
Tanpa protes, Leo kembali menyuap nasi ke mulut Mei.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Mei selesai juga makan. Riski yang bersedekap mulai membuka obrolan.
“Jadi, kenapa kamu dengan suka rela memberikan ginjal mu pada ibunya Leo?” tanya Riski pada Mei.
“Kita enggak seakrab itu, jadi enggak usah urusi apa yang aku lakukan.” jawab Mei.
“Dari mana kamu tahu, kalau kami disini?” tanya Leo.
“Itu bukan perkara sulit, aku datang kesini cuma mau tanya maksud kalian apa sebenarnya.”
“Itu bukan urusan mu!” pekik Mei.
“Aku juga enggak mau tahu urusan kalian! Tapi ada seseorang yang mengkhawatirkan kalian berdua, yang satu susah di hubungi, yang satunya lagi nomornya enggak aktif, setidaknya berikan dia kejelasan, biar dia enggak usah buang-buang air mata seperti orang bodoh!” hardik Riski.
Leo yang mengetahui kalau Yalisa menangis karenanya, semakin merasa bersalah dan sedih, sebenarnya ia bukan tak mau mengabari Yalisa, tapi sang ibu menyita handphonenya, agar Leo fokus merawat Mei.
Semetara Mei sendiri tak tahu handphonenya ada dimana, makanya ia tak bisa menghubungi Yalisa sama sekali.
“Yalisa menangis?” tanya Leo dengan raut wajah muram.
“Iya, sebaiknya kamu kabari dia sekarang,” ujar Riski.
“Oke,” sahut Leo, lalu Leo meletakkan bekas piring Mei ke atas meja yang berada di samping ranjang.
Setelah itu, ia keluar dari dalam ruangan, untuk meminta handphonenya pada bu Dita.
Leo yang sudah tak ada dalam ruangan membuat Riski leluasa untuk melakukan introgasi.
“Jelaskan!” pekik Riski.
“Kalau bukan karena kamu, pasti aku enggak akan begini,” ucap Mei seraya memegang perutnya.
“Maksudnya?”
“Karena kamu minta aku untuk pisahin dia dengan Yalisa, aku jadi terpaksa bertemu malam itu.” ucap Mei lebih lanjut, seraya menceritakan semua kronologi yang telah terjadi, sampai soal perjodohannya dengan Leo.
Riski tak tahu, harus senang atau sedih, karena melihat kondisi Mei yang begitu menyedihkan, begitu pula dengan Yalisa yang saat ini begitu gelisah dan merana.
“Mei, kalau kamu sudah memutuskan untuk menjadi istri Leo setelah lulus sekolah, aku harap kamu dan dia bisa menjelaskan dengan baik pada Yalisa, karena dari pengamatan ku, dia sangat mencintai Leo, kalau suatu saat dia marah karena pengkhianatan mu, kamu harus terima dengan lapang dada,” terang Riski.
“Iya, aku sudah tahu segala resikonya, tapi aku tidak bisa membuang kesempatan ini begitu saja, karena aku juga suka sama Leo,” ucap Mei.
“Enggak di sangka ya, kamu sampai hati juga melakukan ini semua, semoga sukses dengan keputusan mu.” timpal Riski seraya berlalu meninggalkan Mei dalam ruangan itu.
Riski yang berjalan menyusuri koridor rumah sakit tak hentinya berfikir.
“Gimana perasaan Yalisa kalau tahu ini semua? Gimana pun aku juga ikut salah, kalau bukan karena aku, pasti Mei akan menolak ajakan Leo bertemu malam itu.” batin Riski.
Rasa bersalah menghantui hatinya, sesampainya ia di parkiran, Riski menaiki motornya lalu melaju menuju kediamannya.
_______________________________________
Leo yang telah mendapatkan handphonenya, mulai mendial nomor Yalisa.
Trut... trut...
Tiva-tiba Leo mematikan panggilan itu, karena tak tahu harus berkata apa pada Yalisa.
Lalu Leo memutuskan untuk mengirim pesan. singkat pada Yalisa.
“Aku sudah baikan sayang, besok kita ketemu di room kafe @Saya_muchu, datanglah kesana sepulang sekolah.” Leo. 📱
Setelah pesan terkirim, Leo membuka galeri photo pada handphonenya untuk melihat potret kebersamaan dirinya dan Yalisa sewaktu memancing di danau beberapa hari yang lalu.
“Aku menyesal telah melakukan tindakan bodoh, tapi aku tak bisa kehilangan ibu ku, maafkan aku sayang,” batin Leo.
__ADS_1
Leo mencium photo Yalisa yang pernah ia download diam-diam dari Instagram seraya menitihkan air mata.
____________________________________________
Pukul 05:00 subuh, Yalisa bangun dari tidurnya, seperti manusia pada umumnya, yang pertama ia cari adalah handphonenya.
Saat ia menekan tombol on off androidnya, jantungnya berdebar, karena melihat ada panggilan dan pesan masuk dari Leo ke WhatsApp nya.
Buru-buru Yalisa membuka handphonenya yang memiliki sandi tanggal jadian mereka.
Lalu ia membaca pesan Leo, yang mengajak dirinya bertemu di sebuah room cafe yang baru buka tak jauh dari sekolah mereka.
“Baik, aku pasti datang.” Yalisa.📱
Kelar membalas pesan Leo tersebut, Yalisa buru-buru mandi, setelah itu ia melaksanakan sholat subuh.
Pada jam 05:45 ia telah selesai memakai seragam, semangat dan cerianya pun telah kembali, karena ia akan bertemu dengan Leo.
“Mau berangkat sekarang nak?” tanya bu Alisyah pada Yalisa.
“Iya bu.” sahut Yalisa.
“Ini kan masih gelap, gerbang sekolah mu juga pasti belum buka.” terang bu Alisyah.
“Tapi...”
“Tunggu lebih terang, kamu juga harus makan nak, nanti perut mu sakit.” ucap bu Alisyah seraya membolak-balik ikan yang sedang ia goreng dalam kuali. Yalisa pun menuruti titah ibunya.
35 menit kemudian, setelah matahari menampakan sinarnya, Yalisa pun pamit pada ibunya, tentunya selepas ia mengisi perut terlebih dahulu.
“Yalisa berangkat bu.” ucap Yalisa seraya mencium punggung tangan ibunya.
“Hati-hati di jalan nak, belajar yang rajin ya.” ujar bu Alisyah.
“Baik bu,” sahut Yalisa.
Dengan perasaan berbunga-bunga, ia tak sabar untuk bertemu dengan Leo.
“Tapi, kenapa enggak ketemu di sekolah saja ya? Apa hari ini dia enggak masuk lagi?” batin Yalisa.
Tak terasa Yalisa telah sampai di sekolahnya, saat ia masuk ke dalam kelasnya, ia terkejut karena sudah ada Riski duduk di bangkunya Mei.
“Tumben dia datang pagi-pagi begini, biasa masuknya kalau udah hampir bel sekolah.” batin Yalisa.
“Pagi,” ucap Yalisa seraya menyuruh Riski memberi jalan, agar ia bisa masuk ke bangkunya yang berposisi di samping dinding.
“Kamu sudah datang?” Riski melirik wajah Yalisa yang telah kembali seperti sedia kala.
“Iya dong,” sahut Yalisa seraya senyum-senyum kegirangan.
Riski sudah tahu penyebab kebahagiaan Yalisa itu, makanya ia bersikap biasa saja.
“Apa ada masalah?” tanya Yalisa, karena ia melihat wajah Riski begitu suram.
“Enggak ada.” jawab Riski dengan menghela nafas panjang.
“Kalau enggak ada masalah, kenapa nafas mu jadi besar begitu? Cerita dong, bukannya kita sekarang sudah jadi teman?” Yalisa memegang tangan Riski, karena ia merasa Riski menyimpan suatu hal.
“Yalisa.” Riski menggenggam tangan Yalisa yang memegang telapak tangannya juga.
“Iya?” sahut Yalisa penasaran.
“Maafin aku,”
“Ha? Kok tiba-tiba minta maaf.” Yalisa bingung mengapa Riski bertingkah aneh.
Namun Riski tak melanjutkan kata-katanya, karena tak mau melihat Yalisa sedih, ia juga merasa bersalah, karena sekali lagi ia telah berhasil menyakiti perasaan Yalisa.
__ADS_1
“Apa cuma itu yang mau kamu katakan? Tanpa alasan yang jelas kamu meminta maaf, itu lucu sekali.” ucap Yalisa.
Lalu Riski memeluk tubuh Yalisa yang duduk di sebelahnya.
“Ki?” Yalisa tak tahu apa maksud pelukan itu, saat Yalisa mencoba melepaskannya, Riski semakin mengencangkan pelukannya.
“Yalisa, apapun yang terjadi, ada aku di samping mu, aku sayang kamu.”
“Ngomong apa sih kamu, lepasin ah! Nanti kalau ada yang masuk gimana? Bisa-bisa kita di gosipin mesum dalam kelas lagi.”
Riski mengerti, ia pun melepas pelukannya dari Yalisa.
“Tolong dong bersikap normal, jangan main peluk sesuka hati, kalau di ulangi lagi, mending kamu kembali ke bangku mu.” terang Yalisa.
“Oke, aku enggak akan ulangi untuk hari ini.” ucap Riski.
“Ck, jangan ngajak gelut pagi-pagi begini, lebih baik kamu kerjakan PR mu yang belum selesai.” terang Yalisa yang mencoba sabar dengan sikap Riski.
“Aku enggak ngerti sama penjelasan bu Amel kemarin, kamu sendiri sudah selesai?” tanya Riski.
“Udah dong,” sahut Yalisa.
“Yalisa,” ucap Riski.
“Huh?”
“Pr mu ku contek ya?” pinta Riski begitu saja.
“Enggak mau lah, enak bangat kamu! Aku yang ngerjain mati-matian, kamu malah tinggal salin, nanti pas terima raport, yang hasil tugasnya cuma nyontek nilainya malah lebih tinggi dari yang kasih contekan!” pekik Yalisa.
“Satu soal 100.000,” ucap Riski.
“Oke,” sahut Yalisa.
Dengan sigap Yalisa mengeluarkan buku tugas matematika nya dan memberikannya pada Riski.
“Buruan, nanti keburu bel lagi, pelajarannya kan di jam pertama.” ucap Yalisa.
“Iya, enggak usah panik,” sahut Riski.
“Benar ya 1 soal 100.000, itu total 20 soal loh, jadi selesai ngerjain PR langsung bayar.” terang Yalisa yang tak sabar mau menerima honornya pagi itu.
“Iya, tapi kalau ada jawaban yang salah, uangnya hangus, aku cuma mau bayar soal yang benar.”
“Enggak bisalah.”
“Ya sudah begini saja, kalau aku dapat nilai 100, aku kasih 2 kali lipat bayarannya, tapi kalau ada yang salah, aku cuma bayar setengahnya.” terang Riski seraya menahan tawanya, ia merasa wajah kecut Yalisa begitu lucu.
“Kok jadi nawar sih?” ucap Yalisa dengan menyunggingkan bibirnya.
“Pokoknya gitu deh,” lalu Riski memalingkan wajah, untuk melepas tawa tanpa suaranya itu.
“Ya udah deh enggak apa-apa, dari pada zonk,” ucap Yalisa.
Hari itu Yalisa dan Riski menjalani proses belajar dengan lancar, setelah bel sekolah berbunyi Yalisa buru-buru memasukkan semua barang-barang miliknya ke dalam tasnya.
“Aku antar pulang ya?” ucap Riski.
“Enggak usah, hari ini aku mau ketemu Leo.” sontak Riski mengusap wajahnya dengan tangannya.
“Mau aku temanin?”
“Enggak perlu, kamu jangan jadi ekor untuk hari ini.” selesai merapikan barangnya, Yalisa pun berlalu dari hadapan Riski menuju room cafe @Saya_muchu.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR, DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
__ADS_1
Instagram :@Saya_muchu