SAVE YALISA

SAVE YALISA
BAB CXVII (Drop Out)


__ADS_3

Riski melangkahkan kaki dengan cepat menuju Yuna.


“Pasti salah satunya!” tak dapat di hindarkan lagi akhirnya Yuna mendapat 4 pukulan di wajahnya.


Semua yang di kelas menjadi sok sibuk dengan urusannya masing-masing, mereka takut kalau mereka akan kena juga, tak terkecuali Felicia, yang kembali duduk ke kursinya.


Lalu Riski berpesan pada Mei “Bawa Yalisa ke rumah sakit.” tanpa menolak Mei langsung menganggukkan kepala, Zuco dan Marco pun menggotong Mei keluar dari kelas, tak lupa Mei memesan mobile online menuju rumah sakit.


Orang-orang yang berada di luar kelas menjadi ramai dan mendadak mengerumuni perjalanan mereka menuju gerbang sekolah karena merasa penasaran.


Leo yang saat itu berada di lapangan upacara pun melihat Yalisa yang sedang di gotong, tentunya dengan kondisi yang sangat mengenaskan.


“Yalisa!!!” Leo langsung berlarian ke kerumunan yang menghantar Yalisa.


“Minggir-mimggur,” Leo membelah kerumunan itu.


“Sini biar aku saja yang menggendong Yalisa.” ucap Leo pada Marco dan Zuco.


“Sudah kami saja,” ujar Zuco.


“Aku saja! Berikan dia pada ku!” Leo yang kwatir membentak Zuco, Zuco yang tak ingin ribut pun meminta pada Marco untuk menyerahkan Yalisa ke gendongan Leo.


Mei yang berada di tempat yang sama jelas merasa cemburu, namun ia tak ingin memperkeruh keadaan saat itu.


“Harusnya aku sigap ke kamar mandi tadi.” batin Mei, hati kecilnya sungguh menyesal, ternyata jika Yalisa sengsara, ia pun akan ikut sengsara.


Sesampainya mereka di gerbang, mobil online pesanan mereka pun telah tiba, Zuco sigap membukakan pintu mobil, dan membantu Leo membaringkan Yalisa di kursi mobil.


Setelah itu Leo masuk ke dalam mobil dan membaringkan kepala Yalisa di pangkuannya.


“Tutup pintu mobilnya,” titah Leo pada Zuco.


“Apa?”


“Tutup pintunya!” Zuco hanya menurut, Leo yang panik tak memperdulikan lagi soal perasaan Mei.


Setelah pintu mobil telah tertutup, Leo memberi titah pada supir untuk segera ke rumah sakit.


“Apa?” Zuco memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


“Bisa mati kita kalau Riski tahu, yang bawa Yalisa ke rumah sakit adalah Leo, bukan kita,” ucap Marco dengan tubuh lemas.


“Bodoh! Harusnya tadi enggak usah kasih!” Mei membentak Zuco dan Marco.


“Kamu sendiri tadi diam,” ucap Zuco.

__ADS_1


Mereka bertiga menjadi serba salah, karena tak mau mengambil resiko, terkena amarah Riski yang selanjutnya, Zuco dan Marco memilih menyusul ke rumah sakit.


Sedangkan Mei memutuskan untuk kembali ke kelas, karena ia tak akan sanggup melihat Leo bersama Yalisa.


Belum sampai Mei ke kelas, ia sudah melihat Riski menarik tangan Yovi dan Yuna, menggiringnya menuju kantor guru.


“Akh, semua salah ku.” gumam Mei, lalu ia pun mengikuti Riski.


Brakkk!!! Riski menendang pintu yang tertutup dengan lakinya sekuat tenaga, membuat para guru yang sedang rapat jantungan.


“Masuk! Masuk! Cepat masuk!” pekik Riski pada Yuna dan Yovi. Guru-guru terperangah lalu berdiri dari duduknya masing-masing.


“Riski! Ada apa ini?!” tanya pak Aryo dengan mata membelalak.


“Drop Out dua orang ini dari sekolah sekarang juga!” pekik Riski dengan emosi.


“Kenapa begitu? Ada apa?” tanya pak Aryo keheranan, guru-guru pun mulai mengerumuni mereka.


“Mereka sudah berbuat kriminal di sekolah, menyiksa Yalisa ku sampai babak belur! Drop Out sekarang!”


“Tenang dulu, kita bisa bicarakan baik-baik,”


“Ayo ikut bapak ke ruangan bapak.” sebelum pak Aryo meninggalkan ruangan ia terlebih dahulu menutup rapat guru yang belum selesai itu.


“Maaf bapak-bapak dan ibu-ibu, rapat kita tunda, dan akan di lanjtkan di lain hari, sekarang semuanya bisa kembali ke kelas masing-masing, wassalamu'alaikum Warohmatullohi wabarokatuh, ayo pak Roni, ikut juga ke ruangan saya,” titah pak Aryo.


“Silahkan duduk,” titah pak Aryo.


“Terimakasih pak,” ucap Riski.


“Ada apa ini sebenarnya?” tanya pak Aryo meminta penjelasan.


“Saya juga enggak tahu ada masalah apa, yang jelas mereka berdua ini memukuli Yalisa sampai babak belur dan berdarah, sekarang Yalisa sedang di bawa ke rumah sakit, saya tidak menerima tindakan mereka ini, jadi saya minta, keluarkan mereka dari sekolah ini pak!” bentak Riski.


“Baik, Yovi dan Yuna, ada apa sebenarnya? Kenapa kalian bertengkar dengan Yalisa?” tanya pak Aryo.


Yovi dan Yuna melirik satu sama lain, karena tak tahu harus memberi alasan apa.


“Ayo jawab!” bentak pak Aryo.


“Be-be-begini pak, Yalisa mencuri uang saya, jadi saya marah, tapi dia malah melawan dan tidak mengaku, karena kesal saya memarahi dia, tapi dia malah memarahi saya balik, makanya saya jadi lepas kendali,” terang Yovi.


“Apa? Yalisa mencuri uang mu?” tanya Riski dengan mimik wajah tak percaya.


“Tenang dulu Riski!” pekik pak Aryo.

__ADS_1


Riski pun kembali menyandarkan tubuhnya di punggung kursi, Mei yang duduk di sebelah Riski hanya menyimak, meski ia tahu itu adalah pernyataan bohong Yovi, namun ia tak memberi pembelaan pada Yalisa.


“Apa itu benar?” tanya pak Aryo.


“Benar kok pak.” ucap Yovi seraya menganggukkan kepalanya.


“Benar pak, mungkin karena Yalisa tidak punya uang, makanya melakukan itu, terlebih sekarang dia hidup sendiri,” timpal Yuna.


“Oh, jadi begitu, masuk akal juga sih.” ujar pak Aryo seraya menganggukkan kepala.


“Bapak percaya begitu saja? Memangnya kalian ada bukti?” Riski memelototi Yovi dan Yuna yang duduk di sebelah kursinya.


“Buktinya, aku dapat uang ku di kantong rok nya, dengan jumlah yang sama,” ucap Yovi.


“Apa ada orang lain selain kalian berdua yang jadi saksi?” tanya Riski lebih lanjut.


“Enggak ada, karena waktu itu kelas sedang sepi, setelah kita bertengkar, barulah teman-teman kelas masuk ke dalam ruangan,” ungkap Yovi dengan gugup.


“Berapa uang mu yang dia curi?”


“300.000 ribu,” jawab Yovi sembarang.


“Geledah kantongnya pak ” titah Riski pada pak Aryo.


“Ayo Yovi, keluarkan uang 300.000 yang kamu maksudkan,” titah pak Aryo.


“Ta-ta-tapi pak,”


“Tapi apa? Ha? Ayo Mei, geledah sakunya.” titah pak Aryo, Mei pun segera menjalankan perintah gurunya itu.


“Bohong ajah enggak bisa, kali ini mati kalian berdua.” batin Mei.


Mei pun menggeledah saku Yovi, yang ternyata di kantong Yovi hanya ada uang 70.000 ribu, Riski memejamkan mata sejenak.


“Sudah jelaskan pak, dia berbohong,” ujar Riski.


“Tapi kan Yalisa juga membuat mereka berdua luka-luka, jadi kedua belah pihak harus sama-sama di adili,” terang pak Aryo.


“Yang membuat mereka berdua luka-luka saya pak, kalau bapak tidak mengeluarkan mereka, ayah saya akan berhenti sebagai donatur di sekolah ini, sekaligus masalah ini akan saya perpanjang,”


Pak Aryo yang tidak mau citra sekolahnya cacat langsung memenuhi keinginan Riski.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️

__ADS_1


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2