
Masih tersisa rasa sayang
Tak jarang ku memikirkan mu
Kenangan bersama masih suka terbayang
Tapi apa boleh buat
Itulah keputusan mu
Semua yang kurasakan
Harus berhenti saat kau memintanya
Jika kau senang aku lepas tangan
Ku hargai keputusan mu
Mungkin takkan ada penyesalan
Apa lagi kasihan
Pilihan mu yang kokoh
Membuat aku mengalah
Aku tak mau posisi ku
menghalangi jalan mu
Di tengah jalan kita telah kalah
Tak mampu lalui ujian
Tak perlu kau sembunyi dari ku
Lain kali kalau ada waktu
Kenalkan dia pada ku
Meski mungkin aku telah mengenalnya
___________________________________________
Saat Riski sedang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, salah seorang bapak yang ia traktir tadi menghampirinya.
“Ada apa sahabat ku?” tanya sang bapak seraya menepuk pundaknya.
“Itu pak,” ucap Riski menggantung katanya.
“Apa?”
“Teman yang saya tunggu sudah enggak ada disini? ujar Riski. Sontak si bapak celingak-celinguk.
“Siapa sih?”
“Yalisa pak.”
“Oh, anaknya bu Alisyah?” terang si bapak.
“Iya pak.” seru Riski.
“Ya di rumahnya lah! Mana ada di jalan, udah janjian belum? Atau kamu enggak tahu dimana rumahnya?” tanya si bapak.
“Tau sih, tapi...”
“Ya sudah sahabat ku, pergi saja ke rumahnya.” ujar si bapak.
“Tapi pak, sepertinya dia sendirian di rumah, nanti tetangga membuat gosip lagi kalau kita berduaan dalam rumah.” ucap Riski.
“Enggak apa-apa, tenang saja! Saya akan amankan demi kamu, asalkan jangan berbuat mesum sahabat ku.”
“Ah yang benar pak?” tanya Riski setengah tak percaya.
“Iya, karenakan saya RT nya disini.” ujar si bapak.
“Ha?” mata Riski membulat.
“Sudah sana.” si bapak pun menepuk-nepuk kembali bahu Riski.
Tahu kalau dia dapat lampu hijau dari RT nya langsung, membuat Riski senang bukan main.
“Makasih ya pak, lain kali saya akan traktir makan enak.” ucap Riski dengan senyum lebar.
“Aman, kan kita sudah jadi teman.” ucap si bapak, lalu Riski mengulurkan tangannya.
“Riski Lail.” ucap Riski memperkenalkan namanya.
“Rahmat Wahyu,” balas si bapak.
__ADS_1
“Oke, kalau gitu aku berangkat pak.”
“Siap anak muda, perjuangkan lah cinta mu itu!” seru pak Rahmat.
Dengan semangat tanpa gentar, Riski menuju rumah Yalisa.
Sesampainya ia di depan rumah Yalisa, ia pun langsung mengetuk pintu.
Tok tok tok!
Yalisa yang sedang asyik-asyiknya menangis pun heran, siapa yang datang malam-malam bertamu ke rumahnya.
“Apa itu Leo?” gumamnya seraya menyeka air matanya dengan selimut.
Tok tok tok!
Suara ketukan itu terdengar lagi, jantung Yalisa pun berdegup kencang, ia merasa yang datang itu adalah Leo.
Sebenarnya dia tak ingin bertemu, tapi suara ketukan pintu yang terus menerus membuatnya tak enak bila menggangu para tetangga.
Yalisa pun bangkit dari ranjang, menuju pintu utama rumahnya.
Cetek!
Krieettt...
Saat pintu terbuka ia kaget karena yang berdiri di hadapannya adalah Riski.
“Ki?”
Riski yang melihat penampakan wajah mengerikan di depannya tak tahu harus mulai dari mana berbicara.
“Ada apa datang malam-malam begini?” tanya Yalisa, namun Riski hanya diam mematung, ia teramat fokus pada bagian wajah Yalisa yang semua serba bengkak.
“Ki!” pekik Yalisa dengan menahan air mata, lalu Riski menyentuh pipi sebelah kanan Yalisa.
“Kamu...” Riski menggantung kata yang akan ia ucapkan.
“Masuk dulu, enggak enak di lihat tetangga.” seru Yalisa seraya melepaskan tangan Riski dari pipinya.
Riski pun mengikuti Yalisa dari belakang, Yalisa tak sengaja menoleh ke arah kaki Riski, kemudian Yalisa menelan saliva nya.
“Ini bukan rumah mu, yang masuk tanpa buka alas kaki.” ucap Yalisa.
“Eh?” buru-buru Riski berbalik ke teras untuk melepas sepatu sport yang ia kenakan.
ia pun kembali dari dapur dengan membawa sebuah teko aluminium warna emas, lengkap dengan 2 buah gelas kaca ukuran sedang.
Riski yang tanpa di persilahkan duduk, sudah mengambil posisi nyaman di atas sofa.
Yalisa tak berkomentar, ia pun meletakan gelas dan teko yang ia bawa di atas meja, dan menuangkan air mineral di kedua gelas.
“Maaf, adanya cuma air zamzam,” ucap Yalisa.
“Enggak apa-apa, zamzam juga enak.” sahut Riski, yang memang butuh membersihkan tenggorokannya dari 4 gelas kopi yang ia minum tadi.
Selesai meneguk air minum Riski pun menatap serius wajah Yalisa yang duduk di hadapannya.
“Kenapa?” Yalisa yang mendapat tatapan penuh arti membuatnya tak nyaman.
“Ada apa sih?” tanya Yalisa.
“Jadi, sudah berapa lama kamu nangis?” tanya Riski.
“A-apa?”
“Satu hari?” tanya Riski lagi.
“Ki...”
“Apa bagusnya sih dia?” ucap Riski.
“Apa?” tanya Yalisa, yang bingung tahu dari mana Riski soal masalahnya.
“Kamu tahu apa masalah ku?” tanya Yalisa, yang membuat Riski diam, tak sadar ia keceplosan, hampir saja ia berkata lebih lanjut, jika itu terjadi, maka Yalisa akan tahu segalanya.
“Maksud ku, apa bagusnya yang kamu tangisi itu! Sampai-sampai bola mata mu cuma terlihat setengah centimeter.” terang Riski mencoba mengelak.
“Oh,” Yalisa menundukkan kepalanya.
“Yalisa.”
“Hum?”
“Sini!” seru Riski seraya menepuk-nepuk sofa yang ia duduki.
“Mau apa?” tanya Yalisa.
“Sini, kamu kalau duduk disitu kejauhan, kan disini muat 2 orang.” ucap Riski.
__ADS_1
“Enggak,” sahut Yalisa.
“Kamu yang kesini, atau aku yang kesitu? Kayaknya kalau aku yang kesitu, kamu harus ku pangku kalau duduk.” terang Riski yang membuat Yalisa bergegas ke sebelah Riski, karena ia tahu semua yang Riski katakan akan terjadi.
“Kenapa?” tanya Yalisa seraya duduk di sebelah Riski.
“Aku kan sudah pernah bilang, jaga wajah mu.” ucap Riski seraya menyeka sisa air mata Yalisa dengan jemarinya.
“A-aku...”
“Apa yang membuat mu jadi gila begini? Gimana besok kamu ke sekolah? Orang-orang bisa mengejek wajah mu yang buruk ini.” terang Riski.
“Iya ta-tapi aku...” Yalisa merapatkan kedua bibirnya menahan tangis.
“Kalau kamu mau, aku siap buat dengar.” ujar Riski.
“A-aku di putusin, hiks.. hiks.. hiks..” air mata Yalisa mengalir kembali.
Lalu Riski mengusap puncak kepala Yalisa dengan perasaan bersalah.
“Sudah, jangan menangis lagi.” tatap Riski dengan iba.
“Kalau dia nangis begini, gimana aku bisa senang? Aku lebih suka lihat dia bahagia.” batin Riski.
“Dia tega bangat sama aku Ki.” Yalisa terus saja merengek.
Riski tak tahu bagaimana cara menenagkan perempuan yang sedang menangis, kemudian Riski menggeser duduknya lebih dekat pada Yalisa. Lalu kembali menyeka air mata Yalisa dengan lengan baju kemeja yang ia pakai.
“Ck.” Riski mendecak melihat Yalisa tak berhenti menangis, ia pun tanpa izin memeluk Yalisa, lalu menepuk-nepuk punggung Yalisa dengan pelan.
“Cup cup cup, sudah ah, jangan nangis terus, muka jelek mu jadi seram tahu kalau nangis begini.” ujar Riski yang bajunya mulai basah karena air mata Yalisa.
“Tapi Ki, aku sayang bangat sama dia.”
“Apa?!” pekik Riski.
“Kamu enggak akan ngerti.”
“Apanya yang enggak aku mengerti? Heh! Leo sudah putusin kamu, harusnya kamu terima, mungkin itu yang terbaik.” ucap Riski yang masih memeluk Yalisa.
“I-ibunya juga menjodohkan dia, sama cewek lain.”
“Ya sudah biarkan saja, kan masih ada aku, apa bagusnya sih Leo, gantengan aku, soal harta juga aku, jadi kalau kamu sama aku, kamu enggak akan kekurangan apa pun.” terang Riski.
“Ada Ki!”
“Apa?”
“Kurang cinta.” ucap Yalisa.
“Hah?” Riski memutar mata malas.
“Sakit bangat Ki.”
“Yang namanya putus cinta ya pasti sakit, walau begitu, jangan sampai lupa makan.” ucap Riski, Yalisa hanya mengangguk.
“Udah makan belum?” tanya Riski, lalu Yalisa menggelengkan kepala.
“Emangnya kalau kamu sakit yang rugi siapa? Orang lain?” terang Riski dengan mengangkat alisnya.
“Aku enggak selera makan Ki.” ucap Yalisa seraya mendongak.
“Hum, cuma gara-gara satu cowok kamu mau merusak jadwal makan mu? Kalau kamu kenapa-napa yang rugi kamu, yang susah ibu, ya kalau aku sih pasti cari cewek baru, apa lagi Leo, sudah jelas makin melupakan kamu.” ucap Riski dengan datarnya.
“A-apa?”
“Apanya? Emang kamu fikir cinta setulus itu? Menerima kekurangan pasangannya? Kalau pun ada itu cuma 1/10, jadi nasehat ku, kamu tabah kan hati mu, ini bukan kehendak dia, melainkan keinginan Tuhan.” ucap Riski, kata-kata Riski membuat jernih kepala Yalisa, walau hanya sedikit.
“Kamu benar Ki, aku enggak boleh kayak begini.” ungkap Yalisa, seraya melepas pelukan Riski.
“Ya! Itu udah paling benar.” ujar Riski seraya menarik Yalisa kembali dalam pelukannya.
“Hei,” ucap Yalisa.
“Hum?” sahut Riski yang memeluk Yalisa dengan mimik wajah nyaman.
“Bukan berarti aku haus kasih sayang ya!” pekik Yalisa seraya menepuk jidat Riski.
Sontak Riski melepas pelukannya dari Yalisa, lalu memegang dahinya.
“Sakit.”
“Heemmm.” Yalisa menyunggingkan bibirnya.
Bersambung....
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1