
Sesampainya Leo ke meja makan, ayah dan ibunya ternyata tengah ada disana.
“Loh, menantu ku mana?” tanya bu Dita.
“Di kamar mandi bu, katanya masih bersihin make up nya.” terang Leo.
“Oh, kenapa kamu enggak bantuin?” tanya bu Dita.
“Ah, yang benar ajah bu, masa Leo ikutan juga ke kamar mandi,” ujar Leo.
“Ya enggak apa-apa, kalian kan sudah suami istri, istri mu kesulitan begitu kok enggak di bantuin," ucap pak Rasyid sang ayah.
“Leo masih canggung yah,”
“Nah, biasakan mulai sekarang,” ujar pak Rasyid.
“Betul, dia kan sudah baik sama ibu dan keluarga kita, sayangi dia dan layani dia dengan baik,” ucap bu Dita.
“Iya yah, bu.” ucap Leo, yang kemudian mengambil nasi ke piringnya.
Setelah ayah dan ibunya selesai makan, mereka pun beranjak ke kamar untuk istirahat, tapi sebelum itu, bu Dita berkata pada Leo.
“Semoga sukses! Berikan ibu cucu secepatnya,”
Mendengar ucapan sang ibu, Leo menjadi tersedak.
“Uhuk uhuk uhuk!”
Bukannya membantu, bu Dita dan pak Rasyid malah menertawainya.
“Ibu benar-benar ya!” pekik Leo.
Bu Dita dan pak Rasyid meninggalkan Leo yang masih kesakitan.
Setelah baikan, Leo kembali menyantap nasi di piringnya, lalu tiba-tiba ia mendapat pesan WhatsApp dari Kevin, ketika Leo membuka isi pesannya.
“Uhuk uhuk uhuk!” Leo kembali tersedak, bagaimana tidak, ternyata isi pesan Kevin adalah sebuah video mantap-mantap.
“Mereka semua mau membunuh ku secara halus ya!” gumam Leo.
Ia pun segera minum dan menghentikan makannya, karena sudah tak kuat, bila ia menerima pesan dadakan lagi.
“Sekali lagi ada yang bikin tersedak, mungkin aku sudah pingsan,” batin Leo.
Untuk menenangkan diri sejenak, Leo beranjak ke kolam berenang yang berada di sisi kiri rumahnya.
Ia duduk di sebuah kursi seraya menatap bintang-bintang di langit.
“Pada hal usia ku masih 17 tahun, tapi sudah menikah, kalau lancar punya anak di usia 18 tahun, astaga aku harus kerja keras bangat nih untuk menghidupi keluarga ku nanti,” gumam Leo.
Memikirkan hal yang belum terjadi itu membuatnya pusing. Ia pun memijat pelipisnya yang terasa pusing.
_______________________________________________
Mei yang baru selesai mandi mengeringkan tubuhnya dengan handuk, lalu ia membuka kancing tasnya.
__ADS_1
Yang ternyata di dalamnya adalah sepasang baju malam pertama, kado khusus dari Yalisa.
Ketika ia membuka plastik baju tersebut, ia menjadi ragu untuk mengenakannya.
Sebab baju itu sangat tidak layak untuk di pakai, baju hitam menerawang yang sangat rawan, saat Mei mengenakan ke tubuhnya, ukurannya malah di atas lutut, belum lagi model ********** yang seperti jaring laba-laba.
“Ini sih sama dengan enggak pakai baju, belajar dari mana sih dia?” batin Mei.
Saat Mei akan memasukkannya kembali ke dalam tas, ia kembali teringat akan perkataan Yalisa.
FLASHBACK ON
“Mei, kamu harus pakai ini di malam pengantin mu!” ucap Yalisa seraya menahan tawa.
“Apa ini?” tanya Mei.
“Baju malam pertama, pokoknya kamu harus pakai, kalau kamu mau Leo tergila-gila sama kamu!” ujar Yalisa.
Mei yang ingin sang suami mencintainya sepenuh hati pun menurut, tanpa tahu desaign bajunya seperti apa.
“Pokoknya pakai ini ya! Jangan yang lain!” ujar Yalisa.
“Oke, siap!” ucap Mei.
FLASHBACK OFF
“Pakai atau enggak ya?” gumam Mei, namun karena ingin memberi yang terbaik pada sang suami, akhirnya Mei memakai baju haram itu.
Setelah selesai, Mei keluar dari dalam kamar mandi, namun ia tak mendapati Leo dalam kamar itu.
Saat Mei akan duduk di atas ranjang tiba-tiba, ceklek! Leo masuk ke dalam kamar. Yang membuat keduanya sama-sama terkejut.
“Akhh!!” mereka berteriak histeris seperti baru saja melihat hantu, anggota rumah yang mendengar hanya senyum-senyum di tempatnya masing-masing, mereka berpikir, penyatuan dua insan telah terjadi.
Mei yang terkejut menutup kedua bukit kembar dan kue serabi lempit yang terpampang nyata dengan kedua tangannya.
“Kenapa enggak ketok pintu?!” ucap Mei.
“Ini kan kamar ku!” sahut Leo gemetaran.
Rasanya pemandangan kali ini lebih mencekik leher dari pada peristiwa tersedak yang ia alami tadi.
“Terang-terangan bangat dia mau melakukan malam ini juga,” batin Leo.
Cukup lama mereka berdua di posisinya masing-masing.
Sampai akhirnya Mei pelan-pelan melangkah menuju ranjang.
“Jangan ngintip!” pekik Mei.
“Siapa juga yang ngintip? Lagian kenapa harus pakai baju miskin begitu sih?” ujar Leo.
“Jadi kamu enggak suka aku pakai ini?”
Leo bingung harus menjawab apa, kalau ia bilang iya, tentu saja akan melukai perasaan istrinya.
__ADS_1
Kalau ia berkata tidak, berarti malam ini mereka harus menjalankan sunnah.
Mei yang telah berada dalam selimut pun menutup seluruh tubuhnya.
“Aduhh, malu-maluin bangat, harusnya aku enggak usah pakai ini tadi,” batin Mei.
Leo yang berada di depan pintu pun mulai merasa konyol, apabila ia harus berdiri disitu lebih lama lagi.
Cetek!
Saat Mei berfikir Leo telah keluar, ia pun perlahan membuka selimut yang menutupi wajahnya.
“Akhhh!” ia kembali berteriak, karena ternyata Leo sedang berdiri di pinggir ranjang.
“Jangan teriak-teriak dong, nanti orang pikir kita lagi aneh-aneh,” ujar Leo.
“Ma-maaf,” ucap Mei.
Lalu Leo merebahkan tubuhnya di sebelah Mei, seraya menatap ke langit-langit kamarnya.
Keduanya hening, ingin tidur pun tak mampu, sebab jantung keduanya berdegup dengan kencang.
Pukul 01:00, dini hari saat semua orang yang ada dalam rumah telah terlelap, keduanya masih dalam di lema.
“Mungkin Mei memang mau melakukan malam ini juga, buktinya ia pakai baju seksi begitu, wajar sih, toh kita memang sudah sah,” batin Leo.
Ia yang sadar akan kewajibannya mulai memiringkan tubuhnya ke arah sang istri.
“Aku tahu kamu belum tidur,” ucap Leo.
“Terus?” batin Mei.
“Apa kamu sudah siap, kalau kita melakukan kewajiban kita masing-masing sebagai suami istri?” tanya Leo, tangannya pun mulai mengelus rambut indah sang istri.
“Aku harus bagaimana Tuhan?” batin Mei.
Leo yang ingin menjadi suami yang baik pun mengecup pipi mulus Mei. Yang membuatnya perlahan membuka matanya.
“Apa kamu sudah siap?” tanya Leo.
“A-aku selalu siap, tapi apa kamu yakin ingin melakukannya? Karena setelah ini bisa saja kita akan memiliki....” sebelum Mei usai mengatakan isi hatinya, Leo mengecup bibirnya.
“Untuk itu kita menikah.” malam itu menjadi terasa panjang untuk keduanya.
Dua hati yang kini menyatu dalam nikmatnya surga dunia.
Meski keduanya masih dalam keadaan lelah pada aktivitas pernikahan mereka, namun tak menyulutkan semangat mereka untuk bercocok tanam hingga mencapai 3 sesi, mereka baru selesai memadu kasih setelah pukul 06:00, aktivitas panas mereka di akhir dengan paguta*n di bibir.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
Nantikan karya baru dari author pada tanggal 15 Desember 2021.
__ADS_1