SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXXXIX (Bukan Mertua)


__ADS_3

“Bagus, kalau begitu, silahkan Yalisa yang pertama.” Dengan berat hati dan sangat terpaksa, Yalisa pun mulai berdiri di atas sajadahnya.


“Kita praktek sholat subuh saja ya biar singkat.” terang pak Musa, keduanya hanya bisa mengangguk.


“Ushallii fardash-Shubhi rak'ataini mustaqbilal qiblati adaa’an lillaahi ta'aalaa, Alloohu Akbar!”


“Salah!” ucap keras pak Musa yang membuat keduanya kaget.


“Salahnya di mana pak?” tanya Yalisa, karena menurutnya niat sholatnya sudah benar.


“Kamu kalau sholat begitu ya? Sudah berapa tahun kamu hidup di dunia ini?”


“Ini yang ke-ke 17 tahun pak.”


“Apa dasar kita semua kalau mau ngapa-ngapain?” tanya pak Musa lagi.


“Bismillah?” ucap Yalisa sembarang.


“Benar!” ujar pak Musa seraya melibas rotan nya ke lantai.


“Baca bismillah terlebih dahulu, kamu ini gimana sih? Ayo ulang.” Riski hanya geleng-geleng kepala melihat semangat pak Musa yang berapi-api.


“Baik pak, Bismillahirrahmanirrahim, Ushallii fardash-Shubhi rak'ataini mustaqbilal qiblati adaa’an lillaahi ta'aalaa, Alloohu Akbar, Bismillahirrahmanirrahim, Allaahu akbar Kabiroo Walhamdulillaahi Katsiiraa, Wa Subhaanallaahi Bukratan Wa’ashiilaa, Innii Wajjahtu Wajhiya Lilladzii Fatharas Samaawaati Wal Ardha Haniifan Musliman Wamaa Anaa Minal Musyrikiin. Inna Shalaatii Wa Nusukii Wa Mahyaaya Wa Mamaatii Lillaahi Rabbil ‘Aalamiina. Laa Syariikalahu Wa Bidzaalika Umirtu Wa Ana Minal Muslimiin.” bacaan iftitah sampai dengan sujud Yalisa aman, sampai pada saat bacaan do'a qunut di rokaat kedua.


“Allaahummahdinii fii man aafaiit, wa aafinii fii man hadaiit,”


Plak!! Riski dan Yalisa sama-sama kaget mendengar suara rotan yang di libas ke lantai.


“Salah! Ulang-ulang.”


Riski yang tahu kalau do'a qunut yang Yalisa lafaz kan salah pun tak dapat mengajarinya, karena ia berada di sebelah Yalisa, dan di hadapan pak Musa langsung.


“Allaahummahdinii fii man hadaiit, wa aafinii fii man aafaiit, wa tawallanii fi man tawallaiit, wa baarik lii fiimaa a’thaiit. Wa qinii birohnati kasyarra maa qadhaiit. Fa innaka taqdhii wa laa yuqdhaa ‘alaiik. Innahu laa yadzillu maw waalaiit.”


“Salah, bukan innahu, tapi... wainnahu, lagi-lagi!” ujar pak Musa.


“Wa innahu laa yadzillu maw waalaiit,


walaa ya'izzu man aadait. Tabaarakta Rabbanaa wata 'aalait. Falakal hamdu ma'aktoid. Mendengar bacaan Yalisa yang terus salah, Riski tepok jidat.


“Pacar ku kok enggak bisa baca do'a qunut sih? Pada hal itu sangat mudah?” batin Riski.

__ADS_1


Karena pak Musa gemas pada Yalisa, ia pun berkata.


“Sini tangannya, ulurkan.” dengan gemetaran Yalisa mengulurkan tangannya.


Plak plak! sang rotan pun mendarat sebanyak dua kali ke tangan Yalisa.


“Gimana sih Ki, cari calon istri kok enggak bisa sholat?” tanya pak Musa pada Riski yang kini memijat-mijat keningnya.


“Dengarkan, biar bapak lafaz kan sekali, tapi kamu harus hafal ya, Falakal hamdu alaa maa qadait, astagfiruka wa-atuubu i laik. Washallallaahu'alaa sayyinaa Muhammadin Nabyyil ummiyyi wa-'alaa Aalihi wasahbihi wasallam.”


“Falakal hamdu alaa maa qadait, astagfiruka wa-atuubu aktoit.” lagi-lagi Yalisa yang suaranya bergetar mengucapkan lafaz yang salah.


“Hah? Salah lagi?” ucap pak Musa.


“Sini, sini lagi tangannya.” ucap pak Musa, saat Yalisa mengulurkan tangannya Riski memegang kedua telapak tangan Yalisa.


“Kalau boleh, tangan saya saja tuan guru yang di pukul.” ujar Riski seraya menurunkan tangan Yalisa.


“Hum, baiklah, ulurkan kedua tangan mu Ki.” titah pak Musa.


Plak! Plak! Plak! terlihat jelas di telapak tangan Riski yang indah terdapat bekas rotan dengan warna merah.


Melihat hal itu Yalisa merasa bersalah pada Riski, karena kebodohannya, Riski terkena pukulan.


“Falakal hamdu alaa maa qadait, astagfiruka wa-atuubu i laik. Washallallaahu'alaa sayyinaa Muhammadin Nabyyil ummiyyi wa-'alaa Aalihi wasahbihi wasallam, Alloohu Akbar.” Syukurnya Yalisa lolos pada do'a qunut tersebut, hingga pada saat bacaan tahyatul terakhir, Yalisa melakukan kesalahan, lagi-lagi Riski meminta dirinya saja yang di hukum.


Plak!! Plak!! Plak!! Yalisa tahu, semakin lama pukulan pak Musa semakin keras, dan itu membuat Yalisa semakin takut dan gemetaran, Riski melihat ketegangan dan ketakutan itu dari gestur tubuh dan raut wajah Yalisa.


“Harusnya aku enggak nyuruh dia buat datang kesini, gara-gara aku, dia malah ketakutan begitu.” batin Riski.


Lalu, setelah di ulang berkali-kali, akhirnya Yalisa dapat menyelesaikan bacaan shalatnya sampai selesai.


Yalisa pun menghela nafas lega, karena tugasnya selesai juga.


“Ayo Ki, sekarang kamu.” ucap pak Musa.


Riski pun melakukan praktek sholatnya dengan sangat lancar, tanpa hambatan sedikit pun.


Yalisa merasa teramat malu, dia yang sudah dewasa tapi belum becus untuk sholat, ia juga tidak menyangka, kalau Riski sang brandal sekolah ternyata bisa sholat dengan baik.


Wajah Yalisa menjadi murung karena pandangannya selama ini terhadap Riski.

__ADS_1


“Benar kata orang, kita tidak boleh menilai seseorang dari sampulnya.” batin Yalisa


Di tengah kekacauan hatinya tiba-tiba ada yang datang mengucap salam.


“Assalamu'alaikum.” mereka semua pun menoleh ke sumber suara, betapa kagetnya Yalisa ternyata yang datang adalah Pak Doni.


Deg deg deg deg!!


“Cobaan apa lagi ini Tuhan!!!” teriak Yalisa dalam hatinya.


Yalisa tak dapat berkata apa pun, nyawanya seakan mau melayang, atau dia ingin sekali pingsan saat itu saking takutnya.


Ia tak habis fikir, kalau akan bertemu pak Doni, orang yang ia minta uang damai 700 jt beberapa bulan yang lalu.


Sontak Yalisa menundukkan kepalanya, tak mau melihat siapa pun.


“Gimana pak perkembangan kedua anak ini?” tanya pak Doni pada pak Musa.


“Bagus pak, mereka berdua saling membantu satu sama lain.” ujar pak Musa, yang membuat pak Doni menganggukkan kepala.


“Tapi Yalisa, dia itu sholatnya kurang pas, jadi perlu pertemuan beberapa kali lagi.” terang pak Musa.


“Ya Tuhan, tolong aku!!” batin Yalisa.


“Boleh, kalau memang menurut bapak begitu, saya serahkan kedua anak-anak ini pada bapak.” ujar pak Doni, Riski tak menyimak percakapan kedua orang tua itu, yang ia perhatikan hanya Yalisa, yang terlihat tak nyaman, wajah gadis kecil itu pun mulai pucat.


Karena waktu sholat Isya telah tiba, mereka semua pun mengambil air wudhu secara bergantian.


Setelah itu mereka melaksanakan sholat Isya berjama'ah, Yalisa berada di barisan paling belakang, rasanya ia ingin sekali menangis, ini adalah situasi yang sangat mencekik lehernya.


“Aku mau pulang.” itulah Yang ada dalam benak Yalisa mulai awal sampai selesai sholat.


“Baik pak kalau begitu, saya mohon izin pulang, maaf juga tadi saya menghukum mereka berdua.” ucap pak Musa seraya bersalaman pada pak Doni.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.

__ADS_1



__ADS_2