SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CIX (Tanda)


__ADS_3

“Lihat rencana Tuhan ke depannya saja.” Riski yang tak ingin berdebat pun tak melanjutkan obrolan mereka lagi, dan ia lebih memilih memeluk Yalisa.


“Aku rindu jangan menolak,” ucap Riski.


Setelah berpelukan untuk beberapa saat mereka pun akhirnya masuk kembali ke dalam kamar.


Ketika Yalisa membuka jaket biru yang membalut tubuhnya, terlihat jelas di leher Yalisa masih ada bekas peninggalan Leo, walau kini sudah mulai pudar.


Perlahan mata Riski beralih ke perut Yalisa, yang masih terlihat seperti biasa.


“Mmm, Yalisa aku boleh nanya sesuatu enggak sama kamu?”


“Mau tanya apa?” jawab Yalisa seraya membereskan pakaiannya ke dalam lemari yang ada di sudut kamar.


“Akhir-akhir ini kamu merasa mual atau enggak enak badan?”


“Enggak tuh, memangnya kenapa Ki?” tanya Yalisa dengan polosnya.


“Mm, enggak sih, cuma nanya ajah, karena kan kamu akhir-akhir ini makan dan tidur kurang teratur.” ujar Riski.


“Apa mungkin Yalisa enggak hamil? Kalau enggak sih syukur bangat,” batin Riski.


Setelah acara merapikan baju telah selesai Yalisa yang ingin istirahat menyuruh Riski untuk keluar.


“Aku mau tidur, kamu boleh keluar sekarang, kalau Mei sudah datang, bilang aku disini,” titah Yalisa.


“Aku juga mau tidur,”


“Iya, tapi enggak disini juga kan?”


“Ini kan ranjangnya luas bangat, tidur bersebelahan juga enggak akan bersentuhan,” terang Riski.


Yalisa langsung berdiri di sebelah pintu seraya memegang hadle pintu.


“Ya sudah, kalau kamu mau tidur, aku keluar,” ujar Yalisa.


“Yah, payah bangat sih, tapi apa kamu enggak takut disini sendirian, agak serem loh, karena suka ada penampakan.”


“Apa bedanya kamu sama hantu? Ayo ah, aku mau tidur.” ucap Yalisa.


“Ck, ini kan villa ku, masa aku bisa terusir begini?” gerutu Riski seraya berjalan keluar kamar.


“Sampai nanti malam.” setelah mengucapkan salam perpisahan, Yalisa menutup pintu kamarnya.


Pukul 19:00 Yalisa terbangun dari tidurnya, ia pun bangkit dari ranjang.


Kemudian menuju toilet yang berada di dalam kamar untuk cuci muka. Setelah itu barulah Yalisa turun ke lantai satu. sesampainya ia di lantai satu, ia melihat Zuco Marco dan Riski sedang bercengkrama seraya membakar ikan di sebuah tungku pemanggangan.


Riski yang melihat kehadiran Yalisa berdiri di teras langsung menyapanya.


“Sudah bangun?”


“Iya Ki, disini enak bangat tidurnya,” jawab Yalisa.

__ADS_1


“Enak lah, enggak usah pake AC juga udah dingin,” ujar Riski.


“Sini, gabung sama kita bentar lagi ikannya matang,” seru Marco.


“Kapan kalian beli ikan?”


“Tadi beli lewat online.” sahut Zuco, lalu Yalisa menganggukkan kepalanya. kemudian matanya celingak-celinguk melihat sekitaran.


“Cari apa?” tanya Riski.


“Mei belum sampai juga?”


“Kan tadi pagi dia udah bilang enggak bisa ikut,” ucap Zuco dengan polosnya.


“Apa?” Yalisa mengernyit, lalu Riski dan Marco memelototi Zuco, sontak Zuco


mensumpal mulutnya sendiri.


“Iya, dia enggak bisa ikut, katanya ada urusan,” terang Riski.


“Kok, kamu bohong sih sama aku?”


“Sorry, kalau aku jujur pasti kamu enggak mau ikut kesini,” ucap Riski.


“Benar Lis, kita semua kan pengen hibur kamu semampu kita, enggak ada niat lain kok, masa karena Mei enggak bisa ikut, kita enggak jadi pergi.” terang Marco membantu Riski untuk memperjelas situasinya.


“Maaf ya, kalau kita bohong sama kamu.” ungkap Riski dengan hati yang tulus.


Melihat kejujuran teman-temannya, akhirnya Yalisa pun memaafkan mereka.


Saat Yalisa menaruh ikan yang masih berada dalam panggangan, tiba-tiba Zuco berbisik ke telinga Riski.


“Enggak ada minuman haram bro?”


“Ssttt, ada tuh di dalam kulkas kamar ku, jangan di keluarin sekarang, bisa kena omel dan minta pulang dia malam ini juga kalau sampe lihat.”


“Oh, oke-oke,” ucap Zuco tanda mengerti.


Selanjutnya mereka pun duduk di kursi masin-masing yang telah tersedia sesuai jumlah mereka.


“Ayo makan-makan!” seru Yalisa, seraya melayani mereka bertiga, menaruh nasi dan ikan di piring mereka masing-masing.


Yalisa yang bersemangat, mencoba masakan teman-temannya dan langsung mencubit daging ikan mas yang wanginya menggugah selera.


“Ummm!!! Enak bangat!” itulah kata yang terungkap dari mulut manis Yalisa setelah memasukkan daging ikan mas ke dalam mulutnya.


Ketiga sekawan yang melihat wajah Yalisa begitu bersemangat langsung merasa bahagia.


“Ayo kita juga harus coba hasil masakan kita sendiri!” ujar Marco.


Lalu mereka berempat pun fokus menyantap apa yang ada di atas piring mereka masing-masing.


Ketika sudah selesai makan, Zuco yang duduk di selah Yalisa melihat bekas merah di leher Yalisa.

__ADS_1


“Wah! Gila ya kalian berdua.” ucap Zuco mencoba menggoda.


“Apa sih?” tanya Yalisa.


“Pantasan tadi kalian lama di atas, rupanya lagi ehem-ehem ya?” lanjut Zuco menggoda Yalisa dan Riski.


“Kenapa-kenapa?” tanya Marco.


“Tuh, ada bekas cinta di leher Yalisa.” ucap Zuco, yang sontak membuat Yalisa menutupi lehernya dengan tangannya.


“Sudah-sudah, ngomong apa sih kalian?!” pekik Riski.


Yalisa yang malu tanpa sepatah kata langsung berlari ke kamarnya di lantai 2 meninggalkan mereka bertiga.


“Curang bangat sih Ki, tahu gitu kita juga bawa cewek,” ucap Marco.


“Salah sendiri kenapa enggak bawa,” sahut Riski.


“Gimana? Enak enggak? Aku belum pernah gituan.” ungkap Zuco.


“Ya sudah pasti enak lah, makanya pacaran dong!” ejek Riski pada kedua temannya. Riski yang menjaga privasi Yalisa, tak mengatakan hal yang sebenarnya.


_____________________________________________


Yalisa yang ada di kamarnya merasa sangat malu.


“Kok aku lupa pakai jaket sih,” gumam Yalisa.


“Tapi...., kenapa Riski enggak tanya apa-apa soal leher ku ini? Apa dia sudah lihat? Atau gimana? Kalau dia sampai tahu soal Leo, bisa ribut besar nih,” batin Yalisa.


Yalisa yang takut kecolongan lagi, langsung saja memakai jaketnya kembali, dan masuk ke dalam selimut.


Lalu ia pun mengirim pesan pada Riski, yang berisi.


“Aku tidur duluan, cape,” Yalisa. 📱


“Ah! Aku enggak siap ketemu dia sekarang, gimana kalau dia tanya macam-macam?” saat Yalisa masih resah, tiba-tiba ia ingat bahwa Riski telah melihat seluruh tubuhnya satu minggu yang lalu, saat ia mencoba bunuh diri.


Yalisa tak mengerti, mengapa Riski yang selalu protektif padanya, tak menanyakan hal janggal yang ada di tubuhnya.


“Akhh! Bikin pusing, pikirin besok ajah deh kasih alasan apa sama dia, kalau dia tetap diam, aku juga akan diam.” gumam Yalisa, yang kemudian memutuskan untuk tidur.


____________________________________________


Riski yang telah membaca pesan Yalisa pun, mengirim balasan.


“Iya, jangan lupa kunci pintu,” Riski.📱


“Dia sudah tidur, ayo ke kamar ku buat minum.” ajak Riski kepada kedua temannya.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️

__ADS_1


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2