SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CXXIII (Katakan Cinta)


__ADS_3

“Misalnya aku lihat kamu lama-lama karena kagum, bisa di artikan mesum juga loh, apa lagi pacaran, pasti ciuman ini dan itu, ya kalau enggak mau yang begitu, jomblo fisabilillah ajah, semua pilihan ada resikonya, tapi... baru kamu loh Yalisa yang di ajak Riski untuk nikah, kita sih dukung-dukung saja siapapun yang dekat dengan Riski, karena kita enggak ada hak untuk menyarankan dia ke siapapun,” ucap Zuco.


Yalisa memikirkan semua perkataan kedua temannya itu.


“Kalian benar,” ucap Yalisa.


“Sabar Yalisa, penyesalan memang selalu datang terlambat, meski begitu, kalau jodoh pasti akan bersama lagi, dan kalau kamu masih cinta Riski, jujur saja padanya, kalau dia sudah enggak cinta lagi sama kamu, ya kamu harus sabar, toh kamu yang mutusin dia,” ujar Zuco.


“Tapi...., dia kan sudah punya Felicia,”


“Yang aku bilang, kalau kamu masih cinta, jujur dan katakan padanya, kamu cuma mengungkapkan, kalau memang dia masih suka kamu, masalah Felicia sih gampang, toh Riski bukan suaminya, jadi sebelum ada ikatan pernikahan, kita bebas mau ke hati yang mana,” ucap Zuco.


Tak di sangka Yalisa tiba-tiba berdiri dari duduknya.


“Ada apa Lis?” tanya Zuco dan Marco.


“Aku harus pergi, makasih atas sarannya, oh iya, aku saja yang mengembalikan bola volley nya ke gudang,” ucap Yalisa seraya meraih bola volley yang ada di tangan Zuco, lalu berjalan cepat menuju gudang olah raga.


“Aku akan jujur, dan bilang kalau aku juga mencintainya, selama ini aku enggak pernah sekali pun terbuka padanya.” itulah yang ada di benak Yalisa.


Krieettt....


Perlahan Yalisa membuka gudang olah raga yang minim penerangan itu.


Yalisa berusaha melangkah pelan tanpa mengeluarkan suara, karena ia juga akan canggung bila mana bertatap mata langsung dengan Felicia dan Riski.


“Tapi, kenapa aku harus takut ketahuan? Kan aku ada alasan untuk masuk,” batin Yalisa seraya melirik bola volley yang ada di tangannya.


Ia pun berjalan tenang menuju rak bola volley, sesampainya ia ke tujuan, Yalisa melihat dari celah rak, ke arah rak bulu tangkis, tak ada siapapun.


“Hah? Bukannya mereka janjian mau ngobrol disini? Tapi kok enggak ada?” gumam Yalisa, kini Yalisa semakin intens melihat ke rak bulu tangkis, dari ujung ke ujung, namun ia tak mendapati Riski dan Felicia.


“Apa mereka belum datang ya? Bagus sih kalau belum, jadi pas mereka datang aku bisa ambil posisi sembunyi, buat dengar pembicaraan mereka.” gumam Yalisa.


Tapi tunggu punya tunggu, Yalisa tak melihat tanda-tanda kedatangan dari arah pintu masuk.


“Apa mereka sudah keluar dari sini ya tadi? Hanya saja mereka main sudut-sudutan? Biar enggak kelihatan kalau lagi bermesra-mesraan?” batin Yalisa, rasa penasaran Yalisa makin menggebu-gebu, hingga ia nekat menyusuri tiap lorong rak yang ada di gudang itu tanpa menyalakan lampu.


Hanya cahaya dari pentilasi jendela yang menerangi langkahnya, namun Yalisa tak ada rasa takut sedikit pun, karena tekat keingintahuan tentang Riski sangat kuat.


Meski pun Yalisa sudah mengelilingi tiap sudut gudang itu sebanyak dua kali, ia tetap tak melihat sosok yang ia cari.

__ADS_1


“Haduhh, kamu dimana sih Ki?” Yalisa menggerutu dengan perasaan kesal.


Saat ia akan balik kanan menuju pintu keluar, tak sengaja ia menabrak sebuah tubuh.


“Ah, maaf saya enggak se....” ketika Yalisa mendongak ke wajah orang yang ia tabrak, ternyata itu adalah Riski Lail, yang sedari tadi ia cari.


Riski memberi tatapan dingin pada Yalisa, seperti orang yang tak di kenal. Tanpa merespon permintaan maaf Yalisa terlebih dahulu, ia malah melenggang lurus melewati Yalisa menuju rak penyimpanan bulu tangkis.


“Apa dia baru datang?” batin Yalisa.


“Tu-tu-tunggu!” ucap Yalisa kikuk. Riski pun berhenti di tempatnya.


“Ayo Yalisa kamu bisa, mumpung Felicia tidak ada.” batin Yalisa.


Kemudian, Yalisa berjalan mendekati Riski.


“Riski,” ucap Yalisa dengan suara lembut, Riski pun memutar tubuh ke arah Yalisa.


“Ada perlu apa?”


“Anu..., itu..., anu...,” Yalisa tak tahu harus mulai darimana.


“Kamu mau bicara apa sih sebenarnya?” tanya Riski.


“Aku enggak punya waktu kalau kamu cuma bilang, anu dan itu.” saat Riski ingin pergi Yalisa pun berucap.


“A-apa kabar?!” dengan nafas terengah-engah.


“Baik,”


“Kamu, kemana saja selama ini?”


“Aku rasa kamu enggak perlu tahu,” ucap Riski, yang membuat Yalisa jadi grogi.


“Iya, kamu benar juga, aku enggak perlu tahu, maaf karena sudah untuk bertanya.” ungkap Yalisa dengan menahan perasaan malu.


“Ya sudah, kalau sudah tahu, sekarang aku harus pergi,” ucap Riski.


“Tu-tunggu!” ucap Yalisa.


“Ada apa lagi?”

__ADS_1


“Ma-makasih sudah menolong ku waktu itu, maaf kalau aku terlambat mengucapkannya.” ungkap Yalisa dengan menundukkan kepalanya.


“Itu sudah seharusnya, menolong yang lemah,” ucap Riski dengan bersedekap.


“Iya kamu benar, dan maaf aku sudah menyusahkan mu, dan menyakiti hati mu di hari sebelumnya.”


“Aku sudah memaafkannya, apa sudah selesai? Karena aku masih ada keperluan lain,”


“Apa itu Felicia?”


“Aduh, aku kok nyinggung Felicia sih? Akhh...jadi ketahuan deh kalau aku kepo,” batin Yalisa.


“Iya, dia sedang menunggu ku di taman,” ucap Riski.


“Oh ya?”


“Iya, maaf aku duluan.” Riski berpamitan pada Yalisa.


“Tunggu!” ucap Yalisa.


“Ayo Yalisa, kamu pasti bisa,” batin Yalisa.


“Ada apa lagi?” tanya Riski.


“Hmm, maaf sebelumnya kalau mengganggu waktu kencan kalian, tapi.... aku mau bilang, eh bukan, kamu dengarkan aku saja, enggak perlu merespon, aku cuma mau menyampaikan apa yang mau aku mau sampaikan, yang belum pernah aku sampaikan selama ini, jadi pasang telinga baik-baik, dan jangan potong perkataan ku sebelum aku selesai bicara, aku..”


“Ngomong ajah sih, lama bangat intronya,” ucap Riski dengan wajah jengkel.


“Maaf Ki, Riski Lail, maaf karena sudah menyakiti hatimu selama ini, maaf juga sudah banyak merepotkan mu, maaf atas semua perkataan kasar yang pernah aku katakan pada mu, maaf juga...”


“Sudah! Kamu dari tadi cuma ngomong enggak jelas, bilang saja intinya Yalisa!” pekik Riski.


“Aku cinta sama kamu! Aku cinta kamu, maaf kalau sudah terlambat mengatakan semuanya, aku bilang ini, bukan berarti aku mau menggoyahkan hatimu, atau mau merusak hubungan kalian, aku hanya ingin menjawab pertanyaan yang sudah lama kamu tanyakan, hanya itu, maaf sudah membuat mu kesal, permisi.” saat Yalisa ingin pergi, Riski menarik lengan Yalisa dengan kuat, hingga tubuhnya jatuh ke pelukan Riski.


“Mau kemana?” Riski melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yalisa.


“A-aku akan pergi, lagi pula aku sudah banyak menyita waktu mu, maaf.” Yalisa mencoba membuka simpul tangan Riski yang berada di pinggangnya namun Riski malah mengencangkannya.


“Kamu belum boleh pergi,” bisik Riski di telinga Yalisa.


Bersambung...

__ADS_1


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2