
Mei yang telah tiba di rumahnya, buru-buru naik ke lantai 2 menuju kamarnya.
Brak!
Doom!
Mei membanting pintu kamar serta melemparkan tasnya ke sembarang arah karena merasa kesal.
“Si brengse* itu, bisa-bisanya dia tahu semua tentang aku!” pekik Mei.
Mei melempar tubuhnya ke atas ranjang, seraya memukul-mukul ranjangnya.
“Dari mana dia tahu? Hum! Dasar para pembantu tolo* pasti karena mereka enggak hati-hati, kalau saja mereka bekerja dengan rapi pasti enggak akan begini, kalau saja si Ari itu enggak kurang ajar, pasti penyakit ku enggak kambuh lagi.”
FLASHBACK.
Di hari pak Ari melecehkan Yalisa, Mei pulang di jemput oleh supirnya, saat dalam perjalanan ia bertemu dengan pak Ari yang sedang melaju dengan motornya.
Saat mobil Mei membelok ke pom bensin, tak di sangka pak Ari juga ikut singgah untuk mengisi bahan bakar.
Pak Ari yang melihat Mei, dari kaca mobilnya yang sedang terbuka membuka obrolan sembari menunggu antrian.
“Kamu enggak pulang bersama wanita jalang itu ya?” tanya pak Ari pada Mei yang sedang memakan keripik kentang. Sontak Mei menoleh ke arah pak Ari.
“Maksudnya siapa pak?” jawab Mei.
“Siapa lagi sampah kelas kalian?” tanya pak Ari kembali.
“Enggak ada satu pun wanita jalang di kelas ku pak.” jawab Mei dengan tatapan mata malasnya.
“Hahaha, kamu lihat, aku yang seorang guru di hajar habis-habisan oleh siswa sendiri, hanya karena teman jalang mu itu, apa mereka berdua ada hubungan khusus?” ucap pak Ari dengan serapahnya.
“Itu bukan urusan ku, lagian bapak layak di perlakukan begitu.” sahut Mei dengan menyipitkan matanya.
“Ya sudahlah, kamu memang belum mengerti dunia orang dewasa, yang terpenting kamu jangan mengikuti sifat buruknya, terlebih aku lihat dia itu memiliki hati yang busuk, dan sifat psikopat, beraninya dia menambah-nambah cerita soal perlakuan ku tadi pagi padanya.” pungkas pak Ari, yang kemudian mendorong motornya yang sedari tadi mengantri untuk di isi bahan bakar.
Mei yang mendengar kata psikopat merasa tersinggung, seolah-olah ia sedang di dominasi pak Ari.
“Pak Ari itu ada-ada saja ya non, omongan sendiri enggak bisa di jaga, pada hal dia seorang guru.” ucap sang supir.
Pak Ari yang telah selesai terlebih dahulu menyalakan klakson motornya seraya melihat ke mobil Mei.
“Pak,” ucap Mei pada sang supir.
“Iya non?” sahut sang supir.
“Kejar motor guru ku yang tadi.” titah Mei dengan wajah pasifnya.
__ADS_1
“Baik non,” sahut sang supir.
Setelah mereka selesai mengisi bahan bakar, sang supir melajukan mobil dengan kecepatan 100 km/ jam membelah jalan raya untuk mengejar pak Ari.
Mei yang telah tahu tempat tinggal pak Ari, bisa menebak jalan mana yang akan di lalui oleh gurunya itu.
“Ayo lebih cepat lagi.” ucap Mei.
“Ini sudah cepat non.” sahut sang supir
“Ku bilang cepat ya cepat!” hardik Mei.
Selang beberapa saat akhirnya mereka dapat menyusul pak Ari, yang dalam keadaan santai mengendarai motornya.
“Tabrak.” ucap Mei dengan datarnya.
“Apa non?” sahut sang supir.
“Telinga mu sumbat ya? Ku bilang tabrak!” hardik Mei.
“Ta ta tapi non, itu bahaya.” ucap sang supir dengan terbata-bata.
“Aku sadar dengan apa yang aku katakan, cepat tabrak!” titah Mei kembali.
“Saya enggak bisa non, nanti guru nona bisa meninggal atau yang lainnya.” ucap sang supir yang mulai berkeringat dingin karena takut.
Pak Ari pun ikut berhenti dan menurunkan standar motornya di pinggir jalan, lalu pak Ari perlahan berjalan ke arah Mei, untuk mencek keadaan Mei.
“Dasar enggak berguna, apa gunanya kamu terima gaji besar selama ini.” gumam Mei seraya turun dari mobil.
“Geser!” hardik Mei pada supirnya, sang supir pun pindah di tempat duduk yang berada di samping kemudi.
“Pakai sabuk pengaman mu, kalau tidak mau mati sekarang.” ucap Mei seraya memakai sabuk pengamannya juga.
Pak Ari yang melihat Mei masuk lagi dalam mobilnya, memutuskan untuk kembali ke motornya.
Mei yang telah memegang kemudi, kemudian melaju dengan kecepatan penuh, saat pak Ari sudah dekat dengan motornya, Mei tanpa ampun dan pikir panjang membanting setir ke arah samping kirinya yang targetnya adalah pak Ari, hingga pak Ari yang tak tahu apapun terserempet, tubuhnya terpental ke arah hutan yang ada di pinggir jalan.
Sang supir yang melihat kenekatan Mei gemetaran, keringat dinginnya pun bercucuran.
“Keluar, dan bawa motornya, ikuti aku.” ucap Mei, sang supir langsung saja keluar dari dalam mobil untuk mengambil motor pak Ari, ia yang sudah beberapa tahun bekerja untuk Mei Lissah, yang di hadapannya selalu manis, penyabar dan juga santun, dalam sekejap berubah menjadi seseorang yang tak ia kenal.
Perlahan Mei melajukan mobilnya, ke dalam hutan yang keadaannya bisa di lewati mobil.
“Hum, beruntung si brengse* itu lewat jalan sepi dan hutan begini.” gumam Mei seraya menyeringai.
Dirasa mobilnya tak terlihat lagi dari jalan raya, Mei pun turun dari dalam mobil tak lupa ia mengambil sebilah pisau lipat berukuran mini dari dalam tasnya.
__ADS_1
“Tadinya pisau ini untuk memotong tangkai bunga di sekolah, tapi enggak apa-apalah, buat potong yang lain juga.” gumam Mei, seraya turun dari mobilnya dan menguncinya terlebih dahulu sebelum ia mencari tubuh pak Ari.
Sang sopir yang wajahnya kini telah menjadi pucat mematung di atas motor pak Ari.
“Turun, kita cari tubuhnya.” ucap Mei.
Sang supir pun menuruti titah dari majikannya, mereka pun mencari tubuh pak Ari ke tempat yang tadinya pak Ari terpental.
Tak perlu usaha banyak, Mei pun menemukan tubuh pak Ari tergeletak di bawah pohon beringin dalam keadaan setelah sadar.
“A, apa yang kamu lakukan.” ucap pak Ari dengan suara yang pelan.
“Heh? Inilah yang aku lakukan kalau ada orang yang mengungkit masa lalu ku.” ungkap Mei dengan wajah horornya.
“Apa maksud mu Mei.” ucap pak Ari.
“Kamu tahu dari mana masa lalu ku?!” tanya Mei penuh selidik.
“Maksud mu apa anak laknat!” hardik pak Ari yang sudah tak berdaya.
Lalu Mei jongkok di samping pak Ari dan memandangi wajah pak Ari yang di kepalanya sedang mengalir darah segar.
“Ho oh..., sudah sekarat begini masih tidak mau mengaku, aku sudah berusaha menyembunyikan masa lalu itu, aku juga sudah meninggalkan negara itu, herannya masih saja ada orang-orang yang tahu, dan mencari tahu tentang itu!” Mei dengan mata berkaca-kaca melayangkan tinjunya ke hidung pak Ari, hingga mengeluarkan darah.
“Non, sudah non nanti dia mati.” ucap sang supir dengan tubuh gemetaran.
Lalu Mei melirik sang supir dengan tatapan mata tajam.
“Mau jadi yang selanjutnya?” sahut Mei dengan menyeringai.
Sang supir hanya menggelengkan kepalanya, lalu Mei dengan sigap menggeledah saku baju dan celana pak Ari, tak menemukan apa yang ia cari, Mei pun lanjut menggeledah tas pak Ari untuk mengambil handphone pak Ari.
“Buka sandinya.” ucap Mei, pak Ari menggelengkan kepalanya.
Lalu Mei mengeluarkan pisau yang ada dalam saku bajunya.
Lalu Mei membuka pisau lipatnya dan meletakkannya di leher pak Ari.
“Mau mati sekarang apa nanti?” ucap Mei, lalu dengan terpaksa pak Ari membuka sandi handphone yang di lihat langsung oleh Mei, setelah sandi terbuka, Mei merampas handphone tersebut dari tangan pak Ari.
“Sampai disini riwayat mu.” ucap Mei
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1