
“Dimana anak ku penculik?!”
Tanya bu Maya dengan berderai air mata, Riski mengernyit dengan pertanyaan itu.
“Anak ibu siapa? yang mana sih? Oh... maksud ibu Yovi?”
Sahut Riski dengan berpura-pura bodoh di depan bu Maya.
“Ari bodoh! Pak Ari bukan Yovi!” Bentak bu Maya yang semakin kesal.
“Ibu kan orang tuanya? Masa tanya ke saya anak ibu dimana? Yang benar dong bu, bapak bukan, saudara bukan kok malah tanya ke saya!” Ucap ketus Riski.
“Jangan bohong kamu! Kalian berdua kan pelakunya? Karena kalian yang bermasalah dengan anak saya, kamu!”
Bu Maya mendongak sambil menunjuk wajah Riski.
“Kamu sudah membuat anak saya babak belur, polisi sebentar lagi akan datang menangkap kalian berdua” Ucap lanjut bu Maya.
“Eh bu, pak Ari pantas buat di pukuli, dia itu sudah melecehkan anak orang, banyak kok yang dia lecehkan disini, lagian ibu fikir saya takut sama polisi? Saya dan Yalisa enggak salah ya bu, jangan asal tuduh” tutur Riski tak gentar.
“Diam!”
Teriak bu Maya, Yalisa yang kesal spontan melempar tengkuk bu Maya dengan tas bu Maya yang ia pegang.
Krekk..., bunyi tulang bu Maya samar-samar terdengar, sontak bu Maya memegang tulang lehernya yang terasa sakit, tulangnya seperti tergeser akibat kerasnya lemparan Yalisa.
“Ibu dan anak sama saja, bikin kesal dan enggak ada etika, bawa polisinya kesini sekarang jangan banyak bacot, sekali lagi ibu bersuara keras pada saya dan Riski, saya enggak akan segan-segan buat sumpal mulut ibu pakai sepatu saya!”
Setelah memberi ancaman, Yalisa Meninggalkan bu Maya dari kerumunan itu.
“Ayo Leo”
Yalisa melangkah dengan menuntun tangan Leo membelah kerumunan. Leo yang baru pertama kali melihat Yalisa melawan langsung tercengang.
“Sekali marah enggak kira-kira mau itu orang tua, luar biasa pacar ku”~ Batin Leo
Riski yang di tinggal berlalu oleh Yalisa hanya menatap dalam, tak menyangka Yalisa pergi meninggalkannya bersama ibu-ibu sangar yang kapan saja siap menyerangnya.
“Tega kamu Yalisa, dan... sejak kapan kamu jadi cewek garang? Sebulan ku tinggal kamu berkembang dengan cepat”~Batin Riski.
“Anak enggak beretika, beraninya meninggalkan orang tua yang sedang bicara”
Riski yang mendengar gumaman bu Maya langsung mendecak.
“Halah bu..., kalau aku jadi ibu udah ku coret nama pak Ari dari kartu keluarga, sifatnya enggak ada yang benar, maniak sex, suka main tangan sama siswa, mau di suap lagi, jadi apa yang mau di banggain dari sosok anak ibu? Ucap Riski.
“Heh, jangan asal bicara ya!” Bentak bu Maya.
“Siapa juga yang asal bicara? Mau aku kirim videonya?” Riski merogoh handphonenya dari dalam saku baju.
“Nih!”
Riski menyodorkan handphonenya ke bu Maya, saat bu Maya akan mengambil handphone Riski, Riski malah memasukkan kembali ke saku bajunya.
“Enggak jadi deh, nanti ibu malah jantungan lagi, oh.. satu lagi, aku akan hadapi polisinya dengan benar, jangan nyesal ya dengan hasilnya entar, kalau terbukti kita enggak salah ibu saya lapor balik!” Ucap Riski.
“Anak setan” Sahut bu Maya.
“Ibu salah cari lawan, ibu fikir saya takut sama polisi? Polisinya entar saya beli biar bungkam!”
Ucap Riski meninggalkan bu Maya di kerumunan para siswa.
“Haduh..., kalau sampai ayah tahu aku bikin masalah lagi bisa habis aku, di coret dari harta warisan ayah”~Batin Riski.
Riski pun beranjak menuju kelasnya, sesampainya di kelas Riski tak melihat kehadiran Yalisa dan Leo. Saat ingin bertanya pada Mei, Riski juga tak melihat Mei dalam kelas.
“Mereka bertiga kemana ya?”~Batin Riski.
__ADS_1
“Ki, gila ya kamu ibu-ibu juga di sambar” Ucap Zuco.
Riski yang mendengar ucapan Zuco langsung menunjukkan wajah malas.
“Apaan sih?” Sahut Riski seraya duduk di samping Zuco.
“Aku tadi lihat dari jauh kamu marah-marah sama orang tua itu” Ucap Zuco.
“Abis main tuduh saja” Sahut Riski.
Saat Riski dan Zuco masih berbincang Yalisa masuk ke kelasnya dengan di antar Leo. Tentunya Riski melihat pemandangan rukun itu dengan perasaan berkecamuk.
“Aku masuk dulu ya” Ucap Yalisa.
“Iya, nanti kalau ada apa-apa hubungi aku, jangan lupa” Pinta Leo.
“Oke, kamu balik ke kelas mu sana” Ucap Yalisa dengan senyum manisnya.
“Oke sayang”
Leo mengusap umbun-umbun Yalisa dan mulai berlalu dari hadapan kekasihnya.
Riski yang baru saja menyaksikan adegan romantis di depan matanya langsung merasa mual.
“Bikin mood ku hancur saja”~Batin Riski
Bola mata Riski mengikuti langkah Yalisa hingga ke ketempat duduknya.
Zuco yang melihat tindakan Riski langsung geleng-geleng kepala.
“Heh, ngapain kamu lihatin dia sebegitu nya? Jangan bilang kamu suka dia?” Ucap Zuco.
“Ngomong apa sih kamu? Jangan tambah rusak mood ku deh” Tutur Riski.
Sementara Yalisa yang duduk di kursinya merasa heran karena Mei tak masuk sekolah.
Karena takut Mei kenapa-kenapa Yalisa mengambil handphonenya dari saku baju osisnya, lalu mengirim pesan singkat pada Mei.
“Mei, kamu sehat-sehat saja kan? Kenapa enggak masuk sekolah hari ini?” 📱 Yalisa.
Setelah pesan terkirim guru pun masuk ke dalam kelas mereka untuk memulai proses belajar mengajar.
Semua siswa mengikuti pelajaran yang di berikan oleh guru dengan baik hingga selesai.
Sang guru pun keluar dari dalam kelas, Yalisa juga kembali mengecek handphonenya mana tahu Mei sudah membalas pesannya.
“Hah... Mei kemana sih? Kok pesan ku belum di balas juga?”
Gumam Yalisa di bangkunya. Saat Yalisa masih memikirkan Mei, tiba-tiba pak Roni masuk kelas untuk mengatakan pengumuman.
“Assalamu'alaikum anak-anak”
Ucap pak Roni dari pintu masuk seraya berjalan ke meja guru.
“Wa'alaikumussalam pak” Jawab serempak siswa dalam kelas.
“Baiklah, disini bapak mau minta kerja samanya dengan kalian semua, untuk tidak ada yang keluar dari dalam kelas”
Saat masih menjelaskan tujuannya tiba-tiba salah satu siswa di kelas memotong perkataan pak Roni.
“Kenapa pak?” Tanya sang siswa.
“Ini terkait dengan pak Ari, jadi polisi akan melakukan penyelidikan, karenakan dia wali kelas kalian, polisi meminta penyelidikannya menyeluruh” Ucap pak Roni.
“Ih, bikin repot bangat sih pak, kenapa kita harus ikut-ikutan juga? Yang punya masalahkan sudah jelas siapa orangnya?”
Ucap Yovi dari bangkunya, siswa yang lain pun ikut membenarkan.
__ADS_1
“Bapak tau, tapi... polisi mintanya seperti itu, lagian kalau kalian tidak salah, tidak perlu takutkan? jadi nanti nama kalian akan di panggil satu persatu” Timpal pak Roni.
Yalisa yang mendengar penjelasan pak Roni merasa sedikit khawatir, karena nasibnya sering kali tidak beruntung, dia takut nantinya dia akan tertuduh dengan apa yang tidak dia perbuat.
“Kasihan ibu ya Allah kalau nanti aku jadi tersangka, kayaknya semua pihak menyalahkan aku”~ Batin Yalisa.
Sementara Riski yang jadi sorotan kedua atas kasus pak Ari merasa tenang-tenang saja.
“Heh! nanti kalau di kasih duit juga entar mereka pada nunduk-nunduk, emang nyawanya pak Ari lebih berharga dari pada uang?”~Batin Riski.
Tidak lama dari penjelasan pak Roni tersebut, mereka pun di panggil namanya sesuai absen oleh pak Roni untuk menghadap sang penyidik di kantor kepala sekolah.
Satu persatu siswa keluar masuk dari ruangan kepala sekolah, mereka yang telah usai di periksa memberikan berbagai macam komentar.
“Gila, masa aku di tanya banyak hal, polisinya bikin kesal bangat, aku bilang saja semua enggak tau” Ucap siswi A.
“Iya, aku juga di tanya perihal pak Ari yang suka melecehkan siswa, aku sih jawabnya itu benar, karena kan teman ku dari jurusan administrasi pernah di raba-raba sama pak Ari” Timpal siswi B.
“Hahaha... berani bangat kamu, semoga saja pak Ari hilang selamanya, karena nanti kalau dia ketemu, dan kata-kata mu sampai ke telinganya, jangan harap kamu selamat” Ucap siswi A.
Mendengar perkataan temannya, siswi B merasa merinding, Yalisa yang berada di belakang bangku mereka hanya menyimak saja.
“Coba Mei ada disini, pasti aku akan sedikit tenang”~Batin Yalisa.
“Yalisa”
Pak Roni memanggil namanya, ternyata gilirannya sudah tiba, Yalisa dengan detak jantung tak menentu melangkahkan kakinya menuju kantor kepala sekolah.
Riski menatap tajam kepergian Yalisa dengan perasaan khawatir.
“Semoga dia lolos dari penyelidikan”~Batin Riski.
Yalisa pun berlalu dari kelasnya, sebelum sampai ke kantor kepala sekolah, Yalisa bertemu Leo yang kebetulan berdiri tepat di pintu kelasnya.
“Semangat ya sayang... ingat, kamu harus tenang jangan gugup, nanti kalau kamu gugup kamu di curigai”
Ucap Leo memberi arahan kepada kekasihnya.
“Oke, terimakasih sayang atas dukungannya”
Sahut Yalisa, seraya meninggalkan Leo yang berdiri di tempatnya.
Sesampainya ia di depan pintu kantor kepala sekolah, Yalisa mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk.
Tok tok tok..
“Assalamu'alaikum” Ucap Yalisa.
“Wa'alaikumussalam” Sahut beberapa orang dari dalam ruangan.
Ceklek...
Saat Yalisa berhasil membuka pintu, ia melihat di atas sofa telah duduk pak Aryo di temani bu Dewi dan bu Mona dan juga empat orang tua yang asing baginya.
Di antaranya adalah bu Maya yang mengenakan baju gamis biru dengan jilbab pasmina berwarna coklat dan ayah pak Ari bernama Tino yang sudah berumur mengenakan baju kemeja polos berwarna hitam dan celana jeans regular berwarna hitam pula.
Dan duanya lagi adalah polisi, satu berseragam lengkap, yang satunya lagi berpenampilan seperti detektif, memaki celana jeans regular panjang berwarna biru dan baju kaus lengkap dengan jaket kulit berwarna hitam.
“Silahkan masuk nak, mari duduk bersama kami disini” Ucap pak Aryo.
“Habis deh aku, mereka banyak bangat disini”~Batin Yalisa.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1