SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab XXXIV (Dimana pak Ari?)


__ADS_3

Setelah pulang sekolah, pak Aryo yang di temani pak Roni bergegas menuju kediaman orang tua pak Ari.


“Pak Roni tau jalannya kan?” Ucap pak Aryo.


“Tau pak, nanti setelah lewat penangkaran buaya yang di depan kita belok kiri” Sahut pak Roni.


“Oke pak”


Ucap pak Aryo sembari menyetir mobil, setelah 2 jam perjalanan pak Aryo dan pak Roni sampai ke tujuan.


Dari dalam mobil mereka melihat ibunya pak Ari yang bernama Maya sedang duduk santai sambil menyantap pisang goreng.


“Kalau di lihat dari gerak gerik ibunya pak Ari, sepertinya dia ada di rumah” Ucap pak Aryo


“Sepertinya begitu pak” Sahut pak Roni.


Kedua guru itu pun turun dari mobil, bu Maya yang melihat kedatangan rekan kerja dari anaknya langsung berdiri dari duduknya.


“Assalamu'alaikum bu” Ucap pak Aryo dan pak Roni.


“Wa'alaikumussalam pak Aryo pak Roni, silahkan masuk”


Bu Maya menuntun keduanya masuk ke dalam rumah dan mempersilahkan duduk di atas sofa.


“Sebentar saya ambilkan minum ya pak” Ucap Bu Maya.


“Enggak usah repot-repot bu” Sahut pak Aryo dan pak Roni.


“Enggak repot kok pak”


Ucap bu Maya yang bergegas ke dapur menyiapkan kopi hangat serta roti kering sebagai cemilan, selesai dengan sajiannya di dapur bu Maya menghidangkan di atas meja.


“Silahkan di minum pak, maaf seadanya saja” Ucap bu Maya.


“Terimakasih banyak, ini saja sudah cukup” Ucap pak Aryo.


“Iya bu, pada hal enggak usah repot begini” Sahut pak Roni.


“Ari kok enggak naik mobil sama orang bapak? Apa dia menyusul di belakang?”


Mendengar pertanyaan dari bu Maya, pak Roni dan pak Aryo menghentikan kunyahan mereka dan melihat satu sama lain.


“Jadi pak Ari enggak ada di rumah bu?” Ucap pak Roni.


“Ya enggaklah pak, dia itu pulang kalau libur panjang saja, katanya cape kalau harus bolak-balik pak” Tutur bu Maya.


Pak Aryo memegang dagunya sambil berfikir kemana pak Ari sebenarnya.


“Jadi begini loh bu, pak Ari sudah beberapa hari enggak masuk sekolah, kita juga sudah cek ke apartemennya tapi dia enggak ada disana”


Mendengar penjelasan dari pak Aryo raut wajah bu Maya langsung pucat.


“Sudah di telepon pak anak saya?” Ucap bu Maya.


“Sudah, nomornya juga enggak aktif” Sahut pak Roni.


“Ya Allah pak, kemana anak saya pergi? ya Allah gimana ini pak?”


Bu Maya mulai kalut dan menangis takut terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan pada anaknya.


“Tenang bu, jangan menangis kita cari sama-sama” Ucap pak Roni.


“Hiks... Iya pak, Ari enggak biasanya begini loh pak, bapaknya juga lagi keluar kota jadi saya sendiri disini” Sahut bu Maya.

__ADS_1


“Iya bu saya mengerti, saya janji akan bantu ibu untuk temukan pak Ari ya bu” Ucap pak Aryo.


“Kita lapor ke polisi saja ya pak?” Ucap bu Maya.


“Tapi bu...” Sahut pak Aryo.


“Tapi apa lagi sih pak? Kan sudah beberapa hari kita harus lapor polisi, ayo pak!”


Ucap bu Maya sambil mengambil tas sandangnya.


Atas desakan dari bu Maya, dengan terpaksa pak Aryo menemaninya untuk melaporkan ke pihak berwajib. Setibanya mereka di kantor polisi mereka mulai menceritakan kronologi hilangnya pak Ari.


“Apa kira-kira ada yang bapak dan ibu curigai?”


Tanya sang polisi pada mereka bertiga, bu Maya hanya menggeleng tak tahu, sementara pak Roni mencurigai dua orang yaitu Yalisa dan Riski.


“Apa aku harus bilang soal Riski dan Yalisa?”~Batin pak Aryo.


“Apa boleh kalau mencurigai kedua siswa itu?”~Batin pak Roni.


Dengan keputusan yang matang pak Aryo mulai mengemukakan kecurigaannya terhadap kedua siswanya itu.


“Mm.. begini pak, saya tidak tau apa ini benar, saya hanya menduga saja, kalau dia itu di culik oleh salah satu siswa saya yang bernama Yalisa dan Riski”


Ucap pak Aryo, sontak bu Maya dan pak Roni melihat ke arah pak Aryo yang membuat pernyataan.


“Apa yang membuat bapak menaruh curiga kepada mereka berdua?” Tanya sang polisi.


“Karena sebelum pak Ari menghilang, dia berkelahi dengan kedua siswa ini pak” Tutur pak Aryo.


“Kenapa mereka bisa berkelahi pak? Apa pemicu masalahnya?” Lanjut sang polisi.


“Itu karena siswi kami Yalisa, dia itu perempuan enggak benar, akibat nilainya rendah dia menggoda pak Ari agar nilainya di lulus kan pak, jadi Riski yang tidak tau apa-apa malah salah faham dan memukuli pak Ari”


“Baik pak, laporan bapak telah kami terima, besok kami akan langsung bergerak ke sekolah bapak untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut baik itu pada mareka berdua, dan siswa lainnya” Ucap sang polisi.


“Kenapa masih harus di selidiki pak? Bukannya sudah jelas mereka berdua itu pelakunya? saya yakin, langsung tangkap mereka saja pak, interogasi dengan ketat agar mereka mau mengaku, dasar anak-anak kurang aja* beraninya melalukan hal sekejam itu pada anak saya”


Bu Maya menangis pilu, tak sanggup menerima apa yang terjadi pada anaknya.


“Sabar bu, sabar... Saya tau bagaimana perasaan ibu, tapi... Kami juga tidak bisa sembarangan menangkap orang bu, kami harus selidiki dulu, mana tau bukan mereka pelakunya, kita tidak boleh suudzon bu” Pak polisi memberi pengertian pada bu Maya.


“Iya benar pak kata bu Maya, tangkap mereka berdua saja, anak-anak yang lain jangan di libatkan, karena itu bisa mengganggu proses belajar mengajar saya di sekolah, nanti saya akan kasih alamat mereka ke bapak”


Ucap pak Aryo, yang mulai menulis alamat kedua siswanya.


“Tapi pak, kami tetap akan menyelidiki sekolah, karena bagaimanapun juga tempat-tempat yang ia kunjungi wajib kami cek kembali” tutur pak polisi lebih lanjut.


“Haduh aku harus repot lagi deh membereskan sekolah setelah dari sini, kalau enggak bisa-bisa mereka tau tindak kotor yang selama ini terjadi di sekolah”~Batin pak Ari.


“Ini pak alamatnya”


Pak Aryo menyodorkan secarik kertas pada sang polisi.


“Baik pak, kasus ini akan kami tangani secepatnya” Ucap sang polisi.


Setelah selesai memberi laporan, mereka bertiga pun keluar dari kantor polisi.


“Terimakasih pak sudah membantu, besok saya pasti akan datang ke sekolah bersama ayahnya Ari” Ucap bu Maya.


“Baik bu, ayo kami antar pulang bu, lagian sudah mau magrib” Ucap pak Aryo.


“Tidak usah pak, sebentar lagi keponakan saya datang untuk menjemput” Sahut bu Maya.

__ADS_1


“Ya sudah bu kalau begitu, kami permisi dulu”


Ucap pak Aryo dan pak Roni, setelah berpamitan mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan mulai membelah jalan raya untuk kembali ke sekolah.


“Pak Roni, telepon beberapa guru untuk datang ke sekolah, semua arsip harus kita bereskan termasuk dana gelap dan korupsi kita selama ini”


Ucap pak Aryo, kemudian pak Roni pun denfan sigap menelepon beberapa guru untuk datang ke sekolah.


___________________


Pagi harinya saat Yalisa telah sampai ke sekolah dia di kejutkan oleh seorang ibu-ibu yang tiba-tiba bersuara tinggi padanya.


“Oh...!!! Ini anaknya!” Ucap bu Maya sambil menunjuk wajah Yalisa.


Yalisa yang tak tau orang tua itu siapa hanya kebingungan.


“Dasar kamu penjahat! Kecil-kecil sudah kriminal”


Bu Maya mendekat lalu memukul wajah Yalisa dengan tasnya.


“Ibu siapa! Datang-datang bikin rusuh!” Bentak Yalisa dengan rasa tak bersalah.


“Saya ibunya Ari, guru kalian! Dimana kamu sembunyikan anak saya penjahat!”


Bu Maya semakin menggila memukul-mukulkan tubuh Yalisa pakai tasnya dengan sembarang, kegaduhan yang terjadi pun membuat para siswa mengerumuni mereka berdua.


Yalisa berusaha menangkis pukulan bu Maya dengan tangan agar tak mengenai tubuhnya lagi.


“Ayo bilang dimana kamu sembunyikan anak saya! Saya fikir kamu orang seperti apa tadinya, ternyata hanya gadis kecil tapi bersifat psikopat!” Ucap bu Maya.


“Diam! Saya enggak tau dimana anak ibu berada, kenapa malah menuduh saya!”


Sahut Yalisa dengan suara kerasnya sambil memegang tas bu Maya.


Bu Maya kesal karena tasnya di pegang oleh Yalisa, sehingga dia tidak bisa melayangkan pukulannya lagi


“Lepaskan tas saya! Dasar psikopat, gara-gara kamu anak saya menderita pelacu* harusnya kamu belajar dengan giat bukan malah merayu guru mu, gara-gara kamu anak saya di pukuli!”


Bu Maya berteriak sambil menarik-narik tasnya yang di tahan oleh Yalisa dengan tangannya.


Leo dan Riski yang baru datang ke sekolah melihat kejadian itu, mereka berdua pun langsung menuju keramaian tersebut.


Leo yang yang menyaksikan Yalisa terpojok, langsung datang membela.


“Apa-apaan ini, ibu siapa?! Berani sekali berbuat kasar pada Yalisa!” Ucap Leo dengan tatapan tajam pada bu Maya.


“Kamu yang namanya Riski?” Sahut bu Maya dengan mata berkaca-kaca.


“Bukan” Ucap Leo.


“Saya Riski”


Ucap Riski yang datang membelah kerumunan menuju mereka bertiga.


“Oh jadi kamu orangnya?!” Bu Maya pun melepas tas yang sedari ia tarik-tarik dari genggaman Yalisa.


Melihat perawakan Riski yang lebih tinggi dan kekar dari anaknya membuat hatinya yakin kalau Riski lah penculik anaknya.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️


Instagram :@Saya_muchu

__ADS_1


__ADS_2