SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab XXXVII (Mau Kamu)


__ADS_3

Pak detektif mencatat semua pernyataan Riski.


“Karena itu kamu jadi memukuli pak Ari?” tanya pak detektif.


“Iyalah pak, bayangin orang yang bapak suka di begitukan , enggak terima kan pak?” ucap Riski yang keceplosan mengatakan suka pada Yalisa.


Para guru yang tau akan kekejaman Riski selama ini pada Yalisa merasa heran.


“Bukannya dia enggak suka sama Yalisa?”~batin pak Aryo.


“Sudah rugi 700 juta, ujung-ujungnya malah naksir sama musuh sendiri,”~batin bu Dewi.


“Benar, benar, saya juga pasti tidak terima kalau orang yang saya suka di perlakukan begitu.” ucap pak polisi seraya menganggukkan kepalanya.


“Lalu, sepulang sekolah kamu kemana?” tanya pak detektif.


“Saya langsung pulang ke rumah pak, karena pacar saya hari itu mau datang berkunjung, tapi... kalau orang bapak enggak percaya, bapak bisa tanya langsung sama pacar atau asisten rumah tangga saya pak,” jawab Riski.


“Memangnya rumah kamu dimana?” tanya pak polisi.


“Di jalan Perintis Pelayanan Paripurna pak, bapak pasti tidak akan nyasar kalau cari rumah saya, patokannya itu rumah yang paling besar, paling megah, paling mewah berlantai 3, di setiap sudut rumah saya juga ada cctv-nya, jadi silahkan berkunjung pak, saya yakin kalau sudah masuk ke rumah saya bapak enggan buat pulang, karena di seluruh kota ini rumah saya yang paling istimewa pak,” jawab Riski.


Semua orang yang ada dalam ruangan tambah kesal mendengar ucapan Riski yang setinggi langit.


Mereka malah ingin segera menyudahi sesi interogasi dengan Riski.


“Oke, bapak rasa sudah cukup pertanyaannya, maaf sudah menyita waktu belajar mu.” ucap pak polisi dan detektif seraya bersalaman dengan Riski.


“Terimakasih pak, atas kemurahan hatinya.” sahut Riski, seraya berdiri dan berlalu dari dalam kantor kepala sekolah.


Setelah Riski keluar mereka semua mengambil nafas panjang.


“Sombong sekali anak itu,” ucap bu Maya.


“Sudah bu,” sahut pak Tino seraya mengusap punggung istrinya.


“Baik pak, untuk para siswa sudah selesai, selanjutnya kami akan menyelidiki area sekolah dan apartemen pak Ari, untuk itu kami mohon pamit dulu ya.” ucap pak detektif sembari membereskan barang-barang mereka, dan masukkannya ke dalam tas.


“Terimakasih pak, sudah meluangkan waktunya,” sahut pak Aryo.


“Sama-sama pak, dan untuk bu Maya setelah surat perintah penangkapan ibu selesai, kami akan datang ke rumah ibu untuk di bawa ke kantor polisi lebih lanjut.” Tutur pak polisi seraya menjabat semua orang, kemudian berlalu dari dalam ruangan.


Wajah bu Maya memucat mengetahui kasusnya tetap di proses oleh polisi.


“Pak, gimana ini?” ucap bu Maya.


“Sebaiknya ibu minta maaf pada anak itu, nanti kita akan berkunjung ke rumahnya.” ucap pak Toni, yang juga pamit untuk pulang.


“Untung mereka sudah keluar, untuk bu Maya aku tidak akan ikut campur, itu ganjaran buat dia karena tidak bisa menahan diri,”~ batin pak Aryo.


_________________________


Yalisa yang sedang melukis di ruang seni sendirian tiba-tiba merasakan handphonenya bergetar, lalu ia mengambilnya dari saku rok birunya. Saat di lihat ternyata pesan singkat dari Leo.


“Sayang, maaf ya hari ini aku enggak bisa pulang sama kamu,karena aku lagi ada tugas kelompok, besok sudah harus di kumpulkan” 📱 Leo.


“Iya sayang, enggak apa-apa, semangat ya ngerjain tugasnya,” 📱 Yalisa.


Yalisa mengambil nafas panjang, karena satu-satunya orang yang sedia menemaninya hari itu malah harus sibuk dengan tugas kelompok.


“Mei, kenapa kamu enggak masuk sekolah sih, handphone mu juga enggak aktif.” Gumam Yalisa seraya membuka pesan yang ia kirim pada Mei yang masih berstatus centang 1.

__ADS_1


Ia pun memasukkan kembali handphonenya ke saku roknya, saat ia sibuk mengoles-oles kuasnya ke kertas manila, tiba-tiba ada yang menggeser pintu.


Drrrkkkk...


Sontak Yalisa menoleh ke sumber suara, tidak di sangka yang datang adalah Riski, karena tak begitu penting, Yalisa melanjutkan lukisannya.


Lalu Riski mengambil posisi duduk tepat di samping bangku Yalisa.


“Lagi gambar apa?” ucap Riski.


“Kamu kan lihat sendiri aku lagi lukis apa.” sahut Yalisa tanpa melirik Riski sedetik pun.


Melihat wajah cantik Yalisa, Riski jadi senyum-senyum sendiri.


“Cantik,”ucap Riski.


“Apanya yang cantik?” sahut Yalisa.


“Kamu, ngomong-ngomong kamu pakai skincare apa sih?” ucap Riski.


“Emang kenapa?” sahut Yalisa yang malai kesal.


“Enggak apa-apa, terlihat cocok sama kamu, dan uang yang 700 juta masih ada enggak?” tanya Riski.


Seketika Yalisa menghentikan tangannya yang sedang bekerja, lalu menoleh dengan mata tajam pada Riski.


“Mau apa sih kamu sebenarnya!” hardik Yalisa.


“Mau kamu.” ucap Riski seraya mengeluarkan peralatan Lukisnya.


“Tapi aku enggak suka kamu,” sahut Yalisa.


“Enggak apa-apa, seiring waktu juga pasti kamu akan suka sama aku.” ucap Riski, yang malai melukis juga.


“Kayaknya kamu punya penyakit keterbelakangan mental deh, percaya dirimu juga di atas orang normal,” ucap Yalisa.


“Apa?” sahut Riski sambil menatap wajah Yalisa.


“Hei, jangan ganggu aku, aku sudah punya pacar.” ucap Yalisa.


“Aku kan sukanya sama kamu, bukan sama Leo,” sahut Riski.


“Kamu tau dari mana kalau dia pacar ku?” tanya Yalisa.


“Enggak penting aku tau dari mana, kalau kamu enggak mau putusin dia buat aku, aku rela kok jadi selingkuhan kamu.” jawab Riski, sambil mengutarakan keinginannya dengan mimik wajah serius.


Yalisa tak habis fikir, seorang Riski sampai hati mengatakan hal yang tidak masuk akal padanya.


“Jangan harap ya!” ucap Yalisa seraya membuka celemek lukisnya.


“Kamu mau kemana?” tanya Riski.


“Mau balik ke kelaslah, emang kamu enggak lihat udah mau jam 15:00,” jawab Yalisa, seraya berlalu dari hadapan Riski.


“Oh, iya ya, eh kalau uang mu habis bilang sama aku ya, biar aku transfer buat beli skincare,” ucap Riski.


Yalisa tak menggubris ucapan Riski sedikit pun, yang membuat Riski menjadi jengkel, tawarannya juga di tolak mentah-mentah oleh Yalisa, sebagai pelempiasan emosinya Riski melempar kuas yang di tangannya ke sembarang arah.


“Kalau enggak bisa dengan cara baik-baik, aku akan tempuh jalur licik,”~Batin Riski.


Saat perjalanan ke kelas Yalisa melihat ke arah langit yang begitu mendung.

__ADS_1


“Wah, mau hujan kayaknya,” gumam Yalisa.


Sesampainya ia ke dalam kelas bel sekolah pun berbunyi, Yalisa merapikan barang-barangnya ke dalam tas, lalu beranjak ke luar ruangan.


Saat ia sudah berada di teras kelas, tiba-tiba turun hujan yang sangat deras disertai petir yang menyambar.


Hujan yang lebat membuat cuaca menjadi gelap, Yalisa yang tidak membawa payung memilih kembali lagi ke dalam kelas bersama beberapa orang lainnya.


Sementara sebagian temannya ada yang menerobos, ada juga yang memilih ke kantin.


Karena gelap salah satu teman sekelas Yalisa menyalakan lampu biar terang. Yalisa pun kembali ke tempat duduknya sambil bermain handphone.


30 menit sudah berlalu, tapi hujan belum mereda juga, malah semakin lebat di iringi suara petir yang menyambar-nyambar.


Duarr!!! Duaar!!!


Yalisa merasa sambaran petir yang begitu keras mengenai dinding kelasnya.


Karena lelah menunggu, Yalisa melipat kedua tangannya di atas meja sebagai bantal untuk wajahnya.


“Pengen tidur jadinya.” gumam Yalisa yang tak dapat menahan kantuknya, ia pun menutup matanya dan langsung terlelap.


Di dalam tidurnya ia bermimpi, bertemu seorang pria dengan tubuh tinggi, rambut hitam dengan potongan rapi, tapi ia tak dapat melihat dengan jelas wajah pria itu, lalu si pria mendekati Yalisa, dan tanpa sepatah kata mencium pipinya.


Ciuman itu serasa nyata sekali, seketika Yalisa bangun dari tidurnya.


Ia terkejut dengan suasana kelas yang begitu gelap dan sunyi, ia juga melihat ke sekelilingnya tak ada siapa pun selain dirinya.


“Jam berapa ini?” gumam Yalisa.


Saat ia melihat jam di handphonenya, ternyata sudah menunjukkan pukul 17.30, tapi di luar hujan belum berhenti juga.


“Kemana semua orang? Apa mereka menerobos hujannya?” ucap Yalisa berbicara pada dirinya seraya bangkit dari duduknya menuju saklar lampu.


Tek...


Yalisa menekan stop kontak lampu dan hasilnya nihil.


“Ah... mati lampu ternyata, ya sudahlah aku juga pulang saja naik angkot” ucap Yalisa, ia pun mengambil tasnya yang ada di atas mejanya.


Ketika Yalisa merogoh saku tas nya untuk mencari ongkos, ia keheranan karena uangnya sudah tak ada dalam tas.


“Siapa yang ambil sih? kok usil bangat, uang 10 ribu saja di curi.” ucap Yalisa, pada dirinya sendiri.


Mau tidak mau Yalisa harus berdamai dengan hujan sampai ke rumahnya, kalau tidak ia akan menetap di sekolah tak berpenghuni itu.


“Sebaiknya aku tinggalkan tas ku, biar tak basah,”~ batin Yalisa.


Ia pun memasukkan tasnya dalam laci, lalu mulai berlalu dari mejanya, namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba Riski masuk ke dalam kelas yang membuat Yalisa kaget namun tak bersuara.


“Hah..!” Yalisa mengusap dadanya.


“Kamu sudah bangun?” ucap Riski.


“Sudah, kenapa kamu belum pulang?” tanya Yalisa


“Takut terjadi apa-apa kalau aku ninggalin kamu, tadi juga kamu tidurnya nyenyak bangat, jadi aku enggak tega buat banguninnya,” jawab Riski.


“Bukannya kalau ada kamu ya, baru aku akan celaka?” ucap Yalisa, Riski mengernyit mendengar penuturan Yalisa.


Bersambung...

__ADS_1


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️


Instagram : @Saya_muchu


__ADS_2