SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXVI (Obsesi )


__ADS_3

Pernahkah kau menyukai seseorang


Hingga membuat mu bersemangat


Tak sabar menunggu hari terang?


Hanya untuk melihat dia yang ada di kepala setiap saat?


Dan, pernahkah kau seperti ku?


Yang sebelum terlelap dalam mimpi


Membayangkan dalam angan


Hidup mesra bersama dia yang tersayang


___________________________________________


Setelah hampir 1 jam menempuh perjalan, akhirnya mereka tiba di depan gerbang rumah Mei.


Tin tin tin tin tin tiiiiin!!


Leo menekan klakson mobil secara beruntun, membuat sang satpam berlarian dari arah rumah menuju gerbang.


Drrrkkk....


Sang satpam pun membuka gerbang dengan lebar.


“Siapa ya?” batin sang satpam, yang tak mengenali mobil Leo, lalu Leo membuka kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya.


“Woi! Minggir!” pekik Leo, melihat Leo berteriak pada satpamnya, itu cukup membuat Mei jengkel.


“Apaan sih kamu.”


“Diam!” lalu sang satpam menyingkir dari tengah jalan yang menghalangi mobil Leo masuk.


Leo pun memasukkan kepalanya kembali, lalu melajukan mobil dengan pelan. Saat akan berpapasan dengan sang satpam, Mei membuka separuh kaca dari bagian pintunya.


“Ini saya pak.” ucap Mei dengan senyum manis.


Belum sempat sang satpam menjawab, Leo menggas mobilnya dengan cepat, yang membuat Mei kaget.


Sang satpam hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah teman majikannya itu.


“Jalannya biasa saja, kalau aku kenapa-napa gimana?” ucap Mei dengan cemberut.


Seketika Leo melirik sinis Mei yang wajahnya menyebalkan baginya, setelah mereka sampai ke depan pintu utama, Leo turun dari dalam mobil, lalu ia membukakan pintu mobil sebelah Mei.


Klek!


“Cepat turun, aku mau pulang.” Leo sama sekali tak mau membantu Mei yang bekas operasinya belum kering.


“Sabar dong.” Mei pun turun dengan perlahan, sebenarnya Leo kasihan melihatnya, tapi ia tak mau memberikan sedikit kebaikannya pada Mei, agar wanita itu sadar, kalau Leo bukan yang terbaik untuknya.


Dari dalam rumah satu persatu ART Mei berdatangan.


“Non kenapa?” tanya Winda, salah satu ART rumahnya.


“Bukan apa-apa,” jawab Mei.


Tak ada yang berani bertanya lebih lanjut, karena Mei bukan orang yang banyak omong di hadapan mereka,namun tak berarti Mei judes pada para staffnya.


“Tolong bantu dia ” ujar Leo pada Winda.


“Baik tuan.” Winda pun memapah Mei.


“Kamu enggak masuk dulu?” ucap Mei.


“Enggak,” sahut Leo, seraya masuk ke dalam mobil, dengan cepat ia melajukan mobilnya meninggalkan Mei begitu saja.


“Ayo non,” seru Linda.


“Aku bisa sendiri.” terang Mei, yang cara berjalannya seperti orang normal.


Mei pun naik ke lantai 2, menuju kamarnya dengan menyusuri anak tangga.


Kriet....


Mei membuka pintu dan langsung masuk ke dalam kamarnya, saat ia akan merebahkan badannya di atas ranjang, Mei tiba-tiba berhenti, lalu ia melirik ke arah cermin persegi 4 panjang di meja hiasnya.


Kemudian Mei mendekat ke cermin itu, ia melihat wajahnya sendiri dengan seksama.


“Aku cantik kok?” gumamnya, lalu Mei menyingkap kardigan yang ia pakai.


“Huh.” kini ia dapat melihat bekas pisau medis yang membelah perutnya.


“Tapi kenapa aku enggak beruntung?” Mei kasihan pada dirinya sendiri, rasanya ingin sekali ia menangis, namun air matanya tak mau keluar.

__ADS_1


“Hah! Air mata saja sudah bagai emas untuk ku.” ucap Mei.


Lalu ia kembali menutup perutnya, kemudian bergegas menuju ranjang.


Pelan-pelan ia rebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu.


“Mama, papa, Mei kangen.” perasaannya begitu sedih, bila mengingat orang tuanya yang sudah lama tak pulang, jangankan menelpon, saat Mei telepon pun mereka enggan untuk mengangkatnya.


Mei hanya memantau kegiatan ibu dan ayahnya dari media sosial.


Di saat gundah-gundahnya, ia teringat akan pesan bu Dita calon mertuanya.


Ia menjadi bersemangat, karena ia punya alasan untuk menelepon orang tuanya. Segera Mei bangkit dari rebahan nya.


Dan menekan bel yang ada di sebelah ranjang, ketika bel itu berbunyi seisi rumah akan mendengarnya, dan para ART akan datang ke kamar Mei.


Tok tok tok!


“Masuk,” ucap Mei.


Kriettt... saat pintu terbuka ternyata itu adalah Winda.


“Ada yang bisa saya bantu non?” tanya Winda.


“Pinjam handphone mu dong mbak.” ucap Mei.


Lalu Winda mendekat ke arah Mei, dan tanpa tanya menyerahkan handphonenya, ya, walau dalam hatinya penasaran. Dengan sigap Mei mendial nomor ibunya.


Trut... trut.. trut.... tak lama telepon itu pun di angkat oleh sang ibu.


“Kan, kalau dari handphone orang lain pasti di angkat.” batin Mei.


“Halo,” Bu Zura. 📱


“Mama,” Mei. 📱


“Mei?” bu Zura. 📱


“Iya, maaf ganggu waktu mama, Mei cuma mau bilang kalau lusa Mei mau lamaran sekaligus tunangan.” Mei. 📱


“A-apa?” bu Zura.📱


Winda dan bu Zura yang mendengar kabar itu terkejut, karena begitu mendadak.


“Tapi mama...” bu Zura. 📱


“Harus datang, aku hanya akan menyusahkan mama papa dua kali lagi dalam hidup ku, pertama besok lusa, selanjutnya setelah lulus sekolah.” Mei. 📱


Mendengar kata baik dari ibunya membuat Mei sedih, seolah ibunya memang tak menginginkannya lagi.


“Terimakasih banyak ma.” Mei. 📱


“Sama-sama, mama tutup ya.” bu Zura. 📱


Setelah selesai menelepon, Mei mengembalikan handphone Winda. Banyak pertanyaan di hati Winda, namun ia tak berani mengutarakannya.


“Mbak.”


“Iya non?”


“Tolong belikan ke toko 2 handphone baru,” ucap Mei.


“Baik non.” sahut Winda, seraya keluar dari kamar Mei.


“Akhhh... cape, sebaiknya aku tidur.” gumam Mei, seraya memejamkan matanya.


___________________________________________


Leo yang dalam perjalanan ternyata tak kembali ke rumahnya, melainkan ke rumah Yalisa.


Senja sore yang telah terlihat di langit mengiringi perjalanan Leo.


“Aku mau ketemu, aku enggak mau pisah, aku menyesal sudah bilang putus.” batin Leo, seraya menambah kecepatan mobilnya.


Tak butuh waktu lama, Leo telah sampai di dekat rumah Yalisa, tepatnya di depan gang rumah mantan kekasihnya itu.


“Saat ia mau turun tiba-tiba ia melihat sosok Riski yang duduk di sebuah warung kopi yang ada di sebelah gang masuk rumah Yalisa.


“Mau apa dia kesini?” gumam Leo.


Leo pun menunda untuk keluar mobil, karena menurutnya kalau ia bertemu Riski, itu hanya akan menghalanginya berbicara dengan Yalisa.


Lalu Leo mengambil handphone dari saku baju kemejanya.


Ia pun menekan tombol on/off pola handphonenya, kemudian membuka aplikasi WhatsApp nya.


“Alhamdulillah.” gumam Leo, yang ternyata ia masih dapat melihat photo profil Yalisa.

__ADS_1


Leo pun memutuskan untuk mengirim pesan singkat pada Yalisa.


“Apa kamu sudah makan?” Leo. 📱


Dalam sekejap pesan yang ia kirim centang dua, namun bukan warna biru.


Leo terus menunggu dalam mobil, begitu pula dengan Riski, yang telah menghabiskan 3 gelas kopi di warung itu.


“Yalisa kok enggak baca-baca pesan aku sih? Pada hal statusnya centang 2.” batin Riski seraya menggoyang-goyang lututnya.


“Pada hal aku khawatir setengah pingsan, aku penasaran apa yang mereka bicarakan waktu ketemu tadi, kalau sampai Leo nyakitin hati Yalisa, aku cabut lidahnya, biar dia enggak bisa ngomong lagi!” batin Riski.


Tak terasa waktu telah memasuki azan Magrib, Riski yang sudah lelah menunggu memutuskan untuk sholat dahulu, di mesjid yang jaraknya 1 meter dari warung.


“Saatnya kirim dokumentasi sholat sama ayah.” gumam Riski, karena setelah masalah besar yang ia timbulkan beberapa bulan yang lalu, ia di wajibkan oleh ayahnya, untuk mengirim photo dokumentasi ibadah lengkap dengan tanggal dan lokasi dimana dia sholat, menggunakan aplikasi yang tak bisa di edit waktunya.


Beda hal dengan Leo, ia memilih tak sholat, karena ingin mengambil kesempatan untuk bertemu Yalisa terlebih dahulu.


Setelah Riski meninggalkan warung selama 5 menit, Leo memutuskan untuk turun dari dalam mobil, baru ia memegang handle pintu ia melihat Yalisa yang menarik sebuah koper berjalan bersama ibunya menuju ke pinggir jalan.


Leo pun melepas handle pintu itu kembali, ia memutuskan untuk memperhatikan sejenak, apa kira-kira yang akan Yalisa lakukan.


Riski yang telah selesai sholat melihat Yalisa di pinggir jalan, bukannya mendatangi Yalisa yang ia tunggu sedari tadi, Riski malah memilih bersembunyi ke dalam warung, berbaur dengan bapak-bapak yang sedang bergosip tentang istri mereka.


“Bisa gawat kalau aku ketemu ibunya, enggak pas bangat waktunya kalau sekarang.” batin Riski, seraya memesan secangkir kopi lagi.


Cukup lama keduanya menunggu di tempat mereka masing-masing, hingga tak sadar Riski juga ikut bersambung kata dengan bapak-bapak yang sedari tadi membicarakan perihal rumah tangganya.


Karena Riski adalah yang paling muda di antara ke 6 pria paruh baya yang ada dalam warung tersebut, mereka pun memberikan nasehat pada Riski.


“Nanti kalau kamu mau menikah, carilah istri yang sederhana, enggak perlu cantik, asalkan ia setia, jangan seperti saya, punya istri cantik, di lirik banyak pria, kalau uang yang saya kasih kurang, maka istri saya akan marah-marah, bahkan pernah sampai enggak pulang ke rumah, kamu tahu dia nginap dimana?” terang salah seorang bapak yang usianya kira-kira 51 tahun.


“Dimana pak?” ucap Riski dengan rasa penasaran.


“Di rumah pria asing, yang uang dan tampangnya 100 kali lipat lebih dari saya, saya sangat marah, tapi enggak bisa apa-apa, karena saya sangat mencintai dirinya.” ungkap si bapak lalu menyeruput kopinya lagi.


Riski yang mendengar curhatan bapak itu ikut sedih, tapi ia bersyukur karena ialah yang memperlakukan wanita seperti itu.


“Pokoknya, yang paling penting hatinya, bukan wajahnya.” terang lanjut si bapak dengan raut wajah kecewa.


“Baik pak,” ucap Riski.


“Berarti aku enggak salah pilihkan? udah paling benar suka sama Yalisa.” batin Riski.


“Eh!” Riski tiba-tiba teringat akan niatnya untuk bertemu Yalisa, sontak ia berdiri dari duduknya yang membuat para bapak-bapak itu terkejut.


“Mau kemana?” tanya salah satu bapak lainnya.


“Aku mau ketemu orang pak.” ucap Riski seraya mengeluarkan dompetnya.


“Berapa bu?” tanya Riski pada ibu pemilik warung.


“3000 nak.” jawab si ibu. Kemudian Riski melihat wajah teman-teman barunya itu.


“Oke.” Riski pun mengambil 7 lembar uang dengan gambar presiden pertama Indonesia.


“Ini bu.” Riski menyodorkan uang tersebut pada ibu pemilik warung.


“Banyak bangat nak, kan cuma 3000.” ujar si ibu .


“Enggak bu, sisa uangnya untuk bapak-bapak yang ada disini, ibu hitung saja sendiri kalau uang 100.000 perorang dapat kopi berapa gelas, yang 100.000 nya lagi buat ibu saja.”


Semua bapak-bapak yang Riski traktir merasa senang, bahkan ada yang memanggilnya dengan sebutan sahabat ku.


Riski pun pamit dan bergegas keluar dari dalam warung, saat ia telah di pinggir jalan, ia tak melihat kehadiran Yalisa lagi disana.


“Aduh! Aku ke asyik kan ngobrol lagi.” batin Riski seraya menghempaskan kakinya ke tanah.


“Lah, cepat bangat hilangnya? Yalisa.” ucap Riski.


___________________________________________


Siapakah yang lebih dulu bertemu dengan Yalisa?


Riski atau Leo?


Apakah Yalisa akan menerima Leo kembali?


Adakah hari dimana Riski dan Yalisa bersama?


Apakah Leo akan membuka hatinya untuk Mei Lissah?


Bisakah Mei mengatasi jalan yang ia pilih ke depannya?


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Mutualan di IG yok, nanti ada trailer Save Yalisa kalau mau up!

__ADS_1


Instagram :@Saya_muchu



__ADS_2