SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab XL (Deg!)


__ADS_3

Yalisa yang akan beranjak ke bangkunya melihat Mei sudah ada disana.


“Mei!” seru Yalisa kegirangan seraya berlari kecil ke bangkunya.


“Yalisa!” sahut Mei.


“Kemarin kenapa enggak masuk sekolah? Ada apa?” tanya Yalisa.


“Kemarin malamnya aku merasa kurang enak badan, dan susah tidur juga, aku baru bisa tidur setelah jam 4 subuh, yah..., bangun-bangun udah jam 13:00, alhasil aku enggak masuk, tapi aku udah izin kok sama bu Dewi.” jawab Mei, menjelaskan alasannya absen kemarin.


“Eh Mei, tau enggak sih...” ucapan Yalisa terpotong karena suara bel yang berbunyi.


“Tau apa Lis,” sahut Mei.


“Enggak jadi, Entar saja ya,” ucap Yalisa.


“Nanti sajalah aku cerita soal pak Ari, yang online kemarin malam, lagi pula bentar lagi guru sudah mau masuk, tanggung kan buat ngegosip,”~ batin Yalisa.


Selang beberapa menit, bu guru yang akan mengajar mereka pun masuk ke dalam kelas.


Mereka semua memulai pelajaran dengan tenang tanpa adanya kondisi gaduh, Riski yang berada di bangku depan sesekali menoleh ke arah Yalisa.


“Eh Lis, Riski kok kayak lihatin ke kita sih?” ucap Mei, yang ternyata menyadari tingkah Riski sedari tadi.


“Ah, masa sih?” sahut Yalisa seraya menggosok tengkuk dengan tangannya karena merasa tak nyaman.


“Pada hal baru kemarin minta maaf, masa mau buat masalah baru lagi sih?”~ batin Yalisa.


“Iya, dari tadi aku lihatin, dia curi-curi waktu, kalau guru lengah dia bakalan melirik kesini,” ucap Mei.


“Salah kali, udah ah, kita fokus belajar saja,” ujar Yalisa.


Tanpa terasa mata pelajaran yang mereka ikuti telah usai.


“Mei, emang benar ya, di ulang tahun mu kali ini, kamu udang semua teman-teman sekelas kita?" tanya Yalisa dengan penasaran.


“Ah, iya itu benar, lagi pula kan ini tahun terakhir kita di sekolah, jadi enggak apa-apa kan, hitung-hitung buat kenang-kenangan,” jawab Mei menjelaskan tujuannya.


“Benar juga sih, nanti sepulang sekolah aku langsung ke rumah mu saja buat bantu-bantu siapkan makanan atau pun dekorasi.” ucap Yalisa.


“Enggak usah, lagi pula sudah ada ART yang urus semuanya,” sahut Mei.


“Enggak apa-apa, lagi pula aku sudah lama enggak ke rumah mu, ngomong-ngomong om dan tante ada di rumahkan?” tanya Yalisa, karena setahunya orang tua Mei jarang sekali ada di rumah, karena sibuk mengurus bisnis.


“Ah!!, itu dia Lis, mereka enggak bisa datang, ibu sibuk ngurus cabang perusahaab baru di Surabaya, sedangkan ayah sibuk mengambil hati rakyat di Bandung,” jawab Mei dengan mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya kembali.


“Sabar ya, toh itu semua nantinya buat kamu, banyak-banyak berdo'a agar mereka sehat selalu dan urusannya berjalan dengan lancar, biar kalian bisa kumpul lagi.” ucap Yalisa seraya memeluk Mei.


“Makasih ya atas dukungannya,” sahut Mei membalas pelukan Mei.


Zuco yang melihat Mei dan Yalisa berpelukan sontak menggelengkan kepala.


“Dasar anak cewek, dikit-dikit pelukan,” gumam Zuco.


“Iya” sahut Riski.

__ADS_1


“Dan yang aku enggak habis fikir, kamu makin hari makin kepo dengan Yalisa,” ucap Zuco.


“Hah, apa?” sahut Riski.


“Aku tahu, kamu lihat juga apa yang aku lihat, enggak habis fikir aku, bukan cuma suka, tapi kamu suka bangat sama dia, aku sih cuma bisa ngedukung kamu, walau pun kenyataannya kamu lebih cocok sama Yovi ketimbang Yalisa.” ujar Zuco, lalu Riski pun mengernyit.


“Jangan bawa-bawa nama dia deh,” ucap Riski.


“Iya iya, tapi aku lihat akhir-akhir ini Yovi enggak kayak biasanya sama kamu, yang suka beramah tamah,” ujar Zuco penuh tanya.


“Kurang tau, lagi putus sama pacarnya kali.” ucap Riski.


“Enggak mungkin, baru kemarin aku papasan sama dia dan pacarnya, tapi jangan bilang-bilang ya, aku lihat dia keluar dari dalam hotel, malam-malam,” bisik Zuco ke telinga Riski. Riski hanya tersenyum tipis mendengar penyataan Zuco.


“Katanya cinta cih,”~Batin Riski.


“Assalamu'alaikum,” ucap pak Roni yang telah berdiri di pintu masuk kelas.


“Wa'alaikumussam,” sahut para siswa yang ada dalam kelas.


“Hari ini pelajaran olah raga, ayo kalian semua segera ganti baju, lalu menuju lapangan sekolah, bapak tunggu disana.” setelah menyampaikan titahnya, pak Roni keluar kelas menuju lapangan olah raga.


Para siswa dan siswi pun keluar kelas menuju ke toilet untuk mengganti pakaian, setelah itu mereka semua ke lapangan sesuai arahan dari pak Roni.


“Ayo semua, berbaris dengan benar!” seru pak Roni, yang menyuruh mereka berdiri di bawah terik matahari.


“Ayo anak-anak, nikmati cahaya matahari yang menyehatkan tulang-tulang kita,” ucap pak Roni lebih lanjut.


“Hari ini, bapak ada beberapa kesibukan di kantor guru, untuk itu ketua kelas!” ucap pak Roni dengan suara lantang.


“Awasi anggota kelas mu ya, bapak percaya sama kamu, hari ini bapak akan bagi kalian menjadi 2 kelompok, dimana perkelompok akan terdiri dari 12 orang, kelompok pertama latihan tenis lapangan, sedangkan kelompok ke dua akan melakukan latihan Volley.” ucap pak Roni seraya membuka buku absen yang ada di genggamannya sedari tadi.


Setelah itu, pak Roni memanggil nama para siswa satu persatu sesuai kelompoknya, dimana Yalisa, Riski dan Yovi masuk dalam kelompok pertama, sedangkan Mei Zuco dan Marco masuk ke kelompok ke dua.


Sebelum meninggalkan lapangan, pak Roni menyuruh mereka semua untuk ke tempat latihan masing-masing.


“Semangat ya Mei,” ucap Marco.


“Iya,” sahut Mei, yang merasa tak bergairah karena harus berpisah dengan Yalisa.


Kelompok dua melakukan latihan bola volley di dalam gedung olah raga, sementara tenis lapangan di lakukan di lapangan di bawah sinar mentari yang panasnya membakar tubuh.


Sesampainya kelompok dua di dalam gedung olah raga, mereka pun segera membagi kelompok lagi, yang hasilnya Mei dan Marco satu tim.


“Mei, semangat ya mainnya,” ucap Marco, yang membuat Mei mengerutkan dahinya.


“Oke,” sahut Mei.


“Nih orang kenapa jadi tiba-tiba jadi ramah.”~batin Mei.


___________________


Di lapangan, kelompok satu yang terdiri dari 12 orang di bagi lagi menjadi 3 kelompok yang masing-masing terdiri dari 4 oramg, dimana mereka akan berlatih secara berpasangan. Mereka pun melakukan cabut nomor dalam gulungan kertas untuk menentukan siapa yang menjadi pasangan mereka.


Alhasil Yovi dan Riski menjadi satu pasangan, melawan Yalisa dan Heri.

__ADS_1


Mereka pun mulai latihan, mula-mula mereka masih bermain dengan sportif, karena Riski sering kali curi perhatian pada Yalisa, Yovi pun menjadi gusar, lalu dengan sekuat tenaga ia mengoper bola ke arah Yalisa.


Yalisa yang lengah pun menjadi sasaran empuk Yovi, bola yang melayang dengan tekanan cepat mengenai dahi Yalisa.


“Au!” pekik Yalisa seraya memegang dahinya.


“Kamu sengaja ya!” Hardik Riski pada Yovi yang berdiri di sampingnya.


“Dia saja yang tidak bisa main,” sahut Yovi seraya bersiap dengan posisinya untuk menerima bola selanjutnya.


Setelah hampir 2 jam bermain di lapangan, mereka pun memutuskan untuk berhenti, lalu dari kejauhan pak Roni datang menghampiri mereka.


“Anak-anak, kalau sudah selesai, kalian boleh istirahat ya,” ucap pak Roni seraya berlalu menuju ke gedung olah raga.


“Yalisa, kamu dan Heri yang beresin bola dan peralatannya ke gudang, aku mau ke kantin,” ucap Yovi menjatuhjan raketnya ke lanta, lalu meninggalkan mereka bertiga yang masih dalam lapangan.


“Ya sudah Ki, aku dan Yalisa saja yang beresin semuanya, kamu udah boleh pergi kok.” ucap Heri pada Riski, seraya mengambil raket tenis yang ada dalam genggaman Riski.


“Biar aku dan Yalisa saja yang beresin Her, lagian yang mainkan kita berempat, jadi satu tim satu orang perwakilan.” ucap Riski.


Yalisa yang tau dia akan berduaan dengan Riski ke gudang merasa tidak aman.


“Mm, gimana kalau kalian berdua saja yang ke gudang?” ujar Yalisa.


“Benar Ki, kita berdua saja,” sahut Heri.


“Aku maunya sama Yalisa, lagian satu cowok satu ceweklah biar adil, udah sana susul Yovi ke kantin!” hardik Riski.


“Enggak ngerti bangat si nih si Heri, dasar tolo* ,”~Batin Riski.


“Ya sudah, aku pergi, makasih ya,” ucap Heri memberikan raket miliknya pada Riski seraya meninggalkan mereka berdua di lapangan.


Sejenak Riski menatap Yalisa yang sedang menundukkan kepalanya seolah tak bersedja melihat wajah Riski.


Lalu Riski memungut raket yang di tinggalkan Yovi di lantai, sementara Yalisa memungut bola yang tergeletak di lantai juga.


“Ayo,” ucap Riski.


Yalisa tak merespon ucapan Riski, dia hanya berjalan mengikuti punggung Riski menuju gudang.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di gudang penyimpanan peralatan berbagai jenis olah raga.


“Habis taruh di tempatnya, aku akan keluar duluan,”~Batin Yalisa


Mereka berdua pun masuk ke dalam gedung, yang ternyata tak seorang pun disana selain mereka.


Yalisa buru-buru meletakkan raketnya dan bola yang ia pegang ke dalam rak, saat ia akan balik kanan, Riski yang sedang menaruh raket ke dalam rak juga menggenggam tangan Yalisa.


“Bisa kita bicara sebentar?” ucap Riski.


Deg!


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️

__ADS_1


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2