SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CXLIV (Menuntaskan Hajat)


__ADS_3

“Nyonya kenapa dok? Nyonya sakitnya enggak parah kan?”


“Tenang saja mbak Susi, nyonya hanya kelelahan dan kurang cairan, saya sudah resep kan obat, pastikan nyonya meminum obat ini, pola makan harus teratur, istirahat cukup, dan saya juga sudah tambahkan obat demam untuk jaga-jaga, mana tahu nyonya demam nantinya,” terang sang dokter.


Setelah menyelesaikan tugas, sang dokter pun pamit untuk pergi.


Ketika Susi akan meninggalkan sang nyonya, tiba-tiba Yalisa mengigau dalam tidurnya.


“Ibu...., ibu.... Yalisa rindu,”


Melihat itu, Susi mengurungkan niat untuk keluar dari dalam kamar itu, saat Susi ingin menyeka keringat di dahi Yalisa, baru ia tahu, kalau Yalisa ternyata demam.


“Astaga.” dengan sigap Susi mengambil cool faver dari kotak P3K yang ada dalam kamar majikannya, lalu menempelkan ke dahi Yalisa.


Tak lupa ia mengganti baju sang majikan yang basah agar tidak masuk angin.


“Riski...., Riski....,” Yalisa terus mengigau, hingga 5 menit kemudian ia tertidur pulas.


Susi yang khawatir segera memberi tahu tuannya tentang keadaan Yalisa.


📱 “Selamat malam tuan, mohon maaf mengganggu, tapi saat ini nyonya sedang demam, nyonya juga mengigau nama tuan dan juga ibunya nyonya,” Susi.


Setelah mengirim pesan pada Riski, Susi duduk kembali di sebelah majikannya berbaring.


Pagi harinya, ketika matahari telah menyingsing tingginya Yalisa yang telah sembuh dari demamn, melirik sang ART, yang tengah tertidur di sebelahnya dengan posisi duduk.


“Mbak Susi,” gumam Yalisa.


Ia pun menarik plester kompres yang merekat di keningnya.


Susi yang tidurnya sensitif akan suara langsung terbangun.


“Nyonya sudah bangun?” ucap Susi.


“Ah, iya mbak," jawab Yalisa.


Saat Yalisa akan beranjak dari ranjang, Susi membantunya untuk turun.


“Enggak apa-apa mbak, aku bisa kok,”


“Baik non, apa sekarang nyonya mau mandi?”


“Iya,”


“Baik non, saya akan menghubungi pelayan, agar mengantarkan sarapan ke sini,” ujar Susi.


“Eng-enggak usah mbak,”


“Apa nyonya mau sarapan di meja makan? Saya akan ambilkan kursi roda untuk nyonya,”


“Enggak usah mbak, aku belum lapar,”


“Tapi nyah, nyonya harus meminum obat dengan rutin, agar nyonya sehat kembali,” terang Susi.


“Nanti saya akan makan, setelah Riski datang,”


“Itu...,” Susi ragu untuk melanjutkan katanya.


“Ada apa mbak?”


“Belum tentu tuan akan pulang hari ini, tolong nyonya untuk segera makan, bagaimana pun juga kesehatan nyonya itu penting.” ungkap Susi, yang takut akan kesehatan sang majikan semakin memburuk.

__ADS_1


“Kalau Riski enggak pulang, aku enggak mau makan.” ujar Yalisa seraya meninggalkan Susi sendiri di tempatnya berpijak.


Yalisa masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ia juga merasa kesal pada Riski sang suami, sudah berbohong untuk yang kedua kalinya.


“Apa susahnya sih buat kasih kabar?” Yalisa pun menangis di bawah guyuran shower.


Setelah selesai mandi, ia duduk di sebuah kursi yang ada di balkon kamarnya.


Ia yang baru saja datang ke rumah itu, harus di tinggal sendiri, berulang kali Susi menyuruhnya untuk makan, namun Yalisa tak mau menurut.


Hingga kesehatannya memburuk kembali, Yalisa mengalami demam tinggi, Susi yang tak ingin dapat masalah, bersikeras memaksa majikannya untuk makan, agar sang majikan dapat meminum obatnya.


Satu minggu pun berlalu, ketika Yalisa masih terbaring di atas ranjang, tiba-tiba ada sebuah tangan yang mengelus rambutnya, perlahan Yalisa membuka mata.


“Kamu sudah bangun?” ucap Riski yang masih memakai setelan formal.


Yalisa memalingkan wajahnya dari sang suami yang baru pulang dari luar negeri itu.


“Yalisa, sayang...., kamu marah ya?” Yalisa tetap tak mau bersuara, ia teramat kesal pada sosok laki-laki yang terus menyiksa batinnya.


Lalu Riski merebahkan tubuhnya di sebelah istrinya, dan menaruh kelapa Yalisa di atas lengannya.


“Jangan marah, aku pergi untuk menjalankan tugas, maafkan aku sayang,” ia mengecup kening istrinya.


“Kamu selalu tega pada ku, apa susahnya untuk kasih kabar?” Yalisa yang di dera rindu pun mulai menangis.


Lalu Riski memeluk tubuh istrinya, agar sang istri dapat lebih tenang.


“Maafkan aku, rapatnya benar-benar penting, tapi satu hal yang perlu kamu tahu, semua yang ku lakukan untuk masa depan kita,” terang Riski.


“Hiks, hiks....," Yalisa yang sudah tak tahan menangis sesenggukan, Riski menyeka air mata sang istri, lalu mengecup bibirnya.


“Akh!” Yalisa terkejut.


“Hentikan, aku belum sikat gigi dari kemarin," terangnya seraya menyumpal mulutnya.


“Apa kamu juga belum mandi yang?” tanya Riski.


“Belum," jawab Yalisa.


“Baguslah kalau begitu.” tanpa permisi Riski mengangkat tubuh Yalisa ala bridal style.


“Eh, kamu mau ngapain?” tanya Yalisa.


“Ayo mandi bareng,” ucap Riski.


“Enggak mau.” Yalisa mencoba turun, namun Riski tak mau melepaskannya.


Sesampainya mereka di dalam kamar mandi, Riski menurunkan Yalisa di atas meja wastafel.



Lalu ia kembali mengecup pipi sang istri, yang wajahnya sudah merah seperti tomat.


“Ki....,”


“Kenapa?”


“Kita enggak usah mandi bareng ya?” pinta Yalisa, sebab ia teramat malu, jika melakukan hal itu.


Riski tersenyum lembut, saat ia akan melucuti pakaian istrinya, Yalisa berusaha menahan tangan Riski.

__ADS_1


“Jangan,” ucapnya dengan suara lirih.


Namun Riski tak mau mendengar, ia pun melanjutkan niatnya, melucuti satu persatu pakaian yang di kenakan istrinya hingga tak tersisa satu pun.


“Hem, Akh!” Yalisa yang kini berpenampilan polos memalingkan wajahnya dari suaminya, sebab ia tak mampu untuk bertatap mata secara langsung.


Sementara Riski menelan saliva, melihat pemandangan indah di hadapannya.


“Ku pikir tepos, ternyata besar.” itulah yang ada dalam benaknya, ketika kedua bola matanya tak bisa berpaling dari dua bukit kembar istrinya.


Di tambah kulit putih dan mulus sang istri menambah kesan seksi di matanya.


Terlebih ketika sorot matanya berpindah ke arah hutan gundul milik istrinya.


Riski yang tak ingin menunda lagi, perlahan mencium telinga wanita yang kini telah menjadi miliknya seutuhnya, ia terus mengecup seraya berbisik nakal.


“Sayang, kapan kau babat hutan rimbun mu itu?”


Deg deg deg deg! Yalisa tak mampu menjawab pertanyaan memalukan tersebut.


Lalu Riski melucuti pakaiannya satu persatu, hingga akhirnya mereka berdua tak mengenakan apapun.


Nafas Yalisa mulai menggebu, rasanya ia ingin berteriak, karena terlalu tegang dan gugup.


“Janjung ku rasanya mau meledak,” batin Yalisa.


Lalu Riski menyentuh salah satu ujung bukit kembar kebanggaan Yalisa.


“Umm...,” tanpa sengaja Yalisa mengeluarkan suara eranga* .


“Sayang, kamu sensitif di bagian ini?” tanya Riski, namun Yalisa tak mau menjawab.


“Ayo katakan dan tatap mata ku,” pinta Riski, namun Yalisa menggelengkan kepala.


Riski yang jahil, mulai memainkan ujung bukit kembarnya dengan lembut. Dan Yalisa sebisanya menutup rapat bibirnya agar tak menimbulkan suara, meski sebenarnya ia tak tahan.


“Rasanya gimana yang? Geli?” tanya Riski.


Yalisa menggelengkan kepala, tak mau mengakui kenikmatan surga dunia itu.


“Hentikan, rasanya aneh,” ujar Yalisa.


“Oh ya?” Riski merasa tertantang, karena sedari tadi Yalisa terlihat tegang ia pun ingin mendengar suara nakal istrinya.


Dengan perlahan Riski menyesap ujung bukit indah sang istri, seraya tangan memainkan ujung bukit di sebelahnya.


Riski sangat lihai dalam menyesap bukit yang rasanya semanis permen milkita tersebut, hingga Yalisa tak bisa menahan untuk tak mend*esah.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


Nantikan karya baru dari author pada tanggal 15 Desember 2021.


Beeve adalah gadis muda berparas cantik yang baru saja lulus SMA, ia yang ingin melanjutkan studi harus terhalang karena mendapati dirinya tengah mengandung anak dari hubungan terlarangnya dengan sang kekasih yang berbeda keyakinan.


Alih-alih di nikahi oleh yang ia cintai, Beeve yang malang justru di campakkan seperti sampah.


Keluarganya yang tahu akan kondisi dirinya dengan sigap menikahkannya dengan Andri, pemuda tampan mapan dan dermawan.

__ADS_1


Akankah pernikahan Beeve dan Andri berjalan dengan lancar? Atau malah putus di tengah jalan?



__ADS_2