SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CV (Api Cemburu)


__ADS_3

Satu persatu anak tangga di mereka turuni hingga sampai ke lantai dasar sekolah.


Selanjutnya Mei dan Riski menuju gedung olah raga.


“Sebenarnya aku malas sekali mengikuti pertandingan hari ini, tapi aku enggak punya alasan untuk enggak ikut.” batin Mei, karena hatinya masih berkecamuk akan Leo dan Yalisa.


Riski yang menoleh ke sebelahnya tak ada Mei, kemudian menoleh ke arah belakang.


“Kamu lagi mikirin apa sih?” tanya Riski yang membuat fokus Mei kembali.


“Bukan apa-apa.”


“Kalau enggak ada apa-apa buruan, jangan sampai kita terlambat.” ujar Riski seraya melanjutkan langkahnya.


“Oke.” Meski terasa berat akan kegelisahan di hatinya, namun Mei tak dapat mengelak dari pertandingan akhir semester mereka kali ini.


_____________________________________________


Dari dalam kelas, Leo ternyata memperhatikan Riski dan Mei yang menuju gedung olah raga.


Dirasa itu adalah waktu yang tepat, Leo memutuskan untuk pergi saat itu juga ke rumah Yalisa.


“Aku harus bereskan semua masalah yang telah ku buat, sebelum semuanya larut terlalu lama.” batin Leo.


Leo pun bergegas meninggalkan kelasnya, alih-alih keluar dari pintu gerbang sekolah, Leo malah memilih jalan belakakang, yaitu menaiki tembok sekolah.


Setelah berhasil keluar dari pekarangan sekolah, Leo memesan ojek online menuju rumah sang mantan kekasih.


Setelah menempuh perjalanan singkat, akhirnya Leo sampai juga di halaman rumah Yalisa.


“Aku harus bilang apa ke dia?” hati Leo terus saja mencari alasan yang tepat untuk ke datangannya.


Karena ia tahu, dirinya takkan di terima oleh sang pemilik rumah.


Cukup lama Leo memandangi pintu rumah Yalisa yang tertutup rapat. Hingga akhirnya ia menguatkan hati, untuk mengetuk pintu rumah itu.


Tok.. tok.. tok..


Leo hanya mengetuk pintu tanpa mengucap salam, karena ia takut, jika Yalisa mendengar suaranya, Yalisa tak sudi untuk membukakan pintu.


Tok tok tok!


Yalisa yang tengah tidur di kamarnya pun perlahan bangun karena mendengar ketukan pintu tersebut.


Ia pun beranjak dari tempat tidur menuju pintu rumahnya.


Cetek!


Kriettt!!!


Dengan mengucek-ngucek mata Yalisa membuka pintu rumah.


“Sia...,” ucapan Yalisa terhenti ketika melihat yang di hadapannya adalah sang mantan, yang baru saja melukai hatinya.


“Lisa.” tanpa fikir panjang Yalisa segera menutup pintu.


Namun Leo dengan sigap menahan pintu tersebut.

__ADS_1


“Aku mau bicara sebentar saja Lis!” pinta Leo dengan mimik wajah memohon.


“Aku enggak mau, pergi kamu!” hardik Yalisa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Sebentar saja Lis, aku mohon.”


“Enggak, pergi aku enggak mau ketemu kamu lagi!”


“Yalisa, aku cuma mau minta maaf, aku mohon kamu izinin aku untuk bicara sama kamu, tolong berikan aku waktu sedikit saja.”


“Enggak, enggak ada yang perlu kita omongin lagi, aku udah selesai sama kamu, jadi aku minta, kamu jangan tampakin lagi wajah mu di hadapan ku!” ucap Yalisa seraya masih mendorong pintu rumahnya, agar Leo tak masuk.


“Maaf, aku enggak bisa kalau kamu minta yang satu itu, bagaimana pun juga aku akan bertanggung jawab dengan apa yang aku perbuat.”


“Apa-apaan sih kamu! Udah cukup, enggak perlu lagi, tolong kami pergi, jangan sampai tetangga lihat ini semua, tolong kamu jangan ganggu aku lagi.” Dengan sekuat tenaga Yalisa akhirnya berhasil menutup pintu rumahnya tak lupa menguncinya juga.


“Yalisa! Yalisa!”


Tok tok tok! Leo terus saja mengetuk pintu rumah Yalisa.


Namun Yalisa tak mau membukakan pintunya kembali.


“Yalisa, maafkan aku, maafkan atas kesalahan yang telah aku lakukan, aku mohon, jangan pergi dariku, aku masih mencintai mu, aku tulus mencintai mu, maaf jika cara ku salah dalam mencintai mu, tapi satu hal yang pasti, hati ku tak pernah berubah sedikit pun pada mu.”


Ucap Leo seraya menitikkan air mata, Yalisa yang masih berada di balik pintu jelas mendengar itu semua, namun ia sudah terlanjur membenci Leo.


“Kita sudah berakhir, maaf aku enggak bisa lagi Leo.” gumam Yalisa dengan perasaan campur aduk, kemudian ia kembali ke dalam kamarnya dengan menangis sesenggukan.


“Andai saja aku enggak ikut kamu kemarin, pasti ibu masih ada disini, sekarang aku sendiri, ibu...” ucap Yalisa dengan terisak.


____________________________________________


Seusai pertandingan yang di menangkan oleh tim Mei dan Riski, mereka pun memutuskan untuk kembali ke kelas.


“Hari ini seru ya!” ujar Riski.


“Iya,” sahut Mei dengan wajah datar.


“Hari ini masih nginap di rumah Yalisa kan Mei?” dengan perasaan ragu Mei menjawab.


“Iya,”


“Malam ini aku mau menjenguk dia, ayo sekarang kita pulang.” ajak Riski.


“Ayo.”


“Mau aku antar?” tanya Riski.


“Enggak usah, aku mau jalan kaki.” ucap Mei. Karena pertandingan telah usai, akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


Dalam perjalanan pulang menuju rumah Yalisa, perasaan Mei campur aduk tak karuan, dia yang dulu begitu dekat dan sayang pada Yalisa, kini perlahan-lahan mulai membenci.


Tapi untuk saat ini, Mei belum bisa melakukan apapun pada sahabatnya itu.


“Aku harus lakukan apa untuk menyingkirkan Yalisa dari Leo? Dan gimana kalau Yalisa benar-benar hamil?” kepala Mei mendadak jadi pusing, dengan wajah yang mulai memucat Mei melanjutkan langkahnya ke rumah Yalisa.


Sesampainya Mei di rumah Yalisa, ia mengetuk pintu.

__ADS_1


Tok tok tok!


“Yalisa, assalamu'alaikum.” ucap Mei dari depan pintu.


Cetek!


Kriett!!


“Wa'alaikumussalam, kamu sudah pulang?” ujar Yalisa dengan mata sembab.


“Iya, kamu nangis lagi?” tanya Mei seraya membuka sepatunya lalu masuk ke dalam rumah, yang langsung saja ia rebahkan tubuhnya di atas sofa.


“Iya,”


“Sudahlah, dari pada nangis, lebih baik kamu berdo'a, enggak ada gunanya kamu menangisi yang sudah pergi.” ucap Mei seraya meletakkan telapak tangannya ke keningnya.


“Kamu benar juga,” sahut Yalisa.


“Ngomong-ngomong, tadi kamu pergi kemana?” tanya Mei, karena sebelum masuk ke dalam rumah ia melihat bekas jejak sepatu di atas teras.


“Aku enggak kemana-mana,” ucap Yalisa.


“Oh, ku fikir, karena ada bekas sepatu di teras.”


“Itu Leo.” mendengar nama Leo, Mei langsung bangun dari tidurnya.


“Apa?!” dengan mata membelalak Mei melihat ke arah Yalisa.


“Iya.”


“Terus, kamu kasih dia masuk? Dia ngomong apa saja?” tanya Mei dengan penasaran.


“Aku enggak kasih dia masuk, aku langsung usir.”


“Buat apa dia kesini?”


“cuma mau minta maaf.”


“Minta maaf soal apa?”


“Eh,” Yalisa hampir saja keceplosan, tentang tujuan Leo datang ke rumahnya.


“Bukan apa-apa Mei,”


Mei yang semakin di bakar api cemburu tambah tak terima, hatinya kini mulai tak sabar untuk tidak melakukan apapun pada Yalisa.


“Aku harus bertindak cepat, kalau tidak, bisa-bisa mereka bisa balikan lagi.” batin Mei.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.


__ADS_1


__ADS_2