SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab XCIII (Peruntungan Kancing Baju)


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Zuco dan Marco telah tiba di sekolah, sebab mereka yang belum mengerjakan pr di rumah memutuskan untuk diskusi bersama di sekolah.


Karena mereka tak sempat mengisi perut di rumah, akhirnya kedua sahabat solid itu memutuskan untuk mengerjakan PR di kantin seraya mengisi perut yang sedari tadi berirama.


Sesampainya mereka di kantin, mereka melihat pemandangan biasa, namun menyimpan suatu makna.


“Ngapain mereka ke sekolah sepagi ini?” Zuco bertanya pada Marco yang ada di sebelahnya.


“Enggak tahu, pegangan tangan lagi.” lanjut Marco.


“Iya, bukannya mereka teman ya?” ujar Zuco, karena mereka berdua terlanjur lapar, mereka pun tak memperdulikan hal itu, karena sebelum itu pun kedua insan berbeda jenis itu sudah terlihat akrab.


Pukul 07.30, bel pun berbunyi, semua siswa/i berkumpul di lapangan untuk mengikuti upacara bendera sampai dengan selesai.


Selepas upacara, semua guru dan siswa yang ada di lapangan kembali ke kelas mereka masing-masing.


Zuco yang ingin meminjam tipex ke salah seorang siswi yang tempat duduknya ada di sebelah Yalisa, tak sengaja mendengar curhatan Yalisa pada Mei.


Tentang calon istri Leo yang ternyata teman satu sekolah mereka.


Zuco menelan saliva nya, dan buru-buru kembali ke kursinya yang ada di paling depan, mulutnya yang bagai ember tak dapat menahan apa yang barusan ia peroleh.


“Eh, eh eh! Kalian tahu enggak.” ucap pelan Zuco kepada Marco dan Riski yang duduk berdekatan dengannya.


“Apaan?” tanya Riski dan Marco.


“Ternyata, calon istri Leo satu sekolah sama kita.”


“Apa?! Tahu dari mana kamu?” tanya Marco penasaran, sedang Riski yang sudah tahu hanya bersikap biasa saja.


“Tadi tanpa sengaja aku dengar Yalisa curhat sama Mei.”


“Wah! Luar biasa.” Marco menggeleng-geleng kepalanya.


“Marco, kamu kok enggak nangkap sama sekali sih!” ujar Zuco yang seperti mengetahui sesuatu.


“Maksud kamu apaan?”


“Kamu enggak curiga apa sama Mei?” sadar kalau Zuco mengetahui sesuatu membuat respon Riski lebih serius sekarang.


“Oh iya, Mei dan Leo kan pegangan tangan tadi pagi di kantin.” ujar Marco mengingat peristiwa yang mereka saksikan tadi pagi.


“Kalian lihat apa?” tanya Riski memperjelas pendengarannya.


“Mei dan Leo pegangan tangan, kita fikir bukan apa-apa, tapi ternyata Mei adalah rubah berekor 10.”

__ADS_1


“Kok 10, 9 kali Co.” terang Marco mengingatkan rubah siluman hanya punya ekor 9.


“Oh iya, maksud ku begitu, tega-teganya dia sikat pacar sahabatnya sendiri, PHO!” ucap ketus Zuco yang entah mengapa merasa kesal sendiri.


“Sudahlah, biarkan saja, toh Yalisa dan Leo kan sudah enggak punya hubungan apa-apa, jadi wajar dong, dia mau sama siapa saja.” Riski mencoba mencairkan suasana.


“Memang, tapi gimana perasaan Yalisa nantinya? Hatinya yang sekarangkan belum sembuh karena sakitnya di putuskan Leo.” Zuco yang dulunya jahat pada Yalisa, kini justru prihatin.


“Kata siapa hatinya belum sembuh?” timpal Riski dengan raut wajah memasam.


“Bukannya sudah jelas, kamu juga tahu sendiri kan?”


“Hatinya sudah enggak sakit, karena aku sudah ada sebagai obat untuknya.”


“Hah! Itukan cuma pacaran 1 hari.” Marco mengingatkan Riski tentang taruhannya dengan Yalisa.


“Hum! Siapa bilang? Tadi malam kami resmi pacaran.” ucap Riski dengan bangga.


“Apa?!” kelopak mata Marco dan Zuco membulat sempurna.


“Jadi jangan kaitkan Yalisa dan Leo lagi, kuping ku panas mendengarnya.”


Zuco dan Marco tak tahu harus senang atau bagaimana, karena mereka bertiga adalah teman, keduanya hanya bisa memberi selamat.


“Selamat ya bro, jangan lupa traktirannya, karena kalau kita mendapatkan suatu hal besar, kita harus mengadakan syukuran.” ujar Zuco pada Riski.


Selang beberapa menit, guru kesenian mereka pun masuk ke dalam kelas.


“Anak-anak, 2 hari lagi kita ujian semester, jangan lupa belajar yang tekun ya, agar nilai kalian bagus.” setelah menyampaikan hal itu, pak guru pun memulai pembelajaran mereka, hingga selesai tanpa kendala.


Karena ujian sudah dekat, Riski yang sudah berjanji pada ayahnya pun lebih giat belajar, sepulang sekolah ia masih tetap menjalani private yang ayahnya berikan.


Walau sesibuk apapun dirinya, ia tak lupa untuk menanyakan kabar Yalisa, Riski juga memantau perkembangan ibadah pacarnya, karena ia takut kalau suatu saat ayahnya mendadak melakukan tindakan yang di luar dugaan.


Hari ujian yang di tunggu-tunggu pun telah tiba, Riski dan Yalisa seperti biasa setiap semesternya, selalu ujian di ruangan yang sama, dan berkebetulan juga Riski duduk di hadapan Yalisa.


*Readers : Kok betulannya banyak bangat thor?


*Author : Hem, soalnya adegan yang satu ini pengalaman author sendiri, tapi yang bego cowoknya. 😂


Saat ujian hari pertama di mulai, seisi ruangan hening, karena fokus mengerjakan soal yang di berikan pihak sekolah.


Yalisa yang tak faham soal pelajaran Kimia pun mulai merasa pusing, matanya seolah berkunang-kunang.


Yalisa mencoba membaca pertanyaan yang ada dalam kertas ujiannya.

__ADS_1


“2H 2 (g) + O 2 (g) \= ..., Ya Tuhan apa arti semua ini?!” Yalisa menjerit sekuat tenaga dalam batinnya.


Wajahnya seketika tertunduk lesu, karena tak satu pun yang ia mengerti. Saat ia larut dalam kegundahannya tiba-tiba ia punya ide.


“Dari pada aku pusing mending ku hitung kancing baju ku.” gumamnya dalam hati, sebelum ia melakukan itu, ia melihat Riski terlebih dahulu, yang duduk tegap di hadapannya.


“Apa dia belajar?” itulah pertanyaan yang timbul di dalam benaknya.


Karena tak ada pilihan lain, Yalisa pun mulai menghitung kancing bajunya dari atas sampai bawah.


“A,b,c,d,e.” entah benar atau salah jawaban pilihan ganda yang ia hitamkan di kertas jawaban ujiannya.


Riski yang sedari tadi fokus samar-samar mendengar suara Yalisa yang berucap A sampai E.


“Dia lagi apa? Apa... dia lagi adu nasib?” batin Riski.


Riski yang sudah melakukan private pun tak kesulitan menjawab 50 soal pilihan ganda yang ada di hadapannya.


Ya, pada dasarnya Riski memang anak yang pintar, namun karena ia tak mau belajar dan tak berminat mengikuti mata pelajaran, jadilah ia terlihat bodoh di mata semua orang.


“Oh iya, Yalisa kan enggak begitu pintar soal pelajaran Kimia, hem.. bisa anjlok nih nilainya kalau di biarkan.” Riski yang baik hati, berinisiatif untuk membantu Yalisa, saat guru pengawas mau membuang sampah ke luar kelas.


Riski memutar sebagian badannya menghadap Yalisa, dan mengambil lembar jawaban pacarnya itu, di tukar dengan miliknya untuk sementara.


Yalisa yang tak diberi aba-aba pun jadi bingung tujuh tanjakan.


Lembar jawaban Yalisa yang baru terisi 5 di sisa waktu 20 menit lagi membuat Riski harus berpacu dengan waktu.


“Hum??” Riski mengernyit, saat ia periksa ke 5 jawaban asal Yalisa, yang ternyata benar semua.


Tapi Riski tak punya waktu untuk memperhatikannya lebih lama, ia pun segera membulati setiap jawaban yang ia rasa benar dengan pena tinta hitamnya.


Hingga di 5 menit terakhir, Riski sang pahlawan ujian pun berhasil mengerjakan semuanya.


Hatinya teramat lega, akhirnya nilai pacarnya yang bodoh itu terselamatkan.


Saat guru lengah, Riski mengembalikan dengan cepat lembar jawaban Yalisa, tak lupa mengambil lembar jawabannya juga.


“Awas saja, kalau di ujian selanjutnya dia masih hitung kancing baju, ku belah kepalanya, biar ku periksa sendiri, di otaknya ada apa saja, sampai-sampai dia enggak bisa ngerjain soal ujian.” itulah ancang-ancang Riski dalam hatinya untuk sang pacar tercinta.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.



__ADS_2