SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab XXVII (Membangun Sisi Kelam)


__ADS_3

Setelah bel berbunyi Mei bergegas menuju ruang BP, saat akan sampai ke ruang BP Mei bertemu dengan Leo.


“Mau kemana? Kok buru-buru bangat?”


Ucap Leo pada Mei yang langkahnya tergesah-gesah.


“Mau lihat keadaan Yalisa di ruang BP” Sahut Mei mulai berlari-lari kecil.


“Ada masalah apa lagi sekarang?” Tanya Leo yang mengikuti Mei menuju ruang BP.


“Dia di suruh ke ruang BP tadi” Sahut Mei


Setelah mereka berdua sampai ke ruang BP, Mei mulai mengetuk pintu.


Tok..tok..


“Masuk”


Dari dalam ruangan salah satu guru wanita mempersilahkan masuk, saat mereka memasuki ruangan bola mata mereka berdua berputar kesana kemari.


“Ada apa?” Tanya sang guru.


“Yalisa udah keluar ya bu?” Tanya Leo.


“Yalisa enggak pernah kesini”


Sahut sang guru, lalu Leo dan Mei keluar dari dalam ruangan karena yang mereka cari tidak ada disana.


“Dia kemana ya kiri-kira?” Leo bertanya pada Mei.


“Enggak tau, apa mungkin dia ke taman? Tapi orang semacam Yalisa pasti enggak mau neko-neko” Ucap Mei.


Saat mereka berdua sedang menebak-nebak dimana keberadaan Yalisa, pak Ari tiba-tiba muncul.


“Ngapain kalian berdua di depan ruang BP?”


“Mau lihat Yalisa pak” Ucap Leo.


“Dia ada di dalam kan? Tanya pak Ari.


Mei dan Leo menggelengkan kepala bersamaan.


“Dasar anak enggak berguna di suruh ke ruang BP malah enggak nurut” Gumam pak Ari.


“Lagian bapak enggak jelas bangat sih, main hukum anak orang saja, harusnya bapak tanya dia kenapa sampai tidak memperhatikan pelajaran, bukan malah melemparnya dengan penghapus! Ucap Mei dengan rasa kesal.


“Itu hak saya karena itu adalah jam pelajaran saya” Sahut pak Ari.


“Harusnya bapak lebih bijak kalau mau bertidak” Ucap Leo.


“Kembali ke pasal 1, kalau enggak suka bisa keluar dari sekolah ini, paham kan? Kalau kalian bertemu dia sampaikan padanya dia harus segera menemui saya, atau dia harus siap-siap saya kasih nilai D!”


Pak Ari masuk kedalam ruang BP meninggalkan mereka berdua.


“Lihat sendiri kan kelakuan wali kelas kami itu dasar guru psikopat, tau enggak tadi hidung Yalisa sampai berdarah kerena lemparan pak Ari, udah gitu kepalanya juga di pukul keras pakai buku pelajaran kami, tau kan buku itu setebal apa?”


Ucap Mei dengan perasaan sedih, Leo yang menyimak penuturan Mei mengalihkan pandangannya ke arah ruang BP yang pintunya terbuka separuh, dari celah itu Leo melihat pak Ari yang tidak ada rasa bersalah sedikit pun.

__ADS_1


“Bisa-bisanya dia tertawa setelah melakukan hal keji, dimana perasaannya sebagai manusia”~ Batin Leo


“Tapi aku sempat curiga sih sama Yovi” Ucap Mei.


“Yovi lagi?”~ Batin Leo.


“Karena aku lihat dia tertawa setelah dari toilet, melihat dia yang seperti itu aku jadi kepikiran jangan-jangan dia habis ngerjain Yalisa karena kan bahagianya kalau melihat Yalisa susah ” Ucap Mei.


“Ayo ke toilet Wanita, aku yakin dia disana” Titah Leo mulai berjalan cepat menuju toilet, Mei pun mengikuti Leo.


“Benar juga ya” Sahut Mei.


“Kalian semua harus tanggung akibatnya kalau sampai Yalisa kenapa-kenapa”~ Batin Leo.


_____________________


Sementara di dalam toilet wanita banyak siswi yang sedang beraktivitas, mereka mendengar suara Yalisa yang meminta tolong tapi tak seorang pun yang bersedia mengeluarkannya.


Semua acuh karena tak ingin terlibat masalah kalau sampai ikut campur.


“Tolong! Siapa saja buka pintunya... Atau setidaknya tolong nyalakan lampunya!”


Pinta Yalisa sambil memukul-mukul bilik toilet dari dalam, saat salah satu siswi ada yang mau membatu siswi lain malah melarangnya.


“Jangan di buka, kamu mau nanti berbuntut panjang? Bisa-bisa selanjutnya hidup mu yang akan sengsara mirip dia, kamu enggak tau ya? dulu karena dia membela kakak kelas yang di bully dia juga ikutan di bully sampai sekarang”


Siswi itu menjelaskan pada temannya yang berniat menolong.


“Tapi kasihan bangat”


Ucap sang siswi pada temenannya, karena termakan pengaruh temannya ,akhirnya sang siswi yang mau menolong pun mengurungkan niatnya.


Tiba-tiba Leo dan Mei masuk ke dalam toilet tanpa permisi, para siswi berteriak karena di antara mereka ada yang sedang memperbaiki pakaian dalamnya.


Leo menatap tajam ke arah mereka semua “Di bilik yang mana dia?”


Ucap Leo, para siswi menoleh ke sebuah bilik toilet yang di hadle pintunya tergantung tulisan


“ Toilet sedang di perbaiki”


Leo bergegas menyingkirkan semua peralatan yang menghalangi jalan keluar Yalisa, saat Leo membuka pintu, dia kaget karena di dalam toilet begitu gelap.


“Nyalakan lampunya”


Titah Leo, lalu Mei bergegas menyalakan lampu, dan di atas kloset duduk Leo melihat orang yang dia cintai duduk sambil memejamkan mata.


“Apa dia tidur? Atau dia pingsan?” Batin Leo.


“Yalisa...”


Leo memanggil nama Yalisa dengan lembut sembari melangkahkan kakinya menuju wanita mungil itu.


Yalisa membuka matanya perlahan, penglihatannya sempat silau karena tiba-tiba melihat cahaya lampu, Yalisa mendongak untuk melihat sosok yang berdiri di hadapannya.


“Leo” Ucap Yalisa dengan suara pelan.


“Kamu baik-baik saja kan?”

__ADS_1


Tanya Leo dengan wajah yang menahan amarah.


“Iya”


Sahut Yalisa mulai berdiri dari duduknya, Leo pun menuntun tangan Yalisa untuk keluar dari bilik toilet, di luar bilik Yalisa melihat Mei dengan raut wajah kwatir.


“Apa aku bilang harusnya tadi aku ikut” Ucap Mei.


Yalisa hanya tersenyum tipis memegang tanganan sahabatnya.


“Kalian keluar duluan” Ucap Leo.


“Ayo sama-sama”


Sahut Mei, Leo memejamkan matanya seolah memberi kode, saat Yalisa dan Mei berlalu dari toilet, Leo mengambil salah satu alat make up siswi yang lumayan padat lalu melemparkannya ke kaca berukuran besar yang ada dalam toilet.


Cringkkkk.....


Kaca besar itu terpecah menjadi bagian yang banyak, tercecer dimana-mana, semua yang ada di dalam toilet histeris ketakutan.


“Kalian hanya bisa melihat diri kalian sendiri, kalian tidak perduli akan sekitar kalian”


Selesai meluapkan kekesalannya Leo meninggalkan toilet dengan keadaan yang kacau.


“Harusnya aku lukai wajah mereka satu persatu”~Batin Leo


Di UKS Mei mengompres kepala Yalisa yang benjol dengan es batu.


“Makasih banyak ya Mei, kamu selalu ada buat aku” Ucap Yalisa


“Iya, lain kali jangan bebal ya di bilangin”


Mei meniup-niup kepala Yalisa yang benjol.


“Nanti kamu minum obat ini ya?”


Dokter Rani menyodorkan beberapa obat untuk di minum Yalisa.


“Terimakasih banyak dok” Ucap Yalisa.


Dokter Rani mengambil nafas panjang dan mulai menuturkan.


“ Maaf ya saya enggak bisa berbuat apa-apa sama kamu, kita semua sama-sama tau sistem sekolah ini”


“Iya bu, enggak apa-apa kalau pindah sekolah sekarang juga sudah tanggung, Kitakan sudah kelas 3 bu” Ucap Yalisa.


“Sekolah juga pintar bangat menyembunyikan kasus-kasus yang ada, banyak orang penting yang bermain di sekolah ini, asalkan nilai anaknya bagus, dia bersedia membantu masalah yang ada dalam sekolah”


Bu Rani menyenderkan badannya ke punggung kursi, dari balik pintu ruangan Leo mendengar percakapan mereka.


“Apa yang harus aku lakukan untuk melindungi Yalisa? Masa aku bilang ke papa buat kasih sogokan ke guru-guru? Sudah pasti papa menolak”~ Batin Leo


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️


Instagram : @Saya_muchu

__ADS_1


__ADS_2