
Sembari menunggu pak Sarto selesai memasak, Mei membuka lemari untuk mengganti bajunya, tanpa sengaja ia melihat sebuah kotak kardus berukuran kecil yang di balut bungkus kado berwarna hitam.
Mei meraih kotak tersebut dan perlahan merobek kertas kado dan sebagian kardus sebagai pembungkus hadiah yang terdapat di dalamnya.
“Jam ini?” gumam Mei, yang langsung teringat akan masa lalu.
________________________________________
Riski yang telah sampai ke rumahnya bergegas menuju perpustakaan pribadi keluarganya.
Kriett...
Riski membuka pintu perpustakaan yang ukurannya sama dengan perpustakaan di sekolahnya.
Riski berjalan menuju meja tempat ia biasa membaca komik dan novel, sesampainya Riski di meja yang ia tuju, Riski menggeser sebuah bangku, agar ia dapat duduk di depan meja tersebut.
“Hah!” Riski menghembuskan nafas panjang.
Lalu ia melihat ke arah laci meja yang ada di hadapannya.
Drrrtt...
Riski membuka laci itu, dan menemukan tas hadiah warna merah muda, yang dulunya akan dia berikan pada Mei.
“Sudah lama sekali,” ucap Riski seraya mengeluarkan tas itu dari dalam laci.
Riski membuka lebar tas hadiah tersebut, disana masih terdapat sebuah novel yang berjudul pihak ketiga.
“Dulu aku repot-repot cari novel ini buat kamu, sebagai, tapi sayangnya enggak kesampaian.” gumam Riski.
FLASHBACK RISKI DAN MEI LISSAH
17 Juli 2015, hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru.
Ketika Riski memasuki kelas barunya, ia melihat Mei Lissah yang ternyata satu ruangan dengannya.
Saat ia akan menyapa Mei, tiba-tiba langkahnya terhenti, karena melihat wajah Yalisa yang bagai pinang di belah dua dengan selingkuhan ayahnya.
Mei dan Yalisa menjadi teman satu meja duduk bersebelahan, ketika Riski membalik badannya ingin pergi, Mei melihatnya.
“Itu cowok yang minjam uang ku waktu mendaftar kan?” batin Mei.
Saat jam istirahat Mei datang menghampiri Riski ke bangkunya.
“Riski,” ucap Mei.
“Kamu siapa?” sahut Riski, seketika Mei mengernyit.
“Masa dia udah lupa sama aku?” batin Mei.
“Aku Mei, aku nyapa kamu buat nagih hutang mu yang 150.000,” ungkap Mei.
“A- apa?” sahut Riski.
“Kamu enggak lupa kan? 150.000 itu bisa buat beli bakso 15 mangkuk di kantin, jadi lumayan kan?” ucap Mei.
“Aku fikir apaan, ternyata dia cuma mau nagih hutang,” batin Riski.
“Kalau kamu belum punya uang buat bayar enggak apa-apa, tapi kalau sampai pura-pura enggak kenal juga, apa itu enggak berlebihan?” ucap Mei.
“Mei,” sahut Riski.
“Kamu kenal dia Ki?” tanya Zuco.
“Iya,” sahut Riski.
“Karena kamu udah ingat, aku akan traktir kamu ke kantin, aku tahu kamu enggak punya uang buat jajan.” ucap Mei.
“Buat beli pulau juga aku mampu, apa lagi jajanan di kantin,” batin Riski.
“Ta- tapi aku enggak lapar.” sahut Riski mencoba menolak ajakan Mei.
“Ayolah.” ucap Mei seraya menggenggam tangan Riski, yang membuat hati Riski luluh, yang tadinya ia telah mengubur perasaan itu, dalam sesaat malah jadi bertunas.
__ADS_1
Baru beberapa hari mereka sekolah, Mei dan Riski pun sudah menjadi teman baik, sering ke kantin dan pulang sekolah bersama, meski keduanya memiliki perasaan satu sama lain, namun tak ada yang berani untuk mengungkapkan terlebih dahulu.
Hari itu adalah sabtu, sepulang sekolah Mei dan Riski memutuskan untuk bermain ke danau yang tak jauh dari sekolah mereka.
Dengan menaiki sepeda motor, Mei dan Riski pun tiba di danau yang tidak banyak pengunjung.
“Kenapa kamu minta kesini?” tanya Riski.
“Ini tempat favorit ku,” jawab Mei.
“Hah?” Riski mengernyit.
“Kesunyian adalah pengobat hatiku yang selalu tak tenang.” ucap Mei.
“Aku enggak ngerti maksud kamu apaan,” sahut Riski.
“Sudah, ayo kita duduk di bangku yang disana!” seru Mei seraya menunjuk ke sebuah bangku yang bahannya terbuat dari semen, sesampainya mereka ke bangku itu, mereka berdua pun duduk bersama.
“Apa aku boleh tanya sesuatu?” ucap Mei.
“Apa?” sahut Riski
“Kenapa kamu benci sama teman semeja ku itu?” tanya Mei.
“Itu.” sahut Riski dengan ragu-ragu.
“Aku enggak paksa kamu buat jawab, tapi aku harap jangan ganggu dan membencinya sebanyak itu, karena itu enggak baik, dan aku kurang suka lihatnya.” ucap Mei.
“Karena kalau kamu masih suka mengganggunya, itu akan membuat kita semakin jauh, aku enggak bisa dekat-dekat dengan orang yang memberi pengaruh buruk pada ku, kalau sifat mu dan aku sama, itu artinya kita tidak punya alasan lagi untuk dekat.” batin Mei.
“Kenapa kamu perhatian padanya?” tanya Riski.
“Karena dia teman ku.” jawab Mei dengan senyum di bibirnya.
Lalu Mei tiba-tiba mengambil rokok dari dalam tasnya.
“Kamu merokok?” tanya Riski keheranan.
“Iya, apa kamu enggak merokok?” tanya Mei kembali.
“Rokok yang aku hisab ini enggak ada larangan untuk perempuan tuh.” sahut Mei, seketika Riski tersentak
“Tapi itu enggak baik buat kamu,” ucap Riski.
“Sudah, nikmati saja, kalau aku enggak ikut hisab, terus rokok di warung kapan habisnya? Nanti kalau pabriknya tutup gimana? Kalau karyawannya di pecat bagaimana?” ungkap Mei.
Mei yang terus bicara membuat Riski merasa terhibur.
“Setelah ibu, Mei adalah wanita yang dapat ku terima tulus dalam hati ku, tak ada syarat untuk Mei, aku suka gayanya yang nakal, bersamanya aku bisa jadi diriku sendiri.” batin Riski.
“Aku cuma bisa jadi diriku kalau bersama Riski, di depan orang lain, aku harus jadi gadis yang normal,” batin Mei.
“Ki,” ucap Mei.
“Ya?” sahut Riski.
“Jangan bilang sama orang lain ya, kalau aku ngerokok, ini cuma antara kita berdua.” ucap Mei dengan mimik wajah cerianya.
“Aman,” sahut Riski, lalu mereka berdua pun merokok sepuasnya.
Keesokan harinya, saat mereka berdua di perpustakaan Mei tiba-tiba mendecak.
“Kenapa?” tanya Riski.
“Novel yang aku baca ternyata ada season 2 nya, dan aku sudah cari di seluruh perputakaan ini, tapi enggak ada novel lanjutannya, rasanya gantung bangat, dan penasaran.” ucap Mei.
“Nanti coba kita cari di toko buku,” ujar Riski.
“Nanti aku mau ketemu papa dan mama sepulang sekolah,” ucap Mei.
“Kan orang tua mu setiap hari di rumah, jadi enggak masalah menurut ku, kalau kita ke toko buku sepulang sekolah,” ucap Riski.
“Mereka itu sibuk, jadi kalau mereka lagi sempat, aku harus disana bersama mereka.” ucap Mei.
__ADS_1
“Ketemu di hotel, bukan di rumah,” batin Mei.
“Ya sudah, biar aku yang cari.” ucap Riski.
“Hah? Yang benar!” seru Mei.
“Iya, akan aku cari sampai dapat.” ucap Riski.
“Ah! baik bangat sih kamu, oh ya, sebagai balasannya, nanti aku kasih hadiah juga buat kamu.” sahut Mei.
“Hadiah apa?” tanya Riski.
“Ada deh,” sahut Mei.
“Mungkin di rumahnya enggak ada jam, kalau gitu aku kasih jam saja, biar anak ini enggak sering terlambat ke sekolah,” batin Mei.
Beberapa hari kemudian, saat Mei baru tiba ke dalam kelas, ia sudah langsung di suguhkan pemandangan yang cukup mengguncang hatinya.
Di hadapan matanya, Riski menghardik dan mencibir Yalisa, Mei hanya mematung tak dapat beranjak, karena ia merasa emosinya ikut bergejolak.
Puncaknya, Riski menampar wajah Yalisa, kemudian Riski kembali melontarkan makian demi makian pada Yalisa.
Saat Mei melihat kesekelilingnya, orang-orang hanya menyaksikan, tanpa ada yang melerai, bahkan ada juga yang tertawa melihat seorang gadis tak berdaya di aniaya seorang pria yang yang menurutnya tak berhati.
Mei langsung keluar dari ruangan kelas itu tanpa mengatakan sepatah kata pun lada Riski, ia berjalan menuju toilet, sesampainya ia ke toilet, Mei langsung mengeluarkan obat penenang dari dalam tasnya. Dan meneguknya dengan air kran dari wastafel.
“Untung enggak ada orang disini.” batin Mei.
Lalu Mei masuk ke dalam salah satu bilik toilet, kemudian duduk di atas toilet duduk yang tertutup.
“Pada hal aku sudah bilang, jangan ganggu Yalisa, tapi dia enggak mendengarkan, gimana jadinya kalau kami berdua pacaran, bisa-bisa aku tambah hancur,” batin Mei.
Setelah perasaannya tenang, ia pun keluar dari toilet menuju kelasnya.
“Sial, berarti aku harus ke psikolog lagi,” gumam Mei.
Mei yang akan sampai ke kelasnya tiba-tiba berpapasan dengan Riski yang akan ke toilet.
“Mei.” sapa Riski dengan senyuman hangatnya, saat Riski akan memegang tangan Mei, Mei langsung menepisnya.
“Sudah ku peringatkan, tapi kamu malah enggak dengar!” hardik Mei.
“Maksud kamu apa Mei?” tanya Riski kebingungan.
“Apa kamu sebodoh itu? Sudah lupa? Jangan ganggu Yalisa! Kan aku bilang gitu! Kamu sering bangat ganggu dia, itu buat aku enggak tahan!” hardik Yalisa dengan wajah horornya.
“Mei, tadi dia tumpain air minum di baju ku.” ucap Riski dengan rasa takut di hatinya.
“Aku sudah lihat semuanya, dan aku juga sudah amati Yalisa sejak lama, dan aku tahu kamulah yang bermasalah, tanpa alasan yang jelas, kamu selalu ngincar dia buat pelampiasan emosi mu, karena kamu enggak bisa berubah, jauh-jauh dari ku.” ucap Mei, seraya meninggalkan Riski menuju kelas.
“Mei,” gumam Riski.
Sejak saat itu, hubungan Riski dan Mei retak, beberapa kali Riski mencoba mengajak bicara, Mei selalu menolak mentah-mentah, dan hadiah yang mereka berdua ingin berikan pun, menjadi terabaikan begitu saja.
Untuk melupakan Mei, Riski memacari banyak perempuan sekaligus, Riski juga semakin sering mengganggu Yalisa, itu semua ia lalukan untuk mencari perhatian Mei semata.
Kenyataannya memang Mei merasa sakit hati, ia juga setiap hari mengunjungi akun media sosial Riski.
Lalu puncak kesabarannya habis, ketika ia melihat Riski bermesraan di depan matanya, meski Mei dari luar terlihat biasa saja dan tak bergeming, jauh di lubuk hatinya, ia ingin mencabik-cabik Riski, namun Mei tak sanggup, untuk menumpahkan kekesalannya, ia membunuh seorang ibu paru baya beserta anak perempuannya yang masih kecil.
Keduanya ia kenal saat ibu dan anak itu melamar kerja ke rumahnya.
Perasaan Mei pada Riski pun perlahan-lahan hilang, berkat Yalisa yang selalu memberi pengaruh positif padanya, ia juga jadi dapat mengontrol emosinya.
Ibunya Yalisa pun memperlakukan Mei seperti anak sendiri, sehingga kekosongan dalam hatinya pun terisi.
Begitu pula dengan Riski, hanya dalam beberapa bulan perasaannya pada Mei pun hilang, akibat pergaulan bebasnya.
FLASHBACK OFF.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK ❤️
__ADS_1
Instagram :@Saya_muchu