SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab VIII (Derai Air Mata Part I)


__ADS_3

Mei yang mendengarnya merasa geli, karena sudah tidak ada keperluan lagi.


Mereka berempat pun berlalu dari ruangan UKS


“Leo, aku sudah bisa jalan kok, jadi kamu turunkan aku aku saja,” pinta Yalisa.


“Gerbang sudah di depan mata,” sahut Leo.


“Tapi kita jadi pusat perhatian orang-orang,” ucap Yalisa.


Leo merasa geli melihat tingkahnya sendiri yang tidak mau melepaskan Yalisa dari gendongannya. Orang-orang yang masih berada di sekolah juga tak henti berbisik akan mereka berdua.


“Dikit lagi kita sampai ke mobilnya Mei,” ucap Leo.


Sesampainya di parkiran sekolah Leo menurunkan Yalisa dan membantu masuk ke dalam mobil mewah Mei yang berwarna hitam, sang supir kaget melihat penampakan yang ada di depan matanya dan mulai bertanya pada majikannya.


“Kalian berdua kenapa non?” ucap sang supir.


“Nanti aku ceritakan, sekarang kita berangkat dulu.” sahut Mei, seraya masuk ke dalam mobil pribadinya dan tidak lupa mengucapkan terimakasih banyak ke pada kedua teman baru mereka.


Kemudian mobil Mei melaju dari sekolah membelah jalan raya menuju kediaman Yalisa. Leo dan Kevin juga bergegas pulang ke rumah mereka masing-masing


“Kamu enggak apa-apa seperti ini pulang ke rumah?” ucap Mei, bertanya karena takut kalau ibu Yalisa akan melihat keadaan Yalisa yang menyedihkan.


“Apa boleh buat, menghindari ibu ngak akan berguna kalau hanya satu hari, karena luka dan memar ini akan membekas untuk beberapa waktu ke depan,” sahut Yalisa.


“Haih, pada hal aku mau ajak kamu nginap di rumah ku saja,” ucap Mei.


“Kamu kasih alasan apa sama orang rumah mu?” tanya Yalisa pada Mei.


“Mama dan papa enggak ada di rumah, mereka lagi kerja di luar kota, yang ada hanya pembantu,” sahut Mei.


“Ohh,” Yalisa mengalihkan pandangannya lurus ke arah jalan raya.


Mei kembali bertanya pada Yalisa “Kamu sendiri kasih alasan apa ke tante?”


“Aku bakalan bilang kalau aku jatuh di toilet hehehe,” sahut Yalisa.

__ADS_1


“Kamu bilang yang sebenarnya saja, biar mereka di tuntut,” ucap Mei.


“Aku kwatir ibu ku akan kepikiran, kamu tahu sendiri ibu ku itu sibuk dengan pekerjaannya, dan aku juga enggak mau kalau ibu tahu kehidupan sekolah ku sesuram ini,” terang Yalisa.


Mei menghela nafas mencoba mengerti keadaan Yalisa. Setelah melaju beberapa menit mobil Mei sampai di depan gang rumah Yalisa. Yalisa pun keluar dari dalam mobil.


“Terimakasih banyak Mei, terima kasih banyak juga pak udah antar saya,” ujar Yalisa.


Mei dan supirnya mengangguk dan mulai melaju kembali menuju kediaman Mei. Saat akan masuk ke rumah Yalisa kaget melihat ibunya dengan raut wajah kwatir.


“Assalamu'alaikum bu,” ucap Yalisa.


Mendengar salam dari anaknya, bu Alisyah berlari dan memeluk Yalisa.


“Kamu enggak apa-apa nak? Sakit bangat ya sayang?” ucap bu Alisyah.


“Cuma sakit sedikit,” sahut Yalisa.


“Besok ibu akan protes ke sekolah, biadab sekali orang yang memperlakukan kamu begini nak? Kenapa kamu enggak bilang sama ibu kalau kamu sering di bully? Bu Alisyah menangis tersedu-sedu, dengan penuh selidik Yalisa mengajukan pertanyaan pada ibunya.


“Ibu tau dari siapa?” tanya Yalisa.


“Da- dari Zuleha, katanya juga kamu sudah di bully sejak lama, kenapa kamu enggak bilang nak?”


Yalisa mengusap wajah dengan telapak tangannya, tak tahu mau bilang apa, tidak mungkin dia mengatakan dia diam karena kondisi keluarga mereka, yang tidak akan di respon sekolah kalau ada masalah apapun, bisa-bisa nanti ibunya akan bertambah sedih.


“Maafin aku bu, aku cuma enggak mau ibu merasa kwatir,” ucap Yalisa.


Yalisa mencoba tegar tak menangis dan memeluk erat tubuh ibunya yang masih memakai pakaian taninya berwarna merah usang di penuhi noda getah.


 _____________________


Pagi harinya ibu Yalisa mendatangi sekolah walau Yalisa sudah melarang, dia tidak mau ibunya merasa kecewa dan terluka melihat sikap para guru menangani masalahnya. Tapi sebagai orang tua, ibunya tak bisa tinggal diam, ibunya ingin menuntut keadilan untuk putrinya.


“Bu, ibu pulang saja ya?” pinta Yalisa.


“Kamu tenang saja, ibu akan urus semuanya, tunjuk kan ke ibu jalan menuju kantor guru kalian, karena ibu sudah lupa lewat mana,” titah bu Alisyah.

__ADS_1


“Gimana aku bisa tenang bu, kalau tahu bentar lagi ibu akan nangis dan syok, haduh ibu,” batin Yalisa.


Saat Yalisa dan ibunya sudah sampai ke kantor guru, mereka melihat semua guru sudah ada dalam ruangan.


“Assalamu'alaikum pak.” Yalisa dan bu Alisyah mengucapkan salam di depan pintu masuk ruangan, sontak para guru melihat ke arah mereka yang berdiri di depan pintu, wajah para guru nampak tak heran seolah sudah memprediksi Yalisa akan membawa ibunya ke sekolah hari itu.


“Silahkan masuk Yalisa dan ibu juga.” ucap pak Aryo.


Pak Aryo selaku kepala sekolah, yang duduk di kursi paling depan menghadap semua meja guru mempersilahkan mereka masuk dan juga mengarahkan mereka untuk duduk di kursi bagian depan juga. Jadi posisi mereka berhadapan dengan pak Aryo. Di samping Yalisa duduk dia melihat 3 orang tua satu laki-laki dan 2 perempuan yang asing baginya.


“Apa mereka ini adalah orang tua 3 hama itu?” batin Yalisa.


Baru beberapa menit menunggu, Mei, Riski, Zuco, Marco dan Juga Leo masuk ke ruangan.


Bapak kepala sekolah mempersilahkan mereka untuk duduk di samping orang tua mereka masing-masing ,kecuali Leo Dan Mei, mereka berdua duduk semeja, orang tua Mei tidak dapat hadir karena ada pekerjaan di luar kota.


Pak Aryo memulai rapat karena semua yang di tunggu telah berada dalam ruangan.


“Selamat pagi semuanya apa kabar?” Semua yang berada dalam ruangan menjawab baik.


“Pertama-tama yang saya hormati Para orang tua siswa/i yang telah saya undang ke sekolah hari ini, yang saya hormati para guru tenaga pengajar, yang saya sayangi dan banggakan siswa/i yang berada dalam ruangan kita ini, ck,” Pak Arto mendecak.


“Sebelum-sebelumnya kita berkumpul dengan para orang tua dalam hal penerimaan nilai siswa, tapi kali ini kita harus bertemu terkait masalah pembullyan yang terjadi kemarin di sekolah kita, yang mana Riski Zuco Marco dan satu lagi Yovi, telah melakukan tindakan yang tidak pantas terhadap semua teman sekelasnya, terutama kepada Yalisa dan Mei, tapi maaf, tidak semua siswa yang kita ikutkan rapat di ruangan ini, sebelum anak-anak ini di adili saya selaku kepala sekolah disini, ingin meminta maaf terhadap pihak-pihak yang telah di rugikan dalam hal ini, dan bapak ingin bertanya kepada kalian bertiga selaku yang melakukan pembullyan, apa motif kalian sehingga kalian tega melalukan hal sekejam itu terhadap teman sekelas kalian sendiri?” ucap pak Aryo.


Riski Zuco dan Marco menundukkan kepala tak dapat berkata-kata, ayah Riski yang bernama Doni, sangat marah dari kemarin, setelah mendapat telepon dari kepala sekolah atas tindakan anaknya yang sangat memalukan, yang sudah berlalu pak Doni masih bisa menanganinya, tapi kali ini berbeda.


“Ayo kamu jelaskan apa yang terjadi.” bisik ayah Riski, mau tidak mau Riski mulai angkat bicara.


“Itu karena buku PR Matematika saya yang di curi pak,” ucap Riski.


“Kamu tahu siapa pelakunya?” tanya pak Aryo lagi, Riski sulit untuk menjawab karena dia tidak tahu pasti siapa pelakunya.


“Loh, kok diam?” tanya pak Erwin selaku wakil kepala sekolah yang duduk di samping pak Aryo


“Kalau kamu sendiri tidak yakin, kenapa kamu malah menuduh orang lain? Bahkan sesuka mu untuk menyiksa mereka?” tambah pak Erwin.


Bersambung...

__ADS_1


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE DAM TEKANAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️


Instagram : @Saya_muchu


__ADS_2