SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab L (Mei Lissah Part I)


__ADS_3

Mei yang baru saja bangun dari tidur, langsung meraih handphonenya untuk melihat jam berapa sekarang.


“Oh, baru jam 12:00 ya,” gumam Mei.


Lalu ia melihat ada sebuah pesan WhatsApp dari Riski pada pukul 10:00 pagi tadi.


“Ada perlu apa dia kirim pesan pada ku?” gumam Mei.


“Aku tunggu di Restoran XXIII jam 13:00,” Riski. 📱


“Hem, masa hanya karena tadi malam kita langsung akrab begini?” batin Mei.


“Malas,” Mei.📱


“Kalau enggak mau ke restoran, aku akan datang langsung ke rumah mu,” Riski.📱


“Hah! Apa-apaan sih dia!” pekik Mei.


“Iya, aku kesana, awas saja kalau cuma buang-buang waktu ku,” Mei. 📱


Dengan perasaan jengkel, Mei beranjak dari ranjang menuju kamar mandi membersihkan dirinya.


Selesai mandi, Mei memakai baju kaus polos warna putih, di padukan dengan celana jeans hitam dan sepatu sport warna putih.


“Dia mau ngomong apa sih sebenarnya?” batin Mei.


Mei pun membuka aplikasi transportasi online di handphonenya, lalu memilih jasa penjemputan mobil untuk menuju ke restoran yang telah di tentukan Riski.


Sesampainya Mei ke restoran, ia pun masuk ke dalam dan mulai mencari keberadaan Riski.


“Dimana?” Mei. 📱


“Aku ada di room nomor 5.” Riski. 📱


“Gila, niat bangat nih anak sampai pesan ruang pribadi segala cuma buat ketemu aku doang.” gumam Mei seraya memandang layar handphonenya.


Lalu Mei berjalan ke ruangan pribadi yang telah Riski katakan.


Drakkk!


Mei Menggeser pintu ruangan, dan ia pun menemukan Riski yang telah duduk bersila dengan 2 gelas jus alpukat di atas meja yang tingginya sejajar dengan perut orang dewasa.


“Hem, pesan ruangan private begini, cuma buat minum jus alpukat?” ucap Mei dengan tatapan mata tajamnya.


“Tenang, bentar lagi makannya datang,” sahut Riski.


Mei memutar mata malas, melihat Riski yang tidak ia ketahui tujuannya apa meminta bertemu di hari minggunya.


“Duduk dulu,” ucap Riski.


Mei pun duduk bersila di hadapan Riski. “Kamu mau bicara apa sih sebenarnya?” tanya Mei.


Lalu tiba-tiba 2 orang pelayan datang menghantarkan makanan pesanan Riski, yaitu kepiting saus tiram, udang goreng, kerang rebus dan cumi tepung goreng, dan tidak lupa dengan air mineral dingin dan nasi putih hangat


“Banyak bangat pesannya,” ucap Mei.


“Aku lapar, dan aku yakin pasti kamu belum makan juga kan waktu kesini?” ucap Riski dengan senyum tipis di bibirnya.


“Ya sudah ayo makan, setelah itu kita selesaikan urusan yang enggak jelas ini!” pekik Mei.


Mereka berdua pun mulai makan dengan lahapnya, hingga hanya menyisakan cangkang kepiting dan kerang saja di atas piring.


“Habis juga ternyata,” ujar Riski.


“Habis enak,” sahut Mei.


“Ya pasti habislah, sebenarnya kamu itu kan orangnya rakus, apa saja di makan.” ucap Riski.


“Apa-apaan sih kamu, nanti aku yang bayar, asal kamu jangan banyak omong lagi!” hardik Mei.

__ADS_1


“Makanannya sudah jatuh ke perut kan?” tanya Riski.


“Udah jangan banyak omong, katakan apa maksud dan tujuan mu yang sebenarnya.” sahut Mei, seketika raut wajah Riski berubah menjadi pasif.


“Nih!” Riski melempar sebuah amplop berwarna putih ke hadapan Mei.


“Apa ini?” sahut Mei dengan sedikit bingung.


“Baca sendiri.” ucap Riski.


Lalu Mei menyobek ujung amplop yang tertutup rapat dengan lem, kemudian ia mulai mengeluarkan beberapa lembar kertas yang ada di dalamnya, dan membaca semua isinya.


“I, ini maksudnya apa?” ucap Mei dengan terbata-bata.


“Hem, jangan pura-pura di depan ku Mei, aku sudah tahu semuanya.” ungkap Riski dengan senyum puas di bibirnya.


“Apa maksud mu brengse*!” hardik Mei.


“Kamu fikir aku sebodoh yang lain? Rasa daging yang kamu hidangkan benar-benar aneh, karena itu aku bawa sepotong pulang ke rumah, dan aku juga temuin rambutnya, setelah sampai ke rumah, langsung ku kirim daging dan rambut itu ke lap, aku yakin kamu pasti tahukan hasilnya apa?” ucap Riski dengan mimik wajah sombongnya.


“Sial, aku pikir IQ nya nol,” batin Mei.


Merasa tak ada gunanya mengelak untuk mengelak lagi, Mei pun mulai berdamai dengan keadaan.


“Hem, lalu kamu mau apa?” tanya Mei.


“Sebenarnya aku enggak mau apa-apa, tapi karena kamu sudah bertanya, aku cuma mau satu, yaitu pisahkan Yalisa dan Leo, sisanya aku enggak perduli.” jawab Riski.


“Enggak perduli, tapi sampai repot begini?” ucap Mei.


“Ya, itu karena aku penasaran saja, seandainya kamu bukan temannya Yalisa, aku pasti membiarkan semuanya begitu saja,” ungkap Riski.


“Hem!” Mei menarik nafas panjang.


“Kerjakan dengan ikhlas Mei, dan jangan menaruh dendam pada ku atau teman mu itu, Yalisa enggak tahu soal ini, dan aku harap kamu jangan pernah menyakiti dia.” ucap Riski dengan aura yang mencekam.


“Apa maksud mu? Mana mungkin aku akan menyakiti dia, emang pernah kamu lihat aku nyakitin dia?” ujar Mei.


Mei terkejut bukan main, matanya membulat, karena kini ada orang lain yang mengetahui masa lalunya.


“Pada hal itu sudah 5 tahun yang lalu, kejadiannya juga di luar negeri, identitas ku juga di rahasiakan, dari mana si busuk ini tahu semuanya!” batin Mei.


“Dalam semalam kamu tahu semua tentang aku? hah! Aku salut atas usaha mu itu.” ucap Mei dengan tertawa getir.


“Enggak ada yang sulit kalau kita punya uang, tenang saja, aku akan simpan rahasia mu, asal kamu laksanakan perintah ku, apapun caranya, mereka harus pisah, kalau enggak kamu dan ayah mu yang mu yang politikus itu akan aku hancurkan!” pekik Riski.


“Owh, kamu yakin ini hanya karena soal cewek? Apa mungkin aku pernah membuat dendam pribadi yang enggak aku sengaja? Sampai-sampai melibatkan keluarga ku juga.” ucap Mei dengan perasaan gusar yang ingin meledak.


“Huh! Dendam dari mana? Aku bilang begitu biar kamu serius kerjanya, lagi pula sejak kapan aku anggap kamu ada?” ungkap Riski.


“Oke, aku akan lakuin apa mau mu, tapi kami harus pastikan semuanya tidak bocor, karena kalau sampai itu terjadi, kamu akan tahu akibatnya!” Hardik Mei seraya berdiri dari duduknya, lalu beranjak keluar dari ruangan itu dengan membawa hasil tes DNA yang Riski berikan.


Mei yang telah berada di luar restoran mengambil pemantik dari dalam tasnya.


Cek!


Lalu membakar amplop beserta kertas hasil DNA nya hingga menjadi debu.


“Kalau sampai kamu ember, kamu akan susul pak Ari ke dalam perut ku.” batin Mei.


Mei dengan rasa emosinya memberhentikan sebuah taksi untuk mengantarkannya pulang ke rumah.


Riski yang masih ada di private room restoran tersenyum sendiri mengingat bagaimana wajah kesal Mei menatapnya.


FLASHBACK.


Malam dimana Riski tengah menggendong Yalisa saat bercumbu tanpa sengaja ia melihat sebuah tisu terjatuh dari kantong gaun Yalisa.


Riski ternyata juga melihat rambut dan dasi pak Ari yang berada dalam tong sampah, merasa curiga Yalisa mengetahui sesuatu, Riski dengan sigap menginjak dengan sepatunya tisu yang terjatuh dari kantong Yalisa.

__ADS_1


Ketika Mei membawa Yalisa keluar dari dalam dapur terlebih dahulu, disaat itulah Riski memeriksa apa yang ada dalam lipatan tisu Yalisa.


Saat ia cek, ternyata adalah beberapa helai rambut, bila di perhatikan rambutnya sama persis seperti yang ada dalam tong sampah.


Sebelum keluar dari dapur Mei, Riski mengambil 3 helai rambut yang ada di tong sampah untuk di cocokkan nantinya, karena saat itu Riski belum tahu, sebenarnya itu rambut siapa, dan apakah pemiliknya sama.


Tak lupa Riski juga memotret dasi pak Ari yang berada dalam tong sampah, dan memindahkannya di suatu tempat, di area rumah Mei.


“Apa Yalisa tahu sesuatu soal rambut ini?” batin Riski.


Setelah pulang ke rumah, ia mengirim daging dan rambut itu ke lap, tepatnya di rumah sakit yang berada di bawah kekuasaan ayahnya.


Riski juga meminta data pribadi Mei pada pak Aryo, setelah pak Aryo mengirimkan dokumen lengkap Mei, barulah Riski menyuruh seseorang untuk menyelidiki tentang Mei.


Pagi harinya, Riski mendapatkan paket kiriman, Yaitu hasil tes DNA dari lap, Riski terkejut melihat hasilnya, sebelumnya ia juga telah menyelidiki soal pak Ari, hingga ia yakin 100% kalau itu adalah gurunya yang telah hilang.


“Beruntung, Yalisa belum tahu soal Mei yang sebenarnya,” gumam Riski.


Saat ia sedang bersantai di kolam berenang rumahnya pagi itu, ia mendapatkan sebuah file PDF dari orang suruhannya, Riski kembali terkejut untuk yang ke dua kalinya, dari file itu ia membaca semua riwayat hidup Mei Lissah.


“Bisa gawat, kalau sampai Yalisa buat masalah dengannya.” batin Riski.


Awalnya Riski tidak perduli akan semuanya, karena ia juga senang akan kematian pak Ari, tapi setelah tahu Mei juga pernah membunuh teman akrabnya sendiri membuat Riski agak khawatir tentang keselamatan Yalisa, lalu ia pun memutuskan untuk memberi sedikit peringatan pada Mei.


FLASHBACK OFF.


“Untung saat itu, aku enggak jadi dekati Mei,” gumam Riski.


FLASHBACK.


Riski teringat akan pertemuan pertamanya dengan Mei, saat itu Riski kehilangan tasnya, Mei yang entah dari mana datang menyapanya.


“Kamu lagi cari apa?” tanya Mei pada Riski yang tengah sibuk mencari tasnya di ruangan kosong, tepat saat mereka sedang melakukan pendaftaran masuk SMK.


“Tas ku,” jawab Riski.


Saat Riski melirik ke arah Mei, ia merasa terpanah melihat kecantikan wajah Mei yang begitu anggun.


“Memangnya hilang dimana?” tanya Mei lagi.


“Kalau aku tahu dimana, mana mungkin aku masih cari begini.” sahut Riski.


“Ah hahahaha,” Mei menertawai Riski yang menurutnya sangat lucu.


“Keluar sana, nanti orang berfikir jelek, melihat kita berdua ada di ruangan kosong begini.” ucap Riski.


“Aku mau istirahat, di luar ramai sekali.” sahut Mei.


Riski yang tak mendapatkan apapun di dalam ruangan berniat untuk pergi.


“Aku Mei,” ucap Mei, memperkenalkan dirinya, Mei yang tidak kenal siapapun di kota barunya mencoba mencari teman.


“Aku Riski.” sahut Riski, merasa pertemuannya dengan Mei adalah hal yang baik, Riski langsung meminta bantuan pada Mei.


“Apa aku boleh pinjam uang mu untuk ongkos pulang?” pinta Riski.


Lalu Mei pun memberinya uang Rp 150.000, sayangnya saat Riski pergi ia lupa meminta nomor telepon Mei.


Riski yang saat itu memiliki trauma akan ibunya yang bunuh diri perlahan merasa ada sedikit ketenangan dalam hatinya, setelah bertemu Mei.


Sebulan kemudian, saat ajaran baru di mulai Riski bahagia bukan main saat ia melihat Mei berada satu kelas dengannya.


Namun saat ia melihat wajah Yalisa yang mirip dengan selingkuhan ayahnya, membuat traumanya makin parah, Riski tak dapat menahan amarahnya, hingga melampiaskan kekesalannya pada Yalisa.


Karena Mei berteman akrab dengan Yalisa, dan terus memberi pembelaan pada Yalisa, membuat Riski mengubur dalam-dalam perasaannya pada Mei Lissah.


FLASHBACK OFF.


Bersambung...

__ADS_1


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK ❤️


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2