SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXXI (Aku Rindu)


__ADS_3

Jika tidak mungkin kau ku miliki di kehidupan ini


Maka akan ku ciptakan sebuah sejarah


Antara kau dan aku melalui ilusi


Ku kemas rapi bersama intuisi


Yang ku tuang dalam cerita


Hingga saatnya tiba seisi dunia membaca


Kalau di hati ku selalu ada Yalisa


Yang ku cinta sepanjang masa


____________________________________________


Riski yang takut kalau Yalisa akan benar-benar melemparnya, segera berdiri dari duduknya.


“Baik aku pulang, kalau itu membuat mu senang.”


“Bagus.” Yalisa pun kembali meletakkan gelas yang ia pegang ke wastafel.


“Ayo aku antar,” ucap Yalisa.


Kemudian Riski berjalan menuju pintu utama, sesampainya di teras, Riski memakai kembali sepatu sportnya.


“Loh, kesini naik apa Ki?” tanya Yalisa, yang tak melihat motor Riski.


“Motor.”


“Motornya mana?”


“Di depan warung kopi, dekat gang masuk rumah mu.” terang Riski yang telah selesai mengikat kedua tali sepatunya.


“Oh.”


“Kalau gitu aku pulang ya, jangan begadang.” ucap Riski seraya berlalu dari hadapan Yalisa.


“Hati-hati.” gumam Yalisa, lalu ia pun menutup pintu rumahnya, kemudian beranjak ke dalam kamar, dan menelentangkan tubuhnya di atas ranjang.


“Hufff... benar juga kata Riski, aku enggak boleh sedih dan harus makan teratur, aku harus lebih tegar, tapi...” Yalisa mengingat perkataan pedas Riski, yang mengatakan kalau ia jelek.


“Aku juga tahu kalau aku enggak cantik, tapi wajib bangat ya dia bilang secara terang-terangan begitu?” Yalisa kesal atas sikap Riski yang terlalu transparan.


“Ya sudahlah, lebih baik aku tidur sekarang.” Yalisa yang sudah sangat lelah akhirnya terlelap.


____________________________________________


Sementara Leo yang sedari tadi menunggu, tanpa sadar ketiduran dalam mobil, ia baru terbangun ketika ada seorang bapak paruh baya dengan jambang tebal mengetuk pintu kaca mobilnya.


Tuk tuk tuk!


“Astaga!” gumam Leo, lalu ia pun membuka separuh kaca mobilnya.

__ADS_1


“Ada apa pak?”


“Maaf nak, bapak pikir kamu lagi sakit atau lainnya, karena kami perhatikan sedari tadi dari warung, mobil mu tidar gerak-gerak, pada hal sudah berjam-jam.” terang si bapak padanya.


“Oh, maaf pak sudah membuat khawatir, tadi saya hanya ketiduran karena lelah.” Leo tak mengatakan niatnya yang sebenarnya.


“Begitu ya nak, apa mau minum dulu di warung?” tanya si bapak dengan sangat ramah.


“Enggak usah pak, terimakasih banyak.” lalu ia melihat jam di layar handphonenya yang kini menunjukkan pukul 23:15 malam, jadi tak mungkin lagi baginya untuk bertamu ke rumah Yalisa.


“Maaf pak, saya rasa, saya akan segera pulang ke rumah, terimakasih banyak atas tawaran minumnya.” ucap Leo.


“Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan nak, kalau masih mengantuk, lebih baik menepi.” terang si bapak seraya meninggalkan Leo kembali ke warung.


Lalu Leo dengan perasaan kecewa, memutuskan untuk pulang. Setelah 1 jam lebih menempuh perjalanan pulang, akhirnya Leo sampai ke rumahnya.


Ia pun memarkirkan mobilnya di garasi, lalu bergegas masuk ke dalam rumah.


“Kenapa baru pulang?” tanya bu Dita, yang ternyata belum tidur.


Leo menelan saliva nya sebelum menjawab pertanyaan sang ibu.


“Tadi Leo cari angin dulu bu.”


“Oh, bukan mampir ke rumah Yalisa kan?” tanya bu Dita yang seakan sudah tahu.


“Bukan bu, ya sudah Leo mau masuk kamar dulu, Leo cape dan ngantuk.” ucap Leo.


“Oke nak, tapi mulai besok kamu antar jemput Mei sekolah ya, kamu pakai mobil ibu saja, kasihan kan Mei kalau harus ke sekolah sendirian?” ujar bu Dita.


“Tapi bu, dari sini ke rumah Mei kan lumayan jauh, belum lagi jarak dari rumahnya ke sekolah, bisa ambruk Leo kecapean di jalan kalau tiap hari antar jemput dia.” terang Leo.


“Bu, jangan terlalu memaksa kehendak, lagi pula Mei itu anak orang kaya, ibu belum lihat bagaimana kehidupannya kan? Dia juga punya supir yang antar jemput tiap hari, jadi ibu enggak usah khawatir.” terang Leo seraya menuju kamarnya.


“Kalau begitu, kamu berikan dia vitamin yang ibu taruh di atas meja belajar mu besok!” ujar bu Dita.


“Iya!” Leo pun masuk ke dalam kamarnya tak lupa mengunci pintu, agar tak ada yang mengganggunya lagi.


Lalu ia melihat 3 botol vitamin ada di atas meja belajarnya.


“Ck!” Leo berdecak, lalu ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang seraya memejamkan mata, dan membayangkan wajah Yalisa.


“A-aku sayang bangat sama kamu Yalisa, sumpah, aku enggak mau pisah sama kamu, apapun caranya akan aku lakukan, agar kita balikan lagi.” batin Leo.


Lalu ia membuka matanya kembali, dan merogoh handphone yang ada di saku bajunya. Dan kembali melihat apakah pesannya sudah di baca oleh Yalisa.


“Kok belum di baca sih? Pada hal aku enggak di blokir, apa dia sengaja? Karena masih marah? Tapi....” Leo melihat waktu terakhir Yalisa aktif.


“Jam 16:35, berarti setelah kita pisah dia enggak buka handphonenya sama sekali ya?” ucap Leo, seraya melihat profil WhatsApp wanita yang ia cintai itu.


“Aku rindu, pada hal baru pisah beberapa jam, tapi rasanya sudah seperti setahun, mungkin ini efek putus kali ya tapi..., akhhh...” Leo menggaruk-garuk kepalanya.


“Aku harus bicara baik-baik sama dia besok, semoga saja dia mau menerima ku kembali.” batin Leo.


__________________________________________

__ADS_1


Pagi harinya, saat Yalisa telah tiba di sekolah, ia memutuskan untuk pergi ke taman untuk bersantai, sembari menunggu bel sekolah berbunyi.


Saat ia telah sampai ke taman, ia melihat Leo sedang duduk di salah satu bangku besi yang berjajar rapi dalam taman.


Sejujurnya ia ingin sekali mendatangi Leo kesana, namun ia tak punya keberanian, karena ia dan Leo sudah tak memiliki hubungan apapun, terlebih menurut Yalisa kata-kata yang ia lontarkan ke Leo kemarin cukup kasar.


Tapi, rasa rindu yang ada dalam dadanya bergejolak hebat, ia tak dapat memungkiri, bahwasanya ia ingin memeluk mantan kekasihnya itu.


“Aku mau balikan Leo.” gumam Yalisa.


Karena sudah tak tahan Yalisa membulatkan tekat, lalu melangkahkan kakinya menuju Leo.


Deg!


Baru beberapa langkah ia berjalan, jantungnya berdegup kencang, langkahnya terhenti, ketika ia melihat ada seorang wanita yang mendatangi Leo terlebih dahulu sebelum dirinya.


“Siapa?” Yalisa tak dapat mengenali wajah wanita itu karena menggunakan masker, dan juga wanita itu membelakangi Yalisa.Wanita itu langsung saja duduk di sebelah Leo, dan mengobrol akrab.


“Siapa wanita itu? Apa dia calon istri Leo?” batin Yalisa, yang berdiri 1 meter di belakang Leo.


“Katanya terpaksa, tapi kok ekspresinya bahagia begitu.” saat Yalisa akan meninggalkan Leo, tiba-tiba Leo mengecup bibir wanita itu dari balik maskernya.


“Hah!” mata Yalisa membulat, ia tak percaya Leo dengan mudahnya berbuat seperti itu.


“Dasar bangsa*! Gampang bangat dia mengover-over bibirnya kemana-mana, huh!” karena kesal, Yalisa mengambil sebuah batu sebesar genggaman tangannya, lalu ia pun dengan sekuat tenaga melempar calon istri Leo.


Puk!


“Au!” bidikan Yalisa tepat sasaran, yang membuat wanita bermasker itu kesakitan.


“Hahahaha...., rasakan! Siapa suruh ciuman di sekolah, dasar cowok siala*!” Yalisa tertawa puas seraya berkacak pinggang.


“Yalisa!” pekik Leo seraya memelototi Yalisa.


“Dasar pengkhianat, katanya enggak bisa hidup tanpa aku, sayang dan cinta pada ku, tapi kenyataannya berkata lain, baru kemarin kamu nangis tak mau kehilangan aku! Tapi sekarang kamu malah ciuman sama wanita lain!” Hardik Yalisa seraya berlari ke arah Leo.


Sesampainya ia di hadapan Leo, tanpa ampun Yalisa menjambak wanita yang belum ia lihat wajahnya itu.


“Dasar cewek gatal! Enggak tahu diri!” hardik Yalisa, dengan terus menarik-narik rambut si wanita.


“Yalisa, cukup Yalisa! Jangan sentuh calon istri ku!” pekik Leo.


Mendengar kata calon istri, Yalisa tambah naik pitam, dengan bringas ia melayangkan tinjunya ke perut Leo.


“Cowok brengse*, cowok sialan, tukang pemberi harapan palsu, kenapa kamu enggak mati saja sih!”


Leo tak dapat membalas serangan Yalisa, karena Yalisa adalah seorang wanita, lalu dengan cepat, Leo menangkap kedua tangan Yalisa yang sedang asyik memukul-mukul perutnya.


“Stop! Dengarin aku!” ucap Leo dengan wajah serius.


“Apa lagi yang harus aku dengar!” pekik Yalisa seraya meronta-ronta.


“Diam dulu! Dengar ya Yalisa! Alasan ku tak memperjuangkan mu, karena dia!” Leo mengarahkan matanya ke wanita yang duduk di atas bangku seraya memegang kepalnya yang terasa sakit.


“Dia adalah wanita terbaik, wanita penyabar, cantik dan kaya raya, enggak seperti kamu! Segala keburukan ada pada dirimu, aura mu juga tak mengenakan, jadi tolong jangan ganggu aku lagi, anggap saja selama ini aku khilaf, atau buta, enggak bisa lihat mana emas, mana kotoran.” terang Leo seraya melepas kedua tangan Yalisa, lalu Leo menggendong calon istrinya, seraya berlalu meninggalkan Yalisa.

__ADS_1


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


__ADS_2