
“Aku pasti sudah menyinggung perasaannya,” batin Riski.
Tanpa ada keluhan lagi, Riski pun melahap hidangan sang kekasih, namun wajahnya tiba-tiba menjadi kecut.
“Ada apa Ki?” tanya Yalisa seraya menahan tawa.
“Enggak apa-apa kok,” jawab Riski, sambil terus memasukkan nasi dan lauk yang ada di piring ke mulutnya.
“Asli, asin bangat,” batin Riski.
“Rasain kamu, makanya kalau mau numpang makan kira-kira dong, kamu fikir aku sanggup ngasih makan orang untuk saat ini, semoga kapok," batin Yalisa.
Riski terus saja memperhatikan Yalisa yang makan dengan santai, seperti sudah terbiasa mengonsumsi makanan yang tingkat keasinan nya berada di level 10.
“Kenapa?” tanya Yalisa dengan lembut.
“Aku enggak habis,” ucap Riski seraya meneguk teh manis dinginnya.
“Jangan gitu dong, enggak boleh buang-buang makanan, sekarang harga beras lagi naik, ikan juga naik, apa lagi minyak, aku memasak itu penuh cinta dan pengorbanan materi, kalau kamu enggak makan berarti kamu enggak menghargai apa yang sudah aku lakukan,” terang Yalisa.
Riski yang tak enak hati pun memaksakan diri untuk menghabisi sisa makanan dengan mimik wajah merubah-ubah.
Setelah penuh perjuangan, akhirnya Riski berhasil menyelesaikan misi.
“Lain kali, aku enggak mau numpang makan lagi, mending aku bawa dari luar, hum! Untung aku orang kaya, jadi aku enggak memerlukan jasa masaknya setelah kami menikah nanti,” itulah ancang-ancang Riski untuk masa depan mereka nanti.
“Eh, udah jam 9 nih, kamu enggak pulang?”
“Aku pulang jam 10 saja ya, nasi di perut ku juga belum turun,” ujar Riski.
“Alasan bangat sih, pulang sana, soalnya aku mau tidur ” Yalisa mendesak Riski untuk segera pulang.
“Bentar lagi,” pinta Riski.
“Enggak bisa, pulang sekarang, lagi pula besok kitakan masih ketemu di sekolah,” ucap Yalisa.
“Gini ajah, biarin aku sampe jam 10 disini, nanti aku akan cuci piring,” Riski memberikan penawaran yang menurutnya bagus.
“Enggak perlu, yang ada nanti piring-piringnya pecah semua,”
__ADS_1
“Dasar galak!" pekik Riski seraya bangkit dari sofa.
Sebelum Riski pamit untuk pulang, ia pun mengeluarkan dompetnya, dan mengambil uang berwarna merah sebanyak 5 lembar kemudian menyodorkannya pada Yalisa.
“Ini,”
“Apa ini?”
“Uang untuk sepiring nasi remas yang rasanya, aaaaaaajiip bangat!” ucap Riski dengan wajah tak enak di lihat.
“Enggak usah, aku ikhlas kok,”
“Sudah terima saja, ini enggak seberapa, paling cuma bisa buat beli beras,” Yalisa masih tak mau menerima pemberian Riski, karena ia merasa harga sepiring nasinya terlalu mahal.
“Udah sih terima ajah, lagi pula dari mantan-mantan ku sebelumnya jumlah uang yanh ku beri ini enggak seberapa, kenapa? Apa kurang?” tanya Riski.
“Bukan, kamu enggak usah bayar K.” perasaan Riski langsung sakit, saat pemberiannya di tolak oleh Yalisa, kemudian ia pun mengambil handphone di saku celananya, dan membuka aplikasi mbanking. Kemudian ia mengirim uang ke rekening Yalisa yang jumlahnya tidak sedikit.
Tidididing!! Handphone Yalisa yang ada di atas meja pun berbunyi, sontak Yalisa mengambil handphone itu, seketika matanya membulat sempurna.
“30.000.000 juta?!” ucap Yalisa dengan perasaan syok.
“Apa masih kurang?”
“Justru ayah yang mengajari ku demikian, kalau punya pacar harus di rawat dan di tanggung jawabi, tapi aku cuma boleh kasih jatah segitu perbulan untuk satu orang saja,”
“Tapi tetap kebanyakan Ki, aku jadi merasa seperti cewek matre,”
“Ya kalau aku mampu apa salahnya kasih lebih, lagi pula sekarang kamu adalah pacar ku, sudah seharusnya aku memberikan itu semua, kamu pergunakan uang itu dengan baik, isi meja makan mu dengan buah-buahan, beli daging dan ikan terbaik, penuhi kulkas mu dengan makanan yang bergizi, dan beli skincare yang paling bagus, karena aku mau kamu cantik terus seperti sekarang,” terang Riski.
“Iya,” jawab Yalisa.
“Pantas cewek-cewek pada nempel sama Riski, ternyata beneran ada gaji bulanannya,” batin Yalisa.
“Yalisa, setia lah pada ku, apapun yang terjadi, dan dimana pun kamu berada, karena kamu enggak akan pernah rugi jadi pasangan ku, setelah jadi istri ku, milik ku adalah milik mu,” ungkap Riski, seraya mengecup kening Yalisa.
“Oke, aku pasti setia sama kamu, dan aku minta kamu juga begitu, jangan duakan aku.” setelah saling jujur tentang perasaan satu sama lain, Riski pun pamit untuk pulang.
“Aku pulang dulu, kunci jendela dan pintu rapat-rapat, mengingat kamu sendirian disini, dan...., belilah kuota yang unlimited, carilah cara mengaji yang benar, sholat mu juga perbaiki, karena aku enggak bisa jadi guru mu setiap hari, dan kalau bertemu ayah ku sekali lagi, pasti kamu di uji lagi, jadi pastikan ada perubahan Yalisa,” terang Riski yang ingin Yalisa menjadi wanita yang lebih baik.
__ADS_1
“Oke, aku mengerti, terimakasih atas nasehatnya.” akhirnya Riski meninggalkannya sendirian di rumah yang sepi itu.
“Makasih banyak Ki,” ucap Yalisa seraya menutup pintu rumahnya.
______________________________________________
Di rumah sakit, Mei yang baru membuka mata dari tidurnya melihat Leo telah duduk di sebelahnya.
Mei menatap dalam-dalam wajah Leo dengan penuh cinta.
“Kamu sudah bangun?” sapa lembut Leo.
“Iya, tante gimana?”
“Alhamdulillah, sudah siuman juga, makanya aku kesini, nunggu kamu bangun, ibu bilang mau ketemu kamu,” terang Leo yang membantu Mei untuk duduk.
“Alhamdulillah kalau begitu,” Leo pun membantu Mei untuk duduk di atas kursi roda, yang kemudian mereka menuju ruangan bu Dita.
Sesampainya mereka di ruangan bu Dita, bu Dita yang saat itu sedang duduk santai di atas ranjangnya langsung tersenyum lebar menyambut kedatangan calon menantunya.
“Sayang, anak ibu,” ucap bu Dita.
“Tante, alhamdulillah sudah baikan,”
“Alhamdulillah, ini semua berkat Mei yang cantik, sudah bersedia menolong tante, tante ucapkan terimakasih banyak anak cantik,” ungkap bu Dita dengan perasaan bahagia.
“Syukurlah tan, Mei masih bisa berguna bagi orang lain,”
“Tentu saja, dan Leo sudah cerita semuanya pada tante, kalau kalian berdua sudah balikan, aduuuhh... tante bahagia sekali.” seru bu Dita dengan wajah berseri-seri, Mei pun menjadi tersipu malu, karena calon ibu mertuanya begitu mendukungnya.
“Terimaksih tante, Mei juga senang, kalau bisa jadi bagian keluarga tante.”
“Iya sayang, pokoknya kalian berdua fokus belajar mulai sekarang, karena sebentar lagi kan ujian Nasional, dapatkan nilai yang bagus, karena om dan tante punya rencana, setelah kalian menikah, kami akan menyekolahkan kalian berdua keluar negeri.” ujar bu Dita, sontak Mei mendongak ke Leo yang sedang memegang kursi rodanya.
“Iya Mei, kamu mau kan, sama-sama menuntut ilmu dengan ku keluar negeri?”
“Iya, aku mau!” ucap Mei dengan perasaan haru.
Bersambung...
__ADS_1
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu