kalian berdua juga sama-sama susah buat di hubungi, apa bisa kamu jelaskan?” terang Yalisa yang penasaran tentang apa yang terjadi sebenarnya.
“huuuh..., maaf ya Yalisa, aku enggak bermaksud untuk buat kamu khawatir atau penasaran, bukannya aku enggak mau hubungi kamu juga, itu karena handphone ku jatuh entah dimana, dan ART ku baru saja pesan handphone secara online, tapi barangnya belum datang, untuk masalah Leo, aku enggak tahu menahu kalau soal dia.” sebenarnya Mei ingin jujur pada Yalisa, tapi karena ia kurang keberanian, ia memutuskan untuk menundanya.
“Hah! Hilang? Ahh... pantas saja, kamu susah di hubungi, maaf ya Mei, aku sudah berprasangka buruk sama kamu, tapi yang paling aku takutkan kamu di culik, sebab aku dan Riski pernah datang ke rumah mu, tapi satpam yang menjaga gerbang bilang, kalau kamu itu sudah enggak pulang sejak kamu keluar malam harinya.” Yalisa pun memeluk Mei dengan rasa syukur, sahabat baiknya sehat wal'afiat.
“Iya aku baik-baik saja kok, tenang saja.”
“Iya, sekarang aku sudah tenang kok, andai kamu tahu aku khawatir sampai nangis, takut kalau kamu di culik.” Yalisa pun mengencangkan pelukannya, hingga menekan bekas luka operasi pada bagian perut Mei.
“Sstt.. Ah!” tanpa sengaja Mei merintih kesakitan, sontak Yalisa melepas pelukannya dari Mei.
“Mei, kamu kenapa? Apa kamu sakit?” tanya Yalisa dengan perasaan khawatir.
“Eng-enggak kok, aku baik-baik saja.” jawab Mei dengan senyum palsunya.
“Yang benar? Pada hal tadi kamu meringis kesakitan.” tanya Yalisa lagi memperjelas kalau dugaannya tidak salah.
“I-iya Yalisa, hufff... kamu ini, jangan khawatir berlebih seperti itu, aku ini cewek yang kuat dan tangguh tahu!” seru Mei, dengan harap bisa menyakinkan Yalisa.
“Oke..., kalau ada apa-apa kamu wajib menceritakannya sama ku, apapun itu, kalau enggak, nanti aku bisa marah lo!” pekik Yalisa dengan tatapan serius, karena Yalisa tahu, Mei seorang yang kurang akan kasih sayang.
“Iya bawel, pasti aku cerita kok.” ucap Mei, tak lama suara bel pun berbunyi, tanda proses belajar mengajar di mulai.
Riski yang ada di kursi bagian depan menoleh ke belakang, untuk memperhatikan kedua gadis yang tak henti-hentinya mengobrol itu.
“Sampai kapan Mei akan berbohong? Sebenarnya aku ingin kasih tahu Yalisa, tapi..., rasanya kurang tepat mengingat mereka berdua adalah teman lama, takutnya kalau aku gegabah, mereka berdua pecah, enggak lucu kan, hanya karena satu cowok, mereka jadi musuh? Dan kalau itu terjadi, yang paling sakit adalah Yalisa, dia enggak akan punya teman lagi,” batin Riski.
“Hah! Sialan!” Riski mengumpat seraya mengacak-acak rambutnya, Zuco yang ada di sampingnya pun di buat kaget.
“Kenapa Ki? Kok tiba-tiba mengumpat?”
“Ahh..., pokoknya pusing.” ucap Riski, tanpa memberi tahu Zuco alasannya.
“Pusing kenapa? Mau aku beli obat sakit kenapa?” tanya Zuco, karena ia lihat Riski benar-benar kesakitan.
“Ini enggak akan sembuh dengan Paracetamol, sudahlah kamu enggak akan ngerti.” ujar Riski dengan menyenderkan punggungnya ke kursi.
“Apa sih anak ini, enggak jelas bangat jalan fikirannya.” gumam Zuco.
“Aku dengan loh Co.”
“Hah! Maaf-maaf, aku cuma enggak ngerti sama jalan pikiran mu, hehehe.”
“Sudahlah Co, jangan pikirin aku, pikirkan saja ide buat konten baru tok tok mu.” ujar Riski seraya mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya.
__ADS_1
Tak lama pak Roni masuk ke dalam kelas mereka.
“Assalamu'alaikum, selamat pagi anak-anak!” seru pak Roni yamg datang dari pintu kemudian berjalan ke depan kelas.
“Wa'alaikumussalam warohmatullohi Wabarokatih.” ucap semua anggota kelas.
“Oh ya, kalian semua sehat kan anak-anak?”
“Sehat pak!!!” jawab semua siswa dan siswi.
“Oke, karena kita pelajaran olah raga di jam pertama pagi ini, maka kalian semua segera ganti baju, dan berkumpul di lapangan,”
“Baik pak.” ucap semua siswa dan siswi.
“Kalau begitu bapak pergi duluan ke lapangan ya, oh!” pak Roni memegang kepalanya.
“Sebentar lagi kan liburan akhir semester, haduh, hampir saja bapak lupa memberitahu kalian.” semua anggota kelas pun mendengar dengan serius karena penasaran.
“Sekolah kita akan mengadakan karya wisata, memberangkatkan jurusan seni dan TIK ke gunung S.” semua siswa dan siswi keheranan, kenapa malah melakukan karya wisata ke gunung, pak Roni pun dapat melihat dengan jelas bingung dan penuh tanya dari raut wajah para pelajarnya.
“Begini, guru-guru sepakat memilih gunung karena ingin kalian belajar tentang alam, selain itu kalian juga akan di bagi menjadi beberapa kelompok, jadi siapkan kamera, karena selama liburan sekolah, kalian akan di suruh melukis objek yang kalian temui dalam hutan. Mengerti?” terang pak Roni, anggota kelas pun menjawab.
“Mengerti pak.” Lalu pak Roni keluar dari dalam ruangan menuju lapangan.
Sementara para siswa/i menuju toilet untuk mengganti baju, termasuk Yalisa dan Mei, saat Yalisa akan beranjak dari kelas, Mei menahannya.
Karena menurut Yalisa Mei ada benarnya ia pun setuju untuk mengganti baju dalam kelas.
“Oke, ayo buruan, nanti ada cowok yang masuk lagi.” seru Yalisa seraya membuka bajunya.
“Aduh perut ku benar-benar ngilu dan nyeri.” batin Mei.
“Woi, kenapa belum ganti baju?” tanya Yalisa pada Mei yang raut wajahnya seperti menaham sakit.
“Iya, hehehe.” jawab Mei, dengan sekuat tenaga ia pun mengganti bajunya.
“Apa dia lagi enggak enak badan?” batin Yalisa.
Setelah mereka berdua selesai mengganti baju, keduanya pun berjalan menuju lapangan, dan saat mereka sedang berjalan Yalisa mengatakan pada Mei.
“Aku sudah putus dengan Leo.” ungkap Yalisa.
Deg deg deg deg!
Meski Mei telah tahu, namun jantungnya masih saja berdetak hebat, jelas sekali ia takut ketahuan, bahwa dirinyalah penyebab perpisahan itu.
“A-apa?”
“Iya, kemarin kami ketemu, dia bilang begitu.” terang lanjut Yalisa, Mei pun dapat melihat sejuta kesedihan di mata Yalisa.
__ADS_1
“Kamu enggak mau tahu penyebabnya?” ucap Yalisa seraya menatap tajam Mei.
Mei yang tertawa kaku pun berkata. “Apa alasannya?”
“Karena ada seorang wanita yang menolong ibunya dari ambang kematian.”
“Ah hahahaha...gi-gitu ya?” sahut Mei dengan kikuk.
“Dan..., kamu tahu dengan apa wanita itu menolong ibunya?”
“Dengan ginjal kan?” batin Mei.
“Ya, dengan ginjal!” ucap Yalisa, yang membuat mata Mei membulat, ia merasa Yalisa dapat mengetahui isi hatinya.
“Apa? Kenapa Yalisa seolah sedang bersambung kata dengan ku tadi? Apa sebenarnya dia tahu, kalau akulah wanita yang menjadi perusak hubungan mereka?” itulah yang ada di batin Mei, ia pun mulai was-was pada Yalisa, takutnya Yalisa yang ada di hadapannya ini hanya pura-pura tak tahu atas segalanya.
“Hei, kenapa kamu jadi bengong dan pucat begitu?” ucap Yalisa pada Mei, yang sedari tadi aneh menurutnya.
“Hah? Aku baik-baik saja kok.” sahut Mei.
“Ya sudah, ayo lanjut jalan.” setelah mereka sampai di lapangan, mereka memilih duduk di salah satu kursi yang berjejer rapi di dekat lapangan sepak bola.
“Hufff...” Yalisa mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya.
“Apa ini? Apa dia mau lanjut curhat lagi?” batin Mei.
“Mei, aku marah sama Leo yang tiba-tiba memutuskan ku begitu saja, tapi apa di kata, wanita itu memang pantas untuknya, seandainya Leo meminta tolong pada ku, untuk mendonorkan ginjal ku pada ibunya, ku rasa aku belum tentu mau, makanya aku enggak ngotot untuk melanjutkan hubungan kami.”
“Yalisa, apa kamu baik-baik saja?” tanya Mei yang mulai melihat mata sahabatnya itu berkaca-kaca.
“Hehehe...” Yalisa pun menampilkan tawa getir di bibirnya.
“Yalisa?” Mei memegang bahu Yalisa yang seperti akan menangis.
“Tentu saja aku enggak baik-baik saja, kamu tahu Mei? Yang paling buat aku putus harapan untuk bersamanya lagi?”
“A-apa?”
“Dia mau di nikahkan setelah kita lulus sekolah, hiks..hiks..hiks...” air mata Yalisa kembali pecah, tanpa malu di lapangan yang banyak orang.
“Sudah kamu jangan nangis, malu tahu di lihat banyak orang.” terang Mei seraya mengusap-usap bahu Yalisa.
“A-aku enggak bi-bisa bo-bohongi hati kecil ku, aku benci sama Leo dan wanita itu Mei!” pekik Yalisa seraya terus meneteskan air matanya.
Deg deg deg deg deg! Mei menahan dadanya yang terasa sesak.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
__ADS_1